BerandaBerandaTitiek Soeharto Akui ke Sembalun sebagai Napak Tilas Bapak dan Ibunya 39...

Titiek Soeharto Akui ke Sembalun sebagai Napak Tilas Bapak dan Ibunya 39 Tahun Silam

Selong (globalfmlombok.com) – Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Hariyadi alias Titiek Soeharto, hadir di Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), Rabu (19/8/2026). Kedatangannya ke kawasan sentra pertanian bawang putih tersebut diakuinya sebagai napak tilas kehadiran Presiden Kedua Soeharto ayahanda dan Siti Hartinah (Bu Tien) ibundanya di Sembalun 39 tahun lalu.

Kehadiran Titiek Soeharto bertepatan dengan kegiatan panen bawang putih di Sembalun yang menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan nasional.

Titiek Soeharto mengatakan, momentum tersebut memiliki makna tersendiri, karena Sembalun memiliki sejarah panjang dalam pengembangan komoditas bawang putih di Indonesia.

Ia mengapresiasi keterlibatan Polri dalam mendukung program ketahanan pangan, termasuk melalui penanaman bawang putih secara serentak.
“Atas nama Komisi IV DPR RI, kami memberikan apresiasi kepada Polri. Ini merupakan langkah nyata dalam mendukung ketahanan pangan dan swasembada pangan,” ujarnya.

Menurutnya, upaya mewujudkan swasembada pangan tidak cukup hanya dilakukan melalui penanaman. Pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan harus memastikan produksi berkelanjutan, penyerapan hasil panen, hingga kepastian pasar bagi petani.

Titiek mengingatkan bahwa Indonesia pernah mencapai kejayaan dalam produksi bawang putih pada 1994-1995. Saat itu, produksi dalam negeri disebut mampu memenuhi kebutuhan nasional. Namun, kondisi tersebut berubah, sehingga saat ini sekitar 90 persen kebutuhan bawang putih Indonesia masih dipenuhi melalui impor.

“Pertanyaan sederhananya, mengapa kita tidak mampu lagi swasembada? Kita sudah pernah swasembada,” kata politisi Partai Gerindra ini.

Karena itu, target untuk kembali mencapai swasembada bawang putih dalam tiga tahun mendatang dinilai membutuhkan dukungan dan kerja keras seluruh pihak. Tidak hanya pemerintah pusat dan daerah, tetapi juga BRIN, BUMN, dunia usaha, perguruan tinggi, Polri, serta elemen lainnya.

Komisi IV DPR RI, katanya, akan terus mengawal kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan program ketahanan pangan.

Ia menilai penanaman bawang putih secara serentak harus menjadi gerakan yang berkelanjutan dan bukan sekadar kegiatan seremonial. “Penanaman bawang putih serentak bukan seremonial, tetapi harus berkelanjutan,” tegasnya.

Titiek juga mendorong agar Sembalun terus diperkuat sebagai salah satu sentra utama produksi bawang putih nasional. Di sisi lain, daerah-daerah lain yang memiliki potensi serupa perlu dikembangkan agar basis produksi bawang putih Indonesia semakin luas.

Selain peningkatan produksi, aspek tata niaga juga menjadi perhatian. Menurutnya, pemerintah harus memastikan hasil produksi terserap dengan baik sehingga petani mendapatkan kepastian pasar dan keuntungan yang layak.

“Pastikan petani dapat manfaat serta keuntungan yang layak. Kita harus membangun ekosistem bawang putih yang kuat dari hulu sampai hilir,” ujarnya.

Ia menekankan, swasembada pangan tidak boleh hanya diukur dari seberapa banyak bawang putih yang ditanam. Yang tidak kalah penting adalah memastikan petani memperoleh kesejahteraan dari usaha pertanian tersebut. “Swasembada tak cukup hanya menanam, tapi pastikan petani bisa senang,” katanya.

Titiek berharap semangat untuk mengembalikan kejayaan bawang putih nasional dapat dibangun kembali. Dengan penguatan produksi, kepastian pasar, serta sinergi seluruh pihak, Sembalun diharapkan menjadi salah satu motor utama dalam mewujudkan swasembada bawang putih Indonesia.

Ia juga menegaskan perlunya memastikan produksi bawang putih memenuhi kebutuhan dari sisi jumlah maupun mutu, sekaligus memperkuat sistem penyerapan hasil agar petani tidak kesulitan menjual produksinya. “Bangun kembali semangat mewujudkan swasembada pangan bawang putih,” demikian pesannya. (rus)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -

BERDASARKAN TAG
BERDASARKAN KATEGORI