Reporter : Zainudin Syafari
KAWASAN tambang terbuka Batu Hijau, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat tak pernah sepi dari suara deru mesin-mesin raksasa. Ratusan truk monster meliuk di antara galian berukuran besar, mengangkut ratusan ribu ton batuan saban harinya. Urat nadi pengerukan batuan di fase ini pun makin berdenyut kencang.
Denyut aktivitas raksasa tambang PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) itu bergetar langsung hingga ke angka-angka statistik makro kawasan. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Barat mencatat, perekonomian NTB pada triwulan II-2026 tumbuh meyakinkan sebesar 7,41 persen secara tahunan (year-on-year). Angka ini menempatkan NTB di urutan kedua nasional dalam hal laju pertumbuhan ekonomi daerah, persis di bawah Maluku Utara yang mencatatkan pertumbuhan 15,35 persen.
Pendorong utamanya tak lain adalah lonjakan drastis pada sektor pertambangan dan penggalian yang tumbuh hingga 30,57 persen.
“Di triwulan II, share terbesar pertumbuhan ekonomi NTB diduduki sektor pertanian sebesar 21,93 persen, disusul pertambangan sebesar 20,02 persen. Pertumbuhan pertambangan ini didorong oleh peningkatan produksi konsentrat tembaga,” ujar Kepala BPS NTB, Wahyudin, dalam keterangan resminya pada awal Agustus 2026.
Dua Wajah Ekonomi NTB
Jika angka pertambangan dikeluarkan dari kalkulasi PDRB, perekonomian Bumi Gora seperti mendadak kempis. BPS mencatat pertumbuhan ekonomi NTB tanpa sektor tambang hanya menyentuh angka 3,71 persen di triwulan II-2026. Selisih yang terjal ini mempertegas fakta bahwa penggerak utama akselerasi ekonomi daerah masih ditopang oleh industri ekstraktif.
Secara struktur PDRB atas dasar harga berlaku pada triwulan II-2026, perekonomian NTB masih didominasi oleh Lapangan Usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan (21,93 persen), disusul Pertambangan dan Penggalian (20,02 persen), Perdagangan Besar dan Eceran (13,94 persen), serta Konstruksi (8,51 persen).
Dominasi pertambangan kian telanjang bila meneropong postur perdagangan luar negeri kawasan ini. Nilai ekspor NTB sepanjang Januari hingga Juni 2026 menembus angka fantastis: 1,35 miliar dolar AS. Angka tersebut melonjak hingga 561,24 persen dibandingkan periode sama tahun 2025 yang hanya mencatatkan 204,45 juta dolar AS.
Dari total ekspor semester I-2026 itu, porsi Barang Galian/Tambang Non-Migas mencakup 78,09 persen atau senilai 1,05 miliar dolar AS, disusul Tembaga sebesar 227,16 juta dolar AS (16,80 persen). Jika digabungkan, komoditas berbasis pertambangan menguasai hampir 95 persen total nilai ekspor NTB.
Berkah Fiskal dan Relaksasi Ekspor
Lonjakan aktivitas tambang Batu Hijau berimbas manis pada kas negara. Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Mataram mencatat realisasi penerimaan kepabeanan dan cukai semester I-2026 mencapai Rp 1,46 triliun.
Pemeriksa Bea Cukai Ahli Pertama KPPBC Mataram, Hasbi as Shiddiqy, mengungkapkan bahwa penerimaan ini meledak drastis dipicu oleh kenaikan Bea Keluar yang tumbuh hingga 8.245,10 persen secara tahunan.
“Pemberian izin ekspor bagi PT AMMAN hingga 30 April 2026 memicu lonjakan penerimaan Bea Keluar yang sangat tinggi, sejalan dengan tingginya realisasi ekspor konsentrat tembaga pada rentang Januari hingga April 2026,” papar Hasbi.
Namun, grafik positif fiskal ini bukan tanpa catatan. Bea Masuk justru terpangkas 31,67 persen akibat penurunan volume impor bahan baku, bahan penolong, serta barang modal pertambangan. Penurunan impor barang modal ini menandakan bahwa fase konstruksi intensif pada proyek-proyek besar AMMAN mulai melandai, bergeser menuju tahap operasional penuh.
Transisi Smelter dan Lompatan Produksi
Lompatan performa AMMAN tahun 2026 ini sejatinya telah diprediksi. Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI pada pertengahan Juli 2026, Presiden Direktur PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT), Rachmat Makkasau, membeberkan dinamika operasional perusahaan.
Rachmat menjelaskan bahwa penurunan produksi konsentrat pada 2025 (yang hanya mencapai 453 ribu ton) disebabkan oleh fokus perusahaan melakukan pengupasan batuan penutup (stripping) pada Fase 8.
“Pada tahun 2025 kami lebih banyak mengeluarkan energi untuk mengangkat batuan buangan (overburden) ketimbang mengambil bijih (ore). Namun masuk tahun 2026 dan 2027, produksi kembali naik signifikan karena kami mulai banyak memproses bijih utama,” jelas Rachmat.
Memasuki tahun 2026, AMMAN memproyeksikan target produksi konsentrat tembaga melambung hingga lebih dari 1,2 juta ton. Tak hanya memproduksi konsentrat, beroperasinya fasilitas peleburan (smelter) bernilai miliaran dolar milik AMMAN menandai era baru hilirisasi di NTB.
Menggunakan teknologi double flash technology—serupa dengan yang diterapkan di PT Freeport Indonesia—smelter AMMAN didesain memiliki kapasitas input 900.000 ton konsentrat per tahun. Dari fasilitas ini, AMMAN memproyeksikan luaran tahunan berupa: katoda tembaga: 220.000 ton, emas: 18 ton, perak: 55 ton, selenium: 77 ton, asam sulfat (produk sampingan): 830.000 ton.
Untuk sepanjang tahun 2026 sendiri, target operasional smelter dipatok menghasilkan 162.000 ton katoda tembaga, 16 ton emas, 45 ton perak, 91 ton selenium, 1,96 ton telurium, serta 572.000 ton asam sulfat. Pada tahapan awal tahun 2026, perusahaan mencatatkan realisasi produksi sebesar 46.000 ton katoda tembaga, 3,7 ton emas, dan 14,6 ton perak.
“Prioritas utama seluruh produk pemurnian ini adalah untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik. Namun, seiring dengan maksimalnya kapasitas produksi ke depan, kami juga merencanakan langkah ekspor, khususnya untuk katoda tembaga,” tambah Rachmat.
Multiplier Effect dan Realita Sosial
Dampak makro-ekonomi dari keberadaan AMMAN tak hanya terekam dalam laporan keuangan daerah. Hasil kajian Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) bertajuk ‘Analisis Dampak Makroekonomi dan Sosial Ekonomi PT Amman Mineral Nusa Tenggara’ memotret daya jangkau operasional perusahaan terhadap perekonomian nasional dan lokal.
Kajian yang dirilis Maret 2026 dengan metode Inter-Regional Input-Output (IRIO) tersebut mencatat, selama periode 2018 hingga 2024, AMMAN memberikan kontribusi pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB) nasional sebesar Rp 173,4 triliun (rata-rata Rp 24,8 triliun per tahun), atau menyumbang sekitar 0,13 persen dari PDB berlaku nasional tahun 2024.
Dari aspek ketenagakerjaan, aktivitas rantai pasok dan operasional AMMAN menciptakan rata-rata 55 ribu lapangan kerja per tahun di tingkat nasional, dengan puncaknya menembus 105 ribu tenaga kerja pada 2024. Total pendapatan rumah tangga yang tercipta dari rantai ekonomi ini mencapai Rp 67,6 triliun. Sementara kontribusi fiskal total—meliputi pajak, royalti, PNBP, hingga dampak tak langsung—mencapai Rp 39,05 triliun. Di sektor eksternal, ekspor senilai USD 10,29 miliar berhasil menyumbang penghematan devisa bersih sebesar USD 7,66 miliar.
Kepala Kajian Natural Resources and Energy Studies LPEM FEB UI, Uka Wikarya, menegaskan bahwa efek berganda (multiplier effect) pertambangan menjangkau hingga ke unit ekonomi terkecil. “Kebutuhan pasokan makanan bagi puluhan ribu karyawan, misalnya, menghidupkan rantai usaha petani, peternak, dan penyedia bahan pangan lokal. Begitu pula sektor logistik dan jasa penyokong lainnya,” terang Uka.
Namun, angka-angka statistik ini berhadapan dengan ekspektasi tinggi masyarakat lokal yang hidup berdampingan langsung dengan dinding-dinding tambang.
Dalam RDP di Senayan, suara kritis muncul dari para legislator. Anggota Komisi XII DPR RI dari Fraksi Partai NasDem, Irsan Sosiawan Gading, mengingatkan agar gelontoran angka pertumbuhan ekonomi tak membuat perusahaan lupa atas tanggung jawab sosialnya.
“Peningkatan produksi ini memang sesuai harapan bangsa, dan kami mengapresiasi kontribusinya pada negara. Namun yang perlu saya tekankan adalah masalah social community di sekitar tambang. Program kemasyarakatan, baik pendidikan maupun kesehatan, harus tepat sasaran agar benar-benar dirasakan manfaatnya secara nyata oleh warga setempat,” tegas Irsan.
Mesin Signifikan Akselerasi Ekonomi NTB
Lonjakan produksi di Tambang Batu Hijau menjadi penopang utama lompatan pertumbuhan ekonomi Provinsi NTB sepanjang tahun 2026. Bank Indonesia (BI) Provinsi NTB memperkirakan laju perekonomian daerah ini pada 2026 di kisaran 7,1 hingga 7,9 persen secara tahunan (year-on-year), melesat jauh di atas rata-rata pertumbuhan nasional.
Mengutip Laporan Perekonomian Provinsi NTB edisi Mei 2026, akselerasi ini bersumber dari berlanjutnya siklus produksi tembaga pada fase tambang ber-ore grade (kualitas bijih) lebih tinggi. BI NTB juga mengutip Laporan Kinerja Akhir Tahun PT AMMAN yang menyatakan target produksi konsentrat tembaga tahun 2026 dipatok mencapai 900 ribu dry metric ton (dmt). Angka ini meroket 101,54 persen dibandingkan pencapaian tahun 2025.
Peningkatan target ini dicapai seiring tuntasnya transisi penambangan dari Fase 7 menuju Fase 8 yang kaya kandungan logam. Kapasitas produksi dipastikan makin solid pada paruh kedua tahun 2026 seiring beroperasinya fasilitas konsentrator baru berkapasitas 1,3 kali lebih besar dari fasilitas eksisting.
Di rantai hilir, pengoperasian fasilitas pemurnian (smelter) dan Precious Metal Refinery (PMR) menjadi benteng penyerapan konsentrat tembaga di dalam negeri. Optimalisasi hilirisasi ini menjaga kontribusi sektor pertambangan dan industri pengolahan tetap membumbung tinggi, bahkan setelah skema relaksasi ekspor konsentrat resmi berakhir per April 2026.
Kontribusi besar pertambangan tercermin nyata pada realisasi ekonomi triwulan II-2026 yang tumbuh 7,41 persen (yoy), dengan laju kumulatif (c-to-c) mencapai 10,42 persen. Angka tersebut menandai pemulihan ekonomi yang sangat signifikan dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Dari total pertumbuhan 7,41 persen itu, sektor pertambangan memberi sumbangan terbesar mencapai 4,18 poin persentase, sementara gabungan seluruh sektor non-tambang menyumbang 3,23 poin persentase.
Dominasi tersebut mendapat catatan dari Ketua Komisi III DPRD NTB, Sambirang Ahmadi. Secara umum ia memberikan apresiasi atas lompatan performa ekonomi daerah yang dimotori industri ekstraktif, namun ia mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan struktur ekonomi. Ia juga menekankan perlunya evaluasi mendalam agar lompatan angka statistik ini bertransmisi menjadi kesejahteraan nyata bagi masyarakat NTB.
“Pertumbuhan ekonomi NTB sebesar 7,41 persen pada Triwulan II-2026 adalah kabar baik dan capaian positif yang patut kita apresiasi, apalagi berada jauh di atas pertumbuhan nasional yang tercatat 5,29 persen. Secara kumulatif, ekonomi NTB sepanjang Semester I-2026 bahkan tumbuh 10,42 persen. Namun, capaian tersebut harus dibaca lebih dalam dengan melihat struktur dan sumber pertumbuhannya,” ujar Sambirang.
Sambirang menyoroti ketimpangan laju antara sektor ekstraktif dan sektor riil berbasis masyarakat. Meskipun pertanian masih menjadi lapangan usaha terbesar di NTB dengan pangsa PDRB 21,93 persen, pertumbuhannya pada Triwulan II-2026 hanya mencapai 2,54 persen—jauh tertinggal dari pertambangan yang melonjak 30,57 persen.
“Tambang masih menjadi mesin utama pertumbuhan ekonomi NTB. PR kita adalah bagaimana memperkuat dan mengakselerasi mesin pertumbuhan non-tambang—seperti pertanian, industri pengolahan, perdagangan, pariwisata, UMKM, perikanan, peternakan, dan sektor jasa—agar ketika tambang mengalami turbulensi, pertumbuhan NTB tidak ikut terjun alias tetap terjaga positif,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia mendesak agar besarnya nilai tambah pertambangan diintegrasikan langsung dengan ekosistem perekonomian lokal melalui penguatan komponen lokal dan keberlanjutan investasi produktif.
“Besarnya kontribusi pertambangan harus digunakan sebagai leverage untuk menggerakkan ekonomi lokal. Wajib hukumnya tambang itu menghidupkan rantai pasok lokal. Harus terukur seberapa besar aktivitas pertambangan menciptakan tenaga kerja lokal, pengadaan, logistik, hingga peluang usaha bagi masyarakat NTB. Pemerintah perlu memiliki peta rantai pasok yang jelas agar pertumbuhan sektor tambang dapat ditransmisikan menjadi pertumbuhan sektor-sektor lain,” paparnya.
Di tengah dinamika global yang tak pasti, industri pertambangan telah membuktikan perannya bukan hanya sebagai pilar penyokong angka statistik, melainkan sebagai mesin penggerak utama yang membuka jalan bagi hilirisasi, menyerap ribuan tenaga kerja, dan memberi efek berganda bagi ekosistem usaha lokal.(*)


