Mataram (globalfmlombok.com) —
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menegaskan bahwa kepastian usaha dan keberlanjutan (sustainability) lebih krusial bagi dunia usaha ketimbang sekadar mengejar angka pertumbuhan ekonomi yang tinggi namun tidak stabil.
Hal tersebut disampaikan Gubernur saat memberikan sambutan dalam acara Pelantikan dan Pengukuhan Pengurus Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) NTB Masa Bhakti 2025–2030 di Hotel Prime Plaza, Mataram, Rabu (29/7/2026).
Iqbal mengungkapkan, saat pertama kali menjabat sebagai Gubernur pada 1 Maret 2025, NTB tengah menghadapi tantangan berat dengan pertumbuhan ekonomi yang berada di zona kontraksi, yakni minus 1,47 persen. Namun, pihaknya tetap optimistis dan berfokus pada fondasi ekonomi yang kuat.
“Lebih baik pertumbuhan kita 2 persen tetapi sustainable, daripada tumbuh 20 persen tetapi tidak berkelanjutan. Bagi pelaku bisnis, yang paling penting adalah kepastian,” ujar Iqbal.
Iqbal mencontohkan kondisi perekonomian di Turki yang sempat mengalami inflasi di atas 80 persen selama lebih dari lima tahun. Kendati demikian, para pelaku usaha di sana tetap mampu bertahan dan menguasai pasar di kawasan Afrika hingga Timur Tengah karena adanya kepastian ekosistem bisnis.
Pertumbuhan Tembus 13 Persen
Melalui strategi penguatan fondasi ekonomi lokal, Iqbal menyebut kinerja perekonomian NTB terus merangkak naik secara bertahap. Pada triwulan kedua tahun 2026, pertumbuhan ekonomi NTB berhasil menembus angka di atas 13 persen.
Meski demikian, Iqbal menggarisbawahi bahwa hal yang paling menggembirakan bukanlah sekadar angka belasan persen tersebut, melainkan struktur penopangnya. Pertumbuhan impresif ini disokong oleh lompatan ganda (double digit) pada dua sektor vital kerakyatan: pertanian dan pariwisata.
“Artinya pertumbuhan ini sustainable. Hampir 40 persen masyarakat NTB menggantungkan hidup dari sektor pertanian, dan sekitar 10 persen bergerak di sektor pariwisata. Jika dua sektor ini tumbuh double digit, maka sekitar 50 persen tenaga kerja kita otomatis memiliki daya beli (purchasing power) yang kuat,” kata mantan Diplomat tersebut.
Menurut Iqbal, struktur pertumbuhan seperti ini jauh lebih menyejahterakan masyarakat dibanding jika pertumbuhan hanya ditopang oleh sektor tambang dan pengolahan (smelter). Sektor tambang dinilai tidak serta-merta memberikan jaminan peningkatan daya beli langsung bagi mayoritas masyarakat bawah.
Daya Beli Petani Menguat
Dampak positif dari penguatan sektor riil ini tecermin langsung dari indikator kesejahteraan petani di NTB. Nilai Tukar Petani (NTP) NTB mencatatkan tren kenaikan yang signifikan, dari posisi 123 pada tahun lalu menjadi 131 saat ini. Angka ini melampaui rata-rata NTP nasional yang berada di level 127.
“Jika secara nasional petani mendapatkan imbal hasil 127 dari setiap 100 yang dikeluarkan, maka petani di NTB mendapatkan 131. Ini menunjukkan peningkatan keuntungan dan daya beli yang riil di tingkat petani,” tuturnya.
Tak hanya NTP, indikator Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) di NTB yang menjadi acuan para pelaku dunia usaha juga mencatatkan angka mengesankan, yakni mencapai 135. Angka ini berada jauh di atas rata-rata nasional dan menggambarkan akselerasi efisiensi usaha pertanian di wilayah Nusa Tenggara Barat.
Melalui momentum pelantikan pengurus Kadin NTB periode 2025–2030 ini, Gubernur berharap sinergi antara pemerintah daerah dan dunia usaha terus terjalin erat guna menjaga iklim investasi yang kondusif dan memastikan kepastian hukum serta usaha di NTB.(r)


