Beranda blog Halaman 19

Lobar Tak Tutup Retail Modern, Perizinan Diperketat Sesuai Perda

Giri Menang (globalfmlombok.com) – Di saat sejumlah daerah mulai membatasi bahkan menutup gerai retail modern, Pemerintah Kabupaten Lombok Barat (Lobar) memilih tetap membuka peluang investasi sektor tersebut. Namun, pemerintah daerah memperketat pemberian rekomendasi perizinan dengan mengacu pada ketentuan dalam Peraturan Daerah (Perda), terutama terkait jarak dengan pasar tradisional dan retail modern lainnya.

Kepala Dinas Perdagangan Lombok Barat, Adnan, mengatakan keberadaan retail modern masih diperbolehkan selama memenuhi syarat yang telah ditetapkan pemerintah daerah. Salah satu ketentuan utama adalah lokasi retail modern harus berjarak lebih dari 500 meter dari pasar tradisional maupun retail modern yang telah beroperasi.

“Kita berpatokan sama jarak ini, yang penting lokasi retail modern itu lebih 500 meter dari pasar tradisional, dari retail modern lainnya,” ujar Adnan, Minggu (31/5/2026).

Menurutnya, kebijakan di Lombok Barat berbeda dengan daerah lain yang menerapkan aturan lebih ketat. Ia mencontohkan Kabupaten Lombok Tengah yang mensyaratkan jarak hingga satu kilometer antara retail modern dengan pasar tradisional.

Adnan menjelaskan, dalam Perda juga terdapat pengecualian bagi sejumlah wilayah yang masuk kategori kawasan penyangga pertumbuhan ekonomi. Kawasan tersebut dinilai masih memiliki ruang untuk penambahan retail modern guna mendukung aktivitas ekonomi masyarakat.

“Memang di aturan itu maksimal dua retail modern. Tetapi dikecualikan untuk daerah penyangga seperti Kediri, Batu Layar, Lingsar, dan Labuapi, itu boleh melebihi dari dua,” katanya.

Dengan kebijakan tersebut, Lombok Barat masih menjadi daerah yang menarik bagi investor retail modern. Bahkan, saat ini terdapat sejumlah pengajuan pembangunan gerai baru yang tengah diproses pemerintah daerah.

“Iya ada penambahan,” ucapnya.

Saat ini terdapat dua lokasi baru yang telah mengajukan izin pembangunan retail modern, masing-masing berada di wilayah Kediri dan Merembu.

Meski tetap membuka peluang investasi, pemerintah daerah mengklaim lebih selektif dalam memberikan rekomendasi. Selain memperhatikan ketentuan jarak, pengajuan izin juga harus mendapatkan rekomendasi dari pemerintah desa dan kecamatan setempat.

Langkah tersebut dilakukan untuk menghindari potensi penolakan masyarakat serta menjaga keseimbangan antara pertumbuhan usaha modern dan keberlangsungan usaha kecil di sekitar lokasi.

Adnan menegaskan, pemerintah daerah tidak akan memberikan izin apabila lokasi yang diajukan melanggar ketentuan yang berlaku. Salah satu contohnya terjadi di wilayah Jerneng, Kecamatan Labuapi, di mana pengajuan retail modern ditolak karena lokasinya terlalu dekat dengan pasar rakyat.

“Itu kami tolak karena kurang 500 meter dari pasar,” tegasnya.

Menurutnya, kebijakan selektif tersebut penting untuk menjaga iklim usaha yang sehat serta melindungi pelaku usaha kecil dan menengah yang selama ini menjadi penopang ekonomi masyarakat.

Terlebih, saat ini pemerintah pusat juga tengah mendorong penguatan ekonomi desa melalui program Koperasi Desa Merah Putih yang mulai berkembang di berbagai wilayah.

“Kita minta rekomendasi dari bawah, jangan sampai ada masalah nanti keberatan lagi, karena terlalu banyak retail modern ini,” imbuhnya.

Pemkab Lombok Barat berharap pengaturan keberadaan retail modern dapat berjalan seimbang, sehingga investasi tetap tumbuh tanpa mengganggu keberlangsungan pasar tradisional maupun usaha masyarakat lokal. (her)

Usulan Nama-nama Timsel Calon Anggota KPID Tunggu Keputusan Ketua DPRD NTB

Mataram (globalfmlombok.com) – Seleksi calon anggota Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Provinsi NTB sudah cukup lama molor. Sampai jabatan anggota KPID periode lama sudah mendapatkan perpanjangan masa jabatan lebih dari satu tahun.

Dikonfirmasi terkait hal itu Ketua Komisi I DPRD Provinsi NTB, Mohammad Akri menyampaikan bahwa progres seleksi KPID NTB sejauh ini sudah berjalan sesuai dengan tahapan. Dia mengaku bahwa nama-nama calon tim seleksi (Timsel) sudah sampai di meja pimpinan DPRD NTB.

“Jadi sudah ada surat usulan dari KPID NTB untuk nama-nama timsel,” ujar Akri saat dikonfirmasi. Karena itu dia memastikan proses seleksi akan segera dimulai dalam waktu dekat ini.

Lebih lanjut dijelaskan politisi PPP itu bahwa usulan nama timsel dari KPID NTB yang sudah masuk ke DPRD sebanyak empat orang. Selanjutnya, Ketua DPRD NTB akan bersurat ke Jakarta untuk meminta nama timsel dari unsur KPI pusat.

Sehingga total ada lima timsel yang bertugas melakukan tahapan seleksi untuk menghasilkan komisioner KPID NTB yang definitif. “Tinggal menunggu usulan dari nama timsel yang dari KPU pusat,” kata Akri.

Setelah itu nantinya sebanyak lima orang Timsel tersebut akan diterbitkan Surat Keputusan (SK) oleh Ketua DPRD NTB. “Setelah dibahas di internal Komisi I, nama-nama timsel selanjutnya akan diputuskan melalui SK Ketua DPRD NTB,” katanya.

Akri pun belum bisa membocorkan nama-nama Timsel KPID yang sudah masuk ke DPRD tersebut. Namun yang pasti anggota timsel tersebut merupakan perwakilan dari unsur-unsur terkait seperti terdiri dari dua orang tokoh masyarakat, dan masing-masing satu unsur pemerintah daerah, sejarawan dan KPI pusat.

“Dari pemerintah daerah ini siapa pun. Bisa kepala Diskominfotik atau siapa yang dianggap punya kompetensi,” jelasnya.

Dengan proses tahapan yang sudah ditentukan, Komisi I DPRD NTB sangat berharap tim seleksi dapat bekerja secara profesional, objektif dan bebas dari intervensi yang menghambat jalannya proses seleksi .”Ini untuk menjamin hasil seleksi yang kredibel dan menghasilkan komisioner KPID NTB yang berkualitas,” tegasnya.

Sementara disinggung terkait anggota KPID lama yang telah mengalami masa perpanjangan berkali-kali, menurut Akri, itu dibolehkan berdasarkan regulasi. Sesuai ketentuan, perpanjangan masa jabatan komisioner KPID NTB berlaku sampai ditetapkannya komisioner yang baru.

“Sebetulnya tidak ada periodesasi. Dalam regulasi tersebut masa tugas komisioner lama berakhir sampai terpilih komisioner baru,” pungkasnya. (ndi)

Pemprov NTB Siapkan Pelebaran Jalan Mahoni untuk Urai Kepadatan Lalu Lintas

Mataram (globalfmlombok.com) – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) NTB berencana melakukan pelebaran Jalan Mahoni di Kelurahan Monjok Barat, Kota Mataram. Proyek sepanjang sekitar 150 meter tersebut diharapkan mampu meningkatkan kelancaran arus lalu lintas di kawasan yang selama ini kerap mengalami kepadatan kendaraan.

Kepala Dinas PUPR Kota Mataram, Lale Widiahning, mengatakan pelebaran akan dilakukan pada ruas jalan yang berada di samping Kantor Imigrasi Kelas I Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI) Mataram hingga ke arah timur. Seluruh tahapan perencanaan maupun pelaksanaan proyek menjadi kewenangan Pemerintah Provinsi NTB.

“Panjang jalan yang akan dilebarkan sekitar 150 meter, mulai dari samping Kantor Imigrasi Kelas I TPI Mataram ke arah timur,” ujarnya.

Menurut Lale, pelebaran Jalan Mahoni dinilai mendesak karena ruas tersebut menjadi salah satu akses penting menuju sejumlah instansi pemerintah dan lembaga pelayanan publik. Aktivitas kendaraan di kawasan tersebut cukup tinggi setiap harinya karena terdapat berbagai kantor pemerintahan dan lembaga peradilan.

Selain menjadi akses menuju Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara (PTTUN), ruas jalan tersebut juga berada di belakang Kantor Imigrasi Kelas I TPI Mataram dan di samping SMAN 5 Mataram. Kondisi jalan yang relatif sempit dinilai tidak lagi sebanding dengan volume kendaraan yang terus meningkat.

“Setiap hari arus kendaraan di kawasan itu cukup padat sehingga pelebaran jalan diharapkan dapat meningkatkan kenyamanan dan keselamatan pengguna jalan,” katanya.

Ia menjelaskan, rencana pelebaran memungkinkan dilakukan karena di sisi jalan terdapat bantaran Kali Ning yang masih cukup luas. Sebagian area tersebut saat ini dimanfaatkan sebagai lahan parkir oleh masyarakat.

“Kemungkinan area tempat parkir itu akan dialihkan,” ujarnya.

Meski demikian, Pemerintah Kota Mataram belum mengetahui secara rinci lokasi pengganti lahan parkir tersebut. Sebab, seluruh desain teknis dan konsep penataan kawasan telah disusun oleh Dinas PUPR Provinsi NTB.

Dalam proses koordinasi, Dinas PUPR Kota Mataram turut memberikan sejumlah masukan terkait aspek lingkungan dan tata ruang. Salah satunya mengenai pembangunan struktur penahan tanah agar tidak mengurangi lebar aliran Kali Ning.

Menurut Lale, pihaknya mengingatkan agar pekerjaan pelebaran jalan tidak sampai menjorok ke badan sungai yang dapat berpotensi mengganggu fungsi drainase dan mempersempit jalur aliran air.

“Kami khawatir jika itu dilakukan, nantinya bisa menjadi contoh bagi pihak lain untuk melakukan hal serupa. Kondisi tersebut berpotensi menghambat aliran air saat musim hujan,” jelasnya.

Selain pelebaran jalan, proyek penataan kawasan juga diperkirakan akan mengubah wajah lingkungan sekitar. Sejumlah pohon yang saat ini tumbuh di sepanjang bantaran sungai kemungkinan harus ditebang untuk mendukung proses pengerjaan.

Lale menegaskan seluruh kebutuhan anggaran dan pelaksanaan proyek menjadi tanggung jawab Pemerintah Provinsi NTB. Adapun Pemerintah Kota Mataram hanya dilibatkan dalam proses koordinasi karena lokasi proyek berada dalam wilayah administrasi Kota Mataram.

“Dalam hal ini kami hanya berkoordinasi dan memberikan masukan. Setelah pekerjaan selesai, pemeliharaan jalan akan diserahkan kepada kami,” pungkasnya. (pan)

MTQ NTB 2026 Diikuti 977 Peserta dari Seluruh Kabupaten/Kota

Praya (globalfmlombok.com) – Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) XXXI Tingkat Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) Tahun 2026 akan diikuti sebanyak 977 qari dan qariah dari 10 kabupaten/kota se-NTB. Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) menjadi daerah dengan jumlah peserta terbanyak, sedangkan Kabupaten Dompu tercatat sebagai daerah dengan jumlah peserta paling sedikit.

Data panitia menunjukkan KSB mengirim 105 peserta. Sementara Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) selaku tuan rumah mengikutsertakan 93 peserta yang akan berlaga pada delapan cabang lomba. Jumlah tersebut menjadi yang terbanyak kedua setelah KSB.

Di bawah Loteng terdapat Kabupaten Lombok Timur dengan 90 peserta, Kota Mataram 87 peserta, Kabupaten Bima 86 peserta, dan Kota Bima 85 peserta. Sementara Kabupaten Sumbawa dan Kabupaten Lombok Barat masing-masing mengirim 80 peserta, disusul Kabupaten Lombok Utara sebanyak 78 peserta. Adapun Kabupaten Dompu mengirim 75 peserta.

Selain peserta, pelaksanaan MTQ juga akan melibatkan 118 orang yang terdiri atas pengawas, dewan hakim, panitera, dan panitia sekretariat provinsi yang bertugas mengawal jalannya perlombaan.

Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah telah menyiapkan delapan venue untuk mendukung pelaksanaan MTQ yang dijadwalkan berlangsung pada Juni mendatang. Bencingah Agung Masmirah ditetapkan sebagai venue utama yang akan menggelar cabang tilawah golongan anak-anak, remaja, dewasa, serta cacat netra.

Sementara itu, Masjid Agung Lombok Tengah akan menjadi lokasi perlombaan cabang Qira’at Sab’ah golongan mujawwad dewasa, murattal remaja dan dewasa, serta tartil.

Venue lainnya berada di Ballroom Kantor Bupati Lombok Tengah yang akan digunakan untuk cabang Hifzil Qur’an juz 1 dan 5 serta tilawah. Sedangkan Masjid Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Lombok menjadi lokasi perlombaan cabang Hifzil Qur’an golongan 10, 20, dan 30 juz.

Untuk cabang Fahmil Qur’an dan Syarhil Qur’an akan digelar di GOR Poltekpar Lombok. Sementara cabang Khath Al-Qur’an, meliputi golongan naskah, hiasan mushaf, dekorasi, kontemporer, dan kaligrafi digital, akan berlangsung di area VIP Deluxe Sirkuit Internasional Mandalika.

Dua venue lainnya berada di Gedung PKK Lombok Tengah dan ruang CAT BKPSDM Lombok Tengah yang masing-masing digunakan untuk cabang Tafsir Al-Qur’an Bahasa Arab, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, serta cabang Karya Tulis Ilmiah Al-Qur’an.

Bupati Lombok Tengah, H. Lalu Pathul Bahri, mengatakan persiapan pelaksanaan MTQ saat ini telah mencapai sekitar 80 persen. Pemerintah daerah optimistis seluruh kebutuhan dan fasilitas pendukung dapat diselesaikan sebelum kegiatan dimulai.

“Untuk persiapan MTQ, terutama venue saat ini sudah 80 persen,” ujarnya kepada awak media di Kantor Bupati Lombok Tengah, Senin (1/6/2026).

Ia menegaskan, dengan waktu yang masih tersedia, seluruh persiapan diyakini dapat dituntaskan sehingga pelaksanaan MTQ berjalan lancar dan sukses.

Sementara itu, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Lombok Tengah, Lalu Herdan, menjelaskan rangkaian MTQ akan diawali dengan pawai ta’aruf pada 8 Juni 2026. Kegiatan tersebut akan diikuti seluruh peserta dari kabupaten/kota se-NTB.

Pawai akan mengambil rute dari kawasan Masjid Agung Lombok Tengah dan berakhir di Taman Kota Muhajirin Praya. Adapun pembukaan resmi MTQ dijadwalkan berlangsung pada 9 Juni 2026.

Pada malam pembukaan, panitia menyiapkan pertunjukan tari kolosal yang melibatkan sekitar 300 penari dari kalangan pelajar dan pemuda Lombok Tengah. Tarian tersebut mengangkat tema etnik dan keberagaman sebagai cerminan kehidupan masyarakat Lombok Tengah yang majemuk dari sisi suku, budaya, dan agama.

Pemerintah daerah berharap pelaksanaan MTQ XXXI NTB tidak hanya menjadi ajang syiar Islam dan pembinaan generasi Qurani, tetapi juga mampu memperkuat persatuan serta memperkenalkan Lombok Tengah sebagai tuan rumah yang siap menyukseskan perhelatan tingkat provinsi tersebut. (r)

LPS Pastikan Tidak Ada Bank di NTB yang Mengkhawatirkan

Mataram (globalfmlombok.com) – Kepala Kantor Perwakilan Lembaga Penjamin Simpanan II Surabaya, Bambang S. Hidayat, memastikan kondisi perbankan di Nusa Tenggara Barat hingga saat ini masih aman dan stabil. LPS bahkan menegaskan tidak ada bank di NTB yang dalam kondisi mengkhawatirkan atau berpotensi diserahkan ke LPS untuk penanganan.

“Alhamdulillah sampai hari ini NTB masih sangat aman. Tidak ada bank yang dibisikkan ke saya akan diserahkan ke LPS dalam waktu dekat,” ujar Bambang, pada kegiatan Dalam pertemuan Forum Komite Stabilitas Sistem Keuangan (FKSSK) NTB di Mataram, Jumat, 29 Mei 2026.

Secara nasional, Bambang mengungkapkan hingga Mei 2026 sudah terdapat tujuh bank yang dilikuidasi LPS. Sementara sejak 2005 hingga 2025 total bank yang telah dilikuidasi mencapai 147 bank, sehingga keseluruhannya kini mencapai 154 bank.

Meski demikian, NTB termasuk daerah yang dinilai masih bersih dari persoalan perbankan.
“NTB masih clean and clear, belum ada isu terkait perbankan. Kita berharap kondisi ini terus terjaga di tengah dinamika ekonomi yang ada,” tambahnya.

Menurutnya, meskipun terdapat dinamika ekonomi dan peningkatan konsumsi masyarakat pada awal 2026 akibat momentum hari raya, kondisi perbankan tetap berada dalam situasi yang sehat. Ia menjelaskan, pada triwulan awal tahun memang terjadi peningkatan belanja masyarakat karena bertepatan dengan Ramadan, Idulfitri, dan sejumlah momentum hari besar lainnya.

“Memang seasonal-nya masyarakat sedang banyak spending atau konsumsi. Tapi kalau melihat data perbankan, kondisinya masih sangat positif,” katanya.

Bambang mengungkapkan, salah satu indikator yang menunjukkan optimisme masyarakat adalah meningkatnya Indeks Menabung Konsumen yang dirilis LPS. Pada April 2026, indeks tersebut naik 0,2 poin menjadi 79,7 dibanding bulan sebelumnya.

Kenaikan itu terutama ditopang meningkatnya indeks kemampuan menabung masyarakat. Menurut Bambang, semakin banyak masyarakat yang sebelumnya tidak memiliki tabungan kini mulai mampu menyisihkan pendapatannya untuk menabung.

“Ini kabar baik. Ada masyarakat yang sebelumnya tidak pernah menabung, sekarang mulai menabung. Artinya kemampuan finansial masyarakat masih cukup baik,” ujarnya.

Meski demikian, indeks kemauan menabung tercatat sedikit menurun karena sebagian masyarakat menilai saat ini bukan waktu yang tepat untuk menabung. Kondisi itu dinilai wajar karena tingginya kebutuhan konsumsi pada musim libur dan hari raya.

Di NTB sendiri, jumlah rekening bank hingga Maret 2026 tercatat mencapai sekitar 9,7 juta rekening dengan nominal simpanan sekitar Rp47,3 triliun. Secara tahunan, jumlah rekening masih tumbuh 4,32 persen dan nominal simpanan tumbuh 4,38 persen.

Bambang menjelaskan, sedikit penurunan jumlah rekening pada Maret disebabkan proses pembersihan data atau cleansing yang dilakukan perbankan, termasuk penertiban rekening ganda maupun data nasabah yang tidak aktif.

“Kalau secara nominal simpanan memang ada sedikit penurunan karena faktor seasonal tadi, tapi secara umum masih tumbuh positif,” katanya.

LPS juga mencatat cakupan penjaminan simpanan di NTB berada di atas rata-rata nasional. Sebanyak 99,99 persen rekening nasabah di NTB dijamin penuh oleh LPS, lebih tinggi dibanding cakupan nasional sebesar 99,94 persen.

“Artinya hampir seluruh rekening masyarakat di NTB dijamin oleh LPS,” tegasnya. (bul)

Tong Sampah di Alun-Alun GMP Gerung Banyak Hilang, DLH Lobar Minta Kesadaran Masyarakat

Giri Menang (globalfmlombok.com) – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Lombok Barat (Lobar) menghadapi persoalan berkurangnya fasilitas kebersihan di kawasan Alun-Alun Giri Menang Park (GMP), Gerung. Sejumlah tong sampah yang sebelumnya ditempatkan di kawasan tersebut dilaporkan hilang akibat ulah oknum yang tidak bertanggung jawab.

Kepala DLH Lombok Barat, M. Busyairi, mengatakan sedikitnya enam unit tong sampah di kawasan Alun-Alun GMP telah hilang. Bahkan, kejadian serupa juga pernah terjadi di Taman Kota Gerung, di mana seluruh tong sampah yang disediakan raib.

“Yang hilang enam unit. Bahkan dulu di Taman Kota disiapkan 19 unit tong sampah, semuanya hilang,” ujar Busyairi, Minggu (31/5/2026).

Ia menjelaskan, jumlah tong sampah yang tersedia terus berkurang dari waktu ke waktu. Saat ini tersisa 39 unit tong sampah di kawasan Alun-Alun GMP, termasuk setelah adanya penambahan sebanyak 10 unit oleh pemerintah daerah.

Menurutnya, DLH terus melakukan pemantauan dan berupaya mengganti tong sampah yang hilang agar fasilitas kebersihan tetap tersedia bagi masyarakat. Namun demikian, upaya tersebut perlu didukung dengan kesadaran warga untuk ikut menjaga fasilitas umum.

“Kami berharap masyarakat dapat bersama-sama menjaga fasilitas yang sudah disediakan. Tong sampah ini untuk kepentingan bersama,” katanya.

DLH Lombok Barat juga terus menambah jumlah tong sampah di kawasan Alun-Alun GMP sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesadaran masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya. Dengan tersedianya fasilitas yang memadai, diharapkan volume sampah yang berserakan setelah kegiatan keramaian dapat berkurang.

Selain menyediakan sarana kebersihan, DLH juga rutin melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Berbagai upaya dilakukan, mulai dari pemasangan poster dan spanduk imbauan hingga kampanye melalui media sosial agar pengunjung lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan.

Tidak hanya itu, petugas DLH juga turun langsung membersihkan kawasan Alun-Alun GMP dan Taman Kota Gerung setiap akhir pekan, terutama saat pelaksanaan Car Free Night (CFN) di area alun-alun maupun Kolosium.

Meski berbagai langkah telah dilakukan, tingkat kesadaran sebagian masyarakat dinilai masih rendah. Kondisi tersebut terlihat saat pelaksanaan CFN pada Sabtu (30/5/2026) malam. Sejumlah pengunjung terlihat meninggalkan sampah bekas makanan dan minuman begitu saja di area alun-alun.

Akibatnya, sampah tampak berserakan di sejumlah titik dan harus dibersihkan kembali oleh petugas kebersihan setelah kegiatan berakhir.

DLH berharap partisipasi masyarakat semakin meningkat agar kebersihan kawasan publik dapat terjaga dan fasilitas yang telah disediakan pemerintah tidak kembali hilang atau rusak. (r)

Buyer dan Pelaku Industri Pariwisata dari Belasan Negara Jelajahi Potensi Wisata Lombok

Mataram (globalfmlombok.com) – Puluhan buyer dan pelaku industri pariwisata internasional dari belasan negara menjelajahi sejumlah destinasi unggulan di Lombok dalam kegiatan familiarization trip (famtrip) yang menjadi bagian dari rangkaian Bali and Beyond Travel Fair (BBTF) 2026. Kegiatan ini dimanfaatkan Pemerintah Provinsi NTB untuk memperkenalkan secara langsung potensi pariwisata daerah kepada pasar global.

Para buyer yang mengikuti famtrip berasal dari Australia, Malaysia, India, Belanda, Afrika Selatan, Polandia, Prancis, Kenya, Lithuania, Tiongkok, Hong Kong, Pakistan, Filipina, Kazakhstan, Myanmar, dan Slovakia. Selama dua hari, mereka diajak menikmati beragam atraksi wisata, budaya, hingga kuliner khas Lombok yang dikemas oleh Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) NTB, Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif NTB, serta pelaku industri pariwisata setempat.

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif NTB, Ahmad Nur Aulia, mengatakan antusiasme peserta BBTF 2026 untuk mengunjungi NTB sangat tinggi. Menurutnya, kunjungan langsung ke destinasi menjadi cara efektif untuk memperkenalkan potensi pariwisata daerah secara menyeluruh.

“Antusiasme peserta sangat besar. Ini menjadi kesempatan penting agar mereka mengetahui kondisi terkini destinasi wisata di NTB, termasuk budaya, kuliner, dan berbagai potensi yang kita miliki,” ujarnya saat menjamu para buyer di Qunci Villas, Minggu (31/5).

Aulia menjelaskan, pengalaman langsung di lapangan memberikan gambaran yang lebih utuh dibandingkan pertemuan bisnis singkat dalam pameran wisata. Melalui famtrip, para buyer dapat merasakan langsung pengalaman berwisata di Lombok sehingga peluang kerja sama bisnis menjadi lebih terbuka.

“Harapannya tentu ada kemitraan yang kuat antara pelaku usaha pariwisata NTB dengan buyer dari berbagai negara sehingga dapat mendatangkan lebih banyak wisatawan mancanegara ke NTB,” katanya.

Selain menampilkan destinasi unggulan, Pemprov NTB juga memperkenalkan kekayaan budaya lokal, kuliner tradisional, serta konsep gastro tourism yang kini menjadi salah satu tren dalam industri perjalanan dunia. Strategi tersebut dinilai penting untuk memperkuat daya saing NTB di tengah ketatnya persaingan destinasi wisata internasional.

“Pariwisata saat ini menghadapi berbagai tantangan. Karena itu dibutuhkan inovasi dan optimalisasi promosi agar NTB tetap menjadi pilihan wisatawan dunia,” ujarnya.

Ketua BPPD NTB, Sahlan M. Saleh, menambahkan bahwa para buyer yang hadir merupakan pelaku industri wisata potensial dari kawasan Eropa, Asia, Afrika hingga Amerika yang memiliki jaringan pemasaran wisata di negara masing-masing.

Menurutnya, tujuan utama famtrip bukan sekadar memperkenalkan destinasi, tetapi juga membangun keyakinan para buyer untuk memasarkan Lombok secara lebih serius.

“Yang ingin kita gali adalah komitmen mereka untuk menjual Lombok secara serius. Karena itu mereka harus melihat sendiri destinasi, hotel, atraksi wisata, dan pengalaman yang ditawarkan Lombok,” katanya.

Selama berada di Lombok, para peserta diajak menikmati berbagai aktivitas wisata di Gili Trawangan, mulai dari bersepeda, naik cidomo, snorkeling hingga mengenal potensi wisata selam yang menjadi salah satu daya tarik utama pulau tersebut.

Rangkaian kunjungan kemudian dilanjutkan ke sentra kerajinan gerabah Banyumulek, Desa Adat Sukarara yang terkenal dengan tenun tradisionalnya, hingga Desa Adat Ende untuk melihat langsung kehidupan masyarakat Sasak beserta kekayaan budayanya.

Para buyer juga diperkenalkan dengan wisata gastronomi khas Lombok seperti serabi dan cerorot yang dibuat langsung oleh masyarakat setempat. Selanjutnya mereka dijadwalkan mengunjungi kawasan The Mandalika, termasuk Sirkuit Mandalika dan sejumlah pantai unggulan yang menjadi ikon pariwisata NTB.

“Di Sukarara mereka akan belajar langsung proses menenun dan memahami filosofi budaya yang terkandung di dalamnya. Di Ende kami tampilkan kesenian tradisional, tarian, serta kuliner khas masyarakat Sasak,” jelas Sahlan.

Ia menegaskan, sebagian besar buyer yang hadir merupakan agen perjalanan yang membutuhkan pemahaman mendalam mengenai sebuah destinasi sebelum memasarkannya kepada wisatawan di negara asal mereka.

“Karakter travel agent internasional itu mereka harus memahami destinasi terlebih dahulu. Setelah itu baru mereka menyusun dan menjual paket wisata. Karena bagi sebagian dari mereka, Lombok masih merupakan destinasi baru yang perlu dipelajari lebih dalam,” katanya.

Melalui kegiatan famtrip tersebut, BPPD NTB berharap komunikasi bisnis yang terjalin selama BBTF 2026 dapat berkembang menjadi kerja sama konkret dalam bentuk paket-paket wisata baru yang mampu meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara ke NTB.

“Target akhirnya tentu peningkatan kunjungan wisatawan dan dampak ekonomi bagi daerah. Semakin banyak buyer yang mengenal Lombok, semakin besar peluang destinasi kita dipasarkan secara global,” pungkasnya. (r)

Kredit UMKM NTB Menurun, OJK Dorong Perbankan Perkuat Pembiayaan Sektor Produktif

Mataram (globalfmlombok.com)

Penyaluran kredit kepada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Nusa Tenggara Barat (NTB) masih menghadapi tantangan di tengah ketidakpastian ekonomi global. Hingga Maret 2026, nilai kredit UMKM tercatat mengalami penurunan, baik secara tahunan maupun dibandingkan akhir tahun lalu.

Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) NTB, Rudi Sulistyo, mengatakan kredit UMKM di NTB pada posisi Maret 2026 tercatat sebesar Rp22,22 triliun. Nilai tersebut turun Rp610 miliar atau 2,65 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Secara year to date (ytd), kredit UMKM juga menyusut Rp240 miliar atau 1,07 persen dibandingkan posisi Desember 2025.

“Kredit UMKM perlu push lebih kencang, karena untuk UMKM ini sepertinya teman-teman (pernankan) ini masih selektif ya,” kata Rudi dalam Media Briefing Forum Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) NTB Triwulan II Tahun 2026 di Mataram, Jumat (29/5/2026).

Menurut Rudi, tren pertumbuhan kredit UMKM sepanjang beberapa tahun terakhir cenderung fluktuatif. Pada saat yang sama, pertumbuhan kredit perbankan di NTB saat ini lebih banyak ditopang oleh kredit non-UMKM.

Kondisi tersebut tercermin dari terus menurunnya porsi kredit UMKM terhadap total kredit perbankan. Hingga Maret 2026, kontribusi kredit UMKM tercatat sebesar 28,03 persen dari total kredit yang disalurkan perbankan di NTB.

Angka tersebut lebih rendah dibandingkan Maret 2025 yang mencapai sekitar 30,71 persen. Jika dibandingkan dengan posisi Desember 2025, porsi kredit UMKM juga turun 0,41 persen.

Rudi menilai sikap hati-hati perbankan tidak terlepas dari meningkatnya ketidakpastian ekonomi global yang masih membayangi berbagai sektor usaha. Sejumlah faktor seperti fluktuasi nilai tukar, perkembangan harga energi, hingga dinamika geopolitik dunia turut memengaruhi prospek bisnis dan kemampuan pelaku usaha dalam mengembangkan usahanya.

“Perbankan masih dalam posisi wait and see terhadap dampak kondisi global ke perekonomian nasional. Mereka mencermati perkembangan nilai tukar, harga energi, dan situasi geopolitik yang berpengaruh terhadap berbagai sektor usaha,” ujarnya.

Menurut dia, dampak ketidakpastian global tidak hanya dirasakan sektor-sektor besar seperti energi dan pertambangan, tetapi juga merembet ke pelaku UMKM sebagai dampak lanjutan dari perlambatan aktivitas ekonomi di sejumlah sektor.

Meski demikian, OJK berharap sektor perbankan tetap dapat memperluas akses pembiayaan bagi UMKM yang memiliki prospek usaha baik. Pasalnya, UMKM masih menjadi tulang punggung perekonomian daerah, baik dari sisi penciptaan lapangan kerja maupun kontribusinya terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.

Penurunan kredit UMKM menjadi salah satu catatan penting bagi sektor jasa keuangan di NTB pada awal 2026. Di tengah pertumbuhan kredit perbankan yang masih positif secara umum, peningkatan akses pembiayaan bagi pelaku usaha kecil dinilai menjadi kunci untuk menjaga daya tahan ekonomi daerah menghadapi ketidakpastian global.(ris)

Jadi Sorotan DPRD Lobar, Keluhan Warga Soal Pelayanan RSUD Tripat Diduga Belum Dibenahi

Giri Menang (globalfmlombok.com) – Keluhan masyarakat soal pelayanan RSUD Tripat Gerung Lombok Barat (Lobar), terutama pada beberapa bagian diduga masih belum ada perbaikan. Dampaknya, warga masih mengeluhkan pelayanan tersebut. Seperti pada loket pendaftaran sidik jari pasien dan obat-obatan di farmasi masih terjadi antrean yang menumpuk. Pengunjung juga mengeluhkan minimnya kursi roda yang disiapkan loket pendaftaran.

Pantauan media pada Sabtu (30/5/2026), antrean pasien di pendaftar poliklinik memenuhi tempat antre pendaftaran. Keluarga pasien yang ikut antre pun tak kebagian tempat duduk hingga banyak yang berdiri. Sejumlah petugas terlihat kewalahan melayani, karena jumlah petugas terbatas tak sebanding dengan pasien yang membeludak.

Kondisi ini mengakibatkan kerumunan pendaftar pun tak terhindarkan. Pasien yang antre lama juga mengeluhkan minimnya kursi roda. Terutama bagi pasien lansia atau lanjut usia dan pasien sejumlah poli rehabilitasi medik dan lainnya yang notabene membutuhkan alat bantu kursi roda tersebut. Bahkan, keluarga pasien harus keliling mencari sendiri kursi roda. Itu pun mereka harus berebut untuk menggunakan kursi roda.

Pengunjung juga mengeluhkan antrean pengambilan obat di Depo Farmasi. Pasian harus antre berjam-jam.

Kondisi ini menjadi sorotan dari Komisi IV DPRD Lobar. Wakil Ketua Komisi IV Dr. Syamsuariansyah menyampaikan, dari awal pihaknya meminta pada RSUD Tripat untuk menerapkan sistem nomor antrean digital, menambah jumlah staf di jam sibuk, dan membuka reservasi online.

“Reservasi online juga sangat membantu pasien untuk tidak selalu ke RSUD di waktu-waktu yang sibuk. Tinggal menyesuaikan dengan jadwal dokter yang ingin dikunjungi pasien. Maka dengan ini akan mempersingkat waktu tunggu dan mencegah pasien pindah ke rumah satki lain,” kata Syamsuriansyah.

DPRD Lobar Sarankan Beberapa Hal

Ia pun menyarankan beberapa hal yang bisa menjadi referensi untuk mengurai antrean panjang. Dengan penerapan sistem antrean digital, menggunakan aplikasi atau mesin tiket otomatis pengunjung tidak perlu lagi berdiri dan bisa menunggu dengan lebih nyaman.

Rumah sakit juga perlu melakukan optimasi proses transaksi menggunakan aplikasi kasir atau sistem point-of-sale (POS) modern yang cepat dan mendukung pembayaran digital tanpa tunai (cashless).

Selanjutnya, rumah sakit harus menerapkan pelayanan terpadu atau pemisahan jalur. Antrean pasien dipisahkan berdasarkan jenis kebutuhan. Contoh jalur prioritas, pengembalian barang, atau transaksi cepat.

“Diharapkan dengan langkah ini bisa memberi kobtribusi bagi rumah sakit berbenah,”imbuh politisi Perindo ini. Terkait kursi roda pasien yang kurang, harusnya pihak manajemen menambah layanan yang komprehensif dan petugas layanan lansia.

Anggota Komisi IV DPRD Lobar, M. Munip mengatakan, harusnya antrean di RSUD Tripat bisa diselesaikan dengan situasional. Artinya petugas bidang pelayanan harus jeli melihat hal tersebut sehingga bsia mencarikan solusi terbaik.

“Sistem antrean harus dibuat sistematis dan pihak RS harus menempatkan petugas pada titik-titik rawan untuk mengarahkan pasien. Kadang masalah ini muncul karena petugas tidak ada yang mengarahkan dalam situasi seperti ini,” tegas politisi PPP ini.

Rasio petugas pengarah loket dengan jumlah pasien terkadang tidak terbaca oleh petugas. Seperti pelayanan setelah hari libur hari besar, biasanya terjadi peningkatan kunjungan pasien sangat tinggi. “Maka hal-hal tersebut harus sudah bisa diantisipasi apalagi dengan tipe RS kita saat ini,” imbuhnya.

RSUD Tripat akan Intensifkan Sosialisasi Terkait Antrean

Sementara itu, Direktur RSUD Tripat, dr H. Suriyadi., Sp.An., mengatakan, terkait antrean di pendaftaran sebenarnya tidak perlu berbondong-bondong datang pagi-pagi untuk menghindari penumpukan pasien. Pasalnya, pasien sebenarnya di surat kontrolnya sudah ada waktu estimasi pelayanan. “Sehingga pasien bisa datang sesuai estimasi waktu yang tertera. Sehingga distribusi pasien juga merata,” kata dia.

Pihaknya akan menyosialisasikan kembali lebih intens ke pasien agar datang sesuai estimasi yang telah ditentukan. Selain informasi lewat surat kontrol, pasien bisa memantau antrean secara live di rumah melalui ponsel, sehingga bisa memperkirakan waktu untuk datang ke RSUD Tripat untuk mencegah penumpukan.

Pihaknya mengembangkan sebuah sistem bagi pasien memonitor dari rumah nomor antrean secara live.  Diakui, penumpukan ini biasanya akibat sistem internet yang lambat atau loading lama. Dari biasanya paling lama lima detik satu pasien, tetapi internet loading hingga 10-15 detik sehingga memakan waktu lebih lama dari normalnya. Terkait kursi roda bagi pasien di loket pendaftaran, diakuinya masih kurang. Pihaknya pun sedang berupaya menambah kursi roda. Ia mengatakan, pasien atau keluarga pasien tidak perlu mencari kursi roda sebab ada petugas khusus yang akan keliling mencarikan. (her)

DP3A Mataram Tangani 35 Kasus Kekerasan dan Pelecehan Seksual

Mataram (globalfmlombok.com) – Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Mataram mencatat sekitar 35 kasus kekerasan, pelecehan seksual, dan eksploitasi anak selama periode Januari hingga Mei 2026. Kasus-kasus tersebut didominasi oleh kekerasan dan pelecehan seksual yang melibatkan perempuan maupun anak di bawah umur.

Kepala DP3A Kota Mataram, H. Zuhhad, mengatakan seluruh laporan yang diterima telah ditangani melalui mekanisme pendampingan, perlindungan, serta koordinasi dengan berbagai pihak terkait. Penanganan dilakukan untuk memastikan korban memperoleh perlindungan hukum maupun pemulihan psikologis.

“Dari Januari hingga sekarang, ada sekitar 35 kasus yang kami tangani, mulai dari pelecehan seksual, kekerasan seksual, hingga eksploitasi anak,” ujarnya pekan kemarin

Menurut Zuhhad, setiap laporan yang masuk akan melalui proses asesmen terlebih dahulu untuk menentukan bentuk penanganan yang dibutuhkan korban. Bagi korban yang dinilai membutuhkan perlindungan khusus, DP3A akan berkoordinasi dengan rumah aman guna menjamin keselamatan dan pemulihan korban.

“Beberapa korban kami serahkan ke rumah aman di Narmada agar mendapatkan perlindungan dan pendampingan lebih lanjut. Salah satunya kasus eksploitasi anak di lapak Udayana yang saat ini informasinya sudah ditangani bersama keluarga korban,” katanya.

Ia menjelaskan, tingginya angka kasus pada awal tahun ini menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Sebagian besar kasus yang ditangani berkaitan dengan kekerasan seksual dan pelecehan seksual yang terjadi di lingkungan terdekat korban. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya peran keluarga dan masyarakat dalam melakukan pengawasan terhadap anak-anak serta kelompok rentan lainnya.

Salah satu kasus yang sempat menyita perhatian publik adalah dugaan pelecehan seksual yang terjadi di kawasan Taman Udayana beberapa waktu lalu. Dalam penanganan kasus tersebut, DP3A bekerja sama dengan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Mataram, aparat penegak hukum, dan pihak terkait lainnya untuk memberikan pendampingan kepada korban.

Zuhhad menegaskan bahwa upaya penanganan tidak hanya dilakukan setelah kasus terjadi, tetapi juga melalui langkah-langkah pencegahan. DP3A terus menggencarkan sosialisasi tentang perlindungan perempuan dan anak di sekolah, lingkungan masyarakat, serta berbagai forum kemasyarakatan.

Menurutnya, edukasi menjadi salah satu langkah penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mengenali dan mencegah berbagai bentuk kekerasan. Selain itu, masyarakat juga didorong untuk berani melaporkan apabila menemukan atau mengetahui adanya dugaan tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak.

“Kami berharap masyarakat tidak ragu melapor. Semakin cepat kasus diketahui, semakin cepat pula korban bisa mendapatkan perlindungan dan pendampingan,” tegasnya.

Sementara itu, terkait perbandingan jumlah kasus pada periode yang sama tahun 2025, DP3A Kota Mataram belum merinci data secara detail. Namun, pihaknya memastikan seluruh laporan yang masuk akan tetap ditangani secara profesional dengan mengedepankan kepentingan terbaik bagi korban.

DP3A juga mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari keluarga, sekolah, tokoh masyarakat, hingga pemerintah lingkungan untuk bersama-sama menciptakan ruang yang aman bagi perempuan dan anak. Dengan keterlibatan semua pihak, diharapkan angka kekerasan dan pelecehan seksual di Kota Mataram dapat terus ditekan. (pan)