Mataram (globalfmlombok.com) – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memberi dampak positif terhadap sektor otomotif di Nusa Tenggara Barat (NTB), terutama pada penjualan kendaraan niaga jenis pikap. Kehadiran dapur-dapur MBG di berbagai daerah mendorong meningkatnya kebutuhan armada untuk distribusi logistik dan bahan pangan.
Branch Manager Suzuki Cakra Mobilindo, Edy Khairuddin, mengatakan geliat tersebut mulai terasa sejak semester kedua 2025, seiring banyaknya dapur MBG yang telah memperoleh persetujuan operasional.
Menurutnya, pada triwulan pertama 2025 kondisi pasar otomotif sempat lesu. Namun, setelah program MBG berjalan, permintaan kendaraan niaga menunjukkan peningkatan yang signifikan.
“Begitu program MBG mulai berjalan dan dapur-dapur sudah di-approve, dampaknya langsung terasa ke penjualan mobil, terutama pikap,” ujarnya.
Ia menjelaskan, awalnya banyak pelaku usaha mengira pengadaan kendaraan untuk kebutuhan MBG harus dilakukan dari luar daerah atau melalui pusat. Namun, seiring waktu diketahui bahwa pembelian dapat dilakukan di daerah, sehingga dealer lokal ikut merasakan dampak positif terhadap penjualan.
Edy menambahkan, peningkatan permintaan tidak hanya terjadi pada merek Suzuki, tetapi juga dirasakan hampir seluruh merek kendaraan niaga di NTB.
Dari sisi Suzuki sendiri, penjualan pikap untuk kebutuhan MBG mengalami kenaikan sekitar 40 unit per bulan dibanding kondisi normal. Jika digabungkan dengan merek lain, total tambahan penjualan kendaraan pikap di NTB diperkirakan mencapai sekitar 100 unit per bulan sepanjang 2025.
“Kalau dipukul rata semua merek, tambahan market pikap di NTB bisa sekitar 100 unit per bulan,” katanya.
Meski secara persentase kenaikannya berkisar 10 persen, angka tersebut dinilai cukup baik di tengah tren penurunan pasar otomotif di sejumlah daerah lain.
Ia menuturkan, mayoritas pembeli kendaraan pikap berasal dari pemilik dapur MBG maupun pihak ketiga yang menyewakan armada. Selain itu, ada pula pelaku usaha yang menggunakan kendaraan tersebut untuk memasok bahan baku dan kebutuhan logistik ke dapur MBG.
“Kebanyakan memang untuk kebutuhan dapur, baik dipakai sendiri maupun disewakan,” jelasnya.
Edy memastikan lonjakan permintaan belum berdampak signifikan terhadap kenaikan harga jual kendaraan. Namun, ia mengingatkan adanya potensi kenaikan harga jika tarif Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) mengalami peningkatan.
Menurutnya, jika tarif pajak naik hingga dua persen, maka harga kendaraan baru bisa bertambah sekitar Rp3 juta hingga Rp5 juta per unit, yang berpotensi menekan daya beli masyarakat.
“Kalau harga naik cukup tinggi, otomatis permintaan bisa turun. Ini yang kami khawatirkan,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah daerah dapat menjaga stabilitas pasar otomotif agar pertumbuhan penjualan tetap terjaga. Dengan meningkatnya jumlah kendaraan yang diregistrasi, pendapatan daerah dinilai tetap bisa meningkat tanpa harus membebani konsumen.
Ke depan, permintaan kendaraan pikap diperkirakan masih berpotensi tumbuh seiring perluasan program MBG secara nasional. Jika jumlah dapur terus bertambah, kebutuhan armada distribusi juga akan meningkat.
“Waktu pembukaan dapur dilakukan besar-besaran tahun lalu, dampaknya luar biasa. Ekonomi di semester kedua 2025 benar-benar terasa bergerak. Mudah-mudahan ini berlanjut,” tandasnya.(*)


