Beranda blog Halaman 81

Distribusi Dibatasi, Permintaan Elpiji 3 Kg di Mataram Melonjak hingga 45 Persen

Mataram (globalfmlombok.com) – Sejumlah pangkalan gas elpiji 3 kilogram di Kota Mataram mengungkapkan terjadinya kelangkaan di tingkat masyarakat. Kondisi ini dipicu pembatasan distribusi ke pengecer yang berdampak pada lonjakan permintaan di pangkalan.

Salah satu pemilik pangkalan, Viktor Kusno Handoyo, mengatakan permintaan elpiji subsidi meningkat signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Lonjakan tersebut dipengaruhi kepanikan masyarakat dalam membeli (panic buying).

“Peningkatan sekarang kurang lebih hampir 45 persen. Biasanya pembeli datang seminggu sekali, sekarang bisa dua hingga tiga kali,” ujarnya.

Meski permintaan meningkat, pihak pangkalan tetap menerapkan pembatasan pembelian untuk kebutuhan rumah tangga, yakni satu tabung per KTP. Selain itu, pembelian dari luar domisili Kota Mataram juga tidak dilayani guna menjaga ketersediaan stok.

Viktor menjelaskan, distribusi dari agen ke pangkalan masih berjalan normal, yakni tiga kali dalam sepekan dengan pasokan sekitar 100 hingga 200 tabung setiap pengiriman. Dari jumlah tersebut, sekitar 80 persen dialokasikan untuk rumah tangga dan 20 persen untuk pengecer.

Sementara itu, Pemerintah Kota Mataram mulai melakukan pemetaan terhadap 399 pangkalan elpiji 3 kilogram sebagai langkah antisipasi kelangkaan.

Asisten II Setda Kota Mataram, Miftahurrahman, mengatakan langkah ini diambil untuk merespons dinamika distribusi di lapangan.

“Hasil pemantauan menunjukkan ada ketimpangan akses. Gas tersedia di pangkalan, tetapi sulit ditemukan di tingkat pengecer atau rumah tangga,” ujarnya usai rapat bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID).

Menurutnya, pemerintah akan mengevaluasi sebaran pangkalan, terutama yang berlokasi berdekatan, untuk memastikan efektivitas distribusi. Selain itu, akan dilakukan pendataan lebih rinci terhadap masyarakat yang dilayani tiap pangkalan guna mencegah pembelian dari luar wilayah.

Pemkot juga mengidentifikasi lonjakan permintaan dipengaruhi momentum hari besar keagamaan, termasuk musim haji, serta isu kenaikan harga yang memicu kepanikan masyarakat.

Pemerintah kota menegaskan akan terus berkoordinasi dengan agen penyalur guna memastikan distribusi berjalan lancar dan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi. Upaya ini diharapkan mampu menjaga pemerataan pasokan elpiji subsidi di seluruh wilayah Kota Mataram dan mencegah kelangkaan. (*)

Berita ini di muat di SUARANTB.COM dengan judul ” Distribusi Dibatasi, Permintaan Elpiji 3 Kg di Mataram Naik hingga 45 Persen “

JCH Kloter 10 Kota Mataram Diberangkatkan, PHD Diminta Sigap Dampingi Jemaah

Mataram (globalfmlombok.com) – Pemerintah Kota Mataram melepas 393 jemaah calon haji (JCH) yang tergabung dalam kelompok terbang (kloter) 10 di halaman Kantor Wali Kota Mataram, Minggu (3/5/2026). Pelepasan berlangsung haru, diiringi tangis dan doa dari keluarga yang memadati lokasi sejak pagi.

Wali Kota Mataram Mohan Roliskana secara resmi melepas keberangkatan JCH Kloter 10 Embarkasi Lombok. Kloter ini merupakan gelombang kedua setelah sebelumnya pelepasan dilakukan pada Kloter 5.

Dalam sambutannya, Mohan menegaskan bahwa ibadah haji bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan spiritual yang membutuhkan kesiapan mental dan emosional.

“Selama di Tanah Suci, jemaah akan menghadapi berbagai ujian, baik fisik maupun sosial. Karena itu diperlukan kesabaran, keikhlasan, dan sikap tawakal,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga sikap selama menjalankan ibadah, termasuk menjaga lisan, memperkuat kebersamaan, dan saling membantu antarjemaah.

Menurutnya, kekompakan menjadi kunci kelancaran pelaksanaan ibadah haji. Karena itu, nilai kebersamaan harus terus dijaga selama berada di Tanah Suci.

Selain itu, Mohan memberikan perhatian khusus kepada Petugas Haji Daerah (PHD) agar menjalankan tugas secara maksimal. Ia meminta para petugas bersikap sigap, tanggap, dan responsif dalam mendampingi jemaah.

“Peran PHD sangat strategis dalam memastikan jemaah mendapatkan pelayanan dan pendampingan yang baik sejak keberangkatan hingga kepulangan,” katanya.

Berdasarkan data dari Kementerian Haji dan Umrah perwakilan Kota Mataram, JCH Kloter 10 terdiri atas 205 perempuan dan 178 laki-laki, serta lima petugas haji.

Adapun jemaah termuda berusia 20 tahun, sedangkan yang tertua mencapai 81 tahun. Dengan telah diberangkatkannya Kloter 5 dan Kloter 10, tersisa Kloter 15 sebanyak 29 jemaah yang akan diberangkatkan bersama jemaah dari daerah lain. (*)

Berita ini di muat di SUARANTB.COM dengan judul ” JCH Kloter 10 Kota Mataram Diberangkatkan, PHD Diminta Sigap Dampingi Jemaah

Peringati Hardiknas, Bunda Literasi Tekankan Pentingnya Budaya Baca di Masyarakat

Praya (globalfmlombok.com) – Memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026, Bunda Literasi NTB Sinta M. Iqbal bersama komunitas Tastura Mengajar menyapa anak-anak di wilayah pelosok selatan Kabupaten Lombok Tengah.

Kegiatan bertajuk “Bergerak di Selatan, Spesial Aksi di Hardiknas” tersebut berlangsung di Gubuk Panggel, Desa Mekar Sari, Kecamatan Praya Barat, Sabtu (2/5/2026). Dalam kegiatan itu, Bunda Literasi NTB menyerahkan bantuan berupa alat tulis dan buku bacaan, sekaligus menguatkan pentingnya budaya literasi bagi anak-anak.

“Betapa pentingnya budaya baca bagi anak-anak kita. Selain bantuan ini, kita juga ingin memetakan kebutuhan mendesak masyarakat di pelosok agar dapat disuarakan lebih luas,” ujar Sinta.

Ia menegaskan, anak-anak di wilayah pelosok memiliki potensi yang tidak kalah dibandingkan dengan anak-anak di perkotaan. Momentum Hardiknas, menurutnya, menjadi pengingat bahwa akses pendidikan dan literasi harus merata.

“Di sini kita melihat dan membuktikan bahwa anak-anak di pelosok juga hebat dan luar biasa,” katanya.

Sinta juga menyoroti perjuangan anak-anak yang harus menempuh perjalanan jauh menuju sekolah, bahkan hingga dua jam pulang-pergi. Meski demikian, ia optimistis mereka tetap memiliki masa depan yang cerah.

“Insyaallah mereka akan menjadi anak-anak NTB yang bermanfaat di masa depan,” ujarnya.

Selain memberikan motivasi, Sinta turut berdialog dengan warga setempat untuk menyerap berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat, serta merasakan langsung perjalanan anak-anak saat pulang sekolah.

Sementara itu, Ketua Tastura Mengajar, Lalu Gitan Prahana, mengungkapkan bahwa kendala utama yang dihadapi anak-anak di Gubuk Panggel bukan hanya keterbatasan fasilitas belajar, tetapi juga akses jalan menuju sekolah.

“Ada puluhan anak yang harus berjalan kaki berjam-jam karena belum adanya akses jalan yang layak. Saat musim hujan, kondisi jalan yang rusak bahkan membuat mereka tidak bisa berangkat sekolah,” ujarnya.

Kondisi tersebut menyebabkan tingkat kehadiran siswa sangat bergantung pada cuaca. Jalan berlumpur dan licin saat hujan kerap menjadi penghalang utama bagi anak-anak untuk mendapatkan akses pendidikan yang layak. (*)

 

 

Berita ini di muat di SUARANTB.COM dengan judul ” Peringati Hardiknas, Bunda Literasi Ingatkan Pentingnya Budaya Baca

Moratorium Izin Minol Dikeluhkan, Pelaku Usaha Senggigi Nilai Pendapatan Tak Optimal

Giri Menang (globalfmlombok.com) – Kebijakan moratorium Izin Tempat Penjualan Minuman Beralkohol (ITPMB) di Kabupaten Lombok Barat menuai keluhan dari pelaku usaha pariwisata di kawasan Senggigi. Kebijakan tersebut dinilai berdampak pada penurunan pendapatan usaha sekaligus membatasi layanan bagi wisatawan, khususnya mancanegara.

Ketua Senggigi Hotels Association, I Ketut M Jaya Kusuma, mengatakan hingga kini belum ada respons serius dari Pemerintah Kabupaten Lombok Barat terkait aspirasi yang disampaikan pelaku usaha.

“Wisatawan yang datang, terutama dari luar negeri, memiliki pilihan terbatas untuk menikmati minuman beralkohol,” ujarnya.

Ia menilai, kebijakan moratorium justru berpotensi memicu peredaran minuman beralkohol ilegal. Kondisi tersebut dinilai merugikan pelaku usaha yang telah memiliki izin resmi dan membayar pajak, sementara pelaku ilegal tidak memberikan kontribusi pendapatan daerah.

Menurut Ketut, pelaku usaha yang memiliki izin tetap diwajibkan membayar Pajak Pembangunan I (PB1). Namun, di sisi lain, izin baru tidak dapat diterbitkan karena moratorium masih berlaku.

“Seharusnya yang belum berizin didorong untuk mengurus izin, bukan justru dibiarkan. Ini terbalik,” katanya.

Ia juga mendorong pemerintah daerah menerapkan zonasi yang jelas dalam pengaturan peredaran minuman beralkohol, khususnya di kawasan wisata. Jika dikelola dengan baik, kebijakan tersebut dinilai dapat mendukung sektor pariwisata sekaligus menjaga ketertiban.

Pihaknya berharap pemerintah daerah segera mengevaluasi, bahkan mencabut moratorium tersebut demi keberlangsungan usaha dan peningkatan pendapatan daerah.

Sementara itu, Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Lombok Barat, I Ketut Rauh, membenarkan bahwa moratorium izin baru ITPMB telah diberlakukan sejak 2024 berdasarkan kebijakan pemerintah daerah saat itu.

“Selama moratorium belum dicabut, maka tetap berlaku. Kami di lapangan mengikuti regulasi yang ada,” ujarnya.

Ia menjelaskan, kebijakan tersebut hanya berlaku untuk penerbitan izin baru, sementara perpanjangan izin tetap diperbolehkan. Terkait pengawasan, Satpol PP mengaku rutin melakukan penertiban minuman beralkohol di sejumlah wilayah.

“Penertiban kami lakukan dua hingga empat kali dalam seminggu di beberapa kecamatan. Jika ditemukan pelanggaran, pasti akan ditindak,” tegasnya.

Namun, hingga kini penertiban belum difokuskan di kawasan Senggigi karena belum adanya laporan terkait peredaran minuman beralkohol ilegal di wilayah tersebut. (*)

Berita ini di muat di SUARANTB.COM dengan judul ” Pendapatan Tak Optimal, Pelaku Usaha Senggigi Keluhkan Moratorium ITPMB “

Pembalap Fitra Eri Apresiasi Keandalan Listrik PLN di Ajang GT World Challenge Mandalika

Praya (globalfmlombok.com)PT PLN Persero Unit Induk Wilayah Nusa Tenggara Barat memastikan pasokan listrik tetap andal selama pelaksanaan hari kedua ajang GT World Challenge Asia Mandalika 2026 di Sirkuit Internasional Mandalika.

Keandalan kelistrikan tersebut mendapat apresiasi dari pembalap nasional sekaligus pengamat otomotif Fitra Eri yang hadir langsung menyaksikan balapan. Ia menilai, stabilitas pasokan listrik menjadi faktor krusial dalam penyelenggaraan ajang motorsport internasional.

“Ajang sekelas GT World Challenge menuntut standar operasional tinggi, termasuk dari sisi kelistrikan. Saya melihat kesiapan PLN di Mandalika sangat baik. Seluruh sistem berjalan mulus tanpa kendala,” ujarnya.

Menurut Fitra, seluruh perangkat penting seperti sistem pencatatan waktu (timing), komunikasi, paddock, hingga fasilitas pendukung balapan berfungsi optimal berkat dukungan listrik yang stabil. Hal ini, kata dia, menunjukkan kesiapan Indonesia sebagai tuan rumah event balap kelas dunia.

Keandalan pasokan listrik juga menunjang jalannya kompetisi yang berlangsung ketat sepanjang hari kedua. Ribuan penonton memadati tribun, sementara aktivitas di area paddock, media center, hingga fasilitas hospitality berjalan lancar.

Seluruh operasional, mulai dari perangkat digital, pencahayaan, sistem penyiaran (broadcasting), hingga infrastruktur pendukung lainnya, dapat berfungsi tanpa gangguan berkat suplai listrik yang terjaga.

PLN menegaskan komitmennya untuk terus menjaga keandalan listrik dalam setiap event internasional di Mandalika, guna mendukung citra Indonesia sebagai tuan rumah penyelenggaraan ajang berskala global. (*)

Berita ini di muat di SUARANTB.COM dengan judul ” Pembalap Nasional Fitra Eri Apresiasi Keandalan Listrik PLN pada GT World Challenge di Mandalika “

Tim Gabungan Sita 11.076 Batang Rokok Ilegal di Kota Bima

Kota Bima (globalfmlombok.com) – Tim gabungan yang terdiri dari Satuan Polisi Pamong Praja, Bea Cukai, TNI, dan Polri menggelar razia peredaran rokok ilegal di lima kecamatan di Kota Bima. Dalam operasi tersebut, sebanyak 11.076 batang rokok ilegal berhasil disita.

Penindakan dilakukan pada Kamis (30/4/2026) menyusul laporan masyarakat terkait maraknya peredaran rokok tanpa pita cukai dengan harga murah di pasaran.

Kepala Satpol PP Kota Bima, Erwin Rahadi, mengatakan operasi gabungan ini merupakan respons cepat atas keresahan masyarakat sekaligus indikasi kebocoran penerimaan negara dari sektor cukai.

“Kami merespons keresahan masyarakat terkait dugaan kebocoran penerimaan negara. Karena itu, kami berkoordinasi dengan Bea Cukai serta unsur TNI-Polri untuk melakukan penindakan di lapangan,” ujarnya, Jumat (1/5/2026).

Operasi dilakukan secara menyeluruh dengan menyasar jalur distribusi hingga tingkat pengecer. Selain penertiban, langkah ini juga bertujuan menjaga penerimaan negara serta menciptakan iklim usaha yang sehat.

Dari hasil penyisiran, petugas menemukan berbagai jenis pelanggaran, mulai dari rokok tanpa pita cukai, penggunaan pita cukai palsu, hingga pita cukai yang tidak sesuai peruntukannya. Seluruhnya dikategorikan sebagai rokok ilegal.

Selain penyitaan, tim juga memberikan edukasi kepada para pedagang terkait aturan peredaran rokok bercukai. Banyak pedagang mengaku belum memahami bahwa menjual rokok ilegal merupakan tindak pidana.

“Kami tidak hanya melakukan penindakan, tetapi juga memberikan pemahaman hukum kepada pelaku usaha agar tidak mengulangi pelanggaran,” kata Erwin.

Sebagai bagian dari sosialisasi, petugas juga memasang stiker imbauan di lokasi penjualan agar pedagang tidak lagi menerima maupun menjual rokok ilegal.

Seluruh barang bukti saat ini diamankan di kantor Satpol PP Kota Bima untuk pendataan sebelum diserahkan kepada Kantor Bea Cukai Sumbawa guna proses hukum lebih lanjut.

Erwin menegaskan, operasi gabungan akan terus dilakukan secara berkala dan acak untuk menekan peredaran rokok ilegal di wilayah Kota Bima. (*)

Berita ini di muat di SUARANTB.COM dengan judul ” Tim Gabungan Sita Rokok Ilegal “

IMI Dorong Sirkuit Mandalika Jadi Hub Motorsport Asia

Praya (globalfmlombok.com) – Ketua Umum Ikatan Motor Indonesia (IMI) Pusat, Moreno Soeprapto, mendorong Sirkuit Mandalika agar mengambil peran lebih luas sebagai pusat pengembangan motorsport di kawasan Asia.

Hal tersebut disampaikan Moreno saat menghadiri ajang GT World Challenge Asia Mandalika 2026 di Sirkuit Mandalika, Minggu (3/5/2026). Menurutnya, kehadiran berbagai ajang balap internasional menjadi peluang besar bagi Mandalika untuk naik kelas sebagai hub motorsport regional.

“Melalui event seperti ini, Mandalika semakin dikenal di dunia balap internasional. Peluang untuk menjadi hub motorsport Asia itu terbuka,” ujarnya.

Moreno yang juga pembalap nasional dan anggota DPR RI itu mengungkapkan, pihaknya telah berdiskusi dengan sejumlah pemilik tim balap yang berpartisipasi dalam ajang tersebut. Sejumlah tim bahkan menyatakan minat untuk berinvestasi dan menjadikan Mandalika sebagai basis operasional atau home base mereka.

Jika rencana tersebut terealisasi, kawasan Mandalika tidak hanya menjadi lokasi balapan, tetapi juga pusat pengembangan kendaraan balap, termasuk penyimpanan mobil, bengkel, serta fasilitas riset dan pengembangan.

“Kalau sudah menjadi home base, tentu akan diikuti investasi. Tim membutuhkan bengkel, fasilitas teknis, hingga pengembangan mobil dan komponen lainnya,” kata Moreno.

Di tempat yang sama, Pelaksana Tugas Direktur Utama ITDC, Ahmad Fajar, menyebutkan bahwa sejumlah tim balap telah menyatakan komitmen untuk membangun fasilitas di kawasan Mandalika. Bahkan, beberapa di antaranya telah menandatangani kontrak sejak penyelenggaraan event tahun sebelumnya.

Menurutnya, kehadiran fasilitas tim balap akan memperkuat posisi Mandalika sebagai pusat aktivitas motorsport, tidak hanya di tingkat nasional tetapi juga regional Asia.

“Sirkuit Mandalika semakin berkembang dan menarik minat investor,” ujarnya.

Ia menambahkan, dukungan dari pemerintah dan masyarakat sangat dibutuhkan agar pengembangan kawasan The Mandalika berjalan optimal. Dengan demikian, keberadaan sirkuit diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi yang luas, baik bagi NTB maupun industri otomotif nasional dan global. (*)

Berita ini di muat di SUARANTB.COM dengan judul ” IMI Ingin Sirkuit Mandalika Jadi Hub Motosport Asia

Pemprov NTB Siapkan Insentif bagi Desa dengan Pengelolaan Keuangan Terbaik

Mataram (globalfmlombok.com) – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) akan memberikan insentif kepada desa yang dinilai mampu mengelola program desa berdaya secara efektif dan berdampak nyata bagi masyarakat. Penilaian dilakukan berdasarkan pemanfaatan anggaran yang dialokasikan, yakni berkisar antara Rp300 juta hingga Rp500 juta per desa.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Pemerintahan Desa Kependudukan dan Pencatatan Sipil NTB H. Lalu Hamdi mengatakan, besaran insentif masih dalam tahap perhitungan. Namun, pemerintah memastikan penghargaan akan diberikan kepada desa dengan kinerja pengelolaan terbaik.

“Desa atau kelurahan yang mampu mengelola keuangan dengan baik dan memberikan dampak signifikan akan mendapatkan insentif dari gubernur,” ujarnya, Minggu (3/5/2026).

Pada 2026, Pemprov NTB mengalokasikan program desa berdaya kepada 257 desa. Dari jumlah tersebut, 40 desa masuk kategori desa berdaya transformatif yang menyasar wilayah dengan tingkat kemiskinan ekstrem, dengan alokasi sekitar Rp500 juta per desa. Sementara itu, desa berdaya tematik menerima anggaran sekitar Rp300 juta.

Program desa berdaya transformatif saat ini memasuki tahap verifikasi setelah pengajuan Rencana Anggaran Biaya (RAB) oleh Keluarga Penerima Manfaat (KPM). Proses verifikasi dilakukan oleh Dinas Sosial dan ditargetkan rampung pada akhir Mei sebelum diusulkan dalam APBD Perubahan dengan skema by name by address.

Berdasarkan hasil verifikasi bersama Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah keluarga miskin ekstrem yang menjadi sasaran intervensi di 40 desa mencapai 6.338 kepala keluarga, turun dari data awal sebanyak 7.250 kepala keluarga setelah dilakukan validasi lapangan.

Program ini mengusung dua pendekatan utama. Pertama, pemberdayaan masyarakat melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan fasilitasi usaha produktif. Setiap keluarga penerima manfaat akan mendapatkan bantuan modal usaha sebesar Rp7 juta, dengan komposisi penerima terdiri dari kelompok lansia, produktif, dan nonproduktif.

“Pemerintah juga akan memberikan pendampingan intensif selama dua tahun untuk memastikan keberlanjutan usaha,” kata Hamdi.

Pendekatan kedua adalah pemenuhan layanan dasar, seperti akses bantuan sosial, kepesertaan jaminan kesehatan, hingga perbaikan kondisi perumahan, sanitasi, dan akses listrik.

Program ini dilaksanakan secara kolaboratif dengan melibatkan pemerintah desa dan masyarakat setempat guna mempercepat peningkatan kesejahteraan. Pemerintah provinsi menargetkan dalam dua tahun ke depan, seluruh desa penerima program pada 2026 dapat keluar dari kategori miskin ekstrem.

“Indikator keberhasilan adalah ketika pendapatan keluarga penerima manfaat telah mencapai 1,5 kali garis kemiskinan,” ujarnya. (*)

Berita ini di muat di SUARANTB.COM dengan judul ” Pemprov NTB akan Berikan Insentif kepada Desa Pengelola Keuangan Desa Berdaya Terbaik

Fasilitas Pengelolaan Sampah di NTB Belum Penuhi Standar, Perlu Pembenahan Menyeluruh

Mataram (globalfmlombok.com) – Fasilitas pembuangan dan pengelolaan sampah di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dinilai belum memenuhi standar regulasi nasional. Kondisi tersebut membuat sejumlah daerah di NTB mendapat peringatan berupa sanksi administratif dari pemerintah pusat, dalam hal ini Kementerian Kehutanan.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) NTB Didik Mahmud Gunawan Hadi mengatakan, persoalan sampah di daerah tidak hanya terkait infrastruktur, tetapi juga kesadaran masyarakat. Karena itu, pemerintah daerah berencana mengintegrasikan pengelolaan sampah ke dalam kurikulum pendidikan dari jenjang SD hingga SMA.

“Penghijauan akan menjadi bagian wajib, termasuk penanaman pohon sebagai syarat kelulusan bagi siswa SMA. Selain itu, siswa juga akan diajak studi banding ke TPA agar memahami pengelolaan sampah secara langsung,” ujarnya.

Menurut Didik, saat ini terdapat kesenjangan signifikan antara volume timbulan sampah dengan kapasitas pengelolaan yang tersedia. Kebijakan integrasi pendidikan lingkungan tersebut diharapkan menjadi solusi jangka panjang untuk membangun kesadaran sejak dini.

Di sektor kehutanan, ia menambahkan, tantangan lain masih berkaitan dengan tata kelola hutan yang belum optimal, termasuk aktivitas ilegal di kawasan hutan dan dugaan penyalahgunaan wewenang dalam transaksi lahan. Selain itu, target penurunan emisi gas rumah kaca di daerah juga belum tercapai secara maksimal.

Tahun lalu, Kementerian Kehutanan memberikan sanksi administratif kepada tiga Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di NTB, masing-masing di Kabupaten Dompu, Sumbawa Barat, dan Lombok Utara. Sanksi diberikan karena TPA tersebut masih menerapkan sistem open dumping, yakni pembuangan sampah terbuka tanpa pengelolaan yang memadai.

Metode ini dinilai berisiko tinggi terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat. Selain itu, terdapat pula TPA yang masih menggunakan sistem semi open dumping, yang dinilai belum memenuhi standar pengelolaan modern.

Sesuai regulasi, pemerintah daerah didorong untuk menerapkan sistem sanitary landfill, yakni metode pengelolaan sampah dengan penimbunan terkontrol dan dilengkapi lapisan kedap guna mencegah pencemaran tanah oleh air lindi.

“Pengelolaan TPA harus memenuhi standar, mulai dari sistem pengolahan air lindi, pengendalian gas metana, hingga penggunaan lapisan membran kedap air agar tidak mencemari lingkungan,” kata Didik.

Setelah peringatan diberikan, pemerintah daerah diberi waktu enam bulan untuk menyesuaikan sistem operasional TPA sesuai standar yang ditetapkan. Meski tidak semua daerah menerima sanksi, Dinas LHK NTB mendorong seluruh pemerintah kabupaten/kota tetap melakukan pembenahan agar pengelolaan sampah lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. (*)

Berita ini di muat di SUARANTB.COM dengan judul ” Fasilitas Pembuangan Sampah di NTB Belum Penuhi Standar

Kembangkan Pelabuhan Awang, Pemerintah Pusat Bakal Gelontorkan Rp1,5 Triliun

Praya (globalfmlombok.com) – Pemerintah pusat berencana membangun kembali Pelabuhan Awang Desa Persiapan Awang Kecamatan Pujut, Lombok Tengah (Loteng). Angggaran sekitar Rp1,5 triliun bakal digelontorkan pemerintah pusat untuk menata dan membangun fasilitas penunjang pelabuhan. Termasuk melakukan reklamasi guna menambah luasan area pelabuhan.

Demikian diungkapkan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislurkan) Loteng H. Nurjahman, kepada Suara NTB, akhir pekan kemarin. Perluasan area pelabuhan menjadi salah satu priortitas pemerintah pusat, di samping membangun sejumlah fasilitas penunjang. Dengan harapan, Pelabuhan Awang bisa beroperasi secara penuh.

“Informasi dari pemerintah pusat, tahun proses perencanaan pengembangan Pelabuhan Awang sudah dimulai. Dan, targetnya tahun depan pembangunan sejumlah fasilitas penunjang pelabuhan sudah bisa dilakukan,” ujarnya.

Sebagai persiapan, pemerintah pusat saat ini juga tengah meng-clear-kan status semua asset bangunan, gedung maupun tanah di Pelabuhan Awang. Termasuk aset berupa Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang sebelumnya sudah dihibahkan ke Pemkab Loteng, saat ini sudah diminta oleh pemerintah pusat untuk dikembalilkan.

Pemerintah pusat tidak mau membangun atau mengembangkan Pelabuhan Awang jika masih ada sangkutan aset di luar aset pemerintah pusat di dalamnya. “Kita sudah terima surat dari pemerintah pusat soal permintaan pengembalian asset. Dan, saat ini sedang berproses di bagian aset,” sebut Nurjahman.

Ia menegaskan, seluruh pembiayaan untuk pengembangan Pelabuhan Awang disiapkan oleh pemerintah pusat. Anggaran tersebut diperoleh dari hasil pinjaman pemerintah di Asian Development Bank (ADB).

“Untuk skema pembiayaan dan rencana pengembangan Pelabuhan Awang semua ditangani oleh pemerintah pusat. Kita dalam hal ini hanya mendukung sesuai kapasitas yang ada,” terangnya seraya berharap rencana pengembangan Pelabuhan Awang tersebut bisa berjalan sesuai rencana. Sehingga Pelabuhan Awang ke depan bisa segera beroperasi secara penuh. Dan, pada akhirnya bisa mendatangkan manfaat luas bagi msyarakat dan daerah ini. (kir)