Mataram (globalfmlombok.com) – Pemprov NTB telah menetapkan status darurat bencana alam kekeringan, kebakaran hutan dan lahan setelah seluruh wilayah di provinsi ini dilanda el nino dalam beberapa bulan terakhir. Penetapan status tersebut tertuang dalam Surat Keputusan Gubernur NTB Nomor 300.2/ 185 /GUB.43/2026.
Di tengah status siaga kekeringan, Pemprov NTB seperti disampaika Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal juga mulai memitigasi terjadinya potensi banjir ketika hujan mulai turun. Karena itu, sebelum mulai musim hujan, ia mengimbau kabupaten/kota untuk melakukan pengecekan terhadap titik-titik kawasan yang berpotensi memicu banjir.
“Kemudian juga pemerintah kabupaten/kota agar mulai cek situasi gorong-gorong, situasi drainase, saluran-saluran, itu dipastikan. Sehingga meminimalisir risiko banjir, kalau semuanya lancar. Sungai-sungai, mulai kita cek sama-sama kondisinya,” ujarnya.
Ia juga memetakan daerah yang berpotensi tinggi terjadinya bencana banjir, salah satunya daerah Bima yang hampir setiap tahun terjadi bencana banjir di kawasan tersebut. “Makanya saya sampaikan imbauan kepada teman-teman di sana,” lanjutnya.
Di samping itu, mulai pekan ini Pemprov NTB juga mulai melakukan langkah-langkah kedaruratan bencana kekeringan. Pemprov, katanya sudah berkomunikasi dengan Pertamina untuk memberikan BBM solar bersubsidi khusus untuk mobil tangki air milik Pemprov NTB dan kabupaten/kota.
“Sudah kita minta, saya minta ke teman-teman untuk minta data mobil-mobil tanki yang akan digunakan untuk operasi bantuan air ini di semua kabupaten dan kota,” katanya.
Menurutnya, situasi kekeringan saat ini cukup menantang. Apalagi adanya perkiraan el nino yang jauh lebih panjang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Karena itu, pada minggu lalu Pemprov NTB sempat melaksanakan salat Istisqa untuk meminta hujan segera diturunkan di NTB.
“Maunya sih lebih cepat, lebih baik (situasi darurat kekeringan, red). Tapi jangan lupa juga bahwa ini situasi yang sangat menantang. Kita berdoa semoga kekeringan ini berakhir dengan hujan,” ucapnya.
Meski sedang dilanda kekeringan ekstrem, Pemprov NTB memastikan kondisi ini tidak berdampak signifikan terhadap produksi padi. Hingga saat ini, produksi gabah kering giling (GKG) di NTB tercatat mencapai 1,687 juta ton atau mendekati capaian produksi sepanjang 2025 yang mencapai 1,7 juta ton.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, Lalu Mirza Amir Hamzah, optimis produksi padi tahun ini dapat melampaui capaian tahun sebelumnya. Optimisme tersebut didukung oleh sisa waktu satu bulan untuk mengejar target produksi serta ketersediaan stok beras di gudang Bulog yang telah mencapai 200.000 ton.
“Sekarang produksi padi kita sesuai Kerangka Sampel Area Badan Pusat Statistika (KSABPS), 1.687.000 gabah kering giling. Jadi kalau kita merujuk ke tahun 2025, kita kan 1,7,” ujarnya.
Ia menyebut, capaian produksi saat ini sudah hampir menyamai produksi tahun lalu. Dengan demikian, pemerintah daerah menilai kondisi produksi di tingkat hulu masih aman meski sejumlah wilayah menghadapi dampak kekeringan.
“Jadi sudah hampir sama lah, tinggal 1 bulan insya Allah kita bisa melampaui. Jadi kalau dari segi produksi di hulu, sudah aman. Kemudian di gudang bulog, kita sudah mencapai 200.000 ton beras,” katanya.
Meski demikian, Pemprov NTB mengakui kemarau panjang tetap memberikan dampak terhadap sektor pertanian. Namun, dampak tersebut dinilai relatif kecil karena petani mulai melakukan adaptasi dengan menyesuaikan jenis komoditas yang ditanam berdasarkan ketersediaan air.
“Ya, ada pengaruh tapi sedikit. Karena sudah ada substitusi, adaptasi komoditi. Jadi menanam tanaman disuaikan dengan kebutuhan air,” jelasnya. (era)


