Mataram (globalfmlombok.com) – Provinsi Nusa Tenggara Barat kembali menegaskan diri sebagai salah satu destinasi olahraga bertaraf internasional yang aman dan nyaman untuk dikunjungi. Gubernur NTB, Dr. H. Lalu Muhamad Iqbal memastikan bahwa situasi di Lombok-Sumbawa dan seluruh wilayah NTB berada dalam kondisi aman dan kondusif.
Seluruh rangkaian kegiatan nasional maupun internasional sepanjang tahun 2025, termasuk MotoGP Mandalika 2025 pada 3–5 Oktober mendatang, akan tetap berlangsung sesuai rencana.
Gubernur NTB menegaskan bahwa keamanan dan kenyamanan masyarakat menjadi modal utama dalam menyukseskan setiap event besar di daerah ini.
“NTB berada dalam situasi aman dan kondusif. Semua pihak telah berkontribusi, mulai dari aparat keamanan, tokoh agama, tokoh adat, hingga masyarakat di tingkat dusun. Inilah kekuatan kita, gotong royong dalam menjaga daerah agar tetap tenang, nyaman, dan siap menyambut dunia,” ujar Gubernur.
Menurutnya, kondusivitas ini menjadi jaminan bagi wisatawan mancanegara maupun domestik yang akan berkunjung ke Lombok untuk menyaksikan ajang balap paling bergengsi, MotoGP Mandalika 2025.
Ajang Pertamina Grand Prix of Indonesia 2025 yang akan berlangsung pada 3–5 Oktober mendatang dipastikan gelaran paling akbar dari rangkaian event internasional di NTB.
Para PembalapTop Dunia akan Kembali Mengaspal di MotoGP Mandalika 2025
Direktur Utama Mandalika Grand Prix Association (MGPA), Priandhi Satria, menyatakan bahwa pihaknya sangat siap menyelenggarakan MotoGP tahun ini. Menurutnya, kondisi Lombok yang aman dan kondusif menjadi faktor penting yang mendukung persiapan penyelenggaraan MotoGP.
“Kami di MGPA sudah melakukan koordinasi intensif dengan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, aparat keamanan, hingga komunitas lokal. Kondisi Lombok yang aman dan kondusif membuat kami semakin optimistis bahwa MotoGP di Sirkuit Mandalika tahun ini akan berlangsung lancar. Serta, memberikan pengalaman terbaik bagi para penonton maupun pembalap,” ujarnya.
Lebih lanjut, Priandhi Satria menambahkan bahwa pihaknya terus melakukan peningkatan fasilitas di area sirkuit. Termasuk akses transportasi, layanan bagi penonton, serta fasilitas pendukung lainnya. Hal ini bertujuan agar Mandalika dapat memberikan standar pelayanan internasional yang sesuai dengan harapan para pengunjung dan penyelenggara MotoGP.
“Dengan kondisi yang aman dan persiapan yang matang, NTB optimistis MotoGP Mandalika 2025 akan menjadi salah satu gelaran terbaik dan paling berkesan sepanjang penyelenggaraan MotoGP di Indonesia,” pungkasnya. (bul)
Giri Menang (globalfmlombok.com) – Pengacara dan keluarga Brigadir Esco Faska Rely mendatangi Kapolres Lombok Barat AKBP Yasmara Harahap pada Kamis (4/9/2025) untuk menanyakan perkembangan kasus kematian Anggota Intel Polsek Sekotong yang ditemukan dalam kondisi meninggal mengenaskan di bawah bukit dekat rumahnya. Pihak keluarga diberikan keterangan bahwa ada titik terang penanganan kasus korban.
Ayah korban, Syamsul Herawadi, mengungkap fakta mengejutkan terkait hasil olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) kedua. Menurutnya, ditemukan bercak darah di sejumlah titik di rumah korban, yang memunculkan dugaan kuat bahwa anaknya dieksekusi di kamar, bukan bunuh diri.
“Awalnya saya tahu cuma barang bukti dari tubuh korban, seperti celana, jaket, jam tangan, HP, sama kunci motor. Tapi ketika dibacakan olah TKP kedua, saya kaget. Ada bercak darah di handuk anak saya, di belakang pintu kamar, dan di beberapa ruangan lain,” ungkap Syamsul saat memberikan keterangan kepada wartawan, Kamis (4/9/2025).
Syamsul menegaskan sejak awal dirinya tidak percaya anaknya bunuh diri. “Orang bodoh pun tahu, ini bukan bunuh diri. Ada luka dan bekas luka di tubuh anak saya yang tidak masuk akal kalau dikatakan bunuh diri,” tegasnya.
Ia juga menceritakan kondisi mengenaskan jasad Brigadir Esco saat pertama kali melihat di ruang autopsi. “Mukanya sudah tidak ada, tinggal tengkorak. Saya tidak kuat, kepala pusing, sesak, sampai hampir pingsan,” kenangnya dengan suara bergetar.
Syamsul menyebut pada olah TKP kedua, polisi juga menurunkan anjing pelacak. Hasilnya, hewan tersebut terus mengarah ke kamar Brigadir Esco, lokasi di mana diduga kuat peristiwa eksekusi terjadi.
Selain itu, keluarga juga menyoroti kejanggalan komunikasi terakhir korban. Esco sempat mengabarkan sakit kepada adiknya pada Senin sebelum dinyatakan hilang kontak. Namun, keesokan harinya ia tetap memaksa masuk dinas. Sejak Selasa malam, korban tidak bisa lagi dihubungi hingga akhirnya ditemukan meninggal dunia pada Minggu pagi, hanya belasan meter dari rumahnya.
Keluarga Dorong Pengungkapan Kasus secara Transparan
Syamsul menegaskan pihak keluarga menuntut aparat penegak hukum untuk segera mengungkap kasus ini secara transparan. “Kami minta pelaku ditindak seadil-adilnya. Jangan ada yang ditutup-tutupi,” pintanya.
Hingga kini, penyidik Polres Lombok Barat masih melakukan proses penyelidikan. Penyidik pun telah menaikkan kasus ini ke tahap penyidikan. Hal itu dipastikan setelah pihak keluarga bersama pengacara Dr. Lalu Anton Hariawan ke Kapolres pada Kamis (4/9/2025).
Syamsul menerangkan bahwa informasi yang diperoleh dari Kapolres bahwa perkembangan kasus meninggalnya anak cukup signifikan, pihak keluarga pun diminta bersabar menunggu agar proses penanganan lancar dan cepat selesai. “Iya (ada titik terang),” ujarnya.
Terkait gambaran tersangka dalam kasus ini, pihak kepolisian belum menjelaskan kepada keluarga. Keluarga diminta juga kalau dibutuhkan saksi bisa dihadirkan, jika keterangannya dibutuhkan penyidik.
Sementara itu, Kuasa Hukum pihak keluarga Brigadir Esco, Dr. Lalu Anton Hariawan SH., MH., menerangkan bahwa pihaknya bersama keluarga korban menghadap ke Kapolres untuk menanyakan perkembangan penanganan kasus ini. Ada beberapa yang dibahas dalam pertemuan dengan Kapolres, salah satunya pihak keluarga mengapresiasi kerja Polres dalam mengungkap kasus ini. Kapolres ditemani oleh Kasatreskrim dan Kasat Intel.
“Jadi perkara sudah naik ke tahap penyidikan, ada keterangan saksi yang sudah diperiksa, dan ada juga saksi yang dibutuhkan nanti kami akan lengkapi,” ujarnya.
Bahkan, kata Anton, beberapa perkembangan penanganan kasus ini disampaikan ke pihak keluarga, tetapi karena menyangkut keperluan penyidikan sehingga tidak disampaikan ke mereka. “Tinggal kita menunggu beberapa alat bukti,” imbuhnya.
Apakah tersangka yang dibeberkan Kapolres terhadap keluarga? Hal ini, kata dia menjadi kewenangan Kapolres yang menjawab. Pihaknya menghormati proses penyidikan yang nantinya disampaikan oleh penyidik.
Sementara itu, Kasatreskrim polres Lobar AKP Lalu Eka Arya M., dikonfirmasi media usai mendampingi Kapolres bertemu dengan pihak keluarga korban menyampaikan terkait informasi ke media soal penanganan kasus ini akan disampaikan satu pintu melalui Polda. “Itu nanti satu pintu di Polda,” imbuhnya berkelit menjawab pertanyaan media. Eka memilih bungkam ketika ditanya terkait hasil pertemuan Kapolres dengan pihak keluarga. (her)
Tanjung (globalfmlombok.com) – Proyek gedung DPRD Kabupaten Lombok Utara (KLU) senilai Rp10,4 miliar (satu paket dengan gedung Dinsos PPPA), menjadi objek pemeriksaan Kejati NTB usai dilaporkan masyarakat. Menyikapi situasi tersebut, Wakil Bupati (Wabup) Lombok Utara, Kusmalahadi Syamsuri, ST., MT., mendukung langkah penegakan hukum atas proyek tersebut.
Wabup saat kepada wartawan usai sidang paripurna KUA PPAS RAPBD-P 2025, Kamis (4/9/2025) mengungkapkan, pihaknya tidak punya kewenangan untuk mengintervensi langkah hukum oleh instansi vertikal atas pertanggungjawaban anggaran negara pada sebuah program. Sebaliknya, ia ikut mendukung penegakan hukum oleh Kejati NTB hingga dugaan persoalan menjadi jernih.
“Kita dorong Kejati NTB untuk mengusut tuntas (proyek Gedung DPRD KLU). Jika ada indikasi melanggar hukum dan lain-lain nanti kita liat, kita dengan kejaksaan selalu kolaborasi, apapun hasil temuannya nanti kita tindak lanjuti,” tegas Wabup.
Putra sulung mantan Bupati Lombok Utara dua periode, H. Djohan Sjamsu, ini membenarkan Kejati NTB turun ke Lombok Utara pada Selasa (2/9/2025) lalu. Tim Kejati NTB menindaklanjuti adanya laporan masyarakat atas dugaan penyimpangan pada pelaksanaan proyek pembangunan Gedung DPRD KLU tahun 2024.
Pemda Kooperatif
Pemda Lombok Utara akan bersikap kooperatif atas langkah lembaga penegak hukum. Dalam penyelenggaraan pemerintahan dan anggaran negara, Pemda tentu tidak menginginkan adanya penyalahgunaan yang menyebabkan kerugian pada output program.
“Kejati turun (ke proyek gedung DPRD KLU) itu merupakan kewenangan meraka, kita kooperatif, tidak mungkin kita menahan atau melarang,” ujar Wabup.
Lebih lanjut, Pemda akan mendukung tindak lanjut apapun hasil temuan Kejati NTB. Mengingat, salah satu poin sorotan proyek ini adalah denda keterlambatan proyek yang tidak dibayarkan hingga batas akhir tanggal 19 Agustus 2025. Sebagaimana rekomendasi BPK RI Perwakilan NTB, Pemda telah memberi tenggat waktu tiga bulan kepada pihak ketiga untuk menyelesaikan kewajibannya.
“Sesuai prosedur, denda keterlambatan harus dibayar tiga bulan. Periode itu sudah lewat, dan (kontraktor) belum mengembalikan. Sejauh ini saya cek, rekanan belum membayar denda itu. Jadi kalau sekarang kejaksaan turun itu hal yang wajar,” pungkas Wabup. (ari)
Giri Menang (globalfmlombok.com) – Ketua DPRD Lombok Barat (Lobar) Lalu Ivan Indaryadi merespons munculnya isu miring terkait adanya disharmoni antara ia dengan Bupati Lobar H. Lalu Ahmad Zaini belakangan ini. Lalu Ivan memastikan bahwa sampai sejauh ini hubungannya dengan Bupati Lobar tetap harmonis dan terjaga dengan baik.
Ketua DPRD Lobar menegaskan bahwa isu adanya kerenggangan dengan Bupati hanyalah gorengan isu yang mencoba dibuat oleh pihak-pihak tertentu yang tidak ingin melihat Gumi Patut Patuh Patju maju. “Itu hanya isu saja, kami merasa ada yang mencoba mengadu domba antara pihak eksekutif dengan legislatif. Dan ‘gorengan’ isu itu tidak berdasar,” tegas Ketua DPRD Lobar itu, kepada wartawan, Kamis (4/9/2025).
Politisi Golkar itu mengatakan, sejauh ini ia bersikap profesional dalam menjalankan tugas sebagai Wakil Rakyat. Pun menurutnya, terkait ia tidak mendukung kebijakan Bupati Lobar perlu ditelisik lebih dalam.
“Apa yang kami lakukan, dan mungkin yang kami sampaikan sesuai dengan tugas fungsi kami dalam melakukan pengawasan. Yang baik kita dukung, yang dirasa kurang tepat kami beri masukan,” imbuh Ketua DPRD Lobar.
Dia pun mengklarifikasi bahwa pertemuannya dengan Bupati Lobar beberapa waktu lalu merupakan bentuk tabayyun. Maksudnya, isu liar di bawah hendaknya diredam, lebih-lebih di tengah situasi nasional yang kurang baik belakangan ini. “Kami bertemu untuk meluruskan semua isu yang muncul. Dan semua baik-baik saja antara kami dengan Bupati,” ungkapnya.
Terus Bangun Komunikasi yang Baik
Lebih lanjut, Politisi Muda asal Sekotong itu menyampaikan, saat ini ia dan jajaran legislatif di DPRD Lobar bersama Bupati Lobar dan jajarannya terus membangun komunikasi yang baik agar situasi di Lobar tetap kondusif. Harapannya tentu agar iklim investasi di Lobar tetap terjaga.
“Kami bahkan sering berdiskusi dengan Bupati. Terutama bagaimana Lobar ini tetap aman dan nyaman untuk investasi, sehingga masyarakat bisa merasakan manfaatnya,” ujar Ketua DPRD Lobar.
Lalu Ivan menegaskan, bukti terjaganya hubungan baik antara legislatif dengan eksekutif, terkhusus ia selaku pimpinan di legislatif dengan Bupati membuat segala agenda di DPRD Lobar tetap berjalan sesuai alurnya.
“Tidak ada yang sampai tersendat, pembahasan-pembahasan Perda, KUA/PPAS, APBD Perubahan, program kebijakan dan yang lainnya tidak pernah sampai tertunda. Intinya semua baik-baik saja, saya dan Bupati juga tetap baik-baik saja,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Ketua DPRD Lobar itu juga mengimbau masyarakat agar turut bersama-sama dalam mewujudkan keamanan dan kenyamanan di Kabupaten Lobar. Tak hanya itu, terkait munculnya berbagai isu, hendaknya semua masyarakat bisa menelaahnya lebih dalam dan tidak mudah termakan isu-isu yang mungkin saja menyesatkan. (her)
Menjelang akhir tahun anggaran 2025, anggota Komisi V DPR RI dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), H Abdul Hadi, menekankan pentingnya pelaksanaan program pemerintah yang efektif dan menyentuh langsung kebutuhan masyarakat, khususnya program padat karya.
Hal tersebut disampaikan dalam Rapat Kerja Komisi V DPR RI yang digelar pada Kamis (4/9/2025) di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta. Agenda utama rapat adalah pengesahan revisi anggaran tahun 2025 serta pagu indikatif kementerian dan lembaga mitra kerja Komisi V, sesuai dengan nota keuangan yang telah disampaikan pemerintah pada Agustus lalu.
Rapat tersebut turut dihadiri oleh sejumlah pimpinan kementerian dan lembaga, antara lain Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Menteri Perhubungan, Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Menteri Transmigrasi, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (BNPP/Basarnas).
Dalam keterangannya, Abdul Hadi menyampaikan harapan agar pembahasan anggaran di tahap berikutnya dapat benar-benar memberikan manfaat bagi seluruh masyarakat, termasuk di daerah pemilihan anggota Komisi V. Ia juga menyoroti adanya tambahan anggaran yang baru diketahui dalam rapat tersebut.
“Kami apresiasi pimpinan yang telah menekankan kepada para menteri untuk menyampaikan informasi tambahan anggaran kepada kami. Karena sebelumnya kami tidak mengetahui adanya luncuran tambahan tersebut,” ujar Abdul Hadi.
Anggota DPR RI Dapil NTB ini menambahkan, dengan sisa waktu yang ada di tahun 2025, pelaksanaan program harus dipastikan berjalan optimal, terutama kegiatan yang bersifat padat karya dan melibatkan masyarakat secara langsung dalam prosesnya.
“Dengan sisa waktu di tahun 2025 ini, kami menekankan agar betul-betul penyelesaian tugas dari Kementerian bisa dilakukan, khusunya pekrjaan pekerjaan yang sifatnya padat karya atau melibatkan masyarakat dakam penyelesaiannya,” ujarnya.(ris)
Dingin yang menusuk tulang langsung terasa begitu kami memasuki kawasan Sembalun, Lombok Timur, akhir Agustus lalu. Kabut tebal menyelimuti punggung perbukitan, terkadang membuat jarak pandang menjadi terbatas.
Hamparan sawah, kebun kopi, hortikultura, dan lembah hijau memanjakan mata wisatawan yang datang ke daerah ini tanpa henti. Di jalan utama, warung-warung sederhana terpajang rapi, memamerkan kentang, stroberi, bawang putih, bawang merah, sayur mayur, kopi bubuk dan aneka kacang-kacangan kepada wisatawan yang datang setiap hari.
Sembalun selama berabad-abad hidup dari tanahnya. Pertanian hortikultura menjadi tulang punggung ekonomi warga sejak lama. Namun lebih dari satu dekade terakhir, desa-desa di lereng Rinjani itu menemukan dirinya berada di persimpangan baru: pariwisata.
Kedatangan wisatawan yang semakin ramai membuat masyarakat tak hanya menanam, tetapi juga merangkai pengalaman—mengubah ladang menjadi destinasi, dan hasil bumi menjadi suvenir yang berharga.
Dua sektor yang dulu tampak berjalan sendiri-sendiri kini berkelindan: pertanian hortikultura menopang pariwisata, dan wisata menghidupi kembali pertanian. Di tengah simbiosis itu, hadir pula satu pemain baru yang menjadi jembatan antara tradisi dan masa depan yaitu kopi.
Lunaco: Mimpi Kecil di Tanah Dingin
Salah satu kisah tentang perubahan itu lahir dari Lunaco yang merupakan akronim dari Sembalun Agro Coffee. Kelompok petani kopi ini berdiri pada 2022, dimulai bukan dari modal besar, tapi dari mimpi kecil sekelompok pemuda dan petani yang ingin mengembalikan kejayaan kopi Sembalun.
Sulman, ketua kelompok, masih mengingat bagaimana mereka memulai dengan peralatan seadanya. “Waktu itu anggota kami hanya beberapa orang saja. Petani lain masih fokus tanam hortikultura,” tutur Sulman kepada globalfmlombok.com di kebunnya yang terletak di Sembalun Bumbung.
Alasan petani enggan menanam kopi bisa dimengerti. Hortikultura seperti bawang, kubis, stroberi dan kentang memberi hasil cepat meski harga sering kali tak menentu. Sebaliknya, kopi adalah investasi jangka panjang. Butuh tiga hingga empat tahun untuk mulai panen. “Tapi kopi lebih stabil. Risikonya lebih rendah dan ramah lingkungan,” ujar Sulman.
Di ketinggian 1.200–1.300 meter, kopi Sembalun menemukan rumah yang ideal. Tanah vulkanik Rinjani membuat aromanya kuat dengan keasaman seimbang. Keunggulan ini kemudian dipoles Lunaco dengan pendidikan kepada anggota kelompok: dari teknik panen selektif yaitu hanya memetik buah merah, hingga proses pascapanen seperti natural, honey, full washed, dan wine coffee yang difermentasi selama sebulan.
“Dulu orang memetik campur. Sekarang kami ajarkan cara panen yang benar,” ujar Sulman.
Lunaco kini memiliki 65 anggota dengan luas lahan sekitar 30 hektare. Mereka tak hanya melatih anggota sendiri, tapi juga petani di luar kelompok. “Kami tidak mau beli kopi asal-asalan. Maka lebih baik kami ajarkan dulu,” katanya.
Dengan kualitas yang terus membaik, pemasaran kopi Lunaco merambat ke kota-kota lain, bahkan diminati pembeli dari luar negeri. Meski begitu, Sulman menegaskan mereka tetap memprioritaskan pasar lokal.
“Pasar NTB ini masih luas. Permintaan luar kadang ada yang tidak bisa kami penuhi. Fokus kami tetap di daerah sendiri,” ujarnya.
Harapan dari 300 Batang Pohon
Mohammad Roli Wahyudi, Sekretaris Lunaco memperlihatkan bibit pohon kopi arabika yang ditanam oleh kelompoknya.(globalfmlombok.com/fan)
Mohammad Roli Wahyudi, Sekretaris Lunaco, melihat perubahan besar di kalangan petani sejak kopi kembali diminati. Harga yang stabil menjadi alasan utama. “Green bean dari Sembalun bisa sampai Rp200 ribu, bubuknya Rp400 ribu per kilogram. Itu sangat membantu petani,” katanya.
Perubahan itu terasa nyata. Banyak petani hortikultura kini menanam kopi di sela-sela kebun mereka. Mereka tidak meninggalkan sayuran begitu saja, tetapi menambahkan kopi sebagai investasi jangka panjang.
“Dari 300 pohon saja, petani bisa menutupi kebutuhan rumah tangga. Bahkan bisa untuk biaya sekolah anak-anak,” ujar Roli.
Bagi Roli, menanam kopi bukan hanya soal ekonomi. Ada unsur identitas di sana. “Kopi sebenarnya sudah lama ada di Sembalun, bahkan sebelum wisata seramai sekarang. Tapi sempat dilupakan. Sekarang kopi kembali jadi kebanggaan,” imbuhnya.
Menurutnya, rasa kopi Sembalun sangat dipengaruhi lingkungan. Karena itu ia menegaskan pentingnya menjaga jarak antara kopi dan pohon buah. “Kopi itu sensitif. Kalau di sampingnya ada jeruk atau durian, aromanya bisa terbawa,” katanya.
Di rumah-rumah petani, aroma kopi yang disangrai perlahan mulai mengalahkan bau tanaman hortikultura. Ini bukan pergantian pekerjaan, tapi diversifikasi. Petani Sembalun kini bukan hanya petani sayur, tetapi juga peracik rasa yang lahir dari tanah vulkanik Rinjani.
Hortikultura dan Kopi: Nafas yang Tak Pernah Padam
Meski kopi kian naik daun, hortikultura dan Perkebunan kopi tetap menjadi denyut yang tak tergantikan. Di ladang-ladang yang terhampar luas, kubis, wortel, bawang putih, bawang merah, stroberi, dan kentang tumbuh berdampingan. Kemudian di lereng Rinjani, tanaman kopi mulai berjejer rapi menunggu waktu untuk berbuah dan dipanen. Hasil bumi itulah yang membentuk wajah pertanian Sembalun sejak generasi ke generasi.
Kini, hortikultura dan kopi justru mendapat energi baru dari pariwisata.
“Pertanian ini sangat menunjang pariwisata,” kata Harian Noris, warga Sembalun. “Lihat saja warung-warung di sepanjang jalan. Wisatawan setiap hari beli sayur, stroberi, dan kacang-kacangan. Ekonomi jadi berputar,” tambanya.
Paket wisata memetik stroberi menjadi salah satu favorit wisatawan. Ada pula kebun yang membuka pengalaman memetik buah langsung dari pohonnya. Wisatawan membawa pulang hasil bumi, sementara petani memperoleh tambahan pendapatan tanpa harus masuk ke pasar tradisional.
Sembalun menemukan keseimbangannya. Wisata bukan mengubah identitas desa, tetapi justru memperkuat akar yang sudah lama ada.
Anugerah Rasa dari Vulkanik Rinjani
Huzaini Areka, Sekretaris Asosiasi Kopi Indonesia (ASKI) NTB, sekaligus pemilik kedai Pojok Kopi di Mataram kerap mengambil kopi dari Sembalun untuk dijual ke konsumen.(globalfmlombok.com/ist)
Keunggulan kopi Sembalun mendapat perhatian para pegiat kopi di NTB. Salah satunya M. Huzaini Areka, Sekretaris Asosiasi Kopi Indonesia (ASKI) NTB, sekaligus pemilik kedai Pojok Kopi di Mataram.
“Kopi dari Sembalun ini punya karakter unik. Kadang ada manis alami, kadang floral. Itu yang dicari penikmat kopi,” ujarnya.
Menurutnya, kopi NTB diuntungkan dua hal: ketinggian dan tanah vulkanik. “Rinjani dan Tambora itu luar biasa kontribusinya. Menyuburkan tanah dan memberikan rasa yang tak bisa ditiru daerah lain.”
Kopi NTB, termasuk Sembalun, kini mulai menembus pasar internasional. Namun Huzaini dan para petani sepakat bahwa kualitas harus dijaga, kuantitas harus realistis. Jangan sampai kopi Sembalun kehilangan karakter karena dikejar permintaan.
Dorongan dari Senayan
Anggota Komisi V DPR RI H. Abdul Hadi
Perkembangan kopi NTB juga mendapat perhatian politisi. Anggota DPR RI Dapil NTB II, H. Abdul Hadi, menilai potensi kopi daerah ini sangat besar, tetapi masih membutuhkan dukungan ekosistem yang kuat.
“Kualitasnya sudah diakui. Yang harus diperkuat sekarang adalah kesinambungan promosi dan kontrol mutu,” katanya. Menurutnya, sinergi antara pemerintah pusat, BUMN, dan pemerintah daerah penting untuk menciptakan rantai produksi yang kokoh dari hulu ke hilir.
“Kalau soal rasa, kopi NTB itu ngangenin. Banyak orang mencarinya,” ujar legislator Komisi V DPR RI tersebut.
Pemerintah Provinsi NTB sendiri kini sedang menyusun masterplan pengembangan daerah Sembalun sebagai Kawasan Perdesaan Prioritas Berbasis Pariwisata, sesuai arah RPJMN. Tujuannya bukan menjadikan Sembalun sebagai destinasi modern yang menghilangkan nuansa desa, tetapi memperkuat pariwisata berbasis masyarakat.
Kepala Dinas Pariwisata NTB, Ahmad Nuraulia, menegaskan pendekatannya: “Sembalun itu sudah dikenal sebagai kawasan perdesaan pariwisata. Kajian ini untuk mengarahkan pengembangannya agar lebih terpadu dan berkelanjutan,” katanya.
Pengembangan itu tetap harus mempertahankan ciri Sembalun: udara dingin, bentang alam hijau, budaya bertani, dan produk lokal. Tanpa itu, Sembalun akan kehilangan wajahnya.
Di Persilangan Masa Depan
Saat matahari mulai turun di balik lembah, aroma kopi yang disangrai dari dapur-dapur kayu bercampur dengan bau tanah hortikultura yang baru disiram. Wisatawan masih mencari stroberi, sementara petani memeriksa pucuk-pucuk kopi yang tumbuh pelan.
Sembalun tetap desa pertanian. Wisata datang kemudian sebagai pelengkap. Keduanya tidak saling menggantikan, tetapi saling menopang.
Di kaki Rinjani, simbiosis itu tumbuh pelan-pelan: kopi memberi stabilitas, hortikultura memberi identitas, wisata memberi kesempatan. Dan masyarakat Sembalun merawat semuanya dengan tangan yang tak pernah lepas dari tanah, dan pandangan yang kini mengarah jauh ke masa depan.(*)
Giri Menang (globalfmlombok.com) – Pengacara Dr. Lalu Anton Hariawan, SH., MH., and Partner mendampingi keluarga korban Brigadir Esco Faska Rely (29) yang jenazahnya ditemukan tak jauh dari rumahnya pada Minggu (24/8/2025) lalu. Lalu Anton bersama sejumlah pengacara resmi menjadi kuasa hukum keluarga secara sukarela untuk mencari keadilan dalam kasus kematian Brigadir Esco yang masih misteri.
Keluarga korban Brigadir Esco dan pengacara bersama kuasa hukum lainnya, bertemu di kediaman Lalu Anton pada Kamis (4/9/2025). Keluarga korban menerangkan bahwa pihaknya didampingi oleh pengacara Lalu Anton dan kawan-kawan sebagai keluarga besar. Sebagai bentuk dukungan kepada keluarga untuk membantu proses penegakan hukum kasus Brigadir Esco.
“Karena ini hubungan keluarga, bagaimana pun beliau (Lalu Anton dan Kawan-kawan) mendukung kami selaku pihak keluarga untuk membantu proses penegakan hukum (kasus Esco),” kata Samsul Herawadi, bapak dari Brigadir Esco.
Keluarga korban lainnya Dasiman Gunawan mengatakan bahwa pihak keluarga tahu bagimana rekam jejak dan reputasi dari pengacara Lalu Anton, sehingga ia percaya kasus ini bisa diungkap seterang-terangnya.
Pihak keluarga pun siap membantu proses penegakan hukum ini, dengan menghadirkan saksi-saksi bila diperlukan. Bahkan pihak keluarga telah memiliki tim untuk mencari saksi-saksi dan hal-hal yang diperlukan pada proses hukum kasus Esco. “Apapun, siapa pun akan kami bawa untuk dimintai keterangan,” imbuhnya.
Pihak keluarga menginginkan agar pelaku segera ditemukan. Dan harus mendapatkan hukuman yang seberat-beratnya.
Ia berharap kasus ini segera diungkap seterang-terangnya. Sebab selama ini pihak keluarga cukup bersabar dan fokus pada acara sembilan hari peringatan wafatnya almarhum Brigadir Esco selesai dulu. Barulah saat ini keluarga turun mengawal kasus ini. Keluarga merasa tidak terima dengan kejanggalan kematian korban dalam kondisi jenazah yang mengenaskan. Sementara dari pihak aparat mungkin membutuhkan keluarga membantu dalam pengungkapan kasus ini. “Kami siap,” tegasnya.
Minta Segera Tetapkan Tersangka
Sementara itu, Dr. Lalu Anton Hariawan, SH.,MH., mengatakan ia bersama rekan-rekannya sebanyak tujuh orang siap membantu keluarga korban dalam mencari keadilan. Ia dan pengacara lainnya, membantu keluarga korban secara sukarela. “Kami siap membantu keluarga mencari keadilan,” kata Lalu Anton.
Anton pun meminta penyidik untuk tahapan penyidikan segera menetapkan tersangka dalam kasus ini. Sebab dari hasil rilis resmi dari kepolisian bahwa korban meninggal akibat hantaman benda tumpul pada tubuh korban. “Karena perbuatan hukumnya, bukti permulaannya sudah jelas,” tegas Anton.
Pihaknya juga meminta kepada penyidik agar segera melakukan ekstrak ke semua handphone orang terduga yang dekat tempat jenazah korban ditemukan, bukan hanya handphone korban saja. “Siapa terakhir kali melakukan komunikasi dengan korban dan siapa yang mengetahui tindak pidana itu, tapi tidak melapor juga kami minta untuk ditindak tegas,” tegasnya.
Anton mengatakan, dengan dinaikkan status ke penyidikan, ada dasar dilakukan penyitaan terhadap handphone orang terdekat di tempat kejadian tersebut. Pihaknya pun akan mengawal penanganan kasus ini hingga tuntas. Pihaknya menanyakan ke penyidik, kalaupun sudah dinaikkan ke penyidikan pihaknya akan meminta Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) agar diberikan ke pihak keluarga korban.
Usai menandatangani kuasa dari keluarga, ia bersama perwakilan keluarga korban mendatangi Polres untuk menanyakan langsung progres penanganan kasus ini ke Kapolres Lobar AKBP Yasmara Harahap. Mereka pun diterima oleh Kapolres di ruang kerjanya. Kapolres didampingi oleh Kasatreskrim. (her)
Mataram (globalfmlombok.com) – Keluarga almarhum Brigadir Esco Faska Rely menyebut penanganan kematian anggota Polsek Sekotong itu telah naik ke tahap penyidikan.
Keluarga korban melalui kuasa hukumnya, Lalu Anton Hariawan mengatakan, perkara yang tengah ditangani Polres Lombok Barat itu telah naik penyidikan sejak Selasa (2/9/2025) lalu.
“Jadi perkara sudah pro-justitia, sudah naik ke tahap penyidikan, perbuatan melawan hukum ada, tinggal siapa pelakunya,” ucap Anton, Kamis (4/9/2025).
Perbuatan melawan hukum sudah jelas dari adanya dugaan kematian korban yang disebabkan oleh benda tumpul.
Dari fakta tersebut, pihak keluarga meminta agar Polres Lombok Barat segera menetapkan tersangka atas kematian anggota Polsek Sekotong itu.
“Menetapkan status tersangka dan mengumumkan kepada masyarakat dan media terkait itu,” tegasnya.
Selain itu, dia juga meminta pihak kepolisian segera menindak orang yang diduga mengetahui adanya tindak pidana dalam kematian Brigadir Esco.
“Walaupun dia tidak ikut serta melakukan pembunuhan, tetapi tidak melapor jika dia tahu. Kami minta polisi juga menindak perihal itu,” jelasnya.
Lebih lanjut, pihaknya meminta agar polisi tidak hanya mengekstrak handphone milik korban. Melainkan ikut mengekstrak seluruh handphone orang yang ada di lokasi kejadian perkara (TKP).
“Kami minta semuanya, yang diduga pelaku, maupun keluarga, semua harus diperiksa,” tandas Anton.
Keluarga Brigadir Esco Lakukan Audiensi dengan Polres Lobar
Terpisah, Kepala Polres Lombok Barat AKBP Yasmara Harahap, mengaku tidak bisa memberikan jawaban terkait apakah perkara tersebut telah naik penyidikan atau tidak.
“Kalau soal ini, saya tidak bisa kasih keterangan, silakan koordinasi dengan Polda NTB,” terangnya.
Namun, dia membenarkan terkait adanya audiensi dari pihak keluarga beserta kuasa hukumnya ke Polres Lombok Barat.
Sebelumnya, jenazah Brigadir Esco ditemukan di Dusun Nyiur Lembang, Desa Jembatan Gantung, Kecamatan Lembar, Lombok Barat (Lobar) di bawah perbukitan daerah setempat, pada Minggu (24/8/2025) siang.
Jenazah korban membengkak dan mulai membusuk mengeluarkan bau tak sedap, sehingga dikerubungi lalat. Bagian lehernya terikat tali.
Informasi penemuan pertama kali dilaporkan oleh Kepala Dusun Nyiur Lembang. Dari keterangan saksi bernama Amaq Siun (50), warga setempat, penemuan jenazah berawal saat ia mencari ayamnya yang hilang di bukit belakang rumah.
Saat pencarian, sekitar pukul 11.30 Wita, saksi menemukan sesosok pria dalam posisi terlentang di bawah pohon. Kondisi korban sudah tidak bernyawa, dengan leher terikat tali, wajah rusak, serta tubuh membengkak.
Belakangan terungkap, Brigadir Esco merupakan anggota polisi yang bertugas di Polsek Sekotong, Lombok Barat. Hal itu diperkuat dengan sejumlah barang bukti berupa pakaian, ponsel, jam tangan, dan kunci sepeda motor yang ditemukan di saku celana korban. (mit)
Mataram (globalfmlombok.com) – Kejaksaan Agung (Kejagung) menetapkan mantan Menteri Pendidikan Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim sebagai tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan laptop berbasis Chromebook.
Demikian diungkapkan Direktur Penyidikan pada Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus), Kejagung, Nurcahyo Jungkung Madyo.
“Berdasarkan hasil pemeriksaan dan alat bukti, kembali menetapkan satu orang tersangka dengan inisial NAM (Nadiem Makarim),” kata Nurcahyo di Gedung Jampidsus Kejagung, Jakarta, Kamis (4/9/2025), dikutip dari Antara.
Ia mengatakan, Nadiem yang menjabat Mendikbudrisetk pada 2020 merencanakan produk Google dalam pengadaan alat TIK di Kemendikbudristek. Padahal, kala itu, pengadaan alat TIK belum dimulai.
Kejagung menyangkakan Nadiem dengan Pasal 2 Ayat (1) atau Pasal 3 juncto Pasal 18 Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas UU Nomor 31 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
Untuk langkah selanjutnya, Nadiem akan ditahan di Rutan Salemba Cabang Kejaksaan Negeri (Kejari) Jakarta Selatan selama 20 hari ke depan.
Dengan adanya penetapan satu tersangka baru, maka penyidik telah menetapkan lima tersangka dalam kasus pengadaan Chromebook ini.
Kejagung sebelumnya telah menetapkan empat orang tersangka dalam dugaan kasus korupsi pada Kemendikbudristek dalam program digitalisasi pendidikan periode 2019-2022.
Adapun keempat tersangka tersebut di antaranya JT (Jurist Tan), staf khusus Mendikbudristek periode 2020-2024, BAM (Ibrahim Arief) selaku mantan konsultan Teknologi di Kemendikbudristek.
Lalu, SW (Sri Wahyuningsih) selaku direktur sekolah direktur SD Direktorat PAUD, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah Kemendikbudristek periode 2020-2021. SW juga sebagai kuasa pengguna anggaran di lingkungan Direktorat Sekolah Dasar pada tahun anggaran 2020-2021.
Kemudian ada MUL (Mulyatsyah) selaku Direktur SMP Direktorat PAUD, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah Kemendikbudristek tahun 2020-2021. Ia juga merupakan kuasa pengguna anggaran di lingkungan Direktorat Sekolah Menengah Pertama tahun anggaran 2020-2021. (sib)
Mataram (globalfmlombok.com) – Pihak Sekolah Dasar Negeri (SDN) 2 Cakranegara belum bisa memastikan bahwa paket Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diduga membuat salah seorang muridnya keracunan pada Rabu, 3 September 2025.
Hal itu disampaikan Kepala SDN 2 Cakranegara, Ahmadiyah S.Pd., di Mataram pada Kamis (4/9/2025). Ia menyampaikan, setelah ia mendapat informasi dari pihak orang tua murid perihal kejadian keracunan itu pada Rabu (3/9/2025) sekitar pukul 20.00 Wita. Keesokan harinya Kamis (4/9/2025), ia langsung berkoordinasi dengan pihak Satuan Pelayanan dan Pemenuhan Gizi (SPPG) setempat.
Dari hasil koordinasi tersebut, pihak SPPG, kata Ahmadiyah, langsung membawa sampel paket MBG tersebut ke laboratorium untuk diuji. “Tentu kan tidak langsung keluar hasilnya. Tunggu dua minggu,” ucapnya.
Selain itu, sekolah juga telah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan (Kota Mataram) dan Puskesmas setempat. “Jadi kita belum bisa menyimpulkan apakah anak terkena (sakit) karena MBG atau ada makanan lain setelah ini,” jelasnya.
Kronologi Siswa Alami Sakit
Ahmadiyah menjelaskan, kronologi siswanya tersebut mengeluh sakit setelah beberapa lama menyantap MBG dan kemudian dilarikan ke Rumah Sakit pada Rabu, 3 September 2025.
Ia mengatakan, pada Rabu (3/9/2025), pembagian paket MBG di sekolahnya berjalan seperti biasanya. Sekitar pukul 09.15 Wita, siswa-siswi dibagikan paket MBG dan selesai sekitar pukul 10.00 Wita. Ahmadiyah menyebut, jumlah siswa penerima manfaat MBG di sekolahnya berjumlah sekitar 817 siswa.
Lalu pada pukul 20.00 Wita, ia menerima informasi dari salah seorang wali murid bahwa anaknya dibawa ke rumah sakit dengan keluhan mencret (diare). Wali murid menduga, anaknya terkena diare setelah menyantap paket MBG.
“Saya dapat informasi pukul 20.00 Wita, ada satu orang anak dari 800 anak (penerima MBG) itu yang katanya mencret-mencret kemudian dibawa ke Rumah Sakit Siloam. Kata ibunya gara-gara MBG,” jelasnya.
Ahmadiyah kemudian menggali informasi terkait dengan data siswa-siswinya. Selain itu, ia juga menelusuri lebih lanjut kapan pemberian MBG, serta kapan siswa tersebut mulai merasakan sakit.
Berdasarkan informasi dari salah seorang guru kelas bahwa murid yang diduga keracunan MBG ini dijemput orang tuanya pada pukul 12.00 Wita. Siswa tersebut, kata Ahmadiyah, diajak menjemput ayahnya di Bandara.
“(Saat itu) Anaknya sehat tidak ada gejala apa-apa. Sehat anaknya. Cuma malam-malamnya kita dengar cerita dari jaraknya sekian jam itu, anaknya (dibawa) ke rumah sakit. Perutnya melilit segala macam,” ujarnya.
Ahmadiyah juga mengungkapkan, berdasarkan informasi yang diterimanya dari seorang guru bahwa anak tersebut memiliki riwayat penyakit dan sering beberapa hari tidak masuk sekolah.
“Memang anak ini di kelas III ini ada riwayat sakit juga, sering tidak masuk juga. Beberapa hari tidak masuk, kadang tiga hari, kadang seminggu,” ungkapnya.
Menurut Ahmadiyah, paket MBG untuk siswa-siswinya sudah sesuai dengan standar gizi. “Karena ini kan diawasi ahli gizi juga,” pungkasnya. (sib)