Sumbawa Besar (globalfmlombok.com) – Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), H. Sadimin menyebutkan NTB masuk rangking 6 di Indonesia sebagai daerah rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Adanya kondisi ini, masyarakat diminta untuk lebih waspada.
“Kita termasuk rangking ke-enam ancaman kebakarannya se-Indonesia. Sehingga kami minta kepada masyarakat untuk lebih waspada dan mencegah terjadinya musibah tersebut,” kata Sadimin saat rapat bersama jajaran Pemkab Sumbawa, Jumat (4/9).
Melihat potensi tersebut, ia mengajak masyarakat yang melakukan pembersihan dan penyiapan lahan tidak dilakukan secara dibakar. Karena cuaca saat ini sangat panas, sehingga potensi terjadinya karhutla sangat tinggi dan berpotensi merembet ke pemukiman masyarakat nantinya.
“Memang kalau malam cuacanya sangat dingin, tetapi kalau siang hari panasnya sangat luar biasa. Ketika ada pemicu (api, red) bisa langsung terbakar,” jelasnya.
Ia berharap kepada pemerintah daerah dan desa untuk mengimbau kepada masyarakat agar tidak membakar lahan. Kalaupun nanti harus dibakar untuk proses pembersihan tetap harus dipantau dan tidak dibiarkan begitu saja.
Sehingga upaya penanganan bisa dilakukan saat areal pembakaran meluas.
“Masyarakat yang akan membuka dan membersihkan lahan jangan sampai dibakar tanpa pengawasan supaya tidak menimbulkan kebakaran. Apalagi sampai merembet ke pemukiman masyarakat,” tambahnya.
Selain itu, pembuangan puntung rokok di sembarangan tempat juga bisa menjadi pemicu karhutla. Terutama di beberapa wilayah yang memiliki kondisi kekeringan ekstrem, karena itu akan menjadi pemicu kebakaran yang lebih luas.
“Kami mengimbau kepada masyarakat untuk tidak membuang puntung rokok sembarangan terutama di wilayah dengan kondisi kekeringan ekstrem. Karena dari puntung tersebut bisa menimbulkan kebakaran yang besar,” tukasnya.
Berdasarkan data yang dihimpun Suara NTB, saat ini ada sekitar 70 kasus karhutla yang ditangani dengan luas sekitar 0,5 hektar. Jumlah itupun berpotensi bertambah karena puncak musim kemarau diprediksi terjadi hingga pertengahan bulan September mendatang.
Bahkan setiap hari pasti ada kejadian kebakaran lahan yang ditangani termasuk per hari ini ada dua kejadian kebakaran.
Kebakaran lahan di Unter Ketimis dan di ruas jalan Sumbawa- Lunyuk. Sementara hasil pengecekan diduga lahan tersebut sengaja dibakar untuk penanaman komoditas jagung. (ils)


