Tanjung (globalfmlombok.com) – Krisis air bersih masih dialami masyarakat di Gili Meno setelah penutupan perusahaan penyedia air beberapa tahun lalu. Pemerintah Kabupaten Lombok Utara melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Lombok Utara kembali melakukan intervensi dengan mendistribusikan air bersih bagi warga.
Kepala Pelaksana BPBD KLU H. M. Zaldy Rahadian, Sabtu (2/5/2026), mengatakan distribusi air bersih dilakukan setelah pihaknya berkoordinasi dengan pemerintah kecamatan dan Pemerintah Desa Gili Indah terkait pola penyaluran serta titik distribusi di pulau tersebut.
“Kami sudah melakukan koordinasi intensif dengan pihak kecamatan dan desa untuk menentukan pola distribusi serta titik pengantaran air bersih di Gili Meno,” ujar Zaldy.
Ia menjelaskan, hasil koordinasi menyepakati bahwa distribusi air bersih dilakukan dua kali dalam sepekan. Volume distribusi akan ditingkatkan secara bertahap, terutama saat puncak musim kemarau yang diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September 2026.
Mengacu pada prakiraan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, puncak musim kemarau tahun ini di Nusa Tenggara Barat diprediksi terjadi pada Agustus dan mencakup sekitar 85–90 persen wilayah.
Di Lombok Utara, hujan masih sempat terjadi secara parsial pada akhir April lalu di sejumlah wilayah, termasuk Kecamatan Pemenang dan Desa Gili Indah. Namun, kondisi tersebut belum mampu menjamin ketersediaan air bersih dalam jangka panjang.
Zaldy menyebutkan, dalam satu kali pengiriman, volume air yang didistribusikan mencapai 5 meter kubik atau sekitar 10 meter kubik per pekan. Jumlah tersebut disesuaikan dengan kapasitas tampungan di titik distribusi yang tersedia di Gili Meno.
“Kami sempat mencoba distribusi tiga kali seminggu, tetapi kapasitas tampungan di lokasi belum mencukupi, bahkan air sebelumnya belum habis,” katanya.
Ia menilai masyarakat Gili Meno cukup bijak dalam memanfaatkan air bersih yang didistribusikan. Air tersebut digunakan untuk kebutuhan konsumsi dan memasak, sementara untuk mandi dan mencuci, warga masih mengandalkan air sumur dangkal.
BPBD KLU menargetkan suplai air bersih dapat berlangsung hingga tiga bulan ke depan dengan catatan kondisi cuaca tetap mendukung.
Di sisi lain, Zaldy mengingatkan potensi terjadinya fenomena El Nino ekstrem pada 2026 yang berpotensi memperparah kekeringan, tidak hanya di wilayah kepulauan tetapi juga di daratan Lombok Utara.
Karena itu, ia mengimbau organisasi perangkat daerah (OPD) teknis untuk meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat, khususnya petani, agar mengantisipasi dampak kekeringan yang dapat memicu gagal panen. (*)
Berita ini di muat di SUARANTB.COM dengan judul ” Krisis Air Gili Meno, BPBD KLU Lakukan Intervensi “


