BerandaBerandaFajar Digital di Lembah Batu Hijau: Navigasi Transformasi Berburu Mineral

Fajar Digital di Lembah Batu Hijau: Navigasi Transformasi Berburu Mineral

Reporter : Zainudin Syafari

SETIAP hari, tak kurang dari 100.000 ton batuan bijih mentah mengalir tanpa henti menembus urat-urat ban berjalan (conveyor) di kompleks pengolahan mineral Batu Hijau, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat.

Di tengah gemuruh mesin skala raksasa yang dioperasikan oleh PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT)—anak perusahaan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMAN)—alur material tersebut merupakan urat nadi utama penopang produksi tembaga dan emas nasional. Namun, di balik laju ribuan ton batuan yang tampak mekanis dan konvensional itu, kini bergerak algoritma tak kasat mata yang bekerja secara presisi dalam hitungan detik.

Transformasi digital yang dijalankan AMMAN sejak beberapa tahun terakhir telah memasuki babak menentukan pada 2025 dan 2026. Dalam Laporan Berkelanjutan 2025 menegaskan bahwa perseroan tidak lagi sekadar menempatkan teknologi digital sebagai sarana pemantauan pasif, melainkan telah bergeser menjadi penggerak utama kinerja operasional. Integrasi data lintas fungsi pertambangan, pengolahan, pemeliharaan armada, hingga pasokan energi telah menempatkan sistem pertambangan Sumbawa ini ke dalam era baru pertambangan berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Namun, sebagaimana lazimnya arus modernisasi industri ekstraktif skala masif, lompatan teknologi ini memicu diskursus yang kompleks. Di satu sisi, korporasi memanen peningkatan perolehan logam, pemeliharaan instrumen yang lebih awet, dan reduksi jejak karbon. Di sisi lain, regulator daerah menekankan pentingnya transparansi faktual, sementara kalangan akademisi mengingatkan potensi risiko hilangnya kontrol manusia akibat ketergantungan pada sistem kecerdasan buatan (black box AI).

Mata Laser di Atas Ban Berjalan

Di lorong-lorong vital pabrik pengolahan (processing plant), kerentanan operasional terbesar kerap bersumber dari detail terkecil yang tak kasat mata. Victor, Achmad, dan tim Ahli Metalurgi AMMAN memahami betul ancaman ini. Saban hari, batuan bijih yang diangkut dari lubang tambang terbuka (open pit) berpotensi membawa material berukuran ekstrem (oversize objects) atau objek asing non-batuan seperti sisa perpipaan besi dan komponen mekanis tambang.

Jika material keras non-standar ini lolos dan masuk ke dalam SAG Mill—mesin penggiling raksasa yang bertugas melumatkan batuan bijih menjadi partikel halus sebelum proses pemisahan mineral—dampaknya bisa memicu kerusakan fatal pada liner mesin, penghentian operasional mendadak, serta kerugian finansial berantai.

Aliran ribuan ton batuan bijih mentah di atas ban berjalan (conveyor) area pertambangan PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT), Batu Hijau, Sumbawa Barat (Dok AMMAN)

Dahulu, pemantauan bergantung pada sistem kamera dua dimensi (2D). Namun, metode konvensional ini kerap terkendala oleh fluktuasi pencahayaan lapangan, kepekatan debu tambang, hingga keseragaman warna batuan yang mengelabuhi visual kamera biasa. Berangkat dari hambatan nyata di lapangan, tim AMMAN mengembangkan terobosan pemindaian 3D Particle Size Measurement (3DPM) berbasis trianggulasi laser (laser triangulation).

“Implementasi teknologi 3DPM menunjukkan bagaimana inovasi lahir dari kebutuhan nyata di lapangan. Kami tidak hanya mengadopsi teknologi baru, tetapi mengembangkannya agar sesuai kondisi operasional. Hasilnya adalah proses yang lebih andal, efisien, dan mampu mendukung pengelolaan risiko operasional yang lebih baik,” kata Victor, Tim Metalurgi PT AMNT, dalam keterangan yang diterima globalfmlombok.com.

Teknologi pemindaian 3D berbasis laser yang terpasang di atas conveyor memetakan geometri batuan secara real-time dan memberikan peringatan dini jika terdapat material berukuran melebihi batas, sehingga operator dapat mencegah kerusakan mekanis. Peringatan dini ini menjaga ritme produksi tetap stabil, yang berdampak langsung pada peningkatan recovery rate tembaga serta pemaksimalan nilai ekonomi dari setiap ton bijih yang diolah.

“Hasilnya tampak pada konsistensi ritme produksi. Stabilisasi data pada aliran pabrik pengolahan ini berkontribusi langsung pada peningkatan tingkat perolehan (recovery rate) tembaga dalam proses flotasi, memaksimalkan ekstraksi nilai ekonomik dari setiap ton bijih yang ditambang,” ujarnya.

Arsitektur Empat Pilar Operasional

Aktivitas tambang meneral PT AMMAN (Dok AMMAN)

Direktur Utama PT Amman Mineral Internasional Tbk, Arief Widyawan Sidarto, dalam Laporan Berkelanjutan 2025 menyatakan bahwa transformasi digital AMMAN berfokus pada pembangunan fondasi data terintegrasi melalui empat alur kerja utama. Yaotu Predictive Maintenance (PdM): Menggunakan AI untuk memantau kondisi armada secara real-time dan memprediksi kerusakan guna mencegah kerusakan mesin mendadak.

Kemudian Light Vehicle Fleet Management (LVFM): Digitalisasi alokasi kendaraan operasional untuk memangkas birokrasi dan mengoptimalkan penggunaan armada. Housing Management System (HMS): Mengotomatisasi tata kelola perumahan karyawan secara daring berbasis poin demi efisiensi dan transparansi alokasi.

Serta pilar Processing Plant Digital Enablement: Mengintegrasikan data real-time pada pabrik pengolahan untuk memaksimalkan throughput dan hasil perolehan mineral.

Secara ekonomi industri, strategi yang diterapkan AMMAN sejalan dengan temuan global McKinsey & Company dalam laporan Digital Innovation Transform Indonesia’s Mining Industry. McKinsey mencatat bahwa adopsi teknologi digital berbasis data real-time, sensor Internet of Things (IoT), digital twin, dan pemeliharaan prediktif mampu menekan biaya operasional sektor pertambangan hingga 20 hingga 30 persen.

Bagi AMMAN, optimasi ini diterjemahkan secara konkret melalui penurunan konsumsi bahan bakar pada armada angkut akibat muatan yang lebih terukur (payload optimization), efisiensi ban tambang yang berharga tinggi, serta penurunan intensitas karbon per ton konsentrat yang dihasilkan. Hal ini sekaligus menjadi benteng efisiensi di tengah fluktuasi harga komoditas global.

Transformasi Digital Dukung Transparansi yang Terukur

Kadis ESDM Provinsi NTB, Samsudin (globalfmlombok.com/dok)

Lompatan teknologi di area tambang Batu Hijau menyedot perhatian pemerintah daerah. Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Nusa Tenggara Barat, Samsudin, menilai langkah modernisasi operasional yang dilakukan AMMAN sebagai tren yang sangat positif dan tidak terhindarkan di era industri 4.0.

“Kita harus memahami kebutuhan ke depan. Tidak bisa lagi mengandalkan cara-cara manual sepenuhnya. Pemanfaatan teknologi digital sangat positif karena pemerintah daerah menginginkan adanya transparansi yang terukur. Dengan sistem berbasis digital, kita dapat memantau jika ada keterlambatan atau kekurangan dalam proses produksi dan pelaporan,” ujar Samsudin, Jumat 14 Agustus 2026.

Kendati demikian, Samsudin memberikan catatan. Menurutnya, digitalisasi di atas kertas atau layar monitor tidak boleh sepenuhnya menggantikan validasi fisik di lapangan. Pemerintah daerah tetap membutuhkan kombinasi antara pengawasan berbasis data digital dan pengawasan manual faktual.

“Digitalisasi penting untuk melihat perkembangan secara cepat, tetapi verifikasi manual tetap krusial untuk memastikan bahwa apa yang dilaporkan secara digital benar-benar sesuai dengan kondisi faktual di lapangan. Integrasi kedua pendekatan inilah yang menjamin akuntabilitas,” tegasnya.

Dampak Eksternal dan Tantangan AI ‘Black Box’

Saymsul Hidayat Daud (globalfmlombok.com/dok pribadi)

Suara bernada evaluatif datang dari kalangan akademisi. Pengamat Pertambangan dari Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT) Syamsul Hidayat Daud Ph.D, menyoroti pertanyaan fundamental mengenai urgensi digitalisasi tambang bagi publik di luar benteng korporasi.

Syamsul Hidayat menilai, jika kecerdasan buatan dan digitalisasi hanya berhenti pada optimalisasi internal maka manfaatnya hanya dinikmati oleh korporasi. Digitalisasi baru bermakna luas jika memberikan dampak langsung bagi masyarakat lokal dan daerah.

“Pertanyaan fundamental kita adalah: apa dampak eksternalnya bagi publik? Digitalisasi hanya akan jadi jargon atas nama teknologi jika tidak membawa kemajuan pada akses informasi publik, peningkatan keterbukaan dana CSR, serta kepastian penyerapan tenaga kerja daerah,” kata Syamsul Hidayat.

Alumnus Eskisehir Osmangazi University Turki ini menambahkan, transparansi pengelolaan Tanggung Jawab Sosial Lingkungan (CSR) bisa menjadi salah satu tolok ukur. Publik di sekitar lingkar tambang seharusnya bisa mengetahui secara detail berapa alokasi anggaran, program apa yang dijalankan, dan sejauh mana penyerapan tenaga kerja lokal terjadi melalui platform yang mudah diakses. Itulah salah satu sisi transformasi digital yang diharapkan oleh masyarakat selain dari penerapan di dalam operasional perusahaan.

Jian Budiarto (globalfmlombok.com/dok pribadi)

Tantangan metodologis penggunaan AI juga dibeberkan oleh Jian Budiarto, M.Eng, Dosen Fakultas Teknik Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) NTB sekaligus peneliti di Sinergi Analitika. Ia mengingatkan bahaya penggunaan AI yang bersifat black box—sistem kecerdasan buatan yang menghasilkan keputusan tanpa bisa dijelaskan alur logikanya secara ilmiah.

Jian menekankan pentingnya penerapan Explainable AI, di mana setiap rekomendasi keputusan yang dihasilkan oleh algoritma komputer wajib dapat divalidasi dan diuji keabsahannya oleh pakar manusia.

“AI tidak boleh dilepas begitu saja tanpa kendali. Ada risiko yang dinamakan bias, di mana sistem komputer mengambil keputusan yang menyimpang jauh dari kebutuhan nyata atau standar keselamatan. Khususnya dalam industri strategis seperti pertambangan yang menyangkut hajat hidup orang banyak dan aset negara, AI yang digunakan harus memiliki tingkat explainability yang tinggi, teruji, dan terus dimonitor,” ujar Lulusan Magister Teknologi Informasi UGM ini.

Meski demikian, ia sangat mendukung penerapan AI dan transformasi digital dalam dunia pertambangan sebagai bagian dari implementasi kemajuan teknologi. Sebab pemanfaatan teknologi menjadi katalisator dalam optimasi produksi tambang mineral. “Saya sih mendukung penuh, tetapi perlu mewaspadai adanya bias tersebut,” terangnya.

AMMAN Terus Pompa Efisiensi Lewat Digitalidasi dan AI

Laju transformasi digital di AMMAN tak lagi sebatas wacana di atas kertas. Emiten tambang tembaga dan emas raksasa ini tengah merombak total gaya operasional hingga tata kelola bisnisnya berbasis data, mulai dari perut bumi hingga meja administrasi.

Vice President Corporate Communications AMMAN, Kartika Octaviana, mengungkapkan bahwa modernisasi ini dilakukan secara bertahap dan menyeluruh sejak 2020. Menurutnya, digitalisasi bukan cuma merambah area tambang, pabrik pengolahan mineral, hingga smelter, melainkan juga menyentuh fungsi pendukung seperti keuangan, pengadaan, dan sumber daya manusia.

“Semuanya terintegrasi dalam satu ekosistem bisnis agar proses kerja berjalan lebih efisien, transparan, dan adaptif,” ujar Kartika dalam keterangan tertulisnya, Selasa 18 Agustus 2026.

Vice President Corporate Communications AMMAN, Kartika Octaviana (Dok AMMAN)

Di area pengolahan mineral, AMMAN menyuntikkan kecerdasan buatan melalui Artificial Intelligence Dashboard Automation (AIDA). Sistem ini bertindak sebagai asisten pintar bagi tim operasional dan metalurgi dengan menganalisis ribuan variabel secara real-time—mulai dari dosis reagen hingga laju aliran air.

Tak hanya AIDA, AMMAN memasang pemindai 3D berbasis laser triangulation (3DPM) di jalur conveyor sebelum masuk ke SAG Mill. Alat ini membaca ukuran dan volume batuan secara presisi, memangkas risiko gangguan mesin sebelum material diproses lebih lanjut.

Hasilnya tak main-main. Kombinasi penyempurnaan proses dan optimalisasi berbasis AI berhasil mendongkrak perolehan mineral (mineral recovery) hingga sekitar 2,5 persen. Bagi industri tambang skala besar, angka tipis ini bernilai ekonomis puluhan juta dolar sekaligus menekan sisa logam berharga yang terbuang ke tailing.

Effisiensi ini juga merembet ke urusan birokrasi. Lewat integrasi SAP Business Network, AMMAN kini memproses lebih dari 1.500 Purchase Order (PO) setiap minggu secara digital. Hanya dalam sembilan bulan sejak peluncuran, seluruh proses pengadaan barang sudah 100 persen terdigitalisasi.

“Digitalisasi ini tidak hanya berdampak secara internal, tetapi juga mendorong mitra bisnis dan vendor untuk masuk ke ekosistem digital yang lebih modern,” kata Kartika. Bagi vendor, platform ini mempercepat keterlacakan dokumen, kepastian pembayaran, hingga kepatuhan izin usaha secara transparan.

Langkah ini membawa AMMAN meraih penghargaan SAP Customer Excellence Awards for SEA 2026. Selain memangkas kesalahan manual, papperless workflow ini terbukti berhasil menghemat lebih dari 214.000 lembar kertas hanya dalam kurun waktu enam bulan—sebuah sinyal kuat integrasi teknologi dan komitmen keberlanjutan lingkungan.

“Badai Sempurna” Industri Tambang Melalui Digitalisasi

Dalam buku “Smart Mining:Transformasi Digital dalam Industri Pertambangan Berkelanjutan” Dr. Ilham Yahya memaparkan bahwa urgensi transformasi digital di sektor pertambangan bukanlah didasari oleh euforia teknologi semata, melainkan oleh serangkaian tekanan fundamental yang mengancam model bisnis pertambangan konvensional.

Industri ini kini beroperasi dalam konteks yang jauh lebih menantang dibandingkan beberapa dekade lalu. Konvergensi antara kesulitan geologis, tekanan ekonomi, dan ekspektasi sosial menciptakan sebuah “badai sempurna” yang memaksa perusahaan-perusahaan tambang untuk berinovasi atau berisiko tertinggal.

Transformasi digital tidak lagi dilihat sebagai opsi, melainkan sebagai sebuah strategi bertahan hidup yang esensial untuk memastikan profitabilitas dan lisensi sosial untuk beroperasi (social license to operate) di abad ke-21.

Ini sejalan dengan jurnal ilmiah bertajuk “Required and desired: breakthroughs for future-proofing mineral and metal extraction” yang diterbitkan di Mineral Economics, 2022, Elisabeth Clausen dan Aarti Sörensen menyatakan bahwa otomatisasi dan digitalisasi mengubah cara mineral dan logam diekstraksi serta menyediakan alat penting untuk merancang dan menerapkan tambang masa depan: tambang otonom yang terintegrasi secara digital di mana tidak ada manusia yang perlu ditempatkan dalam kondisi bahaya.

Akhirnya, tanpa adanya lompatan teknologi dalam presisi penambangan dan efisiensi pemrosesan, model ekonomi dari banyak operasi tambang di masa depan menjadi tidak berkelanjutan. Dan AMMAN telah melakukan lompatan tersebut dengan hasil yang mampu mendongkrak presisi bisnis sekaligus memperkuat komitmen keberlanjutan tersebut.(*)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -

BERDASARKAN TAG
BERDASARKAN KATEGORI