Mataram (globalfmlombok.com) – Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) mega proyek Bypass Lembar-Kayangan sepanjang 50 kilometer terkendala. Selain Amdal, Detail Engineering Design (DED) proyek ini juga berpotensi tidak bisa tuntas tahun ini. Padahal, awalnya Amdal dan DED proyek tersebut diproyeksikan tuntas pada 2026, sehingga tahun 2027 bisa langsung mengerjakan proyek fisik.
Sebelumnya, Amdal proyek ini direncanakan dikerjakan pada tahun 2025 lalu dengan anggaran sekitar Rp1 miliar. Namun karena keterbatasan waktu pembahasan yaitu hanya dua bulan pada saat itu, Pemprov NTB sepakat untuk melaksanakan Amdal di tahun 2026.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (PUPRPKP) Provinsi NTB, Lalu Kusuma Wijaya mengatakan Amdal dan DED proyek tersebut terkendala penyesuaian rencana tata ruang wilayah (RTRW) di tingkat kabupaten. Untuk itu, pihaknya saat ini rutin berkomunikasi agar permasalahan tersebut segera tuntas.
“Kabupaten bersama provinsi sedang mengusulkan penyesuaian RTRW, jadi kita tidak boleh mendahului itu,” ujarnya.
Menurutnya, terdapat revisi pada RTRW kabupaten/kota. Revisi ini untuk menghindari kondisi yang tak diinginkan seperti penyesuaian tata ruang diperlukan agar pembangunan dan investasi tidak menimbulkan pemanfaatan ruang yang ilegal. Untuk itu, Pemprov perlu menunggu hingga seluruh proses ini tuntas sesuai dengan arahan Gubernur Lalu Muhamad Iqbal.
Tertundanya Amdal tahun ini menyebabkan Pemprov NTB belum bisa menentukan rute jalan. Sejauh ini, pemerintah berencana memanfaatkan jalan eksisting dengan skema pelebaran jalan dibanding membuka jalur baru. Namun, skema ini memiliki banyak tantangan seperti banyaknya bangunan dan permukiman yang sudah berdiri di sepanjang ruas jalan yang direncanakan diperlebar.
Menyinggung soal anggaran, Kusuma mengaku anggaran untuk proyek tersebut disebut sudah tersedia, namun pelaksanaannya tetap menyesuaikan dengan hasil revisi tata ruang. Ia berharap proses revisi dapat segera rampung sehingga tahapan berikutnya dapat dijalankan tanpa melanggar regulasi.
“Di tahun ini kita dorong. Karena yang berkepentingan bukan cuma kita, kabupaten/kota juga berkepentingan,” katanya.
Untuk anggaran pembangunan jalan port to port ini, menghabiskan sekitar Rp3,5 triliun. Dengan rincian Bypass I dari jalan patung sapi menuju bundaran BIL dengan panjang 13-14 km menghabiskan sekitar Rp700 miliar. Kemudian untuk jalan Sengkol – Pringgabaya menghabiskan sekitar Rp2,8 triliun.
Berdasarkan hasil pra Feasibility Study (FS) atau studi kelayakan, Pemprov NTB mendapatkan tiga jalur alternatif, yaitu dari Lembar melewati KLU ke Labuhan Lombok, jalur kedua yaitu jalur Selatan dari Lembar melewati Bypass Mandalika menuju ke Labuhan Lombok, dan jalur ketiga yaitu Lembar melewati Praya nyambung ke kayangan.
Dari tiga alternatif ini, Pemprov NTB rencananya akan mengambil jalur tengah yaitu dari Lembar melewati Praya ke Labuhan Lombok karena jalur ini menjadi jalur yang paling pendek. (era)


