Mataram (globalfmlombok.com) – Dua orang teman almarhumah Indah Dwi Septiani, penumpang KMP Putri Yasmin yang terbakar saat berlayar dari Pelabuhan Padangbai menuju Pelabuhan Lembar, memberikan kesaksian mengenai detik-detik sebelum Indah diketahui meninggal dunia.
Salah seorang teman korban, Haula Dwi Juliayanti Hasibuan, menuturkan bahwa sebelum kepanikan terjadi, mereka sempat mengabarkan kondisi kapal kepada keluarga masing-masing. Mereka memberitahukan bahwa kapal yang ditumpangi mengalami kebakaran.
Tak lama setelah itu, kepanikan mulai terjadi. Asap semakin mengepul dan memenuhi kapal. Sebagian besar penumpang telah mengenakan pelampung dan bersiap menyelamatkan diri.
Namun, Haula mengaku masih menunggu arahan dari kapten kapal atau anak buah kapal (ABK) mengenai waktu yang tepat untuk melompat ke laut. Di tengah situasi yang semakin mencekam, ia justru bingung karena terdengar teriakan dari sejumlah penumpang yang meminta agar segera melompat.
“Chaos banget karena dari pihak kapal menyuruh menunggu arahan kapten untuk lompat. Sedangkan di situ asap sudah mengepul dan kita juga sesak napas. Kita bingung mana arahan dari pihak kapal dan penumpang,” ujar Haula saat ditemui di rumah korban, Kamis (13/8), ketika menghadiri penyaluran santunan kematian dari Jasa Raharja.
Saat akhirnya diperintahkan untuk menyelamatkan diri, awak kapal telah menyediakan tangga sebagai akses bagi penumpang untuk melompat ke laut.
Indah menjadi orang pertama yang melompat. Haula kemudian menyusul, disusul Rahadatul Aisy Putri Salsabila yang juga merupakan teman mereka.
Setelah berada di laut, Haula berupaya menggandeng kedua temannya agar tidak terpisah. Namun, ia hanya berhasil meraih tangan Rahadatul. Sementara tangan Indah tidak berhasil digenggam.
Meski demikian, Haula tetap berusaha berkomunikasi dengan Indah untuk memastikan kondisi temannya tersebut. Mereka sempat saling memanggil dan memastikan satu sama lain dalam keadaan baik.
Beberapa waktu kemudian, komunikasi terputus. Kondisi semakin gelap, tenaga mereka mulai terkuras, dan arus laut perlahan membawa mereka menjauh dari posisi semula.
“Tenaga habis untuk ngomong saling menyemangati. Kita keseret arus, tidak ada kontak lagi dan tidak bisa melihat apa-apa karena gelap juga,” jelasnya.
Haula mengaku terombang-ambing di laut selama hampir empat jam sebelum akhirnya dievakuasi sekitar pukul 08.00 Wita menggunakan speedboat milik warga negara asing (WNA).
Namun, sesampainya di atas speedboat, Haula mendapati Indah ternyata berada di kapal yang sama. Kondisi tubuh temannya itu sudah terlentang dan kaku.
Melihat kondisi Indah, Haula mengaku sangat terpukul. WNA yang melakukan evakuasi kemudian memisahkan Haula dari tubuh Indah untuk mencegah kepanikan dan menjaga kondisi mentalnya.
Tidak lama kemudian, Haula dan Rahadatul dipindahkan ke kapal yang lebih besar untuk dibawa menuju daratan.
Haula memastikan kondisi Indah ketika ditemukan di speedboat sudah meninggal dunia. Ia masih mengingat kondisi tubuh temannya saat itu.
“Sudah tidak ada (nyawanya), karena mukanya sudah ditutup dengan jilbabnya dan tangan sudah membiru,” ungkap Haula dengan nada gemetar.
Sementara itu, Rahadatul Aisy Putri yang duduk di samping Haula tampak lesu. Ia hanya mengangguk dan membenarkan kesaksian Haula kepada awak media.
Kesaksian kedua teman tersebut menggambarkan kepanikan yang dialami para penumpang saat berupaya menyelamatkan diri dari insiden kebakaran KMP Putri Yasmin. (pan)


