Beranda blog Halaman 90

Pemprov NTB Sinkronkan Program dengan Pusat di Tengah Keterbatasan Anggaran

Mataram (globalfmlombok.com) —

Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) memperkuat percepatan program prioritas daerah melalui rapat koordinasi lintas organisasi perangkat daerah (OPD) yang digelar di Kantor Gubernur NTB, Selasa (28/4/2026).

Rapat yang dipimpin Asisten II Setda NTB Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Lalu Moh. Faozal, itu menitikberatkan pada penajaman dan sinkronisasi program antara pemerintah pusat dan daerah di tengah keterbatasan fiskal.

Faozal mengatakan, arah kebijakan pembangunan NTB harus selaras dengan program nasional agar investasi dari pemerintah pusat dapat memberikan dampak maksimal bagi daerah.

“Secara garis besar, pertemuan ini menekankan pentingnya optimalisasi, penajaman, dan sinkronisasi program antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Mengingat keterbatasan fiskal daerah, strategi utamanya adalah memastikan investasi pusat dapat terjaga dan tepat sasaran di daerah,” ujar Faozal.

Ia menambahkan, sejumlah poin yang dibahas dalam rapat juga sejalan dengan upaya pencapaian triple agenda pembangunan, yakni pengentasan kemiskinan, penguatan ketahanan pangan, dan pengembangan pariwisata berkualitas.

Salah satu fokus utama dalam rapat tersebut adalah penguatan konektivitas dan infrastruktur perhubungan. Pemprov NTB mendorong percepatan akses transportasi, baik udara maupun laut, yang selama ini dinilai masih menghadapi kendala biaya tinggi.

“Kita mendorong koordinasi komprehensif untuk mengatasi hambatan konektivitas udara, baik domestik maupun internasional yang sering terkendala biaya tinggi. Ini harus diselesaikan agar mobilitas orang dan barang semakin lancar,” kata dia.

Selain itu, revitalisasi kawasan wisata Senggigi juga menjadi perhatian. Pemprov berencana mengoptimalkan fungsi kawasan tersebut, termasuk pengembangan fasilitas pendukung guna meningkatkan tingkat hunian hotel.

“Revitalisasi Senggigi kita dorong, termasuk mengalihfungsikan Pasar Seni menjadi fasilitas pendukung darat dermaga. Ini penting untuk mendukung keterisian lebih dari 3.500 kamar hotel di kawasan itu,” ujarnya.

Di sektor ekonomi, hilirisasi industri dan penguatan rantai pasok program Makan Bergizi Gratis (MBG) turut menjadi agenda strategis. Produk peternak lokal diharapkan dapat terserap dalam program tersebut melalui peran koperasi sebagai konsolidator distribusi.

“Kita ingin memastikan produk lokal seperti telur dan daging ayam dari peternak NTB masuk ke dapur MBG. Peran koperasi juga kita dorong agar distribusi stabil dan mampu bersaing dengan produk dari luar daerah,” kata Faozal.

Sementara itu, di bidang lingkungan, Pemprov menekankan pentingnya pengelolaan sampah dan rehabilitasi hutan sebagai bagian dari komitmen NTB Hijau. Keberlanjutan pengelolaan TPA Kebon Kongok juga menjadi perhatian.

“Penanganan sampah, terutama di jalur utama dari bandara menuju Mataram, harus diperhatikan untuk menjaga citra daerah tetap bersih dan asri,” ujarnya.

Di sektor infrastruktur, integrasi program perumahan dan pekerjaan umum menjadi prioritas, termasuk dukungan terhadap program nasional pembangunan tiga juta rumah serta perbaikan jaringan irigasi.

Selain itu, sektor energi dan sumber daya mineral juga menjadi perhatian, khususnya percepatan penetapan wilayah pertambangan rakyat guna menekan praktik tambang ilegal.

“Penetapan wilayah pertambangan rakyat dan izin pertambangan rakyat harus dipercepat untuk menekan aktivitas ilegal yang merusak lingkungan,” kata dia.

Faozal menambahkan, peran gubernur sebagai perpanjangan tangan pemerintah pusat di daerah menjadi kunci dalam menjembatani kebijakan agar tidak terjadi kesenjangan implementasi.

Ke depan, koordinasi lintas sektor akan terus diperkuat. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), Biro Ekonomi, dan OPD teknis diminta segera memetakan potensi serta kebutuhan daerah guna memastikan seluruh program strategis berjalan efektif dan tepat sasaran.(ris/r)

Satgas TMMD Ke-128 Percepat Renovasi Rumah Tidak Layak Huni

Selong (globalfmlombok.com) – Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-128 terus menunjukkan progres signifikan, khususnya dalam percepatan pembangunan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Kegiatan ini menjadi salah satu fokus utama sebagai bentuk kepedulian terhadap kesejahteraan masyarakat di wilayah sasaran, Selasa (28/4/2026).

Dengan semangat gotong royong antara TNI, pemerintah daerah, dan warga setempat, proses renovasi dan pembangunan RTLH berjalan dengan cepat dan efektif. Personel Satgas TMMD bersama masyarakat bahu-membahu menyelesaikan setiap tahapan pekerjaan, mulai dari pembongkaran hingga tahap finishing.

Komandan Satuan Tugas (Dansatgas) TMMD ke-128 menyampaikan bahwa percepatan pembangunan RTLH ini bertujuan agar masyarakat penerima manfaat dapat segera menikmati hunian yang layak, aman, dan sehat. Selain meningkatkan kualitas hidup warga, program ini juga diharapkan mampu memperkuat kemanunggalan TNI dengan rakyat.

Masyarakat penerima bantuan pun menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas perhatian yang diberikan. Mereka merasa terbantu dengan adanya program TMMD yang tidak hanya membangun infrastruktur, tetapi juga memberikan harapan baru untuk kehidupan yang lebih baik.
Dengan capaian yang terus meningkat, TMMD ke-128 diharapkan mampu memberikan dampak positif berkelanjutan serta menjadi bukti nyata sinergi dalam membangun negeri dari desa. (r/*)

Kebakaran Pasar Pringgabaya Picu Kerugian Besar, 164 Pedagang Kehilangan Lapak

Selong (globalfmlombok.com) – Kebakaran hebat melanda Pasar Pringgabaya, Kabupaten Lombok Timur, Senin (27/4/2026) malam. Sedikitnya 164 lapak pedagang ludes terbakar, menyebabkan ratusan pedagang kehilangan tempat usaha dan mengalami kerugian material yang ditaksir mencapai ratusan juta rupiah.

Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Lombok Timur Hadi Fathurrahman mengatakan seluruh lapak yang berada di area terdampak habis dilalap api. Selain itu, tiga kios turut mengalami kerusakan berat.

“Semua lapak habis. Untuk kios, ada tiga kios yang isinya habis, tetapi sebagian lainnya masih bisa diselamatkan,” ujar Hadi saat ditemui di lokasi kejadian, Selasa (28/4/2026).

Meski demikian, besaran kerugian secara keseluruhan masih dalam proses pendataan. Pemerintah daerah, kata dia, belum ingin berspekulasi karena kompleksitas kerugian yang dialami para pedagang.

“Penghitungan masih dilakukan, kami tidak bisa asal menaksir karena banyak komponen yang harus dihitung,” katanya.

Pasca kebakaran, alat berat langsung diterjunkan untuk membersihkan puing-puing. Pemkab Lombok Timur juga menyiapkan pembangunan lapak sementara agar para pedagang dapat segera kembali beraktivitas.

“Sesuai arahan pimpinan, pedagang akan dibangunkan lapak sementara agar bisa segera berdagang kembali,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Lombok Timur Lalu Dami Ahyani menyebut kebakaran diduga dipicu korsleting listrik. Api baru berhasil dikendalikan sekitar pukul 23.45 Wita setelah proses pemadaman berlangsung intensif.

Informasi kebakaran pertama kali diterima dari warga yang datang langsung ke Pos WMK Pringgabaya. Petugas Regu 3 Jaya dari Mako Damkarmat dikerahkan dan tiba di lokasi satu menit setelah laporan diterima.

Namun, proses pemadaman menghadapi berbagai kendala, mulai dari minim penerangan, mesin tempel yang tidak berfungsi maksimal, sumber air yang jauh, hingga tidak tersedianya hydrant di sekitar pasar.

Untuk mempercepat penanganan, sejumlah armada tambahan dikerahkan, termasuk satu unit fuso, dua mobil tangki, serta tiga armada pemadam dari Terara, Sambelia, dan Mako Induk. Bantuan juga datang dari Lombok Tengah, tim SAR Lombok Timur, BPBD, DLHK dan unsur lainnya.

Beruntung tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Meski demikian, empat petugas pemadam mengalami luka saat berjibaku memadamkan api. Satu personel sempat pingsan, sementara tiga lainnya mengalami cedera.

Hadi mengatakan penanganan dampak kebakaran kini menjadi prioritas pemerintah daerah. Selain menyiapkan lapak sementara, Pemkab juga membuka peluang koordinasi dengan pemerintah pusat untuk penataan kembali pasar.

“Kami berharap ada dukungan pemerintah pusat agar penataan kembali Pasar Pringgabaya bisa lebih maksimal,” ujarnya.

Di tengah proses penanganan, para pedagang mulai menghitung kerugian yang mereka alami. Salah seorang pedagang konveksi, Supriani, mengaku seluruh dagangannya hangus terbakar.

“Tidak ada barang saya yang tersisa, semuanya hangus. Saya datang tadi malam, tinggal abu saja,” katanya lirih.

Pedagang asal Mamben itu memperkirakan kerugiannya mencapai sekitar Rp50 juta, termasuk lapak dan barang dagangan yang baru saja dibeli dari pemasok.

“Barang baru saja kami belanja, belum sempat dijual. Tahu-tahu ada musibah seperti ini,” ujarnya.

Supriani berharap ada bantuan dari pemerintah untuk meringankan beban pedagang yang terdampak.

Harapan serupa disampaikan H Musthofa, pedagang beras yang mengaku kehilangan sekitar 1,5 ton beras serta stok ketan dan bumbu. Kerugian yang dialaminya ditaksir mencapai Rp100 juta.

“Api cepat sekali membesar, barang dagangan tidak sempat diselamatkan,” katanya.

Hingga berita ini diturunkan, proses pembersihan masih menunggu hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) dari kepolisian. Para pedagang berharap pasar segera ditata kembali agar aktivitas ekonomi dapat pulih secepatnya. (*)

Berita ini di muat di SUARANTB.COM dengan judul ” Kebakaran Pasar Pringgabaya, 164 Pedagang Kehilangan Lapak“

Kejati NTB Periksa Notaris di Kasus TPPU Mantan Kepala BPN Sumbawa

Mataram (globalfmlombok.com) – Kejaksaan Tinggi (Kejati) NTB memeriksa notaris dari Sumbawa pada Senin (27/4/2026). Pemeriksaan tersebut berkaitan dengan kasus dugaan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dan gratifikasi mantan Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Sumbawa, Subhan.

Kasi Penerangan Hukum (Penkum) Kejati NTB, Muhammad Harun Al Rasyid membenarkan adanya pemeriksaan tersebut. “Itu berkaitan dengan pendalaman TPPU dan gratifikasi untuk tersangka Subhan,” katanya.

Harun mengaku perlu mengecek terlebih dahulu berapa orang yang menjalani pemeriksaan di Bidang Pidana Khusus Kejati NTB. “Untuk berapa orangnya, nanti saya cek,” sebutnya.

Asisten Pidana Khusus (Aspidsus) Kejati NTB, Muh Zulkifli Said, sebelumnya membeberkan bahwa dugaan gratifikasi yang diterima Subhan mencapai milyaran rupiah.

Ia menyebutkan, saat ini pihaknya belum menetapkan Subhan sebagai tersangka. Baik di kasus dugaan gratifikasi maupun TPPU. “Kita kumpulkan alat bukti dulu. Masih pemeriksaan saksi,” ucapnya.

Zulkifli mengaku pihaknya telah melakukan penggeledahan di Kantor BPN Sumbawa dan Kantor BPN Lombok Tengah di penanganan dua perkara itu. Tim penyidik juga telah menggeledah rumah milik Subhan di Desa Karang Bongkot, Kecamatan Labuapi, Lombok Barat, pada Kamis (12/2/2026).

Selain memeriksa para saksi, saat ini penyidik juga masih fokus menelaah dokumen hasil sitaan dari dua kantor badan pertanahan tersebut.

Sebagai informasi, dalam mengusut perkara ini, Kejati NTB telah berkoordinasi dengan Pusat Pelaporan Analisis dan Transaksi Keuangan (PPATK). Penyidik juga terpantau telah memeriksa sejumlah saksi, yakni ajudan Subhan, sejumlah notaris yang ada di wilayah Sumbawa, Lombok Tengah, dan Kota Mataram.

Pengusutan perkara dugaan gratifikasi dan TPPU ini berangkat dari pengusutan dugaan korupsi pembelian lahan untuk sirkuit Motocross Grand Prix (MXGP) Samota, Kabupaten Sumbawa.

Dalam perkara tersebut, Kejati NTB telah menetapkan tiga tersangka. Yakni; Mantan Kepala BPN Sumbawa, Subhan; Tim appraisal, Muhammad Julkarnaen; dan Pung Saifullah Zulkarnain dari Kantor Pusat Jasa Penilaian Publik (KJPP), Pung’S Zulkarnain Mataram.

Kasus ini kini telah dilimpahkan ke Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Mataram pada Selasa (31/3/2026). Sidang perdana dijadwalkan berlangsung pada Rabu (15/4/2026) mendatang. (mit)

Program MBG Dongkrak Penjualan Pikap di NTB

Mataram (globalfmlombok.com) – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memberi dampak positif terhadap sektor otomotif di Nusa Tenggara Barat (NTB), terutama pada penjualan kendaraan niaga jenis pikap. Kehadiran dapur-dapur MBG di berbagai daerah mendorong meningkatnya kebutuhan armada untuk distribusi logistik dan bahan pangan.

Branch Manager Suzuki Cakra Mobilindo, Edy Khairuddin, mengatakan geliat tersebut mulai terasa sejak semester kedua 2025, seiring banyaknya dapur MBG yang telah memperoleh persetujuan operasional.

Menurutnya, pada triwulan pertama 2025 kondisi pasar otomotif sempat lesu. Namun, setelah program MBG berjalan, permintaan kendaraan niaga menunjukkan peningkatan yang signifikan.

“Begitu program MBG mulai berjalan dan dapur-dapur sudah di-approve, dampaknya langsung terasa ke penjualan mobil, terutama pikap,” ujarnya.

Ia menjelaskan, awalnya banyak pelaku usaha mengira pengadaan kendaraan untuk kebutuhan MBG harus dilakukan dari luar daerah atau melalui pusat. Namun, seiring waktu diketahui bahwa pembelian dapat dilakukan di daerah, sehingga dealer lokal ikut merasakan dampak positif terhadap penjualan.

Edy menambahkan, peningkatan permintaan tidak hanya terjadi pada merek Suzuki, tetapi juga dirasakan hampir seluruh merek kendaraan niaga di NTB.

Dari sisi Suzuki sendiri, penjualan pikap untuk kebutuhan MBG mengalami kenaikan sekitar 40 unit per bulan dibanding kondisi normal. Jika digabungkan dengan merek lain, total tambahan penjualan kendaraan pikap di NTB diperkirakan mencapai sekitar 100 unit per bulan sepanjang 2025.

“Kalau dipukul rata semua merek, tambahan market pikap di NTB bisa sekitar 100 unit per bulan,” katanya.

Meski secara persentase kenaikannya berkisar 10 persen, angka tersebut dinilai cukup baik di tengah tren penurunan pasar otomotif di sejumlah daerah lain.

Ia menuturkan, mayoritas pembeli kendaraan pikap berasal dari pemilik dapur MBG maupun pihak ketiga yang menyewakan armada. Selain itu, ada pula pelaku usaha yang menggunakan kendaraan tersebut untuk memasok bahan baku dan kebutuhan logistik ke dapur MBG.

“Kebanyakan memang untuk kebutuhan dapur, baik dipakai sendiri maupun disewakan,” jelasnya.

Edy memastikan lonjakan permintaan belum berdampak signifikan terhadap kenaikan harga jual kendaraan. Namun, ia mengingatkan adanya potensi kenaikan harga jika tarif Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) mengalami peningkatan.

Menurutnya, jika tarif pajak naik hingga dua persen, maka harga kendaraan baru bisa bertambah sekitar Rp3 juta hingga Rp5 juta per unit, yang berpotensi menekan daya beli masyarakat.

“Kalau harga naik cukup tinggi, otomatis permintaan bisa turun. Ini yang kami khawatirkan,” ujarnya.

Ia berharap pemerintah daerah dapat menjaga stabilitas pasar otomotif agar pertumbuhan penjualan tetap terjaga. Dengan meningkatnya jumlah kendaraan yang diregistrasi, pendapatan daerah dinilai tetap bisa meningkat tanpa harus membebani konsumen.

Ke depan, permintaan kendaraan pikap diperkirakan masih berpotensi tumbuh seiring perluasan program MBG secara nasional. Jika jumlah dapur terus bertambah, kebutuhan armada distribusi juga akan meningkat.

“Waktu pembukaan dapur dilakukan besar-besaran tahun lalu, dampaknya luar biasa. Ekonomi di semester kedua 2025 benar-benar terasa bergerak. Mudah-mudahan ini berlanjut,” tandasnya.(*)

Berita ini di muat di SUARANTB.COM dengan judul “Program MBG Dongkrak Penjualan Kendaraan Pikap di NTB”

Kejari Bima Gandeng Inspektorat Hitung Kerugian Kasus Dana BOS Tiga SLB

Mataram (globalfmlombok.com) – Kejaksaan Negeri (Kejari) Bima telah berkoordinasi dengan auditor untuk menghitung kerugian negara di kasus dugaan korupsi dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) tiga Sekolah Luara Biasa (SLB) di Kabupaten Bima.

Kepala Seksi Intelijen Kejari Bima, Virdis Firmanillah Putra Yuniar, Senin (27/4/2026) mengatakan, pihaknya memilih Inspektorat Provinsi NTB untuk melakukan audit Perhitungan Kerugian Keuangan Negara (PKKN).

“Sudah mengajukan surat permintaan audit. Sudah presentasi kasus pada Inspektorat Provinsi NTB,” katanya.

Di tahap penyidikan, Virdis mengaku bahwa pihaknya telah memeriksa sejumlah guru dari tiga SLB di Kabupaten Bima itu. “Pemeriksaan 7 guru dari SLB Al-Hikmah,” sebutnya.

Sejumlah guru dari SLB Bukit Bintang dan SLB Nurul Ilmi juga telah menjalani pemeriksaan. Setelah sebelumnya para guru itu sempat tidak memenuhi surat panggilan dari jaksa.

Di luar para guru yang mengajar di tiga sekolah tersebut, Kejari Bima juga telah memeriksa ketua yayasan dan kepala SLB Bukit Bintang serta Kepala SLB Al-Hikmah. Serta sejumlah pihak dari Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dikbud NTB Cabang Bima.

Sebelumnya, pada Jumat (9/1/2026) penyidik Kejari Bima telah melakukan penggeledahan pada tiga SLB yang menjadi objek perkara kasus ini. Tiga sekolah yang digeledah jaksa antara lain, SLB Bukit Bintang di Kecamatan Ambalawi, SLB Nurul Ilmi di Kecamatan Langgudu, dan SLB Al-Hikmah di Kecamatan Lambu.

Penggeledahan tersebut dilakukan dalam rangka tahap penyidikan dugaan tindak pidana korupsi dalam pengelolaan dan penggunaan dana BOS tiga sekolah itu. Dalam penggeledahan pada tiga sekolah itu, jaksa berhasil menyita dokumen-dokumen terkait pengelolaan Dana BOS dari masing-masing sekolah.

Dari informasi yang dihimpun Suara NTB, dari ketiga SLB tersebut, tidak ditemukan adanya aktivitas kegiatan belajar mengajar. Namun, tiga sekolah itu tetap rutin mendapatkan kucuran dana BOS. Setiap tahun, masing-masing siswa di SLB menerima bantuan dana sebesar Rp3,6 juta. Dalam pengusutan perkara ini, jaksa menduga adanya dugaan penyelewengan dana BOS dari tahun 2020-2025. (mit)

Tujuh SPPG Kembali Beroperasi, Layanan Publik Berangsur Normal

Sumbawa Besar (globalfmlombok.com) – Sebanyak tujuh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Sumbawa kembali beroperasi setelah sebelumnya dihentikan sementara oleh Badan Gizi Nasional (BGN). Penghentian itu dilakukan untuk memastikan pengelola memenuhi persyaratan teknis, termasuk instalasi pengolahan air limbah (IPAL) dan standar lainnya.

Anggota Satuan Tugas Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Kabupaten Sumbawa, Dr. Rusmayadi, mengatakan pencabutan penghentian sementara tersebut memungkinkan SPPG kembali memberikan layanan kepada masyarakat.

“Penghentian sementara untuk tujuh SPPG tersebut sudah dicabut, sehingga bisa beroperasi kembali. Kendati demikian, kami tetap akan memantau proses IPAL termasuk SLHS dari Dinas Kesehatan,” ujarnya kepada wartawan, Senin (27/4/2026).

Ia menjelaskan, pihaknya akan memanggil seluruh pengelola SPPG bersama Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Kesehatan. Pertemuan itu bertujuan menindaklanjuti hasil pembahasan sebelumnya di Mataram terkait evaluasi operasional SPPG.

Menurut Rusmayadi, pengelolaan SPPG oleh mitra harus sesuai dengan petunjuk teknis (juknis) yang ditetapkan BGN. Salah satu yang menjadi perhatian adalah penyediaan IPAL yang memenuhi standar serta kepemilikan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Selain itu, pengelola juga diminta berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan, khususnya terkait sertifikasi penjamah makanan.

“Sebenarnya penutupan sementara tersebut bukan karena perubahan aturan, melainkan SPPG yang lalai melaksanakan juknis yang telah ditetapkan pemerintah,” katanya.

Kembalinya operasional tujuh SPPG tersebut diharapkan berdampak pada meningkatnya cakupan penerima manfaat program MBG yang sebelumnya sempat tertunda. Jika satu SPPG melayani sekitar 2.000 penerima manfaat, maka sekitar 14.000 masyarakat kini kembali dapat mengakses layanan tersebut.

“Pemerintah pada prinsipnya sangat menyambut baik kembali beroperasinya SPPG tersebut sehingga penerima manfaat bisa kembali merasakan program pemerintah,” ujarnya.

Ia juga mengimbau para pengelola, khususnya yayasan yang bertanggung jawab terhadap operasional MBG, agar menjaga kualitas dan mutu layanan sesuai standar BGN. Mulai dari pengelolaan limbah hingga pemenuhan aspek higienitas dan sanitasi harus menjadi perhatian utama.

“Kami minta agar mereka memberikan atensi khusus terhadap juknis yang berlaku. Jangan sampai penerima manfaat terabaikan karena kelalaian pengelola,” tandasnya.

Berita ini di muat di SUARANTB.COM dengan judul ” Tujuh SPPG Beroperasi Kembali “

DLH Tambah 38 Armada Pengangkut Sampah

Taliwang (globalfmlombok.com) – Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), menambah 38 unit armada pengangkut sampah jenis kendaraan roda tiga. Armada baru ini khusus dialokasikan untuk mempercepat penanganan sampah di tujuh kelurahan.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup KSB, Aku Nur Rahmadin mengatakan, pengadaan 38 unit motor sampah roda tiga itu disesuaikan dengan jumlah wilayah lingkungan kelurahan yang ada di Kecamatan Taliwang.

Armada ini diprioritaskan untuk pengangkutan sampah di wilayah kelurahan itu sengaja dipilih, karena kondisi jalan di seluruh kelurahan terhitung sempit, sehingga dengan penggunaan armada roda tiga, proses pengangkutan diharapkan dapat menjangkau semua rumah warga meski terletak di gang-gang sempit. “Jadi armadanya bisa sampai ke depan rumah warga,” katanya.

Pengelolaan armada sampah roda tiga itu lanjutnya, tetap akan berada di bawah kendali DLH. Rahmadin menyebut, tugas kelurahan dalam hal ini memberi edukasi kepada warga untuk melakukan pemilahan sampah sejak dari rumah,sehingga saat proses pengangkutan, petugas tidak lagi kesulitan melakukan pemilihan ulang saat sampai di TPA Batu Putih.

“Untuk sementara sampah yang ada di kelurahan langsung diangkut ke TPA. Karena itu warga harus sudah memiliah sampahnya dari rumah,” cetus mantan Staf Ahli Bupati KSB ini.

Kendaraan roda tig aini diharapkan mengurangi beban aktivitas pengangkutan sampah, supaya lebih difokuskan untuk melayani pengangkutan di luar Kecamatan Taliwang. “Retase pengangkutan sampah bisa kita tingkatkan. Kalau dulu 2 kali seminggu di seluruh kecamatan. Sekarang bisa lebih dari itu. Kalau wilayah Taliwang bisa jadi tiap hari dengan hadirnya roda tiga itu,” klaimnya.

Sementara itu, upaya pengadaan fasilitas pengolah sampah di tingkat desa/kelurahan telah dimatangkan melalui Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD). Pihaknya sedang memformulasikan agar seluruh desa wajib memiliki fasilitas pengelolaan sampah mandiri. “Kalau yang punya TPS 3R, desa bersangkutan itu diwajibkan mengaktifkannya tahun ini. Bagi yang belum diwajibkan punya fasilitas bank sampah atau bentuk fasilitas pengelolaan lainnya sesuai kemampuan desa masing-masing,” tukasnya.(bug)

Kasus Alat Berat PUPR NTB Segera Penetapan Tersangka

Mataram (globalfmlombok.com) – Pejabat Kejaksaan Negeri (Kejari) Mataram membeberkan perkembangan terbaru dari kasus dugaan korupsi penyewaan alat berat di Balai Jalan Wilayah Pulau Lombok, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) NTB.

Polresta Mataram hingga saat ini belum menetapkan tersangka di kasus ini. Meskipun penanganan perkaranya telah dinaikkan ke tahap penyidikan sejak Oktober 2024 lalu.

Kepala Seksi Intelijen Kejaksaan Negeri (Kejari) Mataram, Ida Made Oka Wijaya, Senin (27/4/2026) mengatakan, jaksa sempat meminta perkembangan hasil penyidikan (P-17) ke penyidik Unit Tipikor Satreskrim Polresta Mataram.

Hingga akhirnya pada Rabu 22 April 2026 penyidik Polresta Mataram mengirimkan hasil perkembangan penyidikan ke jaksa peneliti.

“Dalam surat pemberitahuan, penyidik mengatakan akan melakukan pemeriksaan ahli pidana dan ahli keuangan daerah,” jelasnya.

Setelah memeriksa dua ahli tersebut, barulah penyidik akan melakukan gelar perkara penetapan tersangka dan pemeriksaan tersangka. “Itu informasi dari penyidik,” tambahnya.

Menurutnya, penyidik akan melihat terlebih dahulu bagaimana hasil pemeriksaan dari ahli pidana dan keuangan daerah. “Nanti tergantung hasil dari ahli. Kalau tergambar (perbuatan pidana) akan lanjut ke penetapan tersangka,” pungkasnya.

Dari informasi yang dihimpun, perkara kasus dugaan korupsi penyewaan alat berat itu telah naik ke tahap penyidikan sejak Oktober 2024 lalu.

Penyidik Unit Tipikor Satreskrim Polresta Mataram juga telah mengantongi hasil perhitungan kerugian keuangan negara dari Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Perwakilan NTB. Hasil audit menyatakan bahwa negara mengalami kerugian hingga Rp3,2 miliar.

AKP Regi Halili yang menjabat Kasat Reskrim Polresta Mataram periode sebelumnya mengatakan, kerugian itu berasal dari retribusi sewa alat berat yang seharusnya diterima sebesar Rp2,9 miliar dan kerugian akibat hilangnya dua unit dump truck senilai Rp244,6 juta.

Retribusi penyewaan itu tidak pernah masuk ke dalam kas daerah. Begitu juga dengan dua dump truk yang hilang tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Selain mengantongi hasil audit kerugian negara, penyidik juga telah memeriksa sejumlah saksi. Termasuk diantaranya mantan Kepala Balai Pemeliharaan Jalan Provinsi (BPJP) Wilayah Lombok, Dinas PUPR NTB, Ali Fikri beserta istrinya. Serta Efendy selaku penyewa alat berat tersebut.

Penyewaan alat berat tersebut diketahui terjadi pada tahun 2021. Saat itu, BPJP Wilayah Pulau Lombok menyewakan empat unit alat berat kepada Efendy. Yakni, satu ekskavator, dua dump truck, dan satu mesin molen.

Penyidik menemukan ada satu unit eskavator dalam kondisi rusak berat di Desa Pengadangan, Lombok Timur. Sementara itu, dua dump truck belum ditemukan dan belum dikembalikan hingga saat ini. (mit)

518 Eks Honorer NTB Menanti Tali Asih, Empat Bulan Belum Cair

Mataram (globalfmlombok.com) – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) belum juga merealisasikan pemberian tali asih kepada 518 tenaga honorer yang diputus kontraknya pada akhir 2025. Padahal, alokasi anggaran yang disiapkan mencapai lebih dari Rp1,7 miliar.

Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Setda NTB, H. Amir, SPd., M.Pd., mengatakan proses pencairan saat ini masih berjalan. Menurutnya, pemerintah daerah perlu memastikan adanya payung hukum sebelum anggaran tersebut disalurkan agar tidak menimbulkan persoalan di kemudian hari.

“Insya Allah dalam waktu dekat akan diberikan,” ujar Amir di Kantor Gubernur NTB, Senin (27/4/2026).

Ia menambahkan, dalam waktu dekat pihaknya akan menggelar rapat bersama Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) serta Badan Kepegawaian Daerah (BKD) untuk membahas alokasi anggaran tersebut.

Sejak dijanjikan pada Desember 2025, para mantan honorer masih menunggu kepastian pencairan tali asih tersebut. Hingga April 2026, belum ada informasi resmi yang mereka terima. Padahal, bantuan tersebut diharapkan dapat menjadi modal awal bagi mereka untuk membuka usaha setelah tidak lagi bekerja di lingkungan Pemprov NTB.

Amir menegaskan, pemerintah tidak ingin tergesa-gesa dalam mengambil keputusan, mengingat besaran anggaran yang cukup signifikan. Setiap eks honorer diperkirakan akan menerima tali asih sekitar Rp2 juta hingga Rp3 juta.

“Insyaallah dapatnya lebih dari UMR, di atas Rp2,6 juta,” katanya.

Sebelumnya, Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menyatakan tali asih diberikan sebagai bentuk perhatian pemerintah agar para honorer dapat bertahan dan memulai usaha mandiri.

“Dengan segala keterbatasan fiskal yang kami hadapi, kami akan memberikan tali asih sesuai masa kerja. Paling tidak mereka bisa bertahan dengan memulai usaha dan bisnis,” ujarnya.

Namun demikian, realisasi bantuan tersebut masih menunggu izin dari Kementerian Dalam Negeri. Pemerintah Provinsi NTB saat ini tengah mengajukan permohonan persetujuan agar penyaluran dana dapat dilakukan sesuai ketentuan.

Iqbal juga memastikan data para eks honorer tetap tersimpan sebagai arsip pemerintah. Hal ini membuka peluang bagi mereka untuk kembali direkrut jika sewaktu-waktu dibutuhkan.

“Kami punya rekam jejak kinerja mereka. Kita tidak tahu ke depan seperti apa kebutuhannya,” kata Iqbal.(*)

Berita ini di muat di SUARANTB.COM dengan judul “518 Eks Honorer NTB Bersabar, Empat Bulan Penantian Tali Asih Tak Kunjung Diberikan “