BerandaBerandaDesa di Pesisir Lotim Selatan Masih Minim Akses Air Bersih

Desa di Pesisir Lotim Selatan Masih Minim Akses Air Bersih

Selong (globalfmlombok.com) – Kantong-kantong kemiskinan ekstrem di wilayah pesisir selatan Lombok Timur (Lotim) masih menghadapi persoalan mendasar: keterbatasan akses air bersih. Padahal kebutuhan dasar ini menjadi salah satu indikator kesejahteraan masyarakat.

Direktur Fitra NTB, Ramli Ernanda, mengungkapkan, sejumlah desa pesisir di Lotim selatan belum tersentuh program penyediaan air bersih, baik dari proyek Tutuk Jerowaru maupun Sistem Pengelolaan Air Minum (SPAM) Pantai Selatan.

“Desa-desa pesisir ini merupakan kantong kemiskinan ekstrem. Hampir separuhnya masuk dalam kategori miskin ekstrem. Persoalan paling mendasar adalah air minum,” ujar Ramli dalam diskusi tentang isu strategis di desa pesisir yang digelar Fitra NTB di Jerowaru, Sabtu (9/5/2026).

Menurut Ramli, komitmen pemerintah daerah sebenarnya sudah kuat dan tertuang dalam RPJMD. Namun, implementasi di lapangan masih timpang. Tahun 2026, target penanganan justru menurun dibanding periode sebelumnya.

“Dulu sempat menembus Rp1,4 miliar pertahun untuk penanganan tahun 2019-2023. Sekarang perencanaan dan anggaran tidak nyambung,” tegasnya.

Sumber pendanaan mayoritas berasal dari Transfer Keuangan Daerah (TKD). Namun, saat ini terjadi pemotongan pada DAK Air Minum dan Sanitasi. Pemerintah daerah mencoba diversifikasi melalui PAD dan DAU, tetapi DAU diarahkan seperti DAK, yang menjadi tantangan tersendiri.

Serapan anggaran untuk air minum pada tahun 2023 sangat rendah. Realisasi belanja tidak mencapai 100 persen. “Pemda perlu melakukan pengendalian anggaran, meskipun nilai anggarannya kecil. Kualitas belanja harus dikendalikan, buka ruang pemantauan dalam pengadaan barang dan jasa,” ujar Ramli.

Pada tahun 2025 lalu, Pemerintah Lotim melalui PDAM melaksanakan proyek Sambungan Rumah untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) senilai Rp14 miliar. Namun, proyek tersebut belum mampu menjangkau seluruh wilayah pesisir Lotim selatan.

“Banyak warga di selatan yang tidak mendapatkan akses air bersih. Kami temukan juga persoalan teknis di lapangan, misalnya sambungan SR untuk MBR di Desa Wakan, penempatan pipa tidak ditanam di berangkutan. Seharusnya dilakukan secara partisipatif agar warga memahami situasi,” kritik Ramli.

Ia menambahkan bahwa proses ruang partisipasi dalam perencanaan DAK sangat penting. “Kesan kami, asal belanja saja,” tegasnya.

Ramli mendorong skema penyediaan armada tangki air bersih. Usulan ini sebelumnya juga disampaikan oleh perempuan pesisir dalam berbagai forum. Model penyediaan tangki dinilai lebih mendekatkan air ke masyarakat.

Selain itu, skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) untuk desalinasi perlu dilirik. “Di tengah keterbatasan fiskal, desalinasi bisa menjadi solusi. Beberapa investor sudah menunjukkan minat,” ungkapnya.

Ia juga menyoroti kapasitas debit air yang masih terbatas. “Debit air hanya 100 liter per detik pada malam hari. Itu belum mampu menjangkau seluruh pesisir. Pastikan 100 liter itu tidak hanya dinikmati oleh angin saja. Harapannya bisa dinaikkan,” ujarnya.

Lokasi-lokasi seperti Sunut dan Telone harus mendapatkan perhatian serius. “Jangan sampai alasan kesulitan geografis menghalangi. Pasti ada solusi. RPJMD targetnya tinggi, kita dorong agar realisasinya sesuai,” pungkas Ramli.

Pelaksana Tugas Direktur Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Lombok Timur, Sopyan Hakim, kepada Suara NTB mengungkapkan, pada tahun 2025 pihaknya telah merealisasikan anggaran sebesar Rp14 miliar untuk penambahan jaringan distribusi. Program ini merupakan tindak lanjut dari pengembangan SPAM Pantai Selatan yang dikelola operator SPAM Kota Raja.

Menurut Sopyan, penambahan jaringan difokuskan pada wilayah yang sebelumnya belum terlayani air bersih, khususnya di kawasan Ekas dan sekitarnya. “Sebelumnya pada 2024, jaringan dari reservoir di Ekas belum tersambung ke perkampungan. Dari anggaran Rp14 miliar itu, kami gunakan untuk membangun jaringan ke Ekas, Seriwe, Batu Nampar Selatan, dan wilayah sekitar hingga tuntas,” ujarnya, akhir pekan lalu.

Dari program tersebut, masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) kini mulai menikmati akses air bersih secara gratis melalui sambungan rumah (SR). Total sambungan yang telah terpasang mencapai 3.400 SR.

Rinciannya, sekitar 300 sambungan terpasang di Ekas dan 450 sambungan di Seriwe. Data penerima manfaat tersebut diusulkan oleh pemerintah desa, dengan sekitar 80 persen merupakan warga berpenghasilan rendah yang sangat membutuhkan layanan air bersih.

Selain memperluas jaringan, PDAM juga meningkatkan kapasitas debit air untuk menunjang distribusi. Jika sebelumnya debit hanya 50 liter per detik, kini meningkat menjadi 100 liter per detik.
“Dengan penambahan debit ini, distribusi air menjadi lebih optimal. Saat ini kapasitas tersebut mampu menjangkau sekitar 7.000 hingga 10.000 kepala keluarga. Namun dari 3.400 sambungan baru, masih ada sekitar 6.600 KK yang belum terlayani,” jelasnya. (rus)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -


16,985FansSuka
1,170PengikutMengikuti
2,018PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
3,005PelangganBerlangganan
BERDASARKAN TAG
BERDASARKAN KATEGORI