Mataram (globalfmlombok.com) – Di tengah era banjir informasi, aktivitas membaca menjadi kian krusial. Pelajar kini dituntut tidak hanya menyerap informasi sebanyak-banyaknya, tetapi juga menyaringnya secara jernih dan kritis.
SMAN 4 Mataram terus berkomitmen merawat kemampuan literasi dan numerasi para siswa. Langkah ini diambil agar peserta didik tidak kehilangan daya kritis dan terbawa arus informasi bohong atau hoax.
Melalui Gerakan Literasi Sekolah (GLS), berbagai kegiatan positif terus dikembangkan sebagai program unggulan. Bentuk kegiatannya beragam mulai dari membaca selama 30 menit sebelum masuk kelas, menceritakan kembali isi buku hingga menulis resensi dan puisi. Rangkaian program ini dirancang untuk menjaga kualitas literasi sekaligus mengasah kemampuan berpikir kritis siswa.
Koordinator Program GLS, Ni Komang Purnawati, mengungkapkan bahwa dominasi perangkat digital dan keprihatinan atas kualitas literasi siswa menjadi tantangan utama yang membuat program GLS semakin mendesak untuk dijalankan.
“Sekarang fokusnya kita adalah bagaimana meningkatkan gerakan literasi sekolah tidak hanya sekadar membaca, menulis, bercerita, kami akan buat nanti beberapa gerakan inovatif dan akan terus kami perbarui,” ujarnya, Senin (7/9).
Program GLS in lanjutnya, siswa dibekali kemampuan dasar membaca dan menulis serta ditanamkan pemahaman akan pentingnya menguasai kompetensi tersebut.
“Sehingga kalau anak-anak senang membaca dari hal-hal yang mereka sukai, otomatis, enam dasar yang disiapkan pemerintah kami percaya SMAN 4 Mataram akan mampu bersaing dengan sekolah lain di Kota Mataram,” pungkasnya.
Komitmen ini tidak hanya datang dari pihak sekolah, tetapi juga disambut hangat oleh para siswa. Haniyah Nurazizah, siswa kelas XII SMAN 4 Mataram menilai bahwa membaca tidak hanya membangun nalar kritis, melainkan juga menjadi fondasi dalam kehidupan sehari-hari.
“Literasi juga penting banget bagi pelajar untuk dapat memahami pelajaran sekolah lebih mudah,” tuturnya.
Meski begitu, Haniyah mengakui tidak mudah untuk tetap konsisten membaca di era digital. Distraksi notifikasi gawai serta dominasi konten pendek di media sosial kerap membuat fokus berkurang. “Jadi dari situlah kita harus meningkatkan kemampuan literasi karena di media sosial informasi tersebut melebar secara luas. Tapi kita tidak tahu mana yang fakta dan mana yang hoax,” tandasnya.
Senada dengan Haniyah. Alexander Viki, siswa kelas XII SMAN 4 Mataram menekankan pentingnya penguasaan literasi dasar bagi pelajar untuk mempermudah pemahaman materi pelajaran.
“Literasi ini juga untuk melatih maupun meningkatkan kemampuan kita untuk lebih dalam lagi dalam memahami numerasi dan literasi itu sendiri,” pungkasnya. (sib)


