BerandaBerandaGempa Lombok 2018: Kenangan yang Menjadi Pelajaran

Gempa Lombok 2018: Kenangan yang Menjadi Pelajaran

OPINI Oleh: Dr. H. Ahsanul Khalik (Kadiskominfotik NTB Sekaligus Jubir Pemprov NTB)

Ada peristiwa yang selesai ketika waktu berlalu. Ada pula yang justru semakin bermakna seiring berjalannya waktu. Gempa Lombok 2018 adalah salah satunya. Delapan tahun telah berlalu, tetapi ingatan tentangnya tetap hidup, bukan untuk merawat duka, melainkan untuk menjaga pelajaran yang ditinggalkannya.

Hari ini, rumah-rumah yang dahulu runtuh telah berdiri kembali. Jalan-jalan yang pernah retak telah kembali menghubungkan desa dengan desa. Pasar kembali ramai, sekolah kembali dipenuhi tawa anak-anak, dan kehidupan perlahan menemukan iramanya. Lombok bangkit dengan segala daya yang dimilikinya.

Namun, bangkit bukan berarti melupakan.

Di balik bangunan-bangunan yang telah kembali tegak, tersimpan sebuah kesadaran yang tidak boleh ikut memudar. Gempa Lombok 2018 bukan sekadar peristiwa yang tercatat dalam sejarah. Ia adalah pengingat bahwa hidup di pulau yang indah ini juga berarti hidup berdampingan dengan alam yang memiliki hukumnya sendiri.

Sesungguhnya, rangkaian gempa pada tahun 2018 bukanlah kisah yang berdiri sendiri. Jauh sebelum itu, sejarah telah berkali-kali mencatat bagaimana bumi Lombok bergerak dan mengubah perjalanan pulau ini.

Naskah Babad Lombok mengisahkan letusan dahsyat Gunung Samalas pada tahun 1257, sebuah peristiwa besar yang mengubah bentang alam Lombok dan jejaknya bahkan ditemukan dalam berbagai penelitian geologi modern. Berabad-abad kemudian, catatan sejarah kembali merekam gempa besar pada 22 Juni 1856 yang menimbulkan kerusakan luas di Pulau Lombok.

Guncangan kembali tercatat pada penghujung abad ke-19, kemudian pada tahun 1979 yang masih dikenang sebagian masyarakat, disusul gempa 22 Juni 2013 di Lombok Timur, hingga rangkaian gempa pada 29 Juli, 5 Agustus, 9 Agustus, dan 19 Agustus 2018.

Semua itu menegaskan satu kenyataan: gempa bukanlah tamu yang baru datang ke Lombok. Ia adalah bagian dari dinamika alam yang telah menyertai perjalanan pulau ini sejak dahulu.

Karena itu, pertanyaan yang sesungguhnya bukanlah apakah gempa akan datang kembali. Alam akan terus bergerak sebagaimana hukum yang mengaturnya. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah setiap peristiwa yang telah berlalu mampu kita ubah menjadi pengetahuan, kesiapsiagaan, dan kebijaksanaan.

Pagi Minggu, 29 Juli 2018, bermula seperti pagi-pagi lainnya. Selepas Subuh, sebagian orang bersiap menuju sawah, ke pasar, atau memulai pekerjaan mereka. Anak-anak masih menikmati libur akhir pekan. Tidak ada yang menduga bahwa pagi itu akan membuka rangkaian peristiwa yang mengubah kehidupan ribuan orang.

Ketika bumi berguncang, semuanya berubah dalam hitungan detik.

Orang-orang berhamburan keluar rumah tanpa sempat membawa apa pun. Anak-anak menangis dalam pelukan orang tuanya. Suara orang memanggil anggota keluarga bersahut-sahutan di tengah kepanikan. Dalam waktu yang sangat singkat, rasa aman yang selama ini dianggap biasa mendadak hilang.

Belum sempat masyarakat menenangkan diri, bumi kembali menunjukkan kekuatannya. Gempa yang lebih besar pada 5 Agustus, disusul guncangan pada 9 dan 19 Agustus, membuat kecemasan seolah tidak pernah benar-benar pergi. Setiap getaran membuat orang spontan berlari ke tempat terbuka. Malam-malam berubah menjadi penantian yang panjang.

Banyak keluarga memilih bertahan di luar rumah karena langit terasa lebih menenteramkan daripada dinding yang sewaktu-waktu dapat runtuh.

Di berbagai penjuru Lombok, lapangan, halaman sekolah, pekarangan rumah, masjid, hingga hamparan sawah berubah menjadi tempat berlindung. Tenda-tenda darurat berdiri di mana-mana.

Langit menjadi atap bersama. Dalam situasi seperti itu, sekat-sekat sosial seolah menghilang. Semua dipersatukan oleh harapan yang sama: semoga hari esok membawa kabar yang lebih baik.

Hari-hari berikutnya dipenuhi berbagai keterbatasan. Air bersih menjadi kebutuhan yang sangat berharga. Makanan hangat, selimut, obat-obatan, dan kabar bahwa keluarga berada dalam keadaan selamat menjadi sumber kekuatan yang tak ternilai.

Pada saat-saat seperti itulah manusia menyadari bahwa kebahagiaan sering kali bukan terletak pada banyaknya yang dimiliki, melainkan pada apa yang masih dapat disyukuri.

Namun, di tengah duka yang begitu luas, tumbuh pemandangan yang memberikan harapan. Gotong royong hadir tanpa menunggu perintah. Tetangga menjadi keluarga. Mereka yang memiliki makanan berbagi dengan yang kelaparan. Mereka yang masih memiliki tenaga membantu membersihkan puing, mendirikan tempat berteduh, menenangkan anak-anak, dan menguatkan mereka yang kehilangan orang-orang tercinta.

Bantuan berdatangan dari berbagai penjuru Indonesia. Relawan, tenaga kesehatan, TNI, Polri, organisasi kemasyarakatan, perguruan tinggi, komunitas, pelaku usaha, tokoh agama, dan masyarakat biasa hadir membawa satu pesan yang sama: Lombok tidak menghadapi musibah ini sendirian.

Barangkali di situlah wajah terbaik kemanusiaan tampak paling nyata. Bencana memang memperlihatkan betapa rapuhnya manusia di hadapan alam. Namun, pada saat yang sama, bencana juga memperlihatkan betapa besar kekuatan yang lahir ketika manusia memilih untuk saling menguatkan.

Di tengah reruntuhan bangunan, justru tumbuh fondasi yang lebih kokoh, yaitu kepedulian, solidaritas, dan semangat untuk bangkit bersama.

Delapan tahun telah berlalu. Luka-luka fisik telah banyak dipulihkan. Fasilitas umum dibangun kembali. Kehidupan terus berjalan. Akan tetapi, ada satu hal yang tidak boleh ikut berlalu bersama waktu, yaitu pembelajaran.

Gempa Lombok 2018 mengajarkan bahwa ketangguhan tidak dibangun ketika bencana datang, tetapi jauh sebelumnya. Ketangguhan lahir dari pengetahuan yang diwariskan, dari rumah yang dibangun dengan memperhatikan keselamatan, dari sekolah yang mengajarkan kesiapsiagaan, dari masyarakat yang memahami apa yang harus dilakukan ketika bumi mulai berguncang, dan dari pemerintah yang menempatkan pengurangan risiko bencana sebagai bagian penting dari pembangunan.

Peristiwa itu juga mengingatkan bahwa hidup berdampingan dengan alam menuntut kerendahan hati. Alam bukanlah sesuatu yang dapat ditaklukkan, melainkan dipahami. Gempa, banjir, kekeringan, longsor, maupun letusan gunung api adalah bagian dari kenyataan yang menyertai negeri kepulauan ini.

Kita mungkin tidak dapat mencegahnya, tetapi kita dapat mengurangi risikonya melalui ilmu pengetahuan, tata ruang yang bijaksana, pembangunan yang tangguh, pendidikan kebencanaan, dan budaya kesiapsiagaan yang tumbuh dalam kehidupan sehari-hari.

Pada akhirnya, ukuran ketangguhan sebuah masyarakat bukanlah seberapa sering ia diuji oleh bencana, melainkan seberapa cepat ia bangkit tanpa kehilangan kepedulian terhadap sesama.

Pengalaman Lombok pada tahun 2018 menunjukkan bahwa ketika bangunan-bangunan runtuh, nilai-nilai kemanusiaan justru berdiri semakin tegak. Gotong royong, empati, dan kebersamaan menjadi kekuatan yang menjaga harapan tetap hidup di tengah situasi yang paling sulit.

Kelak akan lahir generasi yang tidak pernah menyaksikan sendiri hari-hari ketika bumi Lombok berguncang tanpa henti. Mereka tidak mengenal tenda-tenda pengungsian, tidak mendengar kepanikan yang memecah malam, dan tidak merasakan kegelisahan setiap kali gempa susulan datang.

Namun mereka berhak mewarisi sesuatu yang jauh lebih berharga daripada cerita tentang sebuah bencana.

Mereka berhak mewarisi pengetahuan.

Mereka berhak mewarisi kesiapsiagaan.

Mereka berhak mewarisi kesadaran bahwa keselamatan bukanlah sesuatu yang hadir dengan sendirinya, melainkan hasil dari ikhtiar yang dipelajari, dipersiapkan, dan dipelihara bersama.

Gempa Lombok 2018 telah menjadi bagian dari sejarah. Sejarah itu tidak dapat diubah, tetapi dapat dimaknai. Selama ingatan terus dirawat, setiap guncangan akan melahirkan kebijaksanaan. Dan selama kebijaksanaan diwariskan, setiap generasi akan lebih siap menjaga kehidupan di pulau yang sama-sama kita cintai.

*Catatan: Tulisan ini merupakan esai reflektif yang disusun berdasarkan ingatan kolektif masyarakat Lombok, berbagai catatan sejarah kegempaan Pulau Lombok, termasuk Babad Lombok, serta dokumentasi dan kajian ilmiah mengenai rangkaian Gempa Lombok tahun 2018.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -

BERDASARKAN TAG
BERDASARKAN KATEGORI