Beranda blog Halaman 16

RSUD NTB Lakukan Pendataan Aset untuk Tingkatkan Pendapatan Rumah Sakit

Mataram (globalfmlombok.com) – Manajemen baru RSUD Provinsi NTB mulai melakukan berbagai langkah pembenahan untuk memperkuat kondisi keuangan rumah sakit. Selain menata administrasi pengadaan obat-obatan, RSUD juga mulai mengoptimalkan pemanfaatan aset guna menambah sumber pendapatan di luar layanan kesehatan.

Wakil Direktur Perencanaan dan Keuangan RSUD NTB, Baiq Nelly Kusumawati, mengatakan saat ini pihaknya tengah melakukan pendataan serta penilaian terhadap aset-aset milik rumah sakit, termasuk aset yang mengalami kerusakan berat.

“Lahan itu optimalisasi lahannya supaya benar-benar bisa memberikan pemanfaatan yang maksimal,” ujarnya, Selasa (2/6).

Menurut Nelly, hasil appraisal atau penilaian aset tersebut akan menjadi dasar dalam pengembangan berbagai unit usaha penunjang yang dapat memberikan tambahan pemasukan bagi rumah sakit. Beberapa rencana yang sedang disiapkan antara lain penyewaan aula, pembangunan food court, hingga fasilitas kebugaran atau gym.

Ia optimistis inovasi dan tata kelola yang lebih baik akan membuat kondisi keuangan RSUD NTB semakin sehat. Selain itu, administrasi rumah sakit juga diharapkan menjadi lebih tertib sehingga tidak lagi menimbulkan persoalan yang membebani keuangan institusi.

“Kita yakin dengan segala inovasi dan kerja keras manajemen baru akan tercipta pengelolaan keuangan yang baik serta administrasi yang tertib sehingga tidak lagi terjadi hal-hal yang menjadi beban rumah sakit,” katanya.

Di sisi lain, RSUD NTB juga mulai mengevaluasi sistem pengadaan obat dan alat kesehatan yang sebelumnya sempat menjadi temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Salah satu langkah yang akan diterapkan adalah mekanisme beauty contest untuk menentukan vendor penyedia obat dan alat kesehatan.

Selain itu, rumah sakit juga mempertimbangkan skema konsinyasi dalam pengadaan obat sehingga stok tidak menumpuk di gudang.

“Kita bisa mengajak rumah sakit di bawah provinsi atau mencari vendor yang menggunakan sistem konsinyasi sehingga tidak ada persediaan yang menumpuk,” ungkapnya.

Melalui pola tersebut, pencatatan keuangan pengadaan obat dinilai lebih tertib dan risiko kekurangan stok yang mengharuskan peminjaman obat dari rumah sakit lain dapat diminimalkan.

Mantan Inspektur Kota Mataram itu juga berencana memperkuat kerja sama dengan tenaga medis melalui skema Perjanjian Kerja Sama (PKS) maupun Kelompok Staf Medis (KSM), sehingga kebutuhan obat-obatan dapat dikelola lebih efektif dan tidak menimbulkan persoalan di kemudian hari.

Sementara itu, setelah seluruh utang RSUD NTB berhasil diselesaikan, manajemen mulai membuka peluang untuk mengembalikan besaran jasa pelayanan (jaspel) pegawai yang sebelumnya mengalami penyesuaian sebagai bagian dari upaya pelunasan utang.

Namun demikian, kenaikan jaspel belum dapat direalisasikan dalam waktu dekat. Pasalnya, kebijakan tersebut membutuhkan perhitungan yang matang mengingat jumlah pegawai RSUD NTB mencapai sekitar 2.600 orang.

“Jumlah pegawainya kan sekitar 2.600 orang. Semuanya akan dinaikkan. Jadi sekarang formulanya masih kita hitung,” jelas Nelly.

Ia menambahkan, jaspel merupakan bagian dari belanja pegawai yang saat ini menjadi perhatian pemerintah. Belanja pegawai di NTB tercatat telah melampaui 33 persen, sementara pemerintah pusat mendorong agar angkanya dapat ditekan hingga 30 persen pada akhir 2026.

Meski demikian, Nelly menegaskan bahwa kesejahteraan pegawai tetap menjadi perhatian utama manajemen karena kualitas pelayanan rumah sakit sangat bergantung pada kinerja sumber daya manusia yang ada.

“Pegawai adalah faktor utama pelayanan rumah sakit. Karena itu, kami ingin memastikan mereka mendapatkan penghargaan yang sesuai dengan pelayanan yang diberikan,” katanya.

Saat ini alokasi jaspel pegawai berada di kisaran 25 persen dari batas maksimal 40 persen yang diperbolehkan. Adapun besaran nominal yang diterima masing-masing pegawai masih dalam tahap penghitungan melalui sistem aplikasi keuangan rumah sakit. (r)

Aksi Tuntut Pembentukan PPS, Penyeberangan Kayangan-Pototano Normal

Selong (globalfmlombok.com) – Aktivitas penyeberangan di Pelabuhan Kayangan, Kabupaten Lombok Timur menuju Pototano Kabupaten Sumbawa Barat, Selasa (2/6/2026) berjalan normal. Meski demikian, jumlah penumpang atau kendaraan yang menyeberang menurun. Hal ini disebabkan adanya aksi demo warga yang menuntut pembentukan Provinsi Pulau Sumbawa (PPS) di beberapa lokasi di Pulau Sumbawa.

General Manager PT ASDP Cabang Kayangan, Erlys Prastya, membenarkan adanya penurunan jumlah kendaraan yang menggunakan jasa penyeberangan. Menurut pantauannya, hanya satu hingga dua truk yang melintas dalam kurun waktu tertentu, tidak berurutan seperti biasanya.
“Ya terpantau aman, kondisinya aman saat ini. Aktivitas penyeberangan tetap jalan normal,” ujar Erlys di Pelabuhan Kayangan.

Ia menjelaskan bahwa aksi penyampaian aspirasi berlangsung di kawasan Komuter Tiga dan tidak memblokir jalur menuju pelabuhan. Meski begitu, suasana tampak sepi.

“Kalau saya pantau di sini kondisinya sepi landai. Satu truk, dua truk gitu. Jadi enggak berurutan, tidak seperti hari normal. Kemungkinan mereka juga antisipasi dari kemarin,” tambahnya.

Ketika ditanya berapa persen penurunan, Erlys mengaku belum menghitung secara pasti. “Belum saya hitung. Ada sepuluh persen mungkin. Saya lihat data dulu,” katanya.

Meskipun ia tidak berani menyimpulkan secara mutlak bahwa sepinya akibat aksi demo, Erlys mengakui bahwa isu tersebut kemungkinan membuat pengguna jasa memilih untuk menjaga diri dan mengantisipasi situasi.

“Tapi ya kelihatan kan karena masuknya isu itu, kemungkinan teman-teman pengguna jasa juga menjaga. Sepertinya ya karena sepi banget. Tapi tidak sampai tidak ada penyeberangan sama sekali. Satu truk, dua truk. Barusan lewat dua truk bawah,” jelasnya.

Erlys menegaskan, aktivitas penyeberangan tidak terganggu. Ia berharap situasi tetap kondusif, karena aspirasi warga didengar oleh pemangku kepentingan.

Terpisah Manajer Cabang PT Dharma Lautan Utama (DLU) di Pelabuhan Kayangan, Listyono Dwitutuko yang dikonfirmasi Suara NTB menjelaskan situasi terpantau lancar.

“Sepanjang jalannya aksi hingga akhir, tuntutan pembentukan Pulau Sumbawa di Pototano tidak menyebabkan hambatan atau gangguan arus penyeberangan,” ujar Listyono.

Menurutnya, kondisi penyeberangan pada siang hari terpantau sepi. Namun, ia menjelaskan bahwa kondisi tersebut memang biasa terjadi pada hari-hari normal. “Ramainya justru terjadi pada sore hari,” tambahnya.

Listyono juga menduga bahwa penurunan jumlah penyeberang pada hari ini disebabkan sebagian besar masyarakat telah menyeberang lebih awal, yakni pada Senin kemarin. Meski demikian, secara keseluruhan situasi di pelabuhan tetap terkendali dan aman.

Kepala DInas Perhubungan (Dishub) NTB Ervan Anwar juga memastikan Pelabuhan Kayangan – Pototano tetap beroperasi di tengah puncak demo menuntut pemekaran PPS.

Adanya aksi massa ini, Kepala Dishub NTB, Ervan Anwar memastikan operasional di pelabuhan tidak akan terganggu. Pelayanan di pelabuhan dikatakan sama seperti hari-hari biasa, tidak ada pembatasan penumpang, begitupun dengan pengurangan jumlah kapal.

“Dari kemarin pelabuhan tetap buka, saya sudah koordinasi dengan ASDP. Nggak ada pelabuhan tutup, layanan tetap seperti biasa. Yang unjuk rasa kan di luar pelabuhan,” ujarnya, Selasa, 2 Juni 2026.

Menurutnya, aksi unjuk rasa berlangsung di luar area pelabuhan. Meski demikian, dampak terhadap arus lalu lintas menuju pelabuhan tetap terjadi karena perlambatan pergerakan kendaraan dan antrean di akses masuk pelabuhan. Untuk mengurangi potensi kemacetan tersebut, Dinas Perhubungan telah berkoordinasi dengan Kepolisian, TNI, operator penyeberangan, serta pihak terkait lainnya guna mengatur lalu lintas dan menjaga keamanan di lapangan.

Pihaknya juga memastikan distribusi logistik menjadi prioritas utama selama demo ini berlangsung. Kendaraan pengangkut logistik, terutama yang membawa barang mudah rusak seperti bawang dan kebutuhan pokok lainnya akan diprioritaskan untuk menyeberang.
Selain itu, ASDP juga dikatakan telah menyiapkan antisipasi berupa penambahan kapal apabila diperlukan untuk mengurai antrean kendaraan.

Adapun terjadinya kemacetan panjang per hari Senin, 1 Juni kemarin, Ervan mengaku kondisi tersebut bukan disebabkan oleh penutupan pelabuhan, melainkan karena banyak pengguna jasa yang mempercepat jadwal keberangkatan setelah menerima informasi yang beredar di media sosial. (rus/era)

Dibangun Kementerian PU, Pemkot Mataram Tunggu Kejelasan Sistem Pengelolaan Dapur MBG

Mataram (globalfmlombok.com) – Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dibangun oleh Kementerian Pekerjaan Umum (PU) di atas lahan milik Pemerintah Kota Mataram di Kelurahan Pagutan Timur hingga kini belum beroperasi.

Meski pembangunan fisik telah rampung, pemanfaatan fasilitas tersebut masih menunggu kejelasan mekanisme pengelolaan dan proses penyerahan dari pemerintah pusat.

Bangunan dapur yang berdiri di atas lahan aset daerah seluas sekitar enam are itu merupakan salah satu fasilitas pendukung program MBG yang menjadi program prioritas pemerintah pusat. Keberadaan dapur SPPG nantinya akan berfungsi sebagai pusat produksi dan distribusi makanan bergizi bagi para penerima manfaat, terutama peserta didik.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Mataram, H. Lalu Alwan Basri, mengatakan pembangunan dapur SPPG di Kelurahan Pagutan Timur telah selesai dilaksanakan. Namun hingga saat ini, pemerintah daerah belum dapat mengoperasikan fasilitas tersebut karena masih menunggu petunjuk dan mekanisme pengelolaan yang ditetapkan pemerintah pusat.

“Sudah selesai dibangun. Mudah-mudahan segera diserahkan kepada kami. Apakah mekanismenya nanti melalui kerja sama antara Pemkot dengan Badan Gizi Nasional (BGN), kami masih menunggu sistem pengelolaannya,” ujarnya, Selasa (2/6).

Menurut Alwan, berdasarkan skema yang pernah disampaikan sebelumnya, bangunan dapur yang telah selesai dibangun akan diserahkan terlebih dahulu kepada pemerintah daerah untuk dicatat sebagai aset daerah. Setelah itu, pengelolaannya dilakukan melalui kerja sama dengan Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai lembaga yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan program MBG secara nasional.

Dalam pola tersebut, BGN nantinya akan menunjuk atau menggandeng mitra untuk mengelola operasional dapur, mulai dari pengadaan bahan pangan, proses memasak, hingga distribusi makanan kepada penerima manfaat. Dengan demikian, pemerintah daerah tidak dibebani anggaran operasional.

“Pemkot tidak mengeluarkan anggaran operasional. Kami hanya menyiapkan lahan untuk pembangunan dapur,” tegasnya.

Ia menjelaskan, pemerintah daerah sejak awal hanya diminta menyediakan lokasi yang memenuhi persyaratan pembangunan dapur SPPG. Setelah lokasi ditetapkan, pembangunan fisik sepenuhnya menjadi tanggung jawab Kementerian PU melalui anggaran pemerintah pusat.

Alwan mengakui, hingga saat ini pihaknya belum memperoleh informasi terbaru terkait kemungkinan perubahan mekanisme pengelolaan yang sebelumnya dirancang pemerintah pusat. Karena itu, Pemkot Mataram masih menunggu arahan resmi sebelum fasilitas tersebut dapat mulai beroperasi.

“Dulu mekanismenya seperti itu. Namun sekarang kami belum mengetahui apakah sistemnya masih sama atau ada perubahan. Yang jelas, bangunan dapur MBG itu sudah selesai dan tinggal menunggu proses penyerahan,” jelasnya.

Ia menambahkan, Pemerintah Kota Mataram sebelumnya telah mengusulkan empat titik lokasi untuk pembangunan dapur SPPG guna mendukung pelaksanaan Program MBG di wilayah kota. Namun dari sejumlah usulan tersebut, baru satu lokasi yang mendapatkan penugasan pembangunan, yakni di Kelurahan Pagutan Timur, Kecamatan Mataram. (pan)

Hasil TKA Anjlok Dinilai Bukti Ekosistem Pendidikan Bermasalah

Mataram (globalfmlombok.com) – Federasi Guru Serikat Indonesia (FSGI) NTB, menyoroti hasil tes kemampuan akademik pada jenjang sekolah dasar dan sekolah menengah pertama di 2026, yang anjlok. Ekosistem pendidikan yang timpang dinilai menjadi faktor hasil TKA masih rendah.

Berdasarkan hasil nasional, rerata Bahasa Indonesia SD/MI sederajat mencapai 60,14 sedangkan Matematika 43,41 jauh dari skor tertinggi yakni 100. Sementara, pada jenjang SMP/MTS sederajat, rerata Bahasa Indonesia berada di angka 60,83 dan Matematika 40,34.

Ketua FSGI NTB yang juga Sekjen FSGI Pusat, Mansur mengatakan, hasil TKA baik secara nasional maupun regional menunjukkan adanya gejala serius dalam dunia pendidikan.

“Data ini menunjukkan adanya masalah yang serius. Jika skor rata-rata TKA NTB berada pada Bahasa Indonesia 54,03 dan Matematika 37,18, maka persoalannya kemungkinan bukan hanya pada siswa, melainkan pada keseluruhan ekosistem pendidikan,” ujarnya, Selasa (2/6).

Menurut Mansur, hasil TKA 2026 itu sebetulnya tidak mengagetkan. Pasalnya, capaian tersebut persis dengan hasil Programme for International Student Assessment (PISA) Indonesia yang selama beberapa siklus menunjukkan kemampuan literasi membaca dan matematika berada di bawah rata-rata negara OECD.

Ia menyebut, capaian skor Bahasa Indonesia pada matematika mencapai 366 (peringkat ke-69 dari 81 negara). Lalu, sains sebesar 383 poin. Sedangkan literasi membaca 359 poin.
“Artinya, TKA bukan menciptakan masalah baru, tetapi mengkonfirmasi masalah yang sudah lama ada,” ungkapnya.

Menurutnya, ada beberapa hal yang berkontribusi atas jebloknya hasil TKA baik tingkat SD-SMP maupun SMA di Indonesia dan khususnya di NTB.

Pertama, menyangkut kualitas pembelajaran yang masih lebih berorientasi penyelesaian materi daripada penguasaan kompetensi. Ia berpandangan, selama bertahun-tahun, banyak sekolah terjebak pada target menuntaskan kurikulum. Akibatnya, siswa terbiasa menghafal prosedur dan jawaban, tetapi kurang terlatih bernalar, memecahkan masalah, membaca kritis, dan mengaitkan konsep dengan kehidupan nyata.

“Ini sangat terlihat pada capaian matematika. Matematika masih terlalu prosedural. Banyak siswa belajar matematika sebagai hafalan rumus dan langkah pengerjaan, bukan memahami konsep. Akhirnya, bisa mengerjakan contoh tetapi bingung ketika soal sedikit dimodifikasi,” terang Mansur.

Kedua, terkait kompetensi guru yang masih lemah. Kompetensi guru memang menjadi faktor penting. Baginya, sulit menghindari kesimpulan, hasil belajar siswa berkaitan dengan kompetensi guru.
Ketiga, pelatihan guru sering belum menyentuh praktik kelas. Banyak pelatihan masih berorientasi administrasi, dokumen, dan sosialisasi kebijakan. Dampaknya terhadap perubahan praktik mengajar relatif kecil. “Guru membutuhkan pendampingan berkelanjutan yang fokus pada pembelajaran di kelas, bukan sekadar sertifikat pelatihan,” tekannya.

Keempat, literasi dasar siswa masih lemah sejak jenjang awal. Rendahnya hasil matematika sering kali bukan hanya masalah berhitung, tetapi juga kemampuan membaca soal dan memahami informasi.

“Ketika kemampuan membaca belum kuat di SD, dampaknya akan terbawa hingga SMP bahkan SMA,” jelas Mansur.

Karena itu, FSGI mendorong pemerintah khususnya di NTB, untuk fokus pada pemulihan literasi dan numerasi dasar, mengadakan pelatihan guru berbasis praktik pembelajaran nyata, mengembangkan komunitas belajar guru di sekolah dan kabupaten.

Kemudian, dalam jangka panjang membangun budaya membaca sejak SD. Menata sistem rekrutmen dan pengembangan profesi guru berbasis kompetensi. Menjadikan peningkatan mutu pembelajaran sebagai agenda daerah.

“Untuk sarana, ketersediaan buku, perpustakaan, akses internet, laboratorium, dan lingkungan belajar yang baik tentu membantu. Namun, berbagai studi internasional menunjukkan bahwa pengaruh guru dan kualitas pembelajaran biasanya lebih besar dibandingkan pengaruh fasilitas dan sarana,” pungkasnya.

Sementara itu, Koordinator Penilaian dan Pembelajaran, Balai Penjamin Mutu Pendidikan (BPMP) NTB, Yulia Hidayati menyebut, hasil TKA pada jenjang SD-SMP sebagai pertimbangan awal untuk melakukan atau merencanakan sebuah program yang berbasis data. Karena itu, BPMP dan dinas terkait di kabupaten/kota maupun provinsi, melihat pelaksanaan TKA ini sebagai langkah baik, evidence-based (berbasis data) yang akan menentukan program berikutnya.

Meski demikian, ia mengakui bahwa faktor penyebab hasil TKA sementara yang rendah merupakan akibat dari proses adaptasi terhadap sistem baru. Sebelumnya, siswa menjalani asesmen dengan sistem ujian sekolah, mesti menyesuaikan diri dengan sistem asesmen baru yakni TKA.

“Jadi mungkin di situ ada gap, untuk mengadaptasi terhadap sistem yang baru. Jenis soalnya. Karena kan jenis soalnya sudah terkurasi yang memang menggambarkan daya nalar, logika berpikir,” jelas Yulia.

Senada dengan Mansur, Yulia juga melihat, ketidakmerataan kondisi setiap sekolah juga menjadi dalang kenapa hasil TKA cukup rendah. Ketidakmerataan dimaksud seperti kompetensi guru, kondisi sosial ekonomi masyarakat di sekitar sekolah, hingga sumber daya dan sarana prasarana sekolah.

“Jadi dari situ menurut saya juga memberi andil untuk hasil TKA ini,” terangnya.

Terkait intervensi apa yang akan pihaknya lakukan bersama Dinas Pendidikan, BPMP masih menunggu hasil TKA yang utuh dan lengkap. Dengan demikian, upaya perbaikan dan evaluasi dapat dilakukan secara tepat dan menyeluruh.

Kendati demikian, ia berharap hasil TKA final nanti dapat menjadi kompas bagi pemangku kebijakan baik di level daerah maupun sekolah untuk meramu kebijakan yang lebih baik. (sib)

Mutiara Lombok Kebanjiran Pesanan Asing di Tengah Pelemahan Rupiah

Mataram (globalfmlombok.com) – Melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap mata uang asing membawa dampak positif bagi pelaku usaha mutiara di Lombok. Permintaan produk mutiara dari luar negeri justru mengalami lonjakan.

Pelaku UMKM mutiara Lombok, Indah Purwanti, mengatakan peningkatan permintaan mulai terasa dalam beberapa bulan terakhir di awal tahun 2026. Bahkan, permintaan dari pasar luar negeri kini tumbuh lebih cepat dibandingkan tahun sebelumnya yang didominasi konsumen domestik.

“Untuk 2026 awal sampai pertengahan ini kita banyak permintaan dari Malaysia dan Singapura,” ujar Indah yang juga Ketua Lombok Womenpreneur Club (LWC) ini.

Menurutnya, peningkatan itu dipengaruhi strategi pemasaran yang lebih agresif melalui pameran internasional dan promosi digital di media sosial.

“Yang pertama mungkin dari marketing kita. Kita memang membidik beberapa kali pameran yang pengunjungnya juga dari luar negeri. Yang kedua, kita juga optimalkan di online, terutama di sosial media,” katanya.

Indah menjelaskan, pada tahun lalu sekitar 90 persen omzet usahanya masih bergantung pada pasar domestik. Namun tahun ini tren mulai berubah, terutama karena penguatan Ringgit Malaysia dan Dolar Singapura terhadap Rupiah yang membuat harga produk Indonesia menjadi lebih kompetitif.

“Orang beli produk kita itu lebih murah dibandingkan sebelumnya. Karena penurunan nilai mata uang kita dianggap mereka barang-barang kita lebih murah jika dikurskan ke mata uang mereka,” jelasnya.

Kondisi ini membuat wisatawan maupun pembeli dari luar negeri semakin tertarik membeli produk khas Lombok yang memiliki nilai budaya dan unsur pariwisata.

Untuk jenis produk yang paling banyak diburu, Indah menyebut aksesori mutiara seperti kalung, anting, dan bros menjadi favorit pasar internasional. Sementara penjualan mutiara dalam bentuk butiran untuk kebutuhan bisnis antar perusahaan atau B2B justru mengalami penurunan.

Ia juga mengungkapkan, permintaan pasar luar negeri pada bulan ini meningkat sekitar 20 persen dibandingkan periode sebelumnya. Meski demikian, kenaikan penjualan belum sepenuhnya memberikan keuntungan besar karena biaya produksi ikut melonjak akibat ketergantungan pada bahan baku impor.

“Kenaikan harga memang lagi naik. Semua lagi naik akibat melemahnya Rupiah terhadap Dolar. Ada beberapa raw material kita yang memang impor, seperti rangka, perak, hingga kemasan,” kata Indah.

Selain bahan baku impor, harga emas yang fluktuatif turut mempengaruhi biaya produksi perhiasan mutiara. Dampaknya, pelaku usaha terpaksa menyesuaikan harga jual agar tetap menjaga kualitas produk.

Di tengah kondisi seperti saat ini, Indah berharap pemerintah dapat lebih masif mempromosikan sektor pariwisata Lombok dan Sumbawa untuk menarik lebih banyak wisatawan mancanegara. Menurutnya, peningkatan kunjungan wisatawan akan memberikan efek berantai terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.

“Kalau turis ramai, hotel ramai, bandara ramai, UMKM juga ikut ramai. Perputaran ekonomi bisa meningkat,” ujarnya.

Ia menilai kondisi Rupiah yang lebih rendah seharusnya menjadi momentum bagi pemerintah untuk menarik wisatawan asing datang ke Indonesia karena biaya wisata menjadi lebih murah dibanding negara lain di kawasan Asia Tenggara.

“Ketika Rupiah dipandang lebih murah, mereka harusnya berwisata juga lebih murah ke kita,” tandasnya. (bul)

Anggaran Gaji PPPK Paruh Waktu di Mataram Aman hingga Oktober 2026

Mataram (globalfmlombok.com) – Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kota Mataram memastikan anggaran gaji Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) paruh waktu telah tersedia hingga Oktober 2026. Sementara kebutuhan anggaran untuk November dan Desember akan diupayakan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Perubahan.

Kepala BKD Kota Mataram, H. Muhammad Ramayoga, mengatakan Pemerintah Kota Mataram telah mengalokasikan anggaran pembayaran gaji PPPK paruh waktu selama 10 bulan pada tahun anggaran 2026.

“Anggaran yang tersedia saat ini cukup sampai Oktober. Masih ada kebutuhan untuk dua bulan lagi, dan InsyaAllah akan kami penuhi melalui mekanisme yang tersedia,” ujarnya, Selasa (2/6).

Menurut Ramayoga, pemerintah daerah tengah menyiapkan skema pembiayaan untuk menutupi kebutuhan anggaran pada November dan Desember. Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah memanfaatkan Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) yang nantinya dapat digunakan untuk memenuhi belanja wajib pemerintah daerah.

Ia menjelaskan, pada awalnya perencanaan anggaran gaji PPPK paruh waktu ditujukan untuk memenuhi kebutuhan selama 12 bulan. Namun, kebijakan efisiensi anggaran yang diterapkan pemerintah membuat alokasi yang tersedia saat ini hanya mampu mengakomodasi pembayaran selama 10 bulan.

“Awalnya memang direncanakan untuk 12 bulan. Akan tetapi, karena adanya efisiensi dan penyesuaian kemampuan fiskal daerah, anggaran yang tersedia saat ini hanya mencukupi sampai 10 bulan,” terangnya.

Meski demikian, Ramayoga menegaskan Pemkot Mataram berkomitmen untuk tetap memenuhi hak-hak pegawai, termasuk pembayaran gaji PPPK paruh waktu yang belum terakomodasi dalam APBD murni.

Ia optimistis kebutuhan anggaran untuk dua bulan terakhir tersebut dapat dipenuhi melalui APBD Perubahan maupun sumber pembiayaan lain yang sah sesuai ketentuan perundang-undangan.

“InsyaAllah akan tetap kami upayakan karena ini merupakan kebijakan pimpinan. Segala sesuatu yang menjadi hak pegawai harus dipenuhi,” tegasnya.

Ramayoga tidak merinci besaran anggaran yang dialokasikan setiap bulan untuk pembayaran gaji PPPK paruh waktu. Namun, ia memastikan kebutuhan tersebut telah diperhitungkan dalam perencanaan keuangan daerah tahun 2026. (pan)

DPRD NTB Dukung Aspirasi PPS, Minta Operasional Pelabuhan Poto Tano Jangan Ditutup

Mataram (globalfmlombok.com)-

Anggota DPRD NTB dari Fraksi PAN, M. Aminurlah menegaskan bahwa masyarakat memiliki hak untuk menyampaikan aspirasi terkait pembentukan Provinsi Pulau Sumbawa (PPS). Namun, penyampaian aspirasi tersebut diharapkan tidak mengganggu pelayanan publik maupun aktivitas masyarakat di fasilitas vital negara.

Pernyataan itu disampaikan Aminurlah menanggapi aksi demonstrasi Aliansi Provinsi Pulau Sumbawa (PPS) yang berlangsung di kawasan Pelabuhan Poto Tano, Kabupaten Sumbawa Barat, Selasa (2/6/2026).

Menurut legislator dari Daerah Pemilihan (Dapil) NTB VI (Kabupaten Dompu, Kabupaten Bima dan Kota Bima) itu, demokrasi memberikan ruang bagi masyarakat untuk menyuarakan tuntutan kepada pemerintah, termasuk terkait pemekaran wilayah.

“Ada aturan main yang harus dihormati. Masyarakat memiliki hak untuk menyampaikan aspirasi kepada pemerintah pusat dan itu tidak menjadi masalah. Namun yang terpenting, jalan negara dan fasilitas-fasilitas vital tidak boleh terganggu,” kata Haji Maman, sapaan akrabnya

Ia menegaskan, negara memiliki kewajiban untuk menjamin kelancaran aktivitas masyarakat, terutama di lokasi-lokasi strategis seperti pelabuhan yang menjadi urat nadi transportasi dan distribusi barang.

“Pelabuhan harus tetap dibuka. Negara wajib menjamin masyarakat bisa tetap beraktivitas. Aspirasi boleh disampaikan di mana saja, tetapi jangan sampai mengganggu masyarakat lain yang sedang menjalankan aktivitasnya,” imbuhnya.

Terkait tuntutan pembentukan Provinsi Pulau Sumbawa, Haji Maman menyebut usulan tersebut sebenarnya telah lama diperjuangkan dan sudah sampai ke tingkat pemerintah pusat maupun DPR RI.

Menurut dia, saat ini proses pembentukan daerah otonom baru (DOB) berada di tangan pemerintah pusat yang akan mempertimbangkan berbagai aspek, termasuk kondisi fiskal negara dan daerah.

“Usulan PPS sudah sampai di DPR RI. Tinggal bagaimana pemerintah pusat membuka peluang pembentukan DOB baru dan melihat ruang fiskalnya. Pusat tentu akan melakukan kajian. Tetapi kami tetap mendukung aspirasi tersebut,” katanya.

Haji Maman juga mengungkapkan bahwa DPRD NTB sebelumnya telah menyampaikan rekomendasi terkait usulan pemekaran wilayah tersebut kepada pemerintah pusat.Meski demikian, terkait kemungkinan perlunya rekomendasi ulang dari DPRD NTB secara kelembagaan, ia menilai hal itu perlu dibahas lebih lanjut melalui kajian dan pertemuan bersama berbagai pihak.

“Perlu ada kajian dan pembahasan lebih lanjut terkait aspirasi pemekaran wilayah ini, termasuk jika diperlukan langkah-langkah kelembagaan berikutnya,” ujar Haji Maman.(ris)

Kunjungan Wisman ke NTB Melalui Bandara Lombok Meningkat di Bulan April, dari Kawasan ASEAN Mendominasi

Mataram (globalfmlombok.com)–

Jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang masuk ke NTB melalui Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM) menunjukkan tren positif pada April 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB mencatat kunjungan wisman meningkat 35,13 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Kepala BPS Provinsi NTB, Dr. Wahyudin, dalam Berita Resmi Statistik (BRS) yang dirilis Selasa (2/6/2026), menyampaikan bahwa jumlah wisman yang datang melalui BIZAM pada April 2026 mencapai 8.686 orang, naik dari 6.428 orang pada Maret 2026.

“Jumlah wisatawan mancanegara yang masuk melalui Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid pada April 2026 tercatat sebanyak 8.686 orang atau meningkat 35,13 persen dibandingkan Maret 2026,” ujar Wahyudin.

Tidak hanya meningkat secara bulanan, jumlah kunjungan wisman juga mengalami pertumbuhan dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pada April 2025, jumlah wisman yang datang melalui BIZAM tercatat sebanyak 7.812 orang. Dengan demikian, terjadi kenaikan sebesar 11,19 persen secara tahunan (year-on-year).

Menurut data BPS, kunjungan wisatawan asing pada April 2026 masih didominasi wisatawan dari kawasan ASEAN dan Eropa. Wisatawan asal negara-negara ASEAN tercatat sebanyak 3.448 orang, sementara wisatawan dari kawasan Eropa mencapai 3.439 orang.

Di luar kedua kawasan tersebut, wisatawan dari Asia non-ASEAN tercatat sebanyak 1.031 orang, disusul wisatawan dari kawasan Amerika sebanyak 377 orang dan Oseania sebanyak 295 orang.

Sementara itu, jumlah wisatawan yang berasal dari kawasan Afrika mencapai 83 orang, sedangkan wisatawan dari kawasan Timur Tengah tercatat sebanyak 13 orang.

Peningkatan jumlah kunjungan wisman ini menjadi sinyal positif bagi sektor pariwisata NTB yang terus berupaya memperkuat daya tarik destinasi unggulan, seperti kawasan Mandalika, Gili Tramena, hingga berbagai destinasi wisata alam dan budaya yang tersebar di Pulau Lombok dan Sumbawa.(ris)

Inflasi NTB di Bulan Mei 3,78 Persen, Emas Perhiasan hingga Cabai Rawit Ikut Andil

Mataram (globalfmlombok.com)–

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mencatat inflasi tahunan atau year-on-year (y-on-y) sebesar 3,78 persen pada Mei 2026. Angka tersebut melampaui batas atas target inflasi nasional yang ditetapkan pemerintah sebesar 3,5 persen.

Kepala BPS Provinsi NTB, Dr. Wahyudin, dalam Berita Resmi Statistik (BRS) yang dirilis Selasa (2/6/2026), menjelaskan bahwa inflasi tahunan terjadi seiring kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 108,09 pada Mei 2025 menjadi 112,18 pada Mei 2026.

“Pada Mei 2026 terjadi inflasi year-on-year sebesar 3,78 persen dengan IHK sebesar 112,18,” ujar Wahyudin.

Meski inflasi tahunan masih berada di atas target pemerintah, secara bulanan NTB justru mengalami deflasi. BPS mencatat deflasi month-to-month (m-to-m) sebesar 0,08 persen, sedangkan inflasi tahun kalender atau year-to-date (y-to-d) mencapai 1,74 persen.

Menurut Wahyudin, inflasi tahunan dipicu oleh kenaikan harga pada seluruh kelompok pengeluaran yang menjadi komponen pembentuk IHK. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar dengan inflasi mencapai 5,10 persen.

Selain itu, kenaikan harga juga terjadi pada kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,20 persen, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 2,30 persen, serta kelompok pengeluaran lainnya.

Sejumlah komoditas tercatat memberikan andil besar terhadap inflasi tahunan. Di antaranya emas perhiasan, cabai rawit, minyak goreng, sigaret kretek mesin (SKM), tarif air minum PAM, serta ikan layang atau ikan benggol.

Kenaikan harga komoditas tersebut dinilai menjadi faktor utama yang mendorong laju inflasi di NTB selama setahun terakhir.

Di sisi lain, meskipun secara bulanan terjadi deflasi, sejumlah komoditas masih memberikan sumbangan terhadap perubahan harga pada Mei 2026. Komoditas yang dominan memengaruhi pergerakan inflasi bulanan antara lain bahan bakar rumah tangga, minyak goreng, cabai merah, kacang panjang, serta pelumas atau oli mesin.

Data BPS juga menunjukkan bahwa dinamika harga pangan dan kebutuhan rumah tangga masih menjadi faktor dominan yang memengaruhi tingkat inflasi di NTB. Karena itu, stabilisasi pasokan dan distribusi komoditas strategis dinilai penting untuk menjaga inflasi tetap terkendali pada bulan-bulan mendatang.(ris)

Demo Tuntut PPS, Pemprov NTB Pastikan Pelabuhan Kayangan-Poto Tano Tetap Beroperasi

Mataram (globalfmlombok.com) – Dinas Perhubungan (Dishub) NTB memastikan Pelabuhan Kayangan-Poto Tano tetap beroperasi di tengah puncak demo menuntut pemekaran Provinsi Pulau Sumbawa (PPS) pada Selasa, 2 Juni 2026. Para massa aksi rencananya akan menduduki sejumlah akses vital salah satunya Pelabuhan Poto Tano yang menjadi satu-satunya penghubung laut antara Pulau Lombok dan Sumbawa.

Kepala Dishub NTB, Ervan Anwar memastikan operasional di pelabuhan tidak akan terganggu dengan adanya aksi massa ini. Pelayanan di pelabuhan sama seperti hari-hari biasa, tidak ada pembatasan penumpang, begitu pun dengan pengurangan jumlah kapal.

“Dari kemarin pelabuhan tetap buka, saya sudah koordinasi dengan ASDP. Gak ada pelabuhan tutup, layanan tetap seperti biasa. Yang unjuk rasa kan di luar pelabuhan,” ujarnya, Selasa, 2 Juni 2026.

Meski demikian, dampak terhadap arus lalu lintas menuju pelabuhan tetap terjadi karena perlambatan pergerakan kendaraan dan antrean di akses masuk pelabuhan. Untuk mengurangi potensi kemacetan tersebut, Dishub telah berkoordinasi dengan Kepolisian, TNI, operator penyeberangan, serta pihak terkait lainnya guna mengatur lalu lintas dan menjaga keamanan di lapangan.

“Kami bersama kepolisian dan TNI melakukan pengamanan di lapangan. Untuk lalu lintas darat juga sudah disiapkan rekayasa arus kendaraan agar aktivitas penyeberangan tetap lancar,” katanya.

Pihaknya juga memastikan distribusi logistik menjadi prioritas utama selama demonstrasi berlangsung. Kendaraan pengangkut logistik, terutama yang membawa barang mudah rusak seperti bawang dan kebutuhan pokok lainnya akan diprioritaskan untuk menyeberang.

“Logistik menjadi prioritas kami. Barang-barang yang cepat rusak harus segera diseberangkan agar tidak mengalami kerugian,” jelasnya.

Selain itu, ASDP juga dikatakan telah menyiapkan antisipasi berupa penambahan kapal apabila diperlukan untuk mengurai antrean kendaraan.

Adapun dengan terjadinya kemacetan panjang per hari Senin, 1 Juni kemarin, Ervan mengaku kondisi tersebut bukan disebabkan oleh penutupan pelabuhan, melainkan karena banyak pengguna jasa yang mempercepat jadwal keberangkatan setelah menerima informasi yang beredar di media sosial.

“Banyak masyarakat dan pelaku usaha logistik yang khawatir pelabuhan akan ditutup, sehingga mereka memajukan jadwal penyeberangan. Akibatnya terjadi penumpukan kendaraan,” ungkapnya.

Pun menyinggung soal video yang beredar di media sosial yang menunjukkan kondisi pelabuhan tanpa kapal, ia membantah adanya penghentian operasional. Menurutnya, kapal tetap beroperasi sesuai jadwal.

“Dalam kondisi normal ada sekitar 10 kapal yang beroperasi setiap hari dan 18 kapal dalam posisi siaga. Jadi tidak benar jika dikatakan tidak ada kapal yang beroperasi,” tegasnya.

Dengan kondisi ini, mantan Plt Kepala BPKAD NTB itu tetap mengimbau mengimbau masyarakat khususnya penumpang agar tetap tenang dan bersabar apabila terjadi keterlambatan akibat kepadatan arus kendaraan. Masyarakat juga diminta menyesuaikan jadwal perjalanan jika tidak terlalu mendesak.

“Kami memahami adanya ketidaknyamanan akibat aksi di sekitar pelabuhan. Namun, penyampaian pendapat merupakan hak konstitusional warga negara. Yang terpenting, operasional pelabuhan tetap berjalan dan pelayanan kepada masyarakat tetap diberikan,” pungkasnya.