Mataram (globalfmlombok.com)—
Provinsi NTB dinilai sedang berada dalam momentum ekonomi yang kuat. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi, investasi yang meningkat, aktivitas pariwisata yang bergerak, serta tingkat pengangguran yang relatif rendah menjadi capaian yang patut diapresiasi sekaligus dijaga. Tantangannya kini adalah memastikan momentum tersebut tidak berhenti sebagai angka, tetapi menjelma menjadi kesejahteraan yang semakin luas bagi masyarakat.
Pandangan tersebut disampaikan ekonom Universitas Mataram, Dr. H. Iwan Harsono, S.E., M.Ec., dalam diskusi bersama Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Provinsi NTB sekaligus Juru Bicara Pemprov NTB, Dr. H. Ahsanul Halik, di Mataram, Jumat (29/8).
Akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mataram itu menilai berbagai indikator ekonomi NTB menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Menurutnya, kondisi tersebut merupakan modal penting bagi daerah untuk memperkuat fundamental ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Capaian itu tercermin dalam kinerja pertumbuhan ekonomi NTB. Badan Pusat Statistik mencatat ekonomi NTB tumbuh 13,64 persen pada triwulan I 2026 dan tetap tumbuh 7,41 persen pada triwulan II 2026. Secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi NTB pada semester I 2026 mencapai 10,42 persen.
Bagi Iwan, capaian tersebut merupakan momentum penting yang harus dipertahankan. “NTB sedang memiliki momentum ekonomi yang sangat baik. Ini tentu harus kita apresiasi dan dijaga. Tetapi keberhasilan itu jangan berhenti pada angka pertumbuhan,” ujarnya.
Menurut Iwan, ukuran keberhasilan pembangunan tidak cukup hanya melihat seberapa tinggi pertumbuhan ekonomi, tetapi juga bagaimana pertumbuhan tersebut diterjemahkan menjadi peningkatan pendapatan masyarakat, penciptaan lapangan kerja berkualitas, pengurangan kemiskinan, dan penurunan ketimpangan.
Karena itu, NTB perlu menjaga keseimbangan antara high growth dan inclusive growth. Pertumbuhan yang tinggi harus sekaligus membuka ruang yang lebih besar bagi masyarakat untuk menjadi pelaku dan penerima manfaat pembangunan.
Salah satu peluang terbesar berada pada investasi. Iwan menilai meningkatnya investasi harus diikuti keterkaitan yang kuat dengan ekonomi lokal agar dampaknya tidak berhenti pada besarnya modal yang masuk.
“Investasi besar harus mempunyai linkage yang kuat dengan ekonomi lokal. Tenaga kerja lokal, UMKM, pemasok lokal dan pelaku usaha daerah harus masuk dalam rantai nilai investasi,” katanya.
Penguatan keterkaitan tersebut juga penting untuk mencegah economic leakage, terutama dalam sektor pariwisata dan investasi berskala besar. Tingginya kunjungan wisatawan atau aktivitas usaha belum otomatis menghasilkan manfaat maksimal apabila kebutuhan pangan, barang konsumsi, tenaga profesional dan berbagai input usaha masih banyak dipasok dari luar daerah.
“Semakin kuat rantai pasok lokal, semakin besar nilai tambah yang tinggal dan berputar di NTB,” ujarnya.
Menurut Iwan, momentum pertumbuhan saat ini juga harus digunakan untuk memperkuat struktur ekonomi daerah. Ketergantungan yang terlalu besar pada satu sektor dapat membuat perekonomian rentan terhadap perubahan harga dan kondisi global.
Karena itu, pertanian bernilai tambah, agroindustri, pariwisata berkualitas, UMKM, ekonomi kreatif dan hilirisasi perlu terus diperkuat sebagai bagian dari diversifikasi ekonomi NTB.
Dalam konteks hilirisasi, ia menekankan agar proses penciptaan nilai tambah dilakukan sedekat mungkin dengan sumber daya dan masyarakat daerah.
“Hilirisasi jangan hanya berarti sumber dayanya berasal dari NTB. Nilai tambah, teknologi, industri turunannya, kesempatan kerja dan kapasitas ekonominya juga harus semakin banyak berada di NTB,” tegasnya.
Iwan juga melihat pertumbuhan ekonomi dan investasi sebagai peluang untuk memperkuat kapasitas fiskal daerah. Berkembangnya aktivitas ekonomi semestinya memperluas basis Pendapatan Asli Daerah secara sehat, tanpa membebani masyarakat maupun dunia usaha secara berlebihan.
Namun, seluruh agenda tersebut membutuhkan fondasi sumber daya manusia yang kuat. NTB, menurut Iwan, harus memastikan masyarakat lokal memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan ekonomi yang sedang tumbuh.
“Jangan sampai NTB hanya menjadi lokasi investasi, sementara masyarakat NTB tidak menjadi pelaku utama dan penerima manfaatnya,” katanya.
Karena itu, pendidikan, keterampilan, sertifikasi tenaga kerja, produktivitas, dan kesesuaian kompetensi dengan kebutuhan industri harus berjalan beriringan dengan pertumbuhan investasi dan ekonomi daerah.
Iwan menegaskan, momentum ekonomi yang sedang berlangsung bukanlah titik akhir. Capaian tersebut justru menjadi kesempatan untuk membangun fondasi ekonomi yang lebih produktif, inklusif, beragam dan tahan terhadap guncangan.
Pertumbuhan tinggi hari ini, kata dia, harus menjadi pijakan untuk menciptakan pertumbuhan yang lebih berkualitas pada masa mendatang.
Dengan demikian, keberhasilan ekonomi NTB ke depan tidak cukup diukur dari besarnya angka pertumbuhan dan investasi. Ukuran yang lebih penting adalah seberapa jauh momentum tersebut mampu memperluas lapangan kerja, memperkuat UMKM dan rantai pasok lokal, meningkatkan kapasitas fiskal, mengurangi kemiskinan dan ketimpangan, serta memastikan semakin banyak nilai tambah ekonomi tinggal dan berputar di NTB.
Momentum ekonomi NTB hari ini adalah capaian yang patut dijaga. Tantangan berikutnya adalah mengubah capaian itu menjadi fondasi yang semakin kuat, agar pertumbuhan tidak hanya tercatat dalam statistik, tetapi hadir dalam pendapatan yang meningkat, kesempatan kerja yang lebih luas, usaha lokal yang semakin kuat, dan kesejahteraan yang benar-benar dirasakan masyarakat NTB.(ris/r)


