“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia berdo’a kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka memperoleh petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 186)
Tidak semua air mata lahir karena kesedihan. Ada air mata yang mengalir di atas sajadah, pada sunyi sepertiga malam, ketika seorang hamba mengangkat kedua tangannya seraya mengadukan seluruh harapan hanya kepada Allah. Di setiap sujud yang panjang, tersimpan do’a-do’a yang tak pernah bosan diulang. Ada yang memohon kesembuhan, ada yang mendambakan rezeki yang halal dan lapang, ada yang berharap hadirnya keturunan, pekerjaan, jodoh, atau jalan keluar dari persoalan hidup yang terasa begitu berat.
Namun hari berganti hari, bulan berganti tahun. Do’a-do’a itu seolah belum juga menjelma menjadi kenyataan.
Pada saat yang sama, mata kita menyaksikan orang lain yang tampaknya hidup lebih mudah. Usahanya berkembang, hartanya bertambah, keluarganya berkecukupan. Bahkan boleh jadi, ia tidak seintens kita dalam beribadah atau bermunajat kepada Allah.
Di titik itulah hati mulai diuji.
Muncul pertanyaan yang mungkin tidak terucap oleh lisan, tetapi bergema pelan di dalam dada, “Ya Allah, mengapa do’aku belum juga Engkau kabulkan?” Saudaraku, pertanyaan itu bukanlah tanda lemahnya iman.
Ia adalah pergulatan yang pernah dirasakan banyak hamba yang mencintai Rabb-nya. Yang harus dijaga adalah jangan sampai kegelisahan itu berubah menjadi prasangka buruk kepada Allah.
Sebab Allah tidak pernah lalai mendengar do’a seorang hamba, dan Dia tidak pernah mengingkari janji-Nya.
Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak ada yang dapat menolak qadha selain do’a, dan tidak ada yang dapat menambah umur selain amal kebajikan.” (HR. At-Tirmidzi no. 2139 dari Salman Al-Farisi r.a.; dinilai hasan oleh Imam At-Tirmidzi dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani).
Hadis ini bukan berarti do’a mengubah ilmu Allah yang azali. Para ulama menjelaskan bahwa Allah telah menetapkan segala sesuatu dengan ilmu dan hikmah-Nya, termasuk menetapkan do’a sebagai salah satu sebab datangnya kebaikan atau terhindarnya seorang hamba dari keburukan.
Dengan demikian, do’a bukanlah lawan dari takdir, melainkan bagian dari takdir itu sendiri. Ketika seorang mukmin berdo’a, ia sedang menempuh jalan yang telah Allah bukakan baginya.
Karena itu, tidak ada do’a yang sia-sia. Allah mungkin mengabulkannya sesuai dengan yang kita harapkan. Allah mungkin menundanya hingga waktu yang paling tepat. Atau Allah menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik, bahkan melindungi kita dari musibah yang tidak pernah kita ketahui.
Bukankah Allah telah mengingatkan:
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216).
Ayat ini mengajarkan bahwa manusia hanya melihat hari ini, sedangkan Allah melihat seluruh perjalanan hidup hingga akhir. Kita menilai berdasarkan keinginan, sedangkan Allah menetapkan berdasarkan ilmu, hikmah, dan kasih sayang-Nya yang sempurna.
Lihatlah Nabi Zakaria ‘alaihissalam. Pada usia senja, ketika harapan memiliki anak hampir mustahil menurut ukuran manusia, beliau tetap berdo’a dengan penuh keyakinan:
“Ya Tuhanku, janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri, padahal Engkaulah sebaik-baik Pewaris.” (QS. Al-Anbiya’: 89)
Allah tidak mengabulkan do’a itu seketika, tetapi ketika waktu terbaik telah tiba. Dari rahim istrinya yang telah lanjut usia lahirlah Nabi Yahya ‘alaihissalam. Penundaan itu bukanlah penolakan, melainkan bagian dari rencana Allah yang paling indah.
Begitu pula Nabi Ya’qub ‘alaihissalam. Bertahun-tahun beliau berpisah dengan putra tercintanya, Nabi Yusuf. Kesedihan yang mendalam tidak membuat beliau berpaling dari Allah. Beliau berkata:
“Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Yusuf: 86).
Inilah pelajaran tentang husnuzan kepada Allah. Ketika jawaban belum datang, kepercayaan kepada Allah tidak boleh berkurang. Demikian pula Nabi Ayyub ‘alaihissalam. Dalam sakit yang panjang dan kehilangan yang bertubi-tubi, beliau tetap menjaga adab dalam berdo’a:
“Ya Tuhanku, sungguh aku telah ditimpa penyakit, sedangkan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.” (QS. Al-Anbiya’: 83).
Dan ketika waktunya tiba, Allah mengangkat seluruh penderitaannya serta menggantinya dengan nikmat yang lebih besar. Kisah para nabi mengajarkan bahwa kemuliaan seorang mukmin tidak diukur dari cepat atau lambatnya do’a dikabulkan, tetapi dari kemampuannya menjaga keyakinan ketika jawaban itu belum tampak.
Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari dalam Al-Hikam mengingatkan:
“Jangan sampai keterlambatan waktu terkabulnya do’a membuatmu berputus asa. Allah telah menjamin pengabulannya sesuai pilihan-Nya untukmu, bukan sesuai pilihanmu; pada waktu yang Dia kehendaki, bukan pada waktu yang engkau kehendaki.
” Mungkin hari ini kita masih menunggu. Menunggu kesembuhan. Menunggu kelapangan rezeki. Menunggu jalan keluar dari persoalan hidup. Menunggu anak yang saleh, pasangan yang baik, atau masa depan yang lebih cerah. Teruslah berdo’a. Sebab do’a bukan sekadar permintaan, tetapi bukti bahwa hati kita masih bergantung kepada Allah.
Barangkali tujuan terbesar dari sebuah do’a bukan hanya agar keinginan kita terwujud, melainkan agar hati kita semakin mengenal-Nya, semakin sabar, semakin tawakal, dan semakin yakin bahwa setiap keputusan-Nya adalah yang terbaik.
Kelak, ketika seluruh tabir kehidupan disingkapkan, mungkin kita akan memahami bahwa tidak ada satu pun do’a yang diabaikan Allah. Yang kita sebut sebagai penundaan ternyata adalah perlindungan. Yang kita anggap sebagai kehilangan ternyata adalah jalan menuju kebaikan.
Dan yang kita kira sebagai diamnya langit sesungguhnya adalah kasih sayang Allah yang sedang bekerja dalam cara yang belum mampu kita pahami.
Maka, jangan pernah berhenti berdo’a. Sebab di antara do’a yang kita panjatkan, takdir yang Allah tetapkan, dan rahasia yang belum Dia bukakan, selalu ada kasih sayang-Nya yang bekerja dalam diam.
Ya Allah, Tuhan Yang Maha Mendengar setiap munajat, jangan biarkan hati kami lelah berharap kepada-Mu. Karuniakanlah kepada kami keyakinan bahwa setiap takdir-Mu adalah yang terbaik, meskipun belum kami pahami. Jadikanlah kami hamba-hamba yang sabar dalam penantian, ikhlas dalam menerima ketetapan-Mu, dan istiqamah mengetuk pintu langit dengan do’a. Limpahkanlah kepada kami rezeki yang halal dan penuh keberkahan, kesehatan yang membawa ketaatan, keluarga yang menjadi penyejuk hati, serta akhir kehidupan yang Engkau ridai. Ampunilah dosa kedua orang tua kami, guru-guru kami, para pemimpin kami, dan seluruh kaum muslimin, baik yang masih hidup maupun yang telah mendahului kami. Ya Rabb, jangan palingkan hati kami dari-Mu setelah Engkau berikan petunjuk, dan anugerahkanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi.
Aamin Yaa Rabbal ‘Alamin._
DR. 4KA


