BerandaBerandaRenungan Jum'at Berkah | Bahagia Mendengar Mereka Mengaji

Renungan Jum’at Berkah | Bahagia Mendengar Mereka Mengaji

ADA suara-suara yang sesungguhnya bukan gangguan, melainkan tanda bahwa kehidupan sedang tumbuh.

Salah satunya adalah suara anak-anak belajar membaca Al-Qur’an. Di sebuah kompleks perumahan, ketika beberapa anak berkumpul di sebuah rumah untuk belajar mengaji, terdengarlah suara mereka membaca huruf demi huruf, ayat demi ayat.

Kadang belum lancar. Kadang terdengar berulang-ulang. Sesekali suara mereka meninggi, diselingi tawa dan canda ketika waktu belajar selesai.

Bagi sebagian orang tua, suara itu menghadirkan kebahagiaan. Ada rasa syukur melihat anak-anak tumbuh dekat dengan Al-Qur’an.

Tetapi bagi sebagian yang lain, suara itu mungkin terasa mengganggu. Dianggap bising, terlalu ramai, atau mengurangi kenyamanan setelah seharian bekerja.

Di sinilah kita perlu belajar melihat sesuatu bukan hanya dari telinga, tetapi juga dari hati.

Sebab suara anak-anak yang sedang belajar Al-Qur’an sesungguhnya adalah suara sebuah generasi yang sedang dibentuk.

Rasulullah SAW bersabda:

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari).

Betapa mulianya kegiatan itu. Anak-anak sedang belajar membaca kalam Allah, sementara orang tua dan lingkungan sedang menyaksikan tumbuhnya benih kebaikan.

Allah SWT berfirman:

“Dan apabila Al-Qur’an dibacakan, maka dengarkanlah dan diamlah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-A’raf: 204).

Ayat ini pada konteks tafsirnya memiliki pembahasan khusus terkait mendengarkan bacaan Al-Qur’an, tetapi ia juga mengajarkan sebuah adab yang indah: Al-Qur’an tidak semestinya diperlakukan sebagai suara biasa.

Rasulullah SAW bahkan menggambarkan keberkahan majelis yang digunakan untuk mengingat Allah. Orang-orang yang berkumpul dalam majelis zikir dikelilingi malaikat, diliputi rahmat, dan diturunkan kepada mereka ketenangan. (HR. Muslim).

Maka, bukankah semestinya kita merasa bahagia ketika di lingkungan tempat tinggal kita terdapat anak-anak yang setiap hari belajar membaca Al-Qur’an?

Bayangkan sebuah kompleks yang sunyi dari suara anak-anak mengaji. Tidak ada lagi suara terbata-bata mengeja huruf hijaiyah. Tidak ada lagi anak-anak yang belajar panjang-pendek bacaan. Tidak ada lagi orang tua yang mengantar dan menjemput mereka. Mungkin lingkungan terasa lebih tenang. Tetapi apakah itu benar-benar lebih baik?

Ketenangan sebuah lingkungan bukan hanya karena tidak ada suara. Ketenangan yang sesungguhnya adalah ketika di dalamnya tumbuh anak-anak yang mengenal Tuhan, mengenal Al-Qur’an, dan kelak memahami adab terhadap sesama.

Namun, ada keseimbangan yang juga harus dijaga.

Islam memuliakan Al-Qur’an, tetapi Islam juga memuliakan tetangga. Rasulullah SAW bersabda bahwa “Jibril terus-menerus berwasiat kepada beliau tentang tetangga hingga beliau mengira tetangga akan mendapatkan hak waris.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Karena itu, mengaji harus tetap dilakukan dengan adab. Pengajar dan orang tua hendaknya mengatur volume suara, waktu belajar, dan suasana setelah mengaji agar tidak berubah menjadi kegaduhan yang berlebihan. Anak-anak pun perlahan perlu diajarkan bahwa setelah belajar Al-Qur’an, mereka juga belajar menghormati kenyamanan orang lain.

Tetapi sebaliknya, warga yang mendengar suara mereka juga dapat belajar memberikan ruang bagi kebaikan. Tidak semua suara yang terdengar adalah gangguan.

Ada suara yang mungkin sedikit mengusik kenyamanan kita, tetapi sedang membangun masa depan mereka. Mungkin hanya sekitar satu hingga satu setengah jam dalam sehari.

Setelah itu mereka kembali ke rumah masing-masing. Bukankah sedikit kesediaan kita menoleransi suara itu jauh lebih kecil dibanding manfaat yang mungkin tumbuh dari anak-anak yang belajar Al-Qur’an setiap hari?

Kelak, anak-anak itu akan tumbuh dewasa. Mereka mungkin menjadi guru, dokter, birokrat, pengusaha, pemimpin, atau apa pun yang Allah takdirkan. Tetapi semoga di mana pun mereka berada, ada nilai Al-Qur’an yang ikut tumbuh bersama mereka

Dan mungkin, suatu hari nanti, suara yang dahulu kita anggap ramai itu justru menjadi suara yang kita rindukan.

“Jangan hanya mendengar suara anak-anak yang sedang mengaji; dengarkanlah masa depan kebaikan yang sedang tumbuh di antara kita.”

Mari kita belajar menjadi lingkungan yang tidak hanya menyediakan tempat tinggal, tetapi juga menyediakan ruang bagi tumbuhnya iman, ilmu, dan akhlak. Bahagialah ketika anak-anak belajar Al-Qur’an.

Dukunglah mereka. Berikan ruang untuk mereka bertumbuh. Dan bila ada yang perlu diperbaiki dari cara, waktu, atau volume belajarnya, sampaikan dengan kelembutan dan musyawarah. Sebab menjaga kenyamanan tetangga dan memuliakan Al-Qur’an bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan.

Semoga Allah menjadikan rumah-rumah kita dipenuhi ketenteraman, lingkungan kita dipenuhi anak-anak yang mencintai Al-Qur’an, dan suara mereka menjadi bagian dari keberkahan yang tumbuh di tengah kehidupan kita.

Semoga kelak dari kompleks-kompleks kecil seperti inilah lahir generasi yang bukan hanya pandai membaca Al-Qur’an, tetapi juga mampu menghadirkan nilai-nilainya dalam kehidupan.

Aamiin ya Rabbal ‘Alamin

DR.4KA

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -

BERDASARKAN TAG
BERDASARKAN KATEGORI