Mataram (globalfmlombok.com) – Krisis air bersih yang masih melanda kawasan Gili Meno, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB), dinilai belum berdampak terhadap jumlah kunjungan wisatawan. Di tengah tuntutan warga terkait penyediaan air bersih, aktivitas pariwisata di kawasan tiga gili disebut masih tetap ramai, terutama menjelang musim liburan atau high season.
Kepala Dinas Pariwisata NTB, Ahmad Nur Aulia mengatakan kunjungan wisatawan ke kawasan Gili masih relatif tinggi meskipun persoalan air bersih belum terselesaikan sepenuhnya.
“Ini kan mulai memasuki high season mereka ini kan,” ujar Aulia di Grand Madani Hotel, Senin (25/5/2026).
Meski tidak mempengaruhi tingkat kunjungan wisatawan, Aulia menegaskan persoalan air bersih yang terjadi sejak 2023 tetap menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi NTB. Menurutnya, air bersih merupakan kebutuhan dasar yang berkaitan langsung dengan pelayanan masyarakat maupun wisatawan.
Untuk menangani persoalan tersebut, Pemprov NTB telah membentuk satuan tugas (Satgas) penanganan tiga gili pada 2025 lalu.
“Air merupakan salah satu infrastruktur dasar. Ini tentu menjadi perhatian kami dan juga Satgas,” katanya.
Ia menjelaskan, Satgas saat ini fokus menangani tiga persoalan utama, yakni penyelesaian status lahan, penanganan lingkungan, serta penguatan infrastruktur dasar seperti penyediaan air bersih dan pengelolaan sampah.
Namun demikian, Aulia mengakui penyelesaian persoalan air bersih tidak dapat dilakukan secara cepat karena kewenangan pengelolaannya berada di pemerintah kabupaten. Selain itu, kondisi geografis Gili Meno yang terpisah dari daratan utama juga menjadi tantangan tersendiri.
“Untuk air ini tentu harus ada koordinasi dengan pemerintah kabupaten karena itu memang ranah mereka,” ujarnya.
Belakangan, lambannya penanganan krisis air bersih kembali memicu keresahan warga. Sejumlah warga Dusun Gili Meno, Desa Gili Indah, Kecamatan Pemenang, bahkan menggelar aksi demonstrasi menuntut pemerintah segera menghadirkan sistem distribusi air bersih yang permanen dan berkelanjutan.
Menurut Aulia, kebutuhan air bersih menjadi hal mendasar bagi sebuah destinasi wisata internasional yang terus berkembang.
“Harapan adanya air secara berkelanjutan memang sudah menjadi kebutuhan utama sebuah destinasi wisata,” katanya.
Mantan Kepala DPMPD Dukcapil NTB itu menambahkan, Satgas sebenarnya telah melakukan pemetaan persoalan serta menyiapkan langkah penanganan. Akan tetapi, realisasi program masih membutuhkan dukungan pembiayaan dan kesiapan teknis di lapangan.
Saat ini, sebagian warga dan pelaku usaha wisata di Gili Meno masih bergantung pada pasokan air yang dibeli untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pemprov NTB menilai solusi tersebut hanya bersifat sementara dan tidak bisa menjadi solusi jangka panjang.
Aulia menegaskan, kebutuhan air bersih diperkirakan akan terus meningkat seiring bertambahnya fasilitas wisata dan lonjakan jumlah kunjungan wisatawan ke kawasan Gili.
“Kalau kunjungan meningkat, kebutuhan air juga semakin tinggi. Karena itu layanan air bersih harus berkelanjutan agar pelayanan kepada wisatawan tetap terjaga,” jelasnya.
Sementara itu, aksi penolakan warga terhadap rencana pelayanan air bersih melalui mitra PT Tiara Cipta Nirwana (TCN) dengan sistem Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) juga masih berlanjut. Warga khawatir sistem tersebut berdampak terhadap kerusakan lingkungan laut, khususnya terumbu karang biru (blue coral) di kawasan Gili Trawangan.
Berdasarkan data Balai Kawasan Konservasi Nasional (BKKN) Kupang Kementerian Kelautan dan Perikanan, kerusakan terumbu karang di kawasan tersebut disebut mencapai panjang 1,6 kilometer dengan lebar sekitar 200 meter. (r)


