Selong (globalfmlombok.com) – Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Nusa Tenggara Barat (NTB) menyebut tren kasus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada ternak di wilayah NTB, khususnya Lombok Timur (Lotim) mulai menunjukkan penurunan.
Kepala Disnakeswan NTB, Muhamad Riadi, S.P., M.Ec.Dev., didampingi Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Masyarakat Veteriner (Kesmavet) Disnakeswan Lombok Timur, drh. Hultatang, mendatangi langsung peternak di Desa Tirtanadi, Kecamatan Labuhan Haji, Lombok Timur, Selasa (22/9/2026).
Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat kondisi ternak milik Amaq Isnawati di Dusun Mungguk yang sebelumnya diduga mengalami kematian akibat PMK.
Saat memeriksa kandang, Riadi menemukan satu ekor sapi yang masih menunjukkan indikasi terpapar PMK. Namun, kondisi sapi tersebut disebut mulai membaik karena masih memiliki nafsu makan yang normal. “Ini sapi memang baru indikasi. Tapi makannya sudah normal. Insyaallah sehat,” kata Riadi.
Menurutnya, peternak telah mengambil langkah tepat dengan segera menghubungi petugas medis hewan ketika sapi mulai menunjukkan gejala. Sapi tersebut kemudian mendapatkan penanganan dan obat-obatan untuk membantu memperkuat kondisi fisiknya.
Riadi menegaskan, ternak yang dilaporkan mati belum bisa langsung disimpulkan meninggal akibat PMK. Kepastian penyebab kematian harus berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium.
Ia menjelaskan, pemeriksaan dapat dilakukan dengan mengambil sampel dari ternak untuk kemudian diuji di laboratorium guna memastikan ada atau tidaknya virus PMK.
Riadi menyebut, berdasarkan laporan yang diterima Disnakeswan NTB, kasus ternak yang terindikasi PMK di Lombok Timur mengalami penurunan.
“Di Lombok Timur, di laporan itu pada bulan September ada 400 terindikasi. Kemudian di bulan September ini 199, jadi turun,” jelasnya.
Menurut Riadi, peningkatan kasus pada periode sebelumnya salah satunya berkaitan dengan tingginya mobilitas ternak. Aktivitas masyarakat yang meningkat, termasuk menjelang berbagai kegiatan dan tradisi Maulid, turut mendorong perpindahan ternak antardaerah.
Mobilitas tersebut mencakup aktivitas jual beli maupun membawa ternak dari satu wilayah ke wilayah lainnya. Kondisi itu dinilai dapat meningkatkan risiko penyebaran virus apabila tidak disertai langkah pencegahan.


