BerandaBerandaRenungan Jum’at Berkah | Kritik Tanpa Merendahkan

Renungan Jum’at Berkah | Kritik Tanpa Merendahkan

ADA  sesuatu yang perlu kita renungkan di zaman ketika setiap orang memiliki mimbar di tangannya.

Dahulu, seseorang mungkin membutuhkan ruang, surat kabar, atau forum untuk menyampaikan kritik. Kini, cukup dengan sebuah telepon genggam, satu kalimat dapat meluncur ke ribuan orang dalam hitungan detik.

Kata-kata dapat menjadi nasihat, tetapi dapat pula berubah menjadi cercaan. Kritik dapat menjadi cahaya, tetapi dapat pula menjelma api yang membakar kehormatan.

Di tengah derasnya arus itu, Allah mengingatkan sebuah prinsip yang sangat mendasar:

“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam.” (QS. Al-Isra’: 70)

Perhatikan kalimat itu: Bani Adam.

Tidak disebut hanya orang yang kita sukai. Tidak hanya orang yang sepemikiran dengan kita. Tidak hanya rakyat biasa. Tidak pula hanya orang yang sedang memegang jabatan.

Bani Adam adalah manusia.

Maka seorang pemimpin yang kita kritik pun tetap manusia yang memiliki kehormatan sebagai makhluk Allah. Jabatan boleh dikritik. Kebijakan boleh dipersoalkan. Keputusan boleh dikoreksi. Bahkan kesalahan wajib diluruskan jika memang terbukti.

Tetapi kehormatan kemanusiaannya tidak serta-merta gugur hanya karena ia melakukan kesalahan atau karena kita tidak menyukai kebijakannya.

Di sinilah Islam mengajarkan keseimbangan.

Allah tidak pernah mengajarkan kita menjadi manusia yang diam terhadap ketidakadilan. Bahkan Al-Qur’an memerintahkan orang beriman untuk berdiri tegak dalam keadilan, sekalipun kesaksian itu berhadapan dengan diri sendiri, keluarga, kaya ataupun miskin.

Artinya, kritik bukan musuh agama. Yang perlu dijaga adalah cara, niat, dasar, dan batasnya.

Kritik yang lahir dari kepedulian akan mencari perbaikan. Kritik yang lahir dari kebencian sering kali hanya mencari kehancuran.

Kritik bertanya, “Apa yang keliru dan bagaimana memperbaikinya?”

Caci maki bertanya, “Bagaimana saya dapat mempermalukannya?”

Keduanya mungkin sama-sama keras. Tetapi keduanya tidak sama di hadapan akhlak.

Allah berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.” (QS. Al-Ahzab: 70)

Dan dalam Surah Al-Hujurat, Allah melarang manusia mengolok-olok, mencela, serta memanggil orang lain dengan gelar-gelar yang buruk._

Maka ketika mengkritik seorang pemimpin, kita dapat mengatakan:

“Kebijakan ini perlu dievaluasi karena datanya menunjukkan…”

bukan:

“Pemimpin ini memang tidak becus.”

Kita dapat mempertanyakan keputusan, tanpa mencabik-cabik martabat orangnya.

Kita dapat membongkar fakta, tanpa mengarang tuduhan.

Kita dapat berbeda pendapat, tanpa kehilangan adab.

Kita dapat bersikap tegas, tanpa menjadi kasar.

Rasulullah SAW bahkan memasukkan nasihat kepada para pemimpin kaum Muslimin sebagai bagian dari agama.

Jadi, diam terhadap kesalahan bukan selalu kebajikan.

Tetapi menyampaikan kritik tanpa adab juga bukan keberanian.

Keduanya membutuhkan jalan tengah. Al-Qur’an menyebut umat Islam sebagai ummatan wasathan – umat yang pertengahan dan berimbang (QS. Al-Baqarah: 143).

Prinsip wasathiyah mengajarkan agar kita tidak jatuh pada sikap berlebihan: tidak membenarkan semua yang dilakukan pemimpin, tetapi juga tidak membenci seluruh dirinya karena satu kesalahan.

Dan ungkapan “sebaik-baik perkara adalah yang pertengahan” memang populer dalam literatur hikmah, tetapi lebih aman menjadikannya sebagai ungkapan tentang prinsip keseimbangan, bukan menyandarkannya begitu saja sebagai sabda Nabi tanpa memperhatikan status riwayatnya.

Di zaman media sosial, mungkin kita perlu bertanya kepada diri sendiri sebelum menekan tombol kirim:

Apakah yang saya tulis benar?

Apakah saya memiliki dasar?

Apakah kritik ini memperbaiki atau sekadar mempermalukan?

Apakah saya sedang membela kebenaran, atau sedang melampiaskan kebencian?

Sebab satu jempol dapat menulis dalam beberapa detik, tetapi akibatnya dapat tinggal jauh lebih lama.

Rasulullah SAW bersabda bahwa seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya Maka marilah kita menjaga lisan, termasuk lisan yang telah berubah menjadi tulisan di layar.

Kritiklah kebijakannya jika salah.

Koreksilah keputusannya jika keliru.

Tanyakan pertanggungjawabannya jika perlu.

Tetapi jangan kehilangan adab hanya karena merasa sedang berada di pihak yang benar.

“Kebenaran tidak membutuhkan caci maki untuk menjadi benar; dan kritik yang bermartabat tidak perlu merendahkan manusia untuk membela kebenaran.”

Ya Allah, jadikan lisan dan tulisan kami sebagai jalan kebenaran, bukan jalan penghinaan. Beri kami keberanian untuk menyampaikan yang benar, tetapi juga kelembutan untuk menjaga kehormatan sesama. Jauhkan kami dari fitnah, prasangka, dan kata-kata yang melampaui batas. Ajarkan kami mengoreksi tanpa membenci, mengkritik tanpa merendahkan, dan berbeda tanpa kehilangan persaudaraan.

Aamiin, Yaa Rabbal ‘Alamiin

Dr.4KA

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -

BERDASARKAN TAG
BERDASARKAN KATEGORI