Mataram (globalfmlombok.com) – Susunan indah kebaya memanjakan mata saat memasuki gerai Lace lab yang berlokasi di Jalan Adi Sucipto, Kota Mataram. Gerai ini memadukan hasil pikiran empat desainer sekaligus dengan desain baju yang berbeda-beda.
Jaleela dengan produk semi formalnya yang memang sengaja dirancang untuk menggaet anak muda, namun bisa digunakan untuk acara-acara formal.
Mera and Jenar yang juga kebaya modern, menawarkan kebaya yang lebih simpel dan dekat dengan gaya anak muda. Sementara itu, Sehasta Rasa menyasar konsumen yang menginginkan koleksi lebih eksklusif dengan harga mulai sekitar Rp1 juta ke atas.
Secara umum, koleksi kebaya yang ditawarkan berada di kisaran Rp200 ribuan hingga Rp1 jutaan, tergantung desain dan segmentasinya.
Supervisor Lace lab, Elsa Manora Anggi, menceritakan awal mula terbangunnya brand fesyen Jaleela di Lombok. Mulanya, founder Jaleela, Asbety Sasaki Puteri melihat eksistensi kebaya di Pulau Lombok sudah mulai tergerus.
Munculnya fast fashion menjadikan kebaya kian tertinggal. Ditambah lagi dengan steorotip menggunakan kebaya hanya saat acara-acara tertentu, dan pemikiran-pemikiran bahwa kebaya overdress serta tidak cocok digunakan sehari-hari menjadikan pemilik brand ini putar otak agar kebaya bisa eksis kembali.
Atas keinginan itu, muncul pemikiran untuk membuat brand fesyen kebaya yang lebih simpel dan bisa diterima anak muda. Tahun 2019 lalu, Asbety mengawali karirnya sebagai pemilik brand Jaleela. Semakin bertambahnya tahun, brand ini kian dilirik, tidak hanya oleh masyarakat lokal, tetapi juga luar daerah, hingga luar negeri.
Semakin tahun, Jaleela semakin menguatkan eksistensinya sebagai brand fesyen kebaya nomor satu di Lombok. Mereka tidak hanya menjual kebaya sebagai pakaian, tetapi juga jati diri perempuan Indonesia. Dengan berbagai macam filosofi dan cerita di masing-masing design bajunya, Jaleela kian menguatkan diri hingga bisa mendongkrak pasar Eropa.
“Jadi Jalela tidak hanya menjual pakaian, tapi juga mengambil bagian bagaimana agar budaya ini tetap ada sampai generasi selanjutnya,” ujar Elsa.
Elsa menjelaskan, Jalela menyasar perempuan Indonesia secara luas, dengan perhatian khusus kepada generasi muda. Karena itu, desain kebaya Jalela tidak meninggalkan akar tradisionalnya. Model seperti kebaya encim dan kutubaru tetap menjadi inspirasi, termasuk sentuhan kebaya Bali. Namun, seluruhnya dikemas dengan pendekatan modern agar lebih mudah dikenakan dalam berbagai kesempatan.
Tidak hanya menjual produk jadi, Jaleela juga muncul untuk mengatasi persoalan yang sering dihadapi perempuan ketika membeli kebaya, yaitu ukuran dan bentuk tubuh. Karena itu, selain menyediakan produk ready to wear dalam ukuran S–M dan L–XL, Jalela yang kini memiliki offline store di Lombok juga menyediakan layanan custom.
Pelanggan dapat datang langsung untuk menyesuaikan ukuran, memilih desain, hingga membuat kebaya yang lebih personal sesuai kebutuhan. Layanan ini cukup diminati, terutama untuk acara-acara penting seperti wisuda, pertunangan, dan pernikahan.
Di tengah persaingan dengan kebaya yang lebih ekonomis di pasar tradisional, Jalela memilih untuk tidak menjadikan harga sebagai satu-satunya senjata.
Jalela justru menonjolkan desain, kualitas bahan, produksi yang terbatas, dan eksklusivitas. Dengan produksi yang terbatas, menjadikan Jaleela sebagai brand kebaya eksklusif.
“Karena kita membuat kebayanya itu sedikit lebih eksklusif. Karena memang dari segi produksinya kita juga enggak banyak. Jadi kalau pakai kebaya Jaleela itu enggak mainstream, jadi kalau ketemu ke acara tertentu itu enggak kembaran. Jadi ada eksklusifitas juga, ada kualitas juga yang kita tawarkan di situ,” jelas Elsa.
Di samping membangun dan menjual produk sendiri, upaya Jalela menghidupkan kembali kebaya tidak berhenti hanya di situ saja. Jalela juga kerap menghadirkan pengalaman dan aktivitas kreatif. Setidaknya dua kali dalam sebulan digelar berbagai workshop, mulai dari crafting, menyulam, hingga embroidery.
Kegiatan tersebut dirancang untuk membangun komunitas anak muda yang tertarik pada kain dan kebaya. Antusiasme peserta bahkan disebut cukup tinggi. Pada masa awal penyelenggaraan workshop gratis, pendaftar melalui Google Form pernah mencapai sekitar 80 orang, sementara kapasitas kegiatan hanya sekitar 10–12 peserta.
“Antusiasmenya cukup tinggi ternyata,” ungkapnya.
Meski saat ini fokus pengembangan offline store berada di Lombok, perjalanan Jalela sebelumnya juga telah menjangkau sejumlah kota. Brand ini pernah memiliki toko di Jakarta dan Bandung serta bekerja sama dengan sejumlah business partner di berbagai lokasi, termasuk pusat perbelanjaan dan toko di Yogyakarta.
Untuk penjualan, Jalela mengandalkan kanal digital, termasuk Shopee dan WhatsApp. Masing-masing sister brand juga memiliki akun e-commerce sendiri.
Dari Lombok, kebaya Jalela kini tidak hanya dikenakan oleh perempuan Indonesia, tetapi juga telah menyeberangi batas negara.
Salah satu kekuatan Jalela terletak pada proses produksinya yang dilakukan di Lombok. Desainer hingga penjahit yang terlibat merupakan tenaga lokal.
Setiap brand memiliki desainer fesyen masing-masing untuk membangun karakter dan identitas koleksi.
Untuk pengiriman, Jalela menggandeng JNE sebagai mitra logistik. Produk Jalela telah menjangkau pelanggan di Malaysia dan Singapura. Melalui kanal e-commerce, pengiriman juga memungkinkan menjangkau negara lain seperti Thailand dan Vietnam. Bahkan, sebelumnya terdapat pesanan yang pernah dikirim hingga Iran. (r)


