Mataram (globalfmlombok.com)–
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mencatat inflasi tahunan atau year-on-year (y-on-y) sebesar 3,78 persen pada Mei 2026. Angka tersebut melampaui batas atas target inflasi nasional yang ditetapkan pemerintah sebesar 3,5 persen.
Kepala BPS Provinsi NTB, Dr. Wahyudin, dalam Berita Resmi Statistik (BRS) yang dirilis Selasa (2/6/2026), menjelaskan bahwa inflasi tahunan terjadi seiring kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 108,09 pada Mei 2025 menjadi 112,18 pada Mei 2026.
“Pada Mei 2026 terjadi inflasi year-on-year sebesar 3,78 persen dengan IHK sebesar 112,18,” ujar Wahyudin.
Meski inflasi tahunan masih berada di atas target pemerintah, secara bulanan NTB justru mengalami deflasi. BPS mencatat deflasi month-to-month (m-to-m) sebesar 0,08 persen, sedangkan inflasi tahun kalender atau year-to-date (y-to-d) mencapai 1,74 persen.
Menurut Wahyudin, inflasi tahunan dipicu oleh kenaikan harga pada seluruh kelompok pengeluaran yang menjadi komponen pembentuk IHK. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar dengan inflasi mencapai 5,10 persen.
Selain itu, kenaikan harga juga terjadi pada kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,20 persen, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 2,30 persen, serta kelompok pengeluaran lainnya.
Sejumlah komoditas tercatat memberikan andil besar terhadap inflasi tahunan. Di antaranya emas perhiasan, cabai rawit, minyak goreng, sigaret kretek mesin (SKM), tarif air minum PAM, serta ikan layang atau ikan benggol.
Kenaikan harga komoditas tersebut dinilai menjadi faktor utama yang mendorong laju inflasi di NTB selama setahun terakhir.
Di sisi lain, meskipun secara bulanan terjadi deflasi, sejumlah komoditas masih memberikan sumbangan terhadap perubahan harga pada Mei 2026. Komoditas yang dominan memengaruhi pergerakan inflasi bulanan antara lain bahan bakar rumah tangga, minyak goreng, cabai merah, kacang panjang, serta pelumas atau oli mesin.
Data BPS juga menunjukkan bahwa dinamika harga pangan dan kebutuhan rumah tangga masih menjadi faktor dominan yang memengaruhi tingkat inflasi di NTB. Karena itu, stabilisasi pasokan dan distribusi komoditas strategis dinilai penting untuk menjaga inflasi tetap terkendali pada bulan-bulan mendatang.(ris)


