Mataram (globalfmlombok.com) –
Penyaluran kredit kepada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Nusa Tenggara Barat (NTB) masih menghadapi tantangan di tengah ketidakpastian ekonomi global. Hingga Maret 2026, nilai kredit UMKM tercatat mengalami penurunan, baik secara tahunan maupun dibandingkan akhir tahun lalu.
Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) NTB, Rudi Sulistyo, mengatakan kredit UMKM di NTB pada posisi Maret 2026 tercatat sebesar Rp22,22 triliun. Nilai tersebut turun Rp610 miliar atau 2,65 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Secara year to date (ytd), kredit UMKM juga menyusut Rp240 miliar atau 1,07 persen dibandingkan posisi Desember 2025.
“Kredit UMKM perlu push lebih kencang, karena untuk UMKM ini sepertinya teman-teman (pernankan) ini masih selektif ya,” kata Rudi dalam Media Briefing Forum Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) NTB Triwulan II Tahun 2026 di Mataram, Jumat (29/5/2026).
Menurut Rudi, tren pertumbuhan kredit UMKM sepanjang beberapa tahun terakhir cenderung fluktuatif. Pada saat yang sama, pertumbuhan kredit perbankan di NTB saat ini lebih banyak ditopang oleh kredit non-UMKM.
Kondisi tersebut tercermin dari terus menurunnya porsi kredit UMKM terhadap total kredit perbankan. Hingga Maret 2026, kontribusi kredit UMKM tercatat sebesar 28,03 persen dari total kredit yang disalurkan perbankan di NTB.
Angka tersebut lebih rendah dibandingkan Maret 2025 yang mencapai sekitar 30,71 persen. Jika dibandingkan dengan posisi Desember 2025, porsi kredit UMKM juga turun 0,41 persen.
Rudi menilai sikap hati-hati perbankan tidak terlepas dari meningkatnya ketidakpastian ekonomi global yang masih membayangi berbagai sektor usaha. Sejumlah faktor seperti fluktuasi nilai tukar, perkembangan harga energi, hingga dinamika geopolitik dunia turut memengaruhi prospek bisnis dan kemampuan pelaku usaha dalam mengembangkan usahanya.
“Perbankan masih dalam posisi wait and see terhadap dampak kondisi global ke perekonomian nasional. Mereka mencermati perkembangan nilai tukar, harga energi, dan situasi geopolitik yang berpengaruh terhadap berbagai sektor usaha,” ujarnya.
Menurut dia, dampak ketidakpastian global tidak hanya dirasakan sektor-sektor besar seperti energi dan pertambangan, tetapi juga merembet ke pelaku UMKM sebagai dampak lanjutan dari perlambatan aktivitas ekonomi di sejumlah sektor.
Meski demikian, OJK berharap sektor perbankan tetap dapat memperluas akses pembiayaan bagi UMKM yang memiliki prospek usaha baik. Pasalnya, UMKM masih menjadi tulang punggung perekonomian daerah, baik dari sisi penciptaan lapangan kerja maupun kontribusinya terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.
Penurunan kredit UMKM menjadi salah satu catatan penting bagi sektor jasa keuangan di NTB pada awal 2026. Di tengah pertumbuhan kredit perbankan yang masih positif secara umum, peningkatan akses pembiayaan bagi pelaku usaha kecil dinilai menjadi kunci untuk menjaga daya tahan ekonomi daerah menghadapi ketidakpastian global.(ris)


