“Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu. Tidaklah orang yang sesat itu akan membahayakanmu apabila kamu telah mendapat petunjuk.” (QS. Al-Ma’idah: 105).
Para ulama menjelaskan bahwa ayat ini bukan berarti mengabaikan kewajiban mengajak kepada kebaikan. Sebaliknya, ayat ini mengingatkan bahwa memperbaiki diri sendiri adalah amanah yang tidak boleh dikalahkan oleh kesibukan menghakimi atau membandingkan diri dengan orang lain.
Al-Hasan al-Basri berkata, “Seorang mukmin adalah pengawas bagi dirinya sendiri. Ia menghisab dirinya karena Allah sebelum Allah menghisabnya.”
Nasihat ini terasa semakin relevan hari ini. Kita begitu mudah mengomentari kesalahan orang lain, tetapi sering lupa memeriksa keadaan hati sendiri. Kita lebih cepat menilai langkah orang lain daripada bertanya, sudah sejauh mana langkah kita menuju Allah.
Padahal setiap manusia memiliki lintasannya sendiri. Tidak semua orang memulai dari garis yang sama. Tidak semua orang menghadapi tanjakan yang sama. Allah Yang Maha Adil tidak menilai siapa yang paling cepat dibanding orang lain, tetapi siapa yang paling sabar, paling istiqamah, dan paling ikhlas menjalani amanah yang diberikan kepadanya.
Karena itu, jangan biarkan langkah kita goyah hanya karena terlalu sering menoleh ke kanan dan ke kiri. Jika sesekali harus menoleh, menolehlah untuk mengulurkan tangan kepada saudara yang terjatuh, bukan untuk menghitung seberapa jauh mereka telah melangkah.
“Jangan habiskan umurmu menghitung langkah orang lain, sementara Allah sedang menunggu sejauh mana engkau melangkah menuju-Nya.”
Pada akhirnya, setiap pelari akan mencapai garis akhirnya masing-masing. Tidak ada yang dapat bertukar lintasan, memikul langkah orang lain, atau meminta tambahan waktu ketika perlombaan telah usai.
Saat itulah yang ditanya bukan seberapa jauh kita mengikuti langkah manusia, tetapi seberapa sungguh-sungguh kita menapaki jalan yang Allah amanahkan kepada kita. Sebab kemenangan sejati bukanlah menjadi yang paling cepat di dunia, melainkan tiba di hadapan Allah dengan hati yang bersih, amal yang ikhlas, dan akhir kehidupan yang husnul khatimah.
Semoga Allah SWT menjaga hati kita dari penyakit suka membandingkan diri, menguatkan langkah kita untuk terus istiqamah di jalan-Nya, serta mempertemukan kita dengan garis akhir yang indah, yaitu wafat dalam iman, membawa amal saleh, dan memperoleh ridha-Nya.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
DR 4KA


