Mataram (globalfmlombok.com) – Puluhan buyer dan pelaku industri pariwisata internasional dari belasan negara menjelajahi sejumlah destinasi unggulan di Lombok dalam kegiatan familiarization trip (famtrip) yang menjadi bagian dari rangkaian Bali and Beyond Travel Fair (BBTF) 2026. Kegiatan ini dimanfaatkan Pemerintah Provinsi NTB untuk memperkenalkan secara langsung potensi pariwisata daerah kepada pasar global.
Para buyer yang mengikuti famtrip berasal dari Australia, Malaysia, India, Belanda, Afrika Selatan, Polandia, Prancis, Kenya, Lithuania, Tiongkok, Hong Kong, Pakistan, Filipina, Kazakhstan, Myanmar, dan Slovakia. Selama dua hari, mereka diajak menikmati beragam atraksi wisata, budaya, hingga kuliner khas Lombok yang dikemas oleh Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) NTB, Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif NTB, serta pelaku industri pariwisata setempat.
Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif NTB, Ahmad Nur Aulia, mengatakan antusiasme peserta BBTF 2026 untuk mengunjungi NTB sangat tinggi. Menurutnya, kunjungan langsung ke destinasi menjadi cara efektif untuk memperkenalkan potensi pariwisata daerah secara menyeluruh.
“Antusiasme peserta sangat besar. Ini menjadi kesempatan penting agar mereka mengetahui kondisi terkini destinasi wisata di NTB, termasuk budaya, kuliner, dan berbagai potensi yang kita miliki,” ujarnya saat menjamu para buyer di Qunci Villas, Minggu (31/5).
Aulia menjelaskan, pengalaman langsung di lapangan memberikan gambaran yang lebih utuh dibandingkan pertemuan bisnis singkat dalam pameran wisata. Melalui famtrip, para buyer dapat merasakan langsung pengalaman berwisata di Lombok sehingga peluang kerja sama bisnis menjadi lebih terbuka.
“Harapannya tentu ada kemitraan yang kuat antara pelaku usaha pariwisata NTB dengan buyer dari berbagai negara sehingga dapat mendatangkan lebih banyak wisatawan mancanegara ke NTB,” katanya.
Selain menampilkan destinasi unggulan, Pemprov NTB juga memperkenalkan kekayaan budaya lokal, kuliner tradisional, serta konsep gastro tourism yang kini menjadi salah satu tren dalam industri perjalanan dunia. Strategi tersebut dinilai penting untuk memperkuat daya saing NTB di tengah ketatnya persaingan destinasi wisata internasional.
“Pariwisata saat ini menghadapi berbagai tantangan. Karena itu dibutuhkan inovasi dan optimalisasi promosi agar NTB tetap menjadi pilihan wisatawan dunia,” ujarnya.
Ketua BPPD NTB, Sahlan M. Saleh, menambahkan bahwa para buyer yang hadir merupakan pelaku industri wisata potensial dari kawasan Eropa, Asia, Afrika hingga Amerika yang memiliki jaringan pemasaran wisata di negara masing-masing.
Menurutnya, tujuan utama famtrip bukan sekadar memperkenalkan destinasi, tetapi juga membangun keyakinan para buyer untuk memasarkan Lombok secara lebih serius.
“Yang ingin kita gali adalah komitmen mereka untuk menjual Lombok secara serius. Karena itu mereka harus melihat sendiri destinasi, hotel, atraksi wisata, dan pengalaman yang ditawarkan Lombok,” katanya.
Selama berada di Lombok, para peserta diajak menikmati berbagai aktivitas wisata di Gili Trawangan, mulai dari bersepeda, naik cidomo, snorkeling hingga mengenal potensi wisata selam yang menjadi salah satu daya tarik utama pulau tersebut.
Rangkaian kunjungan kemudian dilanjutkan ke sentra kerajinan gerabah Banyumulek, Desa Adat Sukarara yang terkenal dengan tenun tradisionalnya, hingga Desa Adat Ende untuk melihat langsung kehidupan masyarakat Sasak beserta kekayaan budayanya.
Para buyer juga diperkenalkan dengan wisata gastronomi khas Lombok seperti serabi dan cerorot yang dibuat langsung oleh masyarakat setempat. Selanjutnya mereka dijadwalkan mengunjungi kawasan The Mandalika, termasuk Sirkuit Mandalika dan sejumlah pantai unggulan yang menjadi ikon pariwisata NTB.
“Di Sukarara mereka akan belajar langsung proses menenun dan memahami filosofi budaya yang terkandung di dalamnya. Di Ende kami tampilkan kesenian tradisional, tarian, serta kuliner khas masyarakat Sasak,” jelas Sahlan.
Ia menegaskan, sebagian besar buyer yang hadir merupakan agen perjalanan yang membutuhkan pemahaman mendalam mengenai sebuah destinasi sebelum memasarkannya kepada wisatawan di negara asal mereka.
“Karakter travel agent internasional itu mereka harus memahami destinasi terlebih dahulu. Setelah itu baru mereka menyusun dan menjual paket wisata. Karena bagi sebagian dari mereka, Lombok masih merupakan destinasi baru yang perlu dipelajari lebih dalam,” katanya.
Melalui kegiatan famtrip tersebut, BPPD NTB berharap komunikasi bisnis yang terjalin selama BBTF 2026 dapat berkembang menjadi kerja sama konkret dalam bentuk paket-paket wisata baru yang mampu meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara ke NTB.
“Target akhirnya tentu peningkatan kunjungan wisatawan dan dampak ekonomi bagi daerah. Semakin banyak buyer yang mengenal Lombok, semakin besar peluang destinasi kita dipasarkan secara global,” pungkasnya. (r)


