Mataram (globalfmlombok.com)—
Ketua DPRD NTB Baiq Isvie Rupaeda menegaskan pentingnya perubahan paradigma dalam tata kelola pemerintahan daerah. Menurut dia, keberhasilan pembangunan tidak lagi cukup diukur dari tingginya serapan anggaran maupun tebalnya laporan administratif, melainkan dari manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Pandangan tersebut disampaikan Isvie dalam rapat paripurna DPRD NTB yang membahas pertanggungjawaban pelaksanaan APBD Tahun Anggaran 2025, Senin 22 Juni 2026. Dalam forum itu, ia menilai rapat paripurna bukan sekadar agenda formal antara eksekutif dan legislatif, tetapi menjadi ruang evaluasi terhadap sejauh mana amanah rakyat telah diwujudkan melalui kebijakan dan program pembangunan.
“APBD bukan hanya kumpulan angka. Di dalamnya ada kerja keras rakyat, harapan petani, nelayan, guru, tenaga kesehatan, hingga generasi muda NTB yang menunggu ruang tumbuh, ruang berkarya, dan masa depan yang lebih baik,” ujar Isvie.
Menurut dia, pembangunan hanya akan bermakna apabila masyarakat merasakan langsung hasilnya, seperti kemudahan layanan publik, meningkatnya kualitas pendidikan dan kesehatan, berkembangnya usaha masyarakat, serta meningkatnya kesejahteraan.
Meski mengapresiasi upaya Pemerintah Provinsi NTB dalam mengelola pemerintahan sepanjang 2025, DPRD menilai tantangan pembangunan ke depan semakin kompleks. Ketidakpastian ekonomi global, disrupsi teknologi, perubahan sosial yang cepat, kesenjangan kualitas sumber daya manusia, hingga meningkatnya ekspektasi publik terhadap layanan pemerintah menjadi tantangan yang harus dihadapi bersama.
Karena itu, DPRD mendorong adanya perubahan pola pikir atau mindset switching dalam tata kelola pembangunan daerah. Paradigma lama yang berfokus pada serapan anggaran dan kepatuhan prosedural dinilai sudah tidak memadai untuk menjawab kebutuhan masyarakat yang terus berkembang.
Isvie menjelaskan, pemerintahan perlu bergeser dari sekadar membelanjakan anggaran (government spending) menjadi pencipta nilai publik (public value creation), dari manajemen administratif menuju kepemimpinan yang berorientasi pada dampak strategis, serta dari pola kerja rutin menuju budaya kerja yang inovatif dan adaptif.
DPRD menyebut pendekatan tersebut sebagai Entrepreneurial Mindset Excellence Mainstreaming, yakni pola pikir birokrasi yang mampu membaca perubahan dengan cepat, berani mengambil keputusan, berorientasi pada solusi, dan fokus pada hasil.
“Birokrasi masa depan tidak cukup hanya bekerja berdasarkan SOP. Birokrasi harus adaptif, agile, inovatif, dan memiliki ownership mindset yang kuat. Aparatur tidak boleh hanya bertanya ‘apa tugas saya’, tetapi harus berpikir ‘apa solusi terbaik untuk rakyat’,” kata Isvie.
Ia menambahkan, pembangunan tidak boleh berhenti pada pencapaian output atau keluaran program semata. Pemerintah harus memastikan setiap kebijakan menghasilkan outcome dan impact yang nyata bagi masyarakat. Untuk itu, kemampuan berpikir kritis (critical thinking) perlu menjadi bagian penting dalam budaya kerja pemerintahan.
Menurut Isvie, pembangunan yang berhasil adalah pembangunan yang hadir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Ketika pelayanan publik semakin mudah diakses, pendidikan dan kesehatan semakin baik, serta peluang ekonomi semakin terbuka, maka pembangunan telah mencapai tujuan yang sesungguhnya.
Dalam kesempatan itu, Isvie juga menekankan pentingnya kemitraan yang sehat antara eksekutif dan legislatif. Kedua lembaga, kata dia, merupakan pilar utama tata kelola daerah yang harus saling menguatkan demi memastikan setiap kebijakan berpihak kepada kepentingan rakyat.
DPRD, lanjutnya, akan terus menjalankan fungsi legislasi, penganggaran, dan pengawasan secara objektif, kritis, serta konstruktif untuk mendukung pembangunan daerah.
Menutup pandangannya, Isvie menyatakan NTB memiliki potensi besar untuk berkembang lebih cepat. Namun, hal itu membutuhkan keberanian untuk berpikir besar, bekerja cerdas, bergerak cepat, dan mengeksekusi program pembangunan secara efektif.
“Jika keberanian itu dimiliki bersama, maka NTB tidak hanya akan tumbuh, tetapi melompat,” ujar Isvie.(ris/r)


