Mataram (globalfmlombok.com) – Manajemen baru RSUD Provinsi NTB mulai melakukan berbagai langkah pembenahan untuk memperkuat kondisi keuangan rumah sakit. Selain menata administrasi pengadaan obat-obatan, RSUD juga mulai mengoptimalkan pemanfaatan aset guna menambah sumber pendapatan di luar layanan kesehatan.
Wakil Direktur Perencanaan dan Keuangan RSUD NTB, Baiq Nelly Kusumawati, mengatakan saat ini pihaknya tengah melakukan pendataan serta penilaian terhadap aset-aset milik rumah sakit, termasuk aset yang mengalami kerusakan berat.
“Lahan itu optimalisasi lahannya supaya benar-benar bisa memberikan pemanfaatan yang maksimal,” ujarnya, Selasa (2/6).
Menurut Nelly, hasil appraisal atau penilaian aset tersebut akan menjadi dasar dalam pengembangan berbagai unit usaha penunjang yang dapat memberikan tambahan pemasukan bagi rumah sakit. Beberapa rencana yang sedang disiapkan antara lain penyewaan aula, pembangunan food court, hingga fasilitas kebugaran atau gym.
Ia optimistis inovasi dan tata kelola yang lebih baik akan membuat kondisi keuangan RSUD NTB semakin sehat. Selain itu, administrasi rumah sakit juga diharapkan menjadi lebih tertib sehingga tidak lagi menimbulkan persoalan yang membebani keuangan institusi.
“Kita yakin dengan segala inovasi dan kerja keras manajemen baru akan tercipta pengelolaan keuangan yang baik serta administrasi yang tertib sehingga tidak lagi terjadi hal-hal yang menjadi beban rumah sakit,” katanya.
Di sisi lain, RSUD NTB juga mulai mengevaluasi sistem pengadaan obat dan alat kesehatan yang sebelumnya sempat menjadi temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Salah satu langkah yang akan diterapkan adalah mekanisme beauty contest untuk menentukan vendor penyedia obat dan alat kesehatan.
Selain itu, rumah sakit juga mempertimbangkan skema konsinyasi dalam pengadaan obat sehingga stok tidak menumpuk di gudang.
“Kita bisa mengajak rumah sakit di bawah provinsi atau mencari vendor yang menggunakan sistem konsinyasi sehingga tidak ada persediaan yang menumpuk,” ungkapnya.
Melalui pola tersebut, pencatatan keuangan pengadaan obat dinilai lebih tertib dan risiko kekurangan stok yang mengharuskan peminjaman obat dari rumah sakit lain dapat diminimalkan.
Mantan Inspektur Kota Mataram itu juga berencana memperkuat kerja sama dengan tenaga medis melalui skema Perjanjian Kerja Sama (PKS) maupun Kelompok Staf Medis (KSM), sehingga kebutuhan obat-obatan dapat dikelola lebih efektif dan tidak menimbulkan persoalan di kemudian hari.
Sementara itu, setelah seluruh utang RSUD NTB berhasil diselesaikan, manajemen mulai membuka peluang untuk mengembalikan besaran jasa pelayanan (jaspel) pegawai yang sebelumnya mengalami penyesuaian sebagai bagian dari upaya pelunasan utang.
Namun demikian, kenaikan jaspel belum dapat direalisasikan dalam waktu dekat. Pasalnya, kebijakan tersebut membutuhkan perhitungan yang matang mengingat jumlah pegawai RSUD NTB mencapai sekitar 2.600 orang.
“Jumlah pegawainya kan sekitar 2.600 orang. Semuanya akan dinaikkan. Jadi sekarang formulanya masih kita hitung,” jelas Nelly.
Ia menambahkan, jaspel merupakan bagian dari belanja pegawai yang saat ini menjadi perhatian pemerintah. Belanja pegawai di NTB tercatat telah melampaui 33 persen, sementara pemerintah pusat mendorong agar angkanya dapat ditekan hingga 30 persen pada akhir 2026.
Meski demikian, Nelly menegaskan bahwa kesejahteraan pegawai tetap menjadi perhatian utama manajemen karena kualitas pelayanan rumah sakit sangat bergantung pada kinerja sumber daya manusia yang ada.
“Pegawai adalah faktor utama pelayanan rumah sakit. Karena itu, kami ingin memastikan mereka mendapatkan penghargaan yang sesuai dengan pelayanan yang diberikan,” katanya.
Saat ini alokasi jaspel pegawai berada di kisaran 25 persen dari batas maksimal 40 persen yang diperbolehkan. Adapun besaran nominal yang diterima masing-masing pegawai masih dalam tahap penghitungan melalui sistem aplikasi keuangan rumah sakit. (r)


