Bima (globalfmlombok.com) – Tumpukan sampah di kawasan Pasar Tente, Kecamatan Woha, meresahkan pedagang dan warga sekitar. Selain menimbulkan bau menyengat, sampah yang menumpuk di menutupi badan jalan hingga mengganggu aktivitas pengguna jalan.
Salah seorang warga Hatta mengatakan persoalan sampah di lokasi tersebut, sudah terjadi sejak 2025. Kondisinya semakin parah dalam dua bulan terakhir, karena pengangkutan tidak dilakukan secara rutin. Sampah disebut berasal dari limbah rumah tangga masyarakat sekitar dan sebagian kecil dari aktivitas pasar.
“Sudah dari tahun lalu ini sampahnya menumpuk di situ. Dua bulan terakhir tidak ada sama sekali pengangkutan oleh petugas,” ujarnya, Senin (11/5).
Pasar Tente menurut dia, bukan tempat pembuangan sampah resmi, melainkan jalan penghubung di area pasar. Warga sempat melakukan aksi protes ke Dinas Lingkungan Hidup bahkan ke Kantor Bupati Bima, agar disediakan tempat pembuangan sampah yang layak.
“Dari tahun lalu 2025, kita pernah demo di sana. Kita minta agar persoalan ini tuntas dan disediakan tempat sampah yang layak,” ujarnya.
Ia menyebut sebagian besar sampah berasal dari warga sekitar yang membuang sampah menggunakan sepeda motor maupun kendaraan roda tiga.
Warga sekitar lanjutnya, sudah berulang kali menegur masyarakat yang membuang sampah di lokasi tersebut. Namun teguran itu tidak dihiraukan.
“Kita ini mau capek mulut. Malahan kita ini dilawan lagi. Sampai berantam kami tegur mereka,” ujarnya.
Pedagang Pasar Tente juga mengaku terdampak dengan tumpukan sampah tersebut. Selain bau menyengat, pengangkutan sampah di area pasar tidak rutin, sehingga sebagian pedagang membuang sampah ke lokasi yang sama.
“Sampah di pasar juga sekarang tidak diambil lagi. Kita buang sendiri ke sana jadinya,” ujar Rahma.
Ia heran pemerintah tidak bergerak cepat menanggulangi tumpukan sampah tersebut. Padahal pedagang tetap membayar retribusi sampah Rp2 ribu per hari. Kini pedagang membayar masing-masing Rp2 ribu untuk lapak dan Rp2 ribu untuk sampah setiap hari.
Warga menyebut pengangkutan sampah terakhir dilakukan pada pekan kemarin setelah kondisi tumpukan sampah sempat viral di media sosial. Saat itu, tiga truk sampah dikerahkan ke lokasi. Namun, hingga kini sampah masih terlihat menumpuk di badan jalan.
Meski sempat diangkut, warga berharap penanganan sampah di kawasan Pasar Tente dilakukan secara rutin, agar tidak terus mengganggu aktivitas masyarakat dan pedagang pasar.
“Kami berharap pemerintah siapkan tempat pembuangan yang layak dan pengangkutan rutin. Jangan tunggu viral baru diangkut,” ujar Hatta.
Kepala Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan Setda Kabupaten Bima, Suryadin membenarkan sempat terjadi mogok kerja petugas pengangkut sampah di sejumlah wilayah Kabupaten Bima. Hal ini mengakibatkan pengangkutan sampah di beberapa lokasi tidak berjalan optimal.
“Memang benar beberapa hari lalu terjadi penumpukan sampah karena tidak ada tenaga kebersihan yang bertugas, namun dalam tiga hari terakhir, itu sudah teratasi setelah tenaga kebersihan yang sebagian tenaga PPPK Paruh Waktu tersebut menerima pencairan gaji,” ujarnya.
Sementara itu, Suara NTB masih berupaya mengonfirmasi persoalan tersebut kepada pihak DLH Kabupaten Bima. Akan tetapi, hingga berita ini ditulis belum ada tanggapan. (hir)


