Mataram (globalfmlombok.com)– Wakil Ketua DPRD Nusa Tenggara Barat (NTB), Lalu Wirajaya, meminta Bank Indonesia (BI) bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) memperkuat langkah pengendalian inflasi agar tidak melampaui angka nasional.
Menurut Wirajaya, tingginya inflasi akan berdampak langsung terhadap daya beli masyarakat. Karena itu, diperlukan langkah konkret dan terukur di lapangan guna menekan kenaikan harga.
“Kami berharap BI dan TPID segera melakukan upaya pengendalian yang terukur supaya inflasi di NTB tidak melampaui nasional. Kasihan masyarakat, karena beban kenaikan harga akan dirasakan langsung,” ujar Wirajaya, Selasa (28/4/2026).
Politisi Partai Gerindra tersebut menilai pengendalian inflasi perlu diperkuat melalui berbagai strategi, termasuk melakukan studi komparasi ke daerah lain yang dinilai berhasil menjaga stabilitas harga.
“Kita tidak perlu malu belajar dari daerah lain yang pengendalian inflasinya baik. Program-program yang berhasil bisa diadopsi dan disesuaikan dengan kondisi NTB,” katanya.
Ia juga menegaskan, BI dan TPID NTB sejatinya telah memiliki sejumlah program pengendalian inflasi pada tahun-tahun sebelumnya yang dapat dijadikan rujukan. Program tersebut diharapkan tidak hanya dilanjutkan, tetapi juga dikembangkan dengan inovasi baru.
“Saya kira sudah ada program dari kepemimpinan sebelumnya yang bisa dicontoh. Pimpinan BI sekarang diharapkan bisa melanjutkan bahkan lebih kreatif lagi agar program pengendalian inflasi semakin efektif,” ujarnya.
Sejumlah program yang telah dijalankan TPID NTB di antaranya TANCABKAN GAS (Tanam Cabai Kendalikan Harga), operasi pasar murah, penguatan kerja sama antar daerah, pengembangan agribisnis terpadu, hingga gerakan menanam tanaman pangan cepat panen.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), laju inflasi NTB dalam dua bulan terakhir tercatat lebih tinggi dibandingkan nasional. Pada Maret 2026, inflasi tahunan (year on year/yoy) NTB mencapai 4,09 persen, lebih tinggi dari nasional sebesar 3,48 persen.
Sementara pada Februari 2026, inflasi NTB tercatat 5,37 persen (yoy), juga melampaui angka nasional sebesar 4,76 persen. Kondisi ini menunjukkan adanya tekanan harga yang cukup tinggi pada awal tahun 2026.
Secara bulanan (month to month/mtm), inflasi NTB pada Maret 2026 tercatat sebesar 0,81 persen. Komoditas yang dominan menyumbang inflasi tahunan antara lain emas perhiasan, tarif listrik, daging ayam ras, kubis, serta sigaret kretek mesin. Adapun penyumbang inflasi bulanan di antaranya cabai rawit, kubis, dan daging ayam ras.
Meski demikian, Indeks Perkembangan Harga (IPH) pada pekan keempat April 2026 tercatat minus 1,81 persen, yang dipengaruhi penurunan harga cabai rawit, daging ayam ras, dan daging sapi.
Dalam Laporan Perekonomian Provinsi NTB Februari 2026, Bank Indonesia memperkirakan tekanan inflasi di NTB masih akan berlanjut sepanjang tahun ini. Meski demikian, inflasi diproyeksikan tetap dalam kondisi terkendali.
Peningkatan inflasi antara lain dipicu oleh potensi kenaikan permintaan pangan serta volatilitas harga komoditas global. BI bersama TPID disebut terus memperkuat sinergi melalui berbagai program, termasuk Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP), guna menjaga stabilitas harga di daerah. (*)
Berita ini di muat di SUARANTB.COM dengan judul ”Inflasi NTB Melampaui Nasional, DPRD Minta Langkah Konkret BI dan TPID”


