Mataram (globalfmlombok.com) – PERTUMBUHAN ekonomi Nusa Tenggara Barat (NTB) pada triwulan pertama tahun 2026 mengalami lonjakan tajam dibanding periode yang sama tahun 2025. Sektor pertambangan masih menjadi penopang utama, terutama setelah adanya izin ekspor konsentrat tembaga milik PT Amman Mineral Nusa Tenggara selama enam bulan, terhitung sejak November 2025 hingga April 2026.
Namun, setelah izin ekspor tersebut berakhir, pertumbuhan ekonomi NTB diperkirakan berpotensi mengalami kontraksi pada triwulan berikutnya.
Asisten II Setda NTB, Lalu Mohammad Faozal mengatakan persoalan sektor tambang dan kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi tidak bisa dibahas secara sederhana. Sebab, kebijakan penghentian ekspor konsentrat merupakan kebijakan pemerintah pusat yang berkaitan dengan percepatan penyelesaian smelter.
“Nanti kalau saya bicara, wah ini aman kita suruh minta izin untuk ekspor lagi, salah juga. Karena di situ ada kebijakan bahwa Amman Mineral harus menyelesaikan secepatnya soal smelter,” ujarnya, Kamis (21/5/2026).
Menurut Faozal, penghentian ekspor konsentrat memang akan berdampak terhadap angka pertumbuhan ekonomi daerah. Namun di sisi lain, kondisi tersebut diharapkan mendorong percepatan optimalisasi smelter.
“Ketika tambang ini berpengaruh terhadap angka pertumbuhan karena tidak ada ekspor konsentrat di periode berikutnya, Aman akan lebih mempercepat smelter,” katanya.
Saat ini, operasional smelter AMNT disebut masih berada di kisaran 80 persen. Pemerintah daerah berharap fasilitas pengolahan tersebut dapat segera beroperasi optimal agar tetap mampu memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.
Meski demikian, Faozal menilai potensi perlambatan ekonomi pada triwulan II tidak akan terlalu memengaruhi daya beli masyarakat. Sebab, selain sektor tambang, sektor pertanian juga mencatat pertumbuhan positif hingga di atas 10 persen pada triwulan pertama tahun ini.
“Walaupun menurut BPS ketika kita terkontraksi ternyata daya beli juga tidak terlalu berpengaruh akibat dari angka pertumbuhan,” katanya.
Sebagai bagian dari Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) NTB, pihaknya kini fokus menjaga stabilitas perekonomian masyarakat agar tetap bergerak di tengah fluktuasi sektor pertambangan.
“Tambang itu dia akan bekerja sesuai dengan ritmenya yang akan mem-push untuk menyelesaikan smelter. Dan yang kedua, AMNT juga tidak bisa kita paksakan untuk melakukan ekspor karena regulasinya memang menyelesaikan smelter,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) NTB, Dr. H. Wahyudin, MM memperkirakan laju pertumbuhan ekonomi daerah pada triwulan II-2026 akan melambat. Kondisi itu dipengaruhi menurunnya kontribusi sektor pertanian pasca panen raya serta belum adanya izin ekspor konsentrat tambang.
Menurut Wahyudin, meski ekspor masih tertahan, operasional smelter di NTB tetap berjalan karena masih terdapat pasokan produksi untuk kebutuhan pengolahan domestik. Hanya saja, kapasitas produksi belum dapat berjalan maksimal akibat keterbatasan ruang ekspor.
Pada triwulan pertama, pertumbuhan ekonomi NTB ditopang kuat sektor pertanian yang tumbuh lebih dari 10 persen, seiring berlangsungnya panen raya pada awal tahun. Namun kontribusi tersebut diperkirakan mulai menurun sejak Maret hingga April seiring berakhirnya masa panen.
“Pertanian kemarin sangat menopang, pertumbuhannya lebih dari 10 persen. Tapi setelah panen raya berakhir, tentu kontribusinya mulai menurun,” katanya. (era)


