BerandaBerandaWonder Fest 2026: Transisi Energi di NTB Harus Berkeadilan bagi Perempuan, Difabel...

Wonder Fest 2026: Transisi Energi di NTB Harus Berkeadilan bagi Perempuan, Difabel dan Kelompok Rentan

Mataram (globalfmlombok.com) —

Transisi menuju energi bersih tidak cukup hanya berfokus pada pengembangan teknologi dan pencapaian target penurunan emisi. Proses tersebut juga harus memastikan adanya keadilan dan akses yang setara bagi perempuan, penyandang disabilitas, masyarakat adat, serta kelompok rentan lainnya yang selama ini kerap terpinggirkan dalam pembangunan.

Pesan itu mengemuka dalam pembukaan WONDER Fest 2026 (Women Lead Energy, Women Dare to Speak for Energy Justice) yang berlangsung di Taman Budaya NTB, Mataram, Sabtu (30/5/2026). Festival yang mengusung tema kepemimpinan perempuan dalam transisi energi menuju target Net Zero Emission 2050 tersebut menjadi ruang kolaborasi antara pemerintah, akademisi, komunitas, pelaku usaha, media, dan organisasi masyarakat sipil.

Sekretaris Daerah NTB, Abul Chair, mengatakan perempuan tidak boleh hanya diposisikan sebagai penerima manfaat pembangunan. Lebih dari itu, perempuan harus menjadi bagian penting dalam proses perubahan dan pengambilan keputusan.

“Perempuan tidak hanya menjadi penerima manfaat pembangunan, tetapi juga penggerak perubahan. Kita melihat anak-anak muda yang berani memikirkan masa depan bumi. Saya juga melihat komunitas, akademisi, pelaku usaha, dan pemerintah duduk bersama untuk membangun NTB yang lebih maju, lebih inklusif, dan lebih berkeadilan,” ujarnya.

Menurut Abul Chair, tema yang diangkat dalam WONDER Fest sangat relevan dengan tantangan pembangunan saat ini. Perubahan iklim, kata dia, bukan lagi ancaman yang akan datang di masa depan, melainkan persoalan yang dampaknya sudah dirasakan masyarakat saat ini.

Di tengah tantangan tersebut, NTB dinilai memiliki peluang besar untuk mengembangkan energi terbarukan. Potensi energi surya, biomassa, biogas, dan berbagai sumber energi bersih lainnya menjadi modal penting dalam mendorong pembangunan rendah emisi di daerah.

Namun, ia mengingatkan bahwa transisi energi tidak boleh hanya berorientasi pada aspek teknologi dan investasi semata.

“Transisi energi yang kita bangun harus menghadirkan keadilan dan akses yang setara bagi perempuan, kelompok difabel, masyarakat adat, masyarakat desa, dan seluruh kelompok yang selama ini kurang terwakili,” kata Abul Chair.

Festival yang berlangsung selama dua hari itu menghadirkan beragam kegiatan yang berfokus pada penguatan peran perempuan dalam sektor energi. Mulai dari Tutur Puan, monolog yang mengangkat kisah perempuan dalam transisi energi di NTB, BINERGY atau bincang energi bersama para panelis, hingga Ngelasah, forum diskusi tematik yang melibatkan para ahli.

Selain itu, pengunjung juga dapat melihat pameran teknologi energi terbarukan, mengikuti pemutaran film bertema perubahan iklim dan kepemimpinan perempuan, mengunjungi lapak komunitas dan organisasi yang bergerak di bidang energi berkelanjutan, hingga menikmati pertunjukan seni budaya yang mengangkat isu keadilan energi.

Manajer Program Energi sekaligus Koordinator Program Yayasan Penabulu, Sardi Winata, mengatakan perempuan sering menjadi kelompok yang paling terdampak oleh krisis energi dan perubahan iklim. Namun di sisi lain, perempuan memiliki potensi besar untuk menjadi agen perubahan dalam mewujudkan transisi energi yang berkelanjutan.

Ia menjelaskan, berbagai penelitian menunjukkan keterlibatan perempuan dalam proyek energi bersih mampu menghasilkan solusi yang lebih inklusif dan memberikan dampak sosial yang lebih luas.

“Keberhasilan transisi energi hanya bisa dicapai jika ada partisipasi penuh dan setara dari perempuan serta kelompok rentan lainnya yang selama ini kurang terwakili dalam sektor energi,” ujarnya.

Menurut Sardi, partisipasi perempuan tidak cukup hanya dengan menghadirkan mereka dalam forum-forum diskusi. Yang lebih penting adalah memastikan perempuan memiliki ruang untuk mengidentifikasi kebutuhannya sendiri, terlibat dalam pengambilan keputusan, hingga menjadi bagian dari rantai pasok energi terbarukan.

Ia menilai perempuan di tingkat akar rumput memiliki pengalaman dan pengetahuan lokal yang sangat berharga terkait pengelolaan sumber daya energi. Sayangnya, berbagai inisiatif yang mereka lakukan sering kali kurang terdokumentasi dan jarang mendapat perhatian dalam perumusan kebijakan.

“Energi bukan hanya soal listrik yang menyala. Energi adalah kunci bagi kemandirian dan produktivitas perempuan serta kelompok rentan lainnya,” kata Sardi.

Melalui proyek WE for JET (Women Empowerment for Just Energy Transition), Yayasan Penabulu bersama Forum GEDSI JET dan berbagai aktor pentahelix menyelenggarakan festival tersebut sebagai ruang berbagi pengalaman, memperkuat kolaborasi, serta mendorong akses energi bersih yang lebih merata.(ris)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -


[td_block_social_counter manual_count_facebook="16985" manual_count_twitter="2458" youtube="#" style="style3 td-social-colored" f_counters_font_family="450" f_network_font_family="450" f_network_font_weight="700" f_btn_font_family="450" f_btn_font_weight="700" tdc_css="eyJhbGwiOnsibWFyZ2luLWJvdHRvbSI6IjMwIiwiZGlzcGxheSI6IiJ9fQ==" tiktok="#" manual_count_tiktok="2018" manual_count_instagram="1170" facebook="#" twitter="#" instagram="#" manual_count_youtube="3005"]
BERDASARKAN TAG
BERDASARKAN KATEGORI