BerandaBerandaBelajar di Kelas Darurat, Siswa SMAN 1 Gunung Sari Akui Gerah dan...

Belajar di Kelas Darurat, Siswa SMAN 1 Gunung Sari Akui Gerah dan Hilang Fokus saat Belajar

Mataram (globalfmlombok.com) – Sejumlah siswa SMA Negeri 1 Gunung Sari, Kabupaten Lombok Barat (Lobar) mengaku gerah hingga hilang fokus belajar di kelas darurat. Kondisi atap kelas yang beratap asbes dan berdinding gorden membuat proses belajar-mengajar rentan terdistraksi.

Mereka terpaksa belajar di ruang darurat setelah enam kelas milik sekolah disegel. Penyegelan itu merupakan imbas kondisi bangunan sekolah yang tak layak pakai dan rentan roboh.
Alhasil, sekolah terpaksa memakai ruangan non-kelas seperti perpustakaan, bekas gedung, bekas musala, hingga kantin sekolah sebagai ruang darurat untuk belajar.

Hijjatun Zamani, siswi kelas XI G, mengaku masih beradaptasi dengan kondisi ruang kelas barunya. Ruang kelas itu sebelumnya adalah bekas musala dengan atap asbes dan berdinding gorden.

Hijja dan teman-temannya sebelumnya belajar di ruang kelas yang penuh fasilitas. Seperti pendingin udara hingga konstruksi bangunan yang nyaman untuk belajar. Namun, setelah disegel, Hijja dan siswa lain harus belajar di ruang darurat yang disediakan sekolah.

“Ruangannya tidak ada tembok, terus kita pakai tirai (gorden). Kalau ada angin, dia debu masuk ke dalam (kelas),” keluhnya.

Hijja mengingat, ruangan yang ia pakai saat ini, dulunya tempat ibadah. Namun, kini ruangan tersebut menjadi tempatnya belajar.

Selain rentan dimasuki debu, ruang yang berdinding gorden itu juga mudah terkena rembesan air hujan. “Dulu ketika dipakai untuk salat, saat hujan merembes airnya,” kenangnya.

Kerentanan air hujan masuk ke dalam kelas turut dibenarkan oleh pihak sekolah. Bahkan, bila hujan lebat, ruangan bekas musala dan kantin itu juga berpotensi terdampak banjir.

Sementara itu, keluhan serupa juga disampaikan Naufal Raditya Azzam, siswa kelas XI H. Ia kaget, mengetahui kelas lamanya tak bisa dipakai dan kini harus memakai kelas darurat dengan dinding triplek. “Kalau siang panas (rasanya) panas,” aku Naufal.

Dengan kondisi demikian, Naufal mengaku sulit konsentrasi ketika belajar. Terlebih, struktur kelas yang semi terbuka membuatnya cepat terdistraksi. “Soalnya anak-anak lewat sini kedengaran semuanya,” tuturnya.

Ia berharap, kelas lamanya segera diperbaiki. Sehingga ia dan teman-temannya tak perlu lagi belajar di ruangan yang terbuka dan rentan terhadap gangguan. “Saya cuma mengharapkan kelas yang lebih baik,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala SMAN 1 Gunung Sari, Musyrifin mengatakan, penyegelan enam kelas milik sekolah itu berimbas pada proses pembelajaran siswa terkendala. Sebab, ruangan yang dapat dimanfaatkan sedikit.

Musyrifin, menjelaskan, pihaknya mesti memanfaatkan ruangan non-kelas sebagai lokasi pembelajaran. Pemanfaatan ruang non-kelas itu terpaksa dilakukan untuk memastikan pembelajaran tetap berlangsung.

“Walaupun tidak bisa dipungkiri memang dengan kondisi dan situasi itu, anak-anak juga banyak keluhan tempatnya mungkin lebih kecil. Kemudian atapnya pendek, berdampak juga panas sehingga apa namanya kurang fokus belajar,” ungkapnya.

Musyrifin sudah melapor ke Dinas Dikpora NTB menyangkut keadaan sekolahnya. Sekolah juga telah mengusulkan revitalisasi lewat Dapodik. Namun, hingga kini belum ada kejelasan terkait program tersebut.

Kondisi itu membuat pihak sekolah gigit jari. Pasalnya, mereka khawatir, kondisi cuaca yang tak menentu, akan mengganggu proses belajar-mengajar guru dan siswa. Mengingat, struktur ruang kelas yang terbuka, rentan terdampak cuaca seperti hujan.

“Yang dikhawatirkan oleh teman-teman ini ketemu musim hujan. Kayak di (ruang kelas) kantin itu walaupun kalau hujan itu banjir dia karena memang rendah. Air sawah di sini juga naik,” pungkasnya. (sib)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -

BERDASARKAN TAG
BERDASARKAN KATEGORI