BerandaBisnisPotret Simbiosis di Kaki Rinjani : Kopi, Hortikultura, dan Wisata yang Saling...

Potret Simbiosis di Kaki Rinjani : Kopi, Hortikultura, dan Wisata yang Saling Bertaut

Reporter : Zainudin Syafari

Dingin yang menusuk tulang langsung terasa begitu kami memasuki kawasan Sembalun, Lombok Timur, akhir Agustus lalu. Kabut tebal menyelimuti punggung perbukitan, terkadang membuat jarak pandang menjadi terbatas.

Hamparan sawah, kebun kopi, hortikultura, dan lembah hijau memanjakan mata wisatawan yang datang ke daerah ini tanpa henti. Di jalan utama, warung-warung sederhana terpajang rapi, memamerkan kentang, stroberi, bawang putih, bawang merah, sayur mayur, kopi bubuk dan aneka kacang-kacangan kepada wisatawan yang datang setiap hari.

Sembalun selama berabad-abad hidup dari tanahnya. Pertanian hortikultura menjadi tulang punggung ekonomi warga sejak lama. Namun lebih dari satu dekade terakhir, desa-desa di lereng Rinjani itu menemukan dirinya berada di persimpangan baru: pariwisata.

Kedatangan wisatawan yang semakin ramai membuat masyarakat tak hanya menanam, tetapi juga merangkai pengalaman—mengubah ladang menjadi destinasi, dan hasil bumi menjadi suvenir yang berharga.

Dua sektor yang dulu tampak berjalan sendiri-sendiri kini berkelindan: pertanian hortikultura menopang pariwisata, dan wisata menghidupi kembali pertanian. Di tengah simbiosis itu, hadir pula satu pemain baru yang menjadi jembatan antara tradisi dan masa depan yaitu kopi.

Lunaco: Mimpi Kecil di Tanah Dingin

Salah satu kisah tentang perubahan itu lahir dari Lunaco yang merupakan akronim dari Sembalun Agro Coffee. Kelompok petani kopi ini berdiri pada 2022, dimulai bukan dari modal besar, tapi dari mimpi kecil sekelompok pemuda dan petani yang ingin mengembalikan kejayaan kopi Sembalun.

Sulman, ketua kelompok, masih mengingat bagaimana mereka memulai dengan peralatan seadanya. “Waktu itu anggota kami hanya beberapa orang saja. Petani lain masih fokus tanam hortikultura,” tutur Sulman kepada globalfmlombok.com di kebunnya yang terletak di Sembalun Bumbung.

Alasan petani enggan menanam kopi bisa dimengerti. Hortikultura seperti bawang, kubis, stroberi dan kentang memberi hasil cepat meski harga sering kali tak menentu. Sebaliknya, kopi adalah investasi jangka panjang. Butuh tiga hingga empat tahun untuk mulai panen. “Tapi kopi lebih stabil. Risikonya lebih rendah dan ramah lingkungan,” ujar Sulman.

Di ketinggian 1.200–1.300 meter, kopi Sembalun menemukan rumah yang ideal. Tanah vulkanik Rinjani membuat aromanya kuat dengan keasaman seimbang. Keunggulan ini kemudian dipoles Lunaco dengan pendidikan kepada anggota kelompok: dari teknik panen selektif yaitu hanya memetik buah merah, hingga proses pascapanen seperti natural, honey, full washed, dan wine coffee yang difermentasi selama sebulan.

“Dulu orang memetik campur. Sekarang kami ajarkan cara panen yang benar,” ujar Sulman.

Lunaco kini memiliki 65 anggota dengan luas lahan sekitar 30 hektare. Mereka tak hanya melatih anggota sendiri, tapi juga petani di luar kelompok. “Kami tidak mau beli kopi asal-asalan. Maka lebih baik kami ajarkan dulu,” katanya.

Dengan kualitas yang terus membaik, pemasaran kopi Lunaco merambat ke kota-kota lain, bahkan diminati pembeli dari luar negeri. Meski begitu, Sulman menegaskan mereka tetap memprioritaskan pasar lokal.

“Pasar NTB ini masih luas. Permintaan luar kadang ada yang tidak bisa kami penuhi. Fokus kami tetap di daerah sendiri,” ujarnya.

Harapan dari 300 Batang Pohon

Mohammad Roli Wahyudi, Sekretaris Lunaco memperlihatkan bibit pohon kopi arabika yang ditanam oleh kelompoknya.(globalfmlombok.com/fan)

Mohammad Roli Wahyudi, Sekretaris Lunaco, melihat perubahan besar di kalangan petani sejak kopi kembali diminati. Harga yang stabil menjadi alasan utama. “Green bean dari Sembalun bisa sampai Rp200 ribu, bubuknya Rp400 ribu per kilogram. Itu sangat membantu petani,” katanya.

Perubahan itu terasa nyata. Banyak petani hortikultura kini menanam kopi di sela-sela kebun mereka. Mereka tidak meninggalkan sayuran begitu saja, tetapi menambahkan kopi sebagai investasi jangka panjang.

“Dari 300 pohon saja, petani bisa menutupi kebutuhan rumah tangga. Bahkan bisa untuk biaya sekolah anak-anak,” ujar Roli.

Bagi Roli, menanam kopi bukan hanya soal ekonomi. Ada unsur identitas di sana. “Kopi sebenarnya sudah lama ada di Sembalun, bahkan sebelum wisata seramai sekarang. Tapi sempat dilupakan. Sekarang kopi kembali jadi kebanggaan,” imbuhnya.

Menurutnya, rasa kopi Sembalun sangat dipengaruhi lingkungan. Karena itu ia menegaskan pentingnya menjaga jarak antara kopi dan pohon buah. “Kopi itu sensitif. Kalau di sampingnya ada jeruk atau durian, aromanya bisa terbawa,” katanya.

Di rumah-rumah petani, aroma kopi yang disangrai perlahan mulai mengalahkan bau tanaman hortikultura. Ini bukan pergantian pekerjaan, tapi diversifikasi. Petani Sembalun kini bukan hanya petani sayur, tetapi juga peracik rasa yang lahir dari tanah vulkanik Rinjani.

Hortikultura dan Kopi: Nafas yang Tak Pernah Padam

Meski kopi kian naik daun, hortikultura dan Perkebunan kopi tetap menjadi denyut yang tak tergantikan. Di ladang-ladang yang terhampar luas, kubis, wortel, bawang putih, bawang merah, stroberi, dan kentang tumbuh berdampingan. Kemudian di lereng Rinjani, tanaman kopi mulai berjejer rapi menunggu waktu untuk berbuah dan dipanen. Hasil bumi itulah yang membentuk wajah pertanian Sembalun sejak generasi ke generasi.

Kini, hortikultura dan kopi justru mendapat energi baru dari pariwisata.

“Pertanian ini sangat menunjang pariwisata,” kata Harian Noris, warga Sembalun. “Lihat saja warung-warung di sepanjang jalan. Wisatawan setiap hari beli sayur, stroberi, dan kacang-kacangan. Ekonomi jadi berputar,” tambanya.

Paket wisata memetik stroberi menjadi salah satu favorit wisatawan. Ada pula kebun yang membuka pengalaman memetik buah langsung dari pohonnya. Wisatawan membawa pulang hasil bumi, sementara petani memperoleh tambahan pendapatan tanpa harus masuk ke pasar tradisional.

Sembalun menemukan keseimbangannya. Wisata bukan mengubah identitas desa, tetapi justru memperkuat akar yang sudah lama ada.

Anugerah Rasa dari Vulkanik Rinjani

Huzaini Areka, Sekretaris Asosiasi Kopi Indonesia (ASKI) NTB, sekaligus pemilik kedai Pojok Kopi di Mataram kerap mengambil kopi dari Sembalun untuk dijual ke konsumen.(globalfmlombok.com/ist)

Keunggulan kopi Sembalun mendapat perhatian para pegiat kopi di NTB. Salah satunya M. Huzaini Areka, Sekretaris Asosiasi Kopi Indonesia (ASKI) NTB, sekaligus pemilik kedai Pojok Kopi di Mataram.

“Kopi dari Sembalun ini punya karakter unik. Kadang ada manis alami, kadang floral. Itu yang dicari penikmat kopi,” ujarnya.

Menurutnya, kopi NTB diuntungkan dua hal: ketinggian dan tanah vulkanik. “Rinjani dan Tambora itu luar biasa kontribusinya. Menyuburkan tanah dan memberikan rasa yang tak bisa ditiru daerah lain.”

Kopi NTB, termasuk Sembalun, kini mulai menembus pasar internasional. Namun Huzaini dan para petani sepakat bahwa kualitas harus dijaga, kuantitas harus realistis. Jangan sampai kopi Sembalun kehilangan karakter karena dikejar permintaan.

Dorongan dari Senayan

Anggota Komisi V DPR RI H. Abdul Hadi

Perkembangan kopi NTB juga mendapat perhatian politisi. Anggota DPR RI Dapil NTB II, H. Abdul Hadi, menilai potensi kopi daerah ini sangat besar, tetapi masih membutuhkan dukungan ekosistem yang kuat.

“Kualitasnya sudah diakui. Yang harus diperkuat sekarang adalah kesinambungan promosi dan kontrol mutu,” katanya. Menurutnya, sinergi antara pemerintah pusat, BUMN, dan pemerintah daerah penting untuk menciptakan rantai produksi yang kokoh dari hulu ke hilir.

“Kalau soal rasa, kopi NTB itu ngangenin. Banyak orang mencarinya,” ujar legislator Komisi V DPR RI tersebut.

Pemerintah Provinsi NTB sendiri kini sedang menyusun masterplan pengembangan daerah Sembalun sebagai Kawasan Perdesaan Prioritas Berbasis Pariwisata, sesuai arah RPJMN. Tujuannya bukan menjadikan Sembalun sebagai destinasi modern yang menghilangkan nuansa desa, tetapi memperkuat pariwisata berbasis masyarakat.

Kepala Dinas Pariwisata NTB, Ahmad Nuraulia, menegaskan pendekatannya: “Sembalun itu sudah dikenal sebagai kawasan perdesaan pariwisata. Kajian ini untuk mengarahkan pengembangannya agar lebih terpadu dan berkelanjutan,” katanya.

Pengembangan itu tetap harus mempertahankan ciri Sembalun: udara dingin, bentang alam hijau, budaya bertani, dan produk lokal. Tanpa itu, Sembalun akan kehilangan wajahnya.

Di Persilangan Masa Depan

Saat matahari mulai turun di balik lembah, aroma kopi yang disangrai dari dapur-dapur kayu bercampur dengan bau tanah hortikultura yang baru disiram. Wisatawan masih mencari stroberi, sementara petani memeriksa pucuk-pucuk kopi yang tumbuh pelan.

Sembalun tetap desa pertanian. Wisata datang kemudian sebagai pelengkap. Keduanya tidak saling menggantikan, tetapi saling menopang.

Di kaki Rinjani, simbiosis itu tumbuh pelan-pelan: kopi memberi stabilitas, hortikultura memberi identitas, wisata memberi kesempatan. Dan masyarakat Sembalun merawat semuanya dengan tangan yang tak pernah lepas dari tanah, dan pandangan yang kini mengarah jauh ke masa depan.(*)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -


16,985FansSuka
1,170PengikutMengikuti
2,018PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
3,005PelangganBerlangganan
BERDASARKAN TAG
BERDASARKAN KATEGORI