Bima (globalfmlombok.com) – Pantai Kalaki menjadi salah satu pintu masuk utama wisatawan ke Kabupaten Bima. Namun, destinasi wisata itu masih dipenuhi sampah.
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Bima, Muhammad Akbar mengatakan, Pantai Kalaki memiliki posisi strategis dalam pengembangan pariwisata daerah. Namun, persoalan sampah yang terus menumpuk membuat potensi kawasan tersebut belum tergarap secara maksimal.
Menurutnya, Kalaki semestinya sudah menjadi salah satu destinasi utama di Kabupaten Bima, karena berada di jalur yang dilalui wisatawan dari dan menuju bandara.
“Kalaki ini sebenarnya sudah harus menjadi destinasi utama di Bima sejak dulu. Karena ini, pintu masuknya wisatawan dari bandara. Dan, itu harus bisa memberikan wajah Bima yang ramah, yang indah, yang bagus ketika mereka pertama datang,” ujarnya.
Akbar menjelaskan, persoalan sampah di Pantai Kalaki tidak dapat dilepaskan dari kondisi wilayah hulu. Sampah yang terbawa aliran sungai dari berbagai kecamatan pada akhirnya bermuara di kawasan pesisir tersebut.
Ia menyebut sampah dari sejumlah wilayah, seperti Wawo, Sila dan daerah lainnya, akan berakhir di Kalaki, terutama saat musim hujan dan banjir. Selain itu, arah angin menuju kawasan pantai ikut menyebabkan sampah menumpuk di sepanjang pesisir.
“Muara daripada seluruh sampah yang masuk lewat sungai, yang dari Wawo, yang dari Sila, yang dari mana-mana ini kan muaranya pasti di Kalaki,” katanya.
Karena itu, Akbar menilai penanganan sampah di Kalaki tidak cukup hanya mengandalkan pembersihan di kawasan pantai. Upaya tersebut harus dibarengi dengan peningkatan kesadaran masyarakat,agar tidak membuang sampah ke sungai maupun saluran air yang bermuara ke laut.
Ia mengakui pemerintah daerah telah melakukan berbagai upaya pembersihan. Namun, volume sampah yang terus datang dari hulu membuat persoalan tersebut belum dapat dituntaskan secara optimal.
“DLH dan seluruh jajaran memang harus maksimal. Bukan saya tidak melihat maksimalnya kerja mereka, tetapi memang harus ada sinergi dari berbagai pihak, masyarakat juga,” ujarnya.
Akbar menegaskan kebersihan Pantai Kalaki merupakan tanggung jawab bersama. Selain pemerintah daerah, komunitas lingkungan, pelaku pariwisata dan masyarakat perlu memiliki kepedulian yang sama terhadap kawasan tersebut.
Menurutnya, Pantai Kalaki tidak hanya menjadi lokasi wisata, tetapi juga etalase daerah yang mencerminkan kondisi Kabupaten Bima di mata pengunjung.
“Nah, ini yang perlu ke depan ada sinergisitas di antara semua komponen yang ada, sehingga Kalaki ini memang bersih,” tegasnya.
Ia berharap kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan terus meningkat sehingga persoalan sampah kiriman yang selama ini menjadi masalah utama di Kalaki dapat dikurangi. Dengan kondisi yang lebih bersih, Kalaki diharapkan mampu menjadi destinasi yang memberikan kesan positif bagi wisatawan yang datang ke Bima. (hir)


