Mataram (globalfmlombok.com) – Pemerintah Kecamatan Mataram mulai merancang gerakan penanaman sayuran menggunakan polybag dengan memanfaatkan ruang kosong di atas saluran drainase di masing-masing kelurahan. Program tersebut disiapkan sebagai upaya mempercantik lingkungan, menjaga kebersihan kawasan permukiman, sekaligus mendukung ketahanan pangan masyarakat perkotaan.
Konsep penataan lingkungan itu akan diterapkan dengan memanfaatkan saluran drainase yang mengering saat musim kemarau. Area di atas drainase nantinya akan ditata menggunakan deretan polybag berisi tanaman sayuran seperti cabai, tomat, terong, sawi, dan berbagai tanaman konsumsi rumah tangga lainnya.
Selain menghadirkan kawasan yang lebih hijau, program tersebut juga diharapkan mampu mengubah kesan kumuh pada sejumlah titik drainase di lingkungan permukiman warga.
Camat Mataram, Arifiawan Mardjun, mengatakan langkah awal program dilakukan melalui kegiatan gotong royong membersihkan dan menormalisasi sedimentasi saluran drainase. Menurutnya, musim kemarau menjadi momentum tepat untuk melakukan penataan karena kondisi saluran relatif kering.
“Biasanya saat musim kemarau saluran drainase kering. Itu yang kami manfaatkan untuk penanaman agar lingkungan terlihat lebih hidup dan bersih,” ujarnya, Jumat (8/5).
Ia menjelaskan, program tersebut tidak hanya berorientasi pada penghijauan lingkungan, tetapi juga dikaitkan dengan pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui konsep “Tempah Dedoro”. Program pengelolaan sampah itu menghasilkan pupuk organik yang nantinya dimanfaatkan untuk kebutuhan tanaman sayur di polybag.
“Jadi sampah organik yang diolah di Tempah Dedoro bisa dimanfaatkan menjadi pupuk. Hasilnya dipakai kembali untuk tanaman sayur masyarakat,” katanya.
Menurut Arifiawan, pengelolaan Tempah Dedoro saat ini telah berjalan di lingkungan yang tersebar di sembilan kelurahan di Kecamatan Mataram. Ke depan, pihak kecamatan ingin memperkuat partisipasi masyarakat agar pengelolaan sampah dan penghijauan lingkungan dapat berjalan berkelanjutan.
Program tersebut juga dirancang berbasis gotong royong dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari perangkat kelurahan, kepala lingkungan, RT, kader posyandu, karang taruna, hingga kelompok wanita tani (KWT).
Terkait sumber pendanaan, Arifiawan mengatakan pengembangan Tempah Dedoro direncanakan dilakukan melalui pola swakelola dengan dukungan anggaran pemerintah. Namun demikian, pihak kecamatan juga membuka peluang dukungan dari dana tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR).
“Ada rencana dari Karang Taruna untuk mengupayakan dana CSR guna pembangunan Tempah Dedoro di beberapa lingkungan,” jelasnya.
Menurutnya, pemanfaatan dana CSR menjadi salah satu alternatif untuk membantu kondisi fiskal daerah di tengah kebijakan efisiensi anggaran. Dukungan tersebut diharapkan dapat membantu penyediaan sarana pengelolaan sampah, bibit tanaman, hingga kebutuhan penataan lingkungan. (*)
Berita ini di muat di SUARANTB.COM dengan judul ” Pengelolaan Sampah dan Ketahanan Pangan “


