Beranda blog Halaman 211

Isu Tambang Ilegal, Wisatawan Inggris Batal Berlibur ke Lombok

Mataram (globalfmlombok.com) – Isu tambang ilegal yang dinilai tidak ramah lingkungan mulai berdampak langsung terhadap sektor pariwisata Nusa Tenggara Barat. Sejumlah wisatawan asal Inggris membatalkan rencana kunjungan ke Lombok setelah menerima informasi adanya aktivitas tambang ilegal di sekitar destinasi wisata.

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif NTB, H. Lalu Ahmad Nur Aulia mengungkapkan bahwa pembatalan tersebut dilakukan oleh rombongan wisatawan mancanegara yang sebelumnya merencanakan perjalanan wisata bersepeda di wilayah Lombok.
“Ada rombongan pesepeda dari Inggris yang kemarin berencana datang ke Lombok. Namun, karena mereka mendapatkan informasi adanya aktivitas tambang ilegal di sekitar destinasi wisata, akhirnya mereka membatalkan kunjungan ke Indonesia,” ujar Aulia pada kegiatan Musda DPD Astindo NTB pada, Kamis (15/1/26).

Rombongan tersebut berjumlah sekitar 80 orang. Seluruhnya berasal dari Inggris dan sebagian besar tidak menutup kemungkinan merupakan ekspatriat yang sangat memperhatikan aspek keberlanjutan lingkungan dalam memilih destinasi wisata.
“Mereka ini sangat concern terhadap isu lingkungan. Begitu mendengar ada aktivitas tambang yang dinilai tidak sesuai dengan prinsip keberlanjutan, mereka langsung mengurungkan niat,” katanya menyayangkan.

Menurut Aulia, wisatawan mancanegara umumnya tidak melihat secara detail jarak lokasi tambang dengan destinasi wisata. Selama isu lingkungan mencuat di satu wilayah, citra destinasi secara keseluruhan ikut terdampak.

“Bagi wisatawan, ketika mendengar Lombok ada isu tambang ilegal, mereka tidak lagi membedakan apakah itu jauh atau dekat dari lokasi wisata. Yang mereka tangkap adalah Lombok memiliki persoalan lingkungan,” katanya.

Aulia kembali menegaskan, persoalan ini menjadi catatan serius bagi semua pihak, khususnya dalam pengelolaan sumber daya alam. Ia menilai aktivitas pertambangan yang tidak mengedepankan prinsip sustainable tourism dapat merusak citra pariwisata NTB di mata dunia.
“Pengelolaan tambang yang tidak sesuai dengan prinsip keberlanjutan dan perlindungan lingkungan harus menjadi perhatian kita bersama. Jika tidak ditangani dengan baik, dampaknya bisa sangat besar bagi pariwisata,” tegasnya.

Ia berharap, seluruh pemangku kepentingan dapat berkoordinasi dan mengambil langkah tegas agar aktivitas yang merusak lingkungan tidak mengganggu perkembangan destinasi wisata unggulan NTB, khususnya Lombok yang selama ini dikenal sebagai tujuan wisata berkelanjutan.(bul)

Tertinggal Motor dan Jaket, Perempuan Asal Malang Dilaporkan Hilang Misterius di Pandanan

Tanjung (globalfmlombok.com) – Seorang perempuan asal Malang, Jawa Timur, dilaporkan hilang secara misterius di area Dusun Pandanan, Desa Malaka, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara. Dalam unggahan sejumlah warga di Medsos, perempuan tersebut bernama Levi (35). Kabarnya, ia bermukim di wilayah Kecamatan Gunung Sari, Kabupaten Lombok Barat.

Dalam sejumlah keterangan netizen, korban meninggalkan sepeda motor matic hitam dengan nopol W 2386 NBG. Motor korban terlihat di rute jalan nasional Dusun Pandanan. TKP memiliki spot pemandangan indah, namun menjorok tebing yang di bawahnya terhampar pantai dengan deburan ombak yang cukup ganas.

Hingga berita ini diturunkan, korban tercatat dikabarkan menghilang 3 hari. Pada hari kedua, spot pencarian korban yang melintas jalan nasional tampak ramai karena perhentian pengendara yang penasaran. Tampak pula, aparat kepolisian mengerahkan anjing pelacak, dibantu oleh personil Basarnas, TNI dan personil instansi terkait lainnya.

Keberadaan korban hingga kini belum diketahui setelah sepeda motor dan barang-barang pribadinya ditemukan tergeletak di pinggir jalan raya Desa Malaka, Kecamatan Pemenang, tepatnya di jalur yang berdekatan dengan jurang.

‎Temuan tersebut pertama kali diketahui warga setempat dan langsung memicu kekhawatiran. Lokasi penemuan kendaraan berada di area ekstrem, sehingga menimbulkan dugaan kuat adanya peristiwa serius yang menimpa korban.

‎Kasat Reskrim Polres Lombok Utara, IPTU Komang Wilandra, kepada wartawan, Kamis (15/1) membenarkan adanya laporan orang hilang tersebut. Saat ini, personil gabungan masih fokus melakukan pencarian dan pendalaman di lapangan.

‎“Benar, ada laporan orang hilang yang masuk di Polsek Pemenang. Sampai saat ini korban belum diketahui dan masih dilakukan pencarian,” ujar Wilandra.

‎Ia menegaskan, pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap kronologi pasti hilangnya korban. Sejumlah keterangan saksi serta barang bukti di lokasi penemuan tengah dikumpulkan dan dianalisis.

‎“Masih dalam tahap lidik. Kami dalami semua kemungkinan dan mengumpulkan keterangan yang diperlukan,” imbuhnya. (ari)

Dihantam Banjir, Jalan Utama Menuju Batu Bangka Rusak Parah

0

Sumbawa Besar (globalfmlombok.com)–Akses utama menuju Desa Batu Bangka, khususnya Dusun Prajak, Kecamatan Moyo Hilir, tepatnya di ruas Simpang Jalan Negara (SJN) Moyo- Luar kembali terganggu pasca diterjang banjir yang melanda wilayah setempat. Jalan utama menuju dusun tersebut, rusak parah.

“Akses jalan yang putus ini merupakan kejadian berulang yang dipicu curah hujan ekstrem yang mengguyur wilayah tersebut selama beberapa hari berturut-turut,” kata Kepala Balai Pemeliharaan Jalan Provinsi Wilayah Pulau Sumbawa Bagian Barat, Dinas PUPR Provinsi NTB, Mustafa, Kamis, 15 Januari 2026.

Hujan dengan intensitas tinggi menyebabkan debit air sungai di sekitar Kecamatan Moyo Hilir meningkat drastis hingga meluap ke badan jalan dan permukiman warga. Di sejumlah titik, ketinggian air dilaporkan mencapai lebih dari satu meter, sehingga ruas jalan tidak dapat dilalui kendaraan bermotor.

“Selain genangan air, beberapa bagian jalan juga mengalami longsor dan penurunan permukaan, yang semakin memperparah gangguan akses transportasi. Apalagi jalan ini merupakan jalur vital penghubung antar desa dan kecamatan,” ucapnya.

Saat ini kata dia, tim sudah berada di lapangan untuk mulai membuka akses jalan yang sempat terputus. Koordinasi intensif dengan berbagai pihak terkait juga terus dilakukan dalam penanganan darurat.

“Kami menerima laporan banjir sejak pagi hari dan langsung menurunkan tim ke lokasi untuk melakukan penilaian awal terhadap kondisi dan tingkat kerusakan jalan, sekaligus menyiapkan langkah penanganan yang paling efektif,” ujarnya

Ia menyebutkan, langkah awal yang dilakukan yakni pembukaan akses jalan sementara guna memfasilitasi pergerakan masyarakat dan kendaraan bantuan. Selain itu pengurasan genangan air di badan jalan, identifikasi kerusakan struktural seperti longsor dan penurunan permukaan jalan juga dilakukan.

“Tim teknis Balai Pemeliharaan Jalan Provinsi juga terus melakukan pemantauan kondisi di lapangan. Kami juga sangat mengapresiasi peran aktif masyarakat yang turut membantu proses penanganan darurat,” timpalnya.

” Selain penanganan darurat, kami juga mulai menyusun rencana jangka panjang untuk mencegah banjir berulang. Seperti perbaikan sistem drainase dan penguatan lereng jalan yang rawan longsor,” jelasnya.

Sementara itu, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kabupaten Sumbawa, Lalu Suharmaji Kertawijaya menambahkan, saat ini fokus utama pemerintah adalah pemulihan akses jalan agar aktivitas masyarakat kembali normal. Pemerintah juga mulai melakukan kajian penyebab banjir berulang, termasuk faktor tata guna lahan dan keterbatasan infrastruktur drainase.

“Penanganan darurat menjadi prioritas, tetapi langkah pencegahan jangka panjang juga sedang kami siapkan agar kejadian serupa tidak terus terulang,” tukasnya. (ils)

Pengiriman PMI Asal NTB ke Malaysia Terus Menurun, Apjati Soroti Perubahan Generasi hingga Kebijakan “Zero Cost”

Mataram (globalfmlombok.com)—

Jumlah pengiriman Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Nusa Tenggara Barat (NTB) ke Malaysia terus mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Ketua Dewan Pimpinan Daerah Asosiasi Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (DPD Apjati) NTB, H. Edy Sofyan, menyebut penurunan ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor struktural, mulai dari perubahan generasi hingga kebijakan penempatan tenaga kerja.

Edy mengungkapkan, pada awal 2000-an, jumlah PMI asal NTB yang berangkat ke Malaysia bisa mencapai 60.000 hingga 70.000 orang per tahun. Namun, pada 2025 jumlah tersebut turun signifikan menjadi sekitar 25.000 PMI, dan pada 2026 diprediksi akan kembali mengalami penurunan.

“Grafik pengiriman PMI asal NTB ke Malaysia memang terus menurun. Tahun ini bahkan diperkirakan lebih rendah dibanding tahun lalu,” kata Edy, Kamis (15/1/2026).

Menurut Edy, faktor utama penurunan berasal dari perubahan generasi pekerja migran, khususnya di wilayah Lombok. Pada masa lalu, banyak warga NTB yang bekerja ke Malaysia tanpa latar belakang pendidikan tinggi. Namun, kondisi tersebut kini berubah.

“Dulu orang tua berangkat ke Malaysia tanpa pendidikan memadai. Sekarang anak-anak mereka sekolah, bahkan sampai perguruan tinggi, lalu bekerja sebagai PNS, polisi, atau profesi lain di dalam negeri. Sementara pasar tenaga kerja Malaysia masih didominasi kebutuhan pekerja dengan pendidikan rendah. Itu proses alam,” ujarnya.

Faktor lain yang dinilai berpengaruh adalah penerapan kebijakan penempatan PMI dengan skema zero cost ke Malaysia. Edy menilai kebijakan tersebut perlu dikaji ulang, karena tidak semua sektor tenaga kerja cocok menerapkan konsep tanpa biaya.

Ia menjelaskan, skema zero cost sejatinya hanya benar-benar sesuai untuk sektor nonformal, seperti pekerja ladang dan pembantu rumah tangga. Di luar sektor tersebut, calon PMI tetap harus mengeluarkan biaya tertentu.

“Agent di Malaysia membandingkan Indonesia dengan negara lain seperti Nepal, Bangladesh, India, dan Sri Lanka. Tenaga kerja dari negara-negara itu masuk Malaysia dengan membayar biaya sendiri, bahkan bisa lebih dari Rp40 juta,” kata Edy.

Ia menambahkan, selama dua tahun terakhir, sejumlah perusahaan mitra di Malaysia yang sebelumnya rutin merekrut PMI asal Lombok justru berhenti bekerja sama. Setelah ditelusuri, agen di Malaysia mengaku tidak sanggup menanggung biaya tinggi akibat skema zero cost.

“Untuk satu PMI saja, agen di Malaysia bisa menanggung biaya hingga sekitar Rp20 juta, mulai dari pembayaran ke perusahaan di Indonesia sampai pengurusan visa kerja. Sementara jika mereka mendatangkan tenaga kerja dari Nepal, India, atau Bangladesh, agen tidak perlu mengurus apa pun karena biaya sudah dibayar dari negara asal pekerja,” ujarnya.

Kondisi tersebut, lanjut Edy, membuat Malaysia kini lebih banyak beralih merekrut tenaga kerja dari Pulau Jawa. Salah satu alasannya, pekerja dari Jawa dinilai tidak mudah berpindah perusahaan, sehingga lebih disukai oleh pemberi kerja.

Selain itu, penerapan zero cost juga mendorong meningkatnya minat tenaga kerja dari Pulau Jawa untuk bekerja ke Malaysia, karena tidak dibebani biaya penempatan. Faktor tingginya jumlah angkatan kerja dan maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK) di dalam negeri turut menjadikan Malaysia sebagai pilihan utama bagi pekerja asal Jawa.

“Atas kondisi ini, kebijakan zero cost perlu dikaji ulang, terutama dengan membedakan sektor formal dan nonformal.” ujar Edy.(ris)

Alat Berat Mulai Diturunkan di Pengantap Sekotong, Pemprov NTB Percepat Pemulihan Pascabencana

Mataram (globalfmlombok.com) —

Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat mulai menurunkan sejumlah alat berat ke lokasi bencana banjir bandang di Dusun Pengantap, Kecamatan Sekotong, Lombok Barat, Kamis (15/1/2026). Alat berat tersebut difokuskan untuk mempercepat pemulihan infrastruktur dan aktivitas warga pascabencana.

Penurunan alat berat ini merupakan tindak lanjut dari kunjungan Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal ke lokasi bencana pada Rabu (14/1/2026) kemarin. Dalam kunjungan tersebut, Gubernur memerintahkan Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Provinsi NTB untuk segera melakukan penanganan jangka pendek di wilayah terdampak.

Fokus penanganan awal meliputi pembersihan sedimentasi sungai, pengerukan saluran dan drainase, serta pembukaan akses jalan yang tertutup material banjir. Sejumlah alat berat berupa ekskavator dan truk pengangkut material mulai beroperasi sejak Kamis pagi.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas PUPR dan Kawasan Permukiman NTB, Budi Herman, mengatakan bahwa percepatan penanganan ini dilakukan untuk memulihkan kondisi lingkungan dan infrastruktur dasar yang rusak akibat banjir.

“Normalisasi sungai dan saluran air menjadi prioritas agar aktivitas warga bisa kembali berjalan dan untuk mengantisipasi risiko penyakit pascabencana akibat lingkungan yang rusak,” ujar Budi.

Selain penanganan fisik di lapangan, Pemprov NTB dalam beberapa hari terakhir juga telah melakukan berbagai langkah tanggap darurat. Upaya tersebut meliputi penyaluran logistik bantuan primer kepada korban terdampak serta penetapan status tanggap darurat bencana di sejumlah daerah.

Langkah ini dilakukan agar penanganan bencana hidrometeorologi di wilayah Lombok Barat, Lombok Tengah, Bima, dan Dompu dapat berjalan lebih cepat dan terkoordinasi, sehingga pemulihan kondisi masyarakat dapat segera terwujud.

Untuk mitigasi jangka panjang, Pemprov NTB juga menyiapkan langkah-langkah penyelamatan lingkungan, terutama di kawasan perbukitan dan wilayah yang terindikasi terdampak aktivitas tambang rakyat di sekitar lokasi bencana. Faktor-faktor tersebut dinilai berkontribusi terhadap meningkatnya risiko banjir di wilayah tersebut.(ris/r)

BMKG Keluarkan Peringatan Dini Banjir Rob di Pesisir Lombok dan Bima hingga Akhir Januari

Mataram (globalfmlombok.com)—

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini potensi banjir rob yang berpeluang terjadi di wilayah pesisir Lombok dan pesisir Bima. Peringatan tersebut berlaku mulai 15 Januari 2026 pukul 08.00 WITA hingga 31 Januari 2026 pukul 20.00 WITA.

Kepala Stasiun Meteorologi ZAM, Satria Topan Primadi, menyampaikan bahwa potensi banjir rob dipicu oleh fenomena pasang maksimum air laut yang bersamaan dengan kondisi cuaca berawan hingga hujan sedang serta tinggi gelombang yang cukup signifikan.

“Fenomena pasang air laut maksimum ini berpotensi menimbulkan genangan di wilayah pesisir, terutama di daerah yang lebih rendah dan di sekitar bantaran sungai,” kata Satria dalam keterangan tertulis, Kamis (15/1/2026).

Berdasarkan prakiraan BMKG, kondisi cuaca di Perairan Lembar dan Perairan Sape diperkirakan berawan hingga hujan sedang. Angin bertiup dari arah barat daya hingga barat laut dengan kecepatan berkisar 5–20 knot. Sementara itu, tinggi gelombang diprakirakan mencapai 1,25 hingga 2,5 meter.

BMKG juga mencatat pasang maksimum air laut diperkirakan mencapai 1,9 meter. Di wilayah Lembar, waktu pasang terjadi pada pukul 19.00 hingga 01.00 WITA, sedangkan di wilayah Sape diperkirakan berlangsung lebih panjang, yakni pada pukul 15.00 hingga 03.00 WITA.

Sejumlah wilayah pesisir dinyatakan berpotensi terdampak banjir rob. Di Pulau Lombok, daerah rawan meliputi Ampenan, Sekarbela, Gerung, Lembar, Pemenang, Jerowaru, dan Labuhan Lombok. Untuk wilayah Sumbawa, potensi dampak terdapat di Sumbawa dan Labuhan Badas.

Sementara itu, di wilayah Bima, daerah yang perlu meningkatkan kewaspadaan antara lain Palibelo, Woha, Bolo, Langgudu, Soromandi, Sape, Rasanae Barat, Hu’u, dan Asakota.

BMKG mengimbau masyarakat yang bermukim di kawasan pesisir, daerah rendah, dan bantaran sungai agar tetap waspada dan siaga terhadap kemungkinan terjadinya banjir rob serta dampak ikutan lainnya.

“Masyarakat diharapkan terus memantau perkembangan informasi cuaca dan gelombang laut terkini melalui kanal resmi BMKG,” ujar Satria.(ris)

Ratusan Nelayan Taman Ayu Terhenti Melaut akibat Cuaca Ekstrem

Giri Menang (globalfmlombok.com) – Ratusan nelayan di Desa Taman Ayu, Kecamatan Gerung, Kabupaten Lombok Barat, terpaksa menghentikan aktivitas melaut akibat cuaca ekstrem yang terjadi dalam beberapa hari terakhir. Kondisi tersebut membuat para nelayan kehilangan sumber penghasilan harian.

Kepala Desa Taman Ayu, M. Tajudin, mengatakan cuaca buruk telah berlangsung hampir sepekan dan berdampak langsung pada warga di sejumlah dusun yang sebagian besar bermata pencaharian sebagai nelayan.

“Sejak beberapa hari terakhir nelayan tidak bisa melaut karena cuaca ekstrem,” ujar Tajudin, Selasa (13/1/2026).

Ia menyebutkan, sedikitnya 137 kepala keluarga (KK) terdampak kondisi tersebut. Seluruhnya menggantungkan penghasilan dari aktivitas melaut, meski sebagian kecil memiliki pekerjaan tambahan di luar sektor perikanan.

Untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar warga selama masa paceklik, Pemerintah Desa Taman Ayu telah mengusulkan bantuan pangan kepada Pemerintah Kabupaten Lombok Barat. Usulan bantuan disampaikan kepada Dinas Kelautan dan Perikanan serta Dinas Ketahanan Pangan.

“Kami sudah mengirimkan surat untuk mengusulkan bantuan pangan berupa beras bagi nelayan yang terdampak, sambil menunggu cuaca kembali membaik,” kata Tajudin.

Menurut dia, pemerintah desa tidak dapat mengalokasikan bantuan langsung dari Dana Desa. Anggaran Dana Desa, kata dia, hanya dapat digunakan untuk penanganan kebencanaan tertentu, sementara program ketahanan pangan melalui Dana Desa berbentuk kegiatan, bukan bantuan langsung.

“Mudah-mudahan ada bantuan dari organisasi perangkat daerah (OPD) terkait,” ujarnya.

Tajudin mengakui kondisi serupa hampir setiap tahun dialami nelayan di wilayahnya, terutama pada awal tahun sekitar Januari, saat cuaca laut kerap memburuk. Karena itu, ia berharap ke depan ada program intervensi berupa alternatif usaha bagi nelayan agar tetap memiliki sumber pendapatan saat musim paceklik.

“Sebagian nelayan sudah mengantisipasi dengan menyiapkan simpanan, tetapi tidak semua memiliki kemampuan yang sama. Harapannya, ada program usaha lain agar nelayan tetap bisa bertahan,” katanya. (*)

Berita ini di muat di SUARANTB.COM dengan judul “ Cuaca Ekstrem, Ratusan Nelayan di Taman Ayu Tak Bisa Melaut “


Gangguan PDAM, Warga Rembiga Kesulitan Air Bersih Hampir Dua Pekan

Mataram (globalfmlombok.com) – Warga Kelurahan Rembiga, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram, mengalami kesulitan air bersih hampir dua pekan terakhir akibat gangguan distribusi air milik Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Giri Menang. Sedikitnya enam lingkungan terdampak, dengan empat lingkungan mengalami kondisi paling parah.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, Pemerintah Kota Mataram melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menyalurkan bantuan air bersih dengan menempatkan tandon berkapasitas besar di sejumlah titik lingkungan terdampak.

Lurah Rembiga, Diana Wahyuningrum, mengatakan seluruh lingkungan di wilayahnya terdampak gangguan distribusi air, meski tingkat keparahannya berbeda. “Dari enam lingkungan, empat yang paling parah terdampak, yaitu Lingkungan Rembiga Utara, Rembiga Timur, Rembiga Barat, dan Lingkungan Dasan Lekong,” ujar Diana, Rabu (14/1).

Menurut dia, dua lingkungan lainnya masih sempat mendapatkan aliran air pada malam hari sehingga warga masih memiliki kesempatan untuk menampung air. “Dua lingkungan lainnya tidak terlalu parah karena air masih mengalir pada malam hari,” katanya.

Diana menyebut gangguan distribusi air PDAM tersebut telah berlangsung sekitar 11 hari dan menjadi yang terparah dibandingkan kejadian serupa sebelumnya karena berlangsung cukup lama.

Sebagai langkah penanganan, BPBD menempatkan dua tandon air berkapasitas lebih dari 5.300 liter di empat lingkungan yang terdampak paling parah. Selain itu, mobil tangki air bersih juga disiagakan untuk menjangkau warga yang tidak terlayani tandon.

“Jika warga tidak bisa menjangkau tandon air, mobil tangki akan berkeliling menyalurkan air bersih ke masyarakat,” ujarnya.

Selain bantuan dari Pemerintah Kota Mataram, pihak kelurahan juga terus berkoordinasi dengan PDAM Giri Menang terkait suplai air bersih. Warga diminta melaporkan kepada kepala lingkungan jika persediaan air di tandon habis.

“Jika air di tandon habis, warga melapor ke kami dan langsung kami sampaikan ke PDAM. Kami upayakan suplai air tetap tersedia setiap hari,” kata Diana.

Ia menambahkan, sejauh ini ketersediaan tandon dan bantuan mobil tangki masih mampu mencukupi kebutuhan warga. Namun demikian, pihak kelurahan berharap distribusi air PDAM Giri Menang dapat segera kembali normal.

“Kami berharap persoalan ini segera teratasi agar masyarakat tidak terus mengalami kesulitan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari,” pungkasnya. (pan)

Berita ini di muat di SUARANTB.COM dengan judul ” Kesulitan Air Bersih Hampir Dua Pekan “

BEM di NTB Tolak Wacana Pilkada Tak Langsung, Dinilai Mundurkan Demokrasi

Mataram (globalfmlombok.com) – Sejumlah Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di Nusa Tenggara Barat (NTB) menyatakan sikap menolak wacana pemilihan kepala daerah melalui DPRD atau mekanisme tidak langsung. Wacana tersebut dinilai berpotensi menjauhkan rakyat dari prinsip demokrasi yang partisipatif dan transparan.

Ketua BEM Universitas Mataram (Unram), Lalu Nazir Huda, menegaskan penolakan tersebut disampaikan sebagai bentuk keprihatinan atas rencana perubahan mekanisme pemilihan kepala daerah dari dipilih langsung oleh rakyat menjadi melalui perwakilan DPRD.

“Wacana ini adalah kemunduran demokrasi dan bentuk pengkhianatan terhadap semangat reformasi 1998 yang menegaskan kedaulatan rakyat sebagai landasan tertinggi dalam penyelenggaraan negara,” ujar Nazir, Rabu (14/1/2026).

Menurut dia, pemindahan hak memilih kepala daerah ke tangan DPRD berpotensi mengembalikan kekuasaan ke ruang-ruang elit politik. Pilkada tidak langsung dinilai sebagai arus balik menuju sistem politik elitis dan tertutup, yang rawan kepentingan transaksional.

“Mekanisme ini berisiko memperkuat oligarki lokal, membuka ruang korupsi politik, serta mengikis partisipasi publik yang selama dua dekade terakhir menjadi roh demokrasi,” katanya.

Sikap serupa disampaikan Ketua BEM UIN Mataram, Abed Aljabiri Adnan. Ia menilai pilkada langsung merupakan wujud nyata pelaksanaan kedaulatan rakyat. Sebaliknya, skema pemilihan tidak langsung justru meminggirkan rakyat dari proses politik paling mendasar.

“Jika hak memilih pemimpin daerah dicabut dan dialihkan ke DPRD, maka rakyat kehilangan ruang partisipasi politiknya,” tegas Abed.

Ia juga menolak alasan efisiensi anggaran sebagai dasar penerapan pilkada tidak langsung. Menurut dia, demokrasi memang membutuhkan biaya, namun tanpa partisipasi rakyat, demokrasi kehilangan maknanya.

“Kepala daerah yang lahir dari proses tidak langsung berpotensi lebih loyal kepada elit politik dibandingkan kepada rakyat,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua BEM Universitas Muhammadiyah Mataram (Ummat), Supriadin, menilai wacana pilkada tidak langsung merupakan isu strategis yang tidak boleh disikapi secara tergesa-gesa. Menurut dia, perubahan mekanisme pemilihan kepala daerah harus diletakkan dalam kerangka konstitusi dan nilai-nilai demokrasi Pancasila.

Ia mengutip Pasal 1 ayat (2) UUD 1945 yang menegaskan kedaulatan berada di tangan rakyat. Ketentuan tersebut, kata dia, merupakan ruh demokrasi Indonesia yang menempatkan rakyat sebagai pemegang mandat tertinggi kekuasaan.

“Pilkada langsung adalah instrumen penting bagi rakyat untuk menyalurkan kedaulatannya secara nyata dalam menentukan pemimpin daerah,” ujarnya.

Supriadin juga mengacu pada Pasal 18 ayat (4) UUD 1945 yang menyebut gubernur, bupati, dan wali kota dipilih secara demokratis. Frasa tersebut, menurut dia, harus dimaknai secara substantif dengan menjamin partisipasi rakyat yang luas dan bermakna.

Ia mengakui berbagai persoalan yang muncul dalam praktik pilkada langsung, seperti politik uang, tingginya biaya politik, hingga konflik sosial. Namun, persoalan tersebut dinilai sebagai masalah implementasi, bukan kesalahan prinsip demokrasi.

“Menarik kembali hak politik rakyat dengan dalih efisiensi anggaran justru berisiko melemahkan legitimasi kepemimpinan dan menutup ruang kontrol publik,” katanya.

Para mahasiswa menegaskan peran mahasiswa sebagai agen perubahan dan penjaga nurani bangsa untuk mengingatkan agar demokrasi tidak mengalami kemunduran. Mereka mendorong negara hadir melalui kebijakan yang memperkuat kualitas demokrasi, antara lain lewat penguatan regulasi, pendidikan politik, transparansi pendanaan, serta penegakan hukum yang adil.

“Menjaga demokrasi berarti menjaga masa depan bangsa. Setiap kebijakan politik harus tetap berada di jalur konstitusi dan nilai-nilai Pancasila,” ujar Supriadin. (sib)

Berita ini di muat di SUARANTB.COM dengan judul BEM di NTB Tolak Pilkada oleh DPRD

Perda APBD NTB 2026 Telah Berlaku, Rincian Anggaran Tertuang dalam 16 Lampiran

Mataram (globalfmlombok.com) —

Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menetapkan uraian lengkap Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tahun Anggaran 2026 dalam 16 dokumen lampiran yang menjadi bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah tentang APBD 2026.

Ketentuan tersebut tercantum dalam Pasal 17 Peraturan Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat tentang APBD Tahun Anggaran 2026, yang menegaskan bahwa penjabaran lebih lanjut dari APBD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 dituangkan secara rinci dalam sejumlah lampiran resmi.

Dalam Pasal 17 disebutkan, Lampiran I memuat ringkasan APBD yang diklasifikasikan menurut kelompok dan jenis pendapatan, belanja, serta pembiayaan. Lampiran II berisi ringkasan APBD berdasarkan urusan pemerintahan daerah dan organisasi perangkat daerah.

Sementara itu, Lampiran III menguraikan rincian APBD menurut urusan pemerintahan daerah, organisasi, program, kegiatan, subkegiatan, hingga kelompok dan jenis pendapatan, belanja, serta pembiayaan. Adapun Lampiran IV memuat rekapitulasi belanja menurut urusan pemerintahan daerah dan organisasi, program dan kegiatan beserta hasil, serta subkegiatan beserta keluarannya.

Perda tersebut juga mencantumkan Lampiran V mengenai rekapitulasi belanja daerah untuk keselarasan dan keterpaduan urusan pemerintahan daerah dan fungsi dalam kerangka pengelolaan keuangan negara. Lampiran VI secara khusus mengatur rekapitulasi belanja untuk pemenuhan Standar Pelayanan Minimal (SPM).

Selanjutnya, Lampiran VII memuat sinkronisasi program pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) atau Rencana Pembangunan Daerah (RPD) dengan APBD. Lampiran VIII mengatur sinkronisasi program, kegiatan, dan subkegiatan pada Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) dan Kebijakan Umum APBD serta Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS) dengan APBD.

Adapun Lampiran IX berisi sinkronisasi program prioritas nasional dengan program prioritas daerah. Lampiran X mencantumkan daftar jumlah pegawai per golongan dan per jabatan. Lampiran XI memuat daftar piutang daerah, sementara Lampiran XII berisi daftar penyertaan modal daerah dan investasi daerah lainnya.

Dalam Lampiran XIII, pemerintah daerah merinci perkiraan penambahan dan pengurangan aset tetap daerah serta aset lainnya. Lampiran XIV memuat daftar subkegiatan tahun jamak (multiyears). Sementara itu, Lampiran XV berisi daftar dana cadangan, dan Lampiran XVI memuat daftar pinjaman daerah.

Untuk menjamin pelaksanaan APBD berjalan secara operasional, Pasal 18 Perda APBD 2026 menegaskan bahwa Gubernur Nusa Tenggara Barat menetapkan Peraturan Gubernur tentang Penjabaran APBD Provinsi NTB Tahun Anggaran 2026. Peraturan gubernur tersebut menjadi landasan teknis dan operasional bagi seluruh perangkat daerah dalam melaksanakan anggaran.

Adapun Pasal 19 menyatakan bahwa Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Untuk itu, pemerintah memerintahkan pengundangan Perda tersebut dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat agar diketahui oleh seluruh masyarakat.

Peraturan Daerah tentang APBD Tahun Anggaran 2026 ini ditetapkan di Mataram pada 30 Desember 2025 dan ditandatangani oleh Gubernur Nusa Tenggara Barat, Lalu Muhamad Iqbal. Perda tersebut kemudian diundangkan pada tanggal yang sama oleh Penjabat Sekretaris Daerah Provinsi NTB, Lalu M. Faozal.

Perda APBD NTB Tahun Anggaran 2026 tercatat dalam Lembaran Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat Tahun 2025 Nomor 14, dengan Nomor Register Peraturan Daerah Provinsi NTB (14-271/2025).

Dengan ditetapkannya Perda ini, seluruh kebijakan pendapatan, belanja, dan pembiayaan daerah Provinsi NTB Tahun Anggaran 2026 memiliki dasar hukum yang sah dan mengikat, sekaligus menjadi acuan bagi penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah sepanjang tahun anggaran berjalan.(ris)