Praya (globalfmlombok.com) – Rencana rekonstruksi kampung adat Sade Desa Rembitan Kecamatan Pujut, Lombok Tengah (Loteng) mendapat perhatian khusus pemerintah pusat. Bahkan dalam Rapat Terbatas (Ratas) dengan Presiden Prabowo pada Selasa (1/9) malam, rencana rekonstruksi Kampung Adat Sade menjadi salah satu agenda yang dibahas. Presiden pun meminta proses rekonstruksi bisa dilakukan segera dengan melibatkan lintas kementerian.
Demikian disampaikan Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Fahri Hamzah saat meninjau Kampung Adat Sade, Rabu (2/9).
Wamen PKP, Fahri Hamzah (dua dari kiri) berdiskusi dengan Bupati Loteng H. Lalu Pathul Bahri dan Asisten II Setda NTB H. Lalu Faozal terkait rencana rekontruksi kampung adat Sade, Rabu (2/9/2026).(globalfmlombok.com/kir)
Ikut mendampingi Bupati Loteng H. Lalu Pathul Bahri, S.I.P.,M.A.P., Asisten II Setda NTB H. Lalu Faozal serta Sekda Loteng H. Lalu Firman Wijaya, S.T.,M.T.
Politikus asal NTB ini, mengatakan, kalau Presiden Prabowo Subianto memberikan perhatian sangat besar terhadap kondisi Kampung Adat Sade. Mengingat, Kampung Adat Sade sudah sangat dikenal, sehingga ketika terjadi musibah kebakaran, efeknya lebar sekali.
Oleh karena itu pemerintah pusat berharap proses rekonstruksi Kampung Adat Sade bisa dilakukan secara komprehensif. Melibatkan lintas kementerian dan para ahli, karena banyak aspek yang harus dibangun ulang di dalamnya. Tidak hanya soal aspek fisik. Tapi juga aspek budaya dan pariwisatanya. Tanpa kemudian harus menghilangkan keasliannya yang memang menjadi kekhasan dari Kampung Adat Sade.
“Proses rekonstruksi Kampung Adat Sade tidak boleh sampai menghilangkan keasliannya. Sifat aslinya harus dijaga. Tetapi sisi keamanan dan keindahanya juga harus diperhatikan,” ujarnya mengingatkan.
Dengan kata lain rekonstruksi Kampung Adat Sade tidak hanya pada soal membangun ulang saja. Tetapi bagaimana menjadikan Kampung Adat Sade bisa menjadi lebih baik, lebih aman dan lebih indah lagi. Sehingga wisatawan akan semakin banyak datang dan berkunjung.
Pihaknya pun meminta pihak terkait untuk menyusun desain Kampung Adat Sade yang lebih baik, aman dan nyaman. Desain itu nantinya akan diputuskan bersama untuk selanjutnya dimatangkan di tingkat kementerian, sehingga bisa menghasilkan desain Kampung Adat Sade yang komprehensif dari semua aspek.
Baru kemudian bicara soal sumber penganggarannya, karena pihaknya tidak ingin rekonstruksi Kampung Adat Sade hanya menjawab persoalan jangka pendek saja. Tetapi juga bisa menjawab persoalan-persoalan jangka panjang. Agar eksistensi Kampung Adat Sade bisa terus ada untuk jangka waktu yang lama.
“Dengan Menteri Pariwisata kita sudah bertemu. Begitu juga Menteri Kebudayaan, kita mohon agar mendapat perhatian khusus dan (Menteri Kebudayaan) setuju untuk mendukung,” ujarnya seraya menambahkan, Kementerian Pekerjaan Umum juga akan dilibatkan dalam proses rekonstruksi Kampung Adat Sade ini.
Disinggung soal adanya keinginan warga setempat untuk membangun sendiri rumah adat Sade, Fahri Hamzah, mengaku perlu dipertimbangkan ulang. Pasalnya, kalau warga tetap membangun sendiri khawatirnya itu bisa menjadi persoalan di kemudian hari. Mengingat, fasilitas penunjang belum ada.
Untuk itu pihaknya juga meminta pemerintah daerah setempat bisa menyiapkan langkah-langkah darurat dalam menjawab kebutuhan jangka pendek warga tersebut. Terutama soal kebutuhan akan tempat tinggal sementara. Sembari menunggu proses rekonstruksi selesai dilakukan. Apakah itu dengan membangun tenda darurat atau yang lain.
Dalam hal ini pihaknya siap juga untuk bantu memenuhi kebutuhan dasar warga terdampak sembari menunggu proses pembangunan berjalan. “Kalau nanti dikerjakan masing-masing khawatirnya makna budayanya hilang, aspek keamanan tidak tercapai, keindahan tidak tercapai. Karena memang ini butuh investasi besar,” sebut mantan Wakil Ketua DPR RI ini. (kir)


