BerandaBerandaEvaluasi Program MBG di NTB: Distribusi dan Variasi Menu Perlu Dibenahi

Evaluasi Program MBG di NTB: Distribusi dan Variasi Menu Perlu Dibenahi

Giri Menang (globalfmlombok.com)—

Hasil kajian sementara Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Nusa Tenggara Barat bersama tim peneliti menunjukkan pelaksanaan Program Makan Bergizi (MBG) di wilayah tersebut secara umum dinilai baik oleh para siswa. Namun, sejumlah catatan kritis terkait ketepatan waktu distribusi, kondisi kebersihan, hingga variasi menu masih menjadi pekerjaan rumah yang harus segera dibenahi.

Temuan tersebut mengemuka dalam Diskusi Kelompok Terarah (Focus Group Discussion/FGD) bertajuk ”Evaluasi Program Makan Bergizi dalam Kerangka Kebijakan Sosial Terintegrasi” di Aula BRIDA NTB, Kabupaten Lombok Barat, Senin (10/8/2026). Diskusi yang digagas Pokja Riset Bidang Sosial dan Kependudukan ini menghadirkan perwakilan Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dikpora) NTB, Dinas Kesehatan NTB, Inspektorat, Biro Kesra, serta akademisi.

Kajian awal yang melibatkan survei terhadap 888 siswa dari 168 sekolah tersebut mencatat, indeks kepuasan siswa secara keseluruhan berada pada angka 3,68 dari skala 5, atau masuk kategori baik. Sebanyak 82 persen responden mengaku menerima jatah MBG hampir setiap hari dan menilai program tersebut bermanfaat.

Kendati demikian, survei mendeteksi adanya kelemahan pada rantai pasok dan kualitas sajian. Sebanyak 52 persen responden menyatakan pengiriman makanan kerap terlambat, sementara 44 persen responden menilai kondisi makanan saat diterima terkadang kurang baik. Variasi menu juga menjadi elemen dengan tingkat penilaian terendah dari para siswa.

Ketua Tim Peneliti Prof. Riduan Mas’ud menegaskan, riset ini disusun bukan sekadar sebagai dokumen akademis, melainkan sebagai instrumen pemeta kondisi faktual di lapangan. Data evaluasi ini nantinya diolah untuk menghasilkan scoring Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) serta pengembangan papan pemantauan (dashboard) interaktif.

”Apabila ada hal faktual yang terjadi di lapangan, tidak masalah kita angkat. Temuan riset ini justru dapat menjadi ‘obat’ untuk membenahi persoalan yang ada,” kata Ridwan.

Pengawasan Keamanan Pangan

Menanggapi temuan awal tersebut, perwakilan Dinas Kesehatan Provinsi NTB menekankan pentingnya objektivitas riset sebagai pijakan evaluasi kebijakan. Selain ketepatan distribusi, indikator vital yang harus terus dipantau meliputi kelayakan bahan baku, higienitas proses pengolahan, kecukupan kandungan gizi, hingga tingkat penerimaan makanan oleh anak didik.

”Jangan sampai ada rekayasa. Dibuka selebar-lebarnya apa pun hasil dari penelitian ini,” ujar perwakilan Dinas Kesehatan NTB.

Sejalan dengan hal tersebut, pihak Dikpora NTB mengapresiasi kajian BRIDA. Indikator kelemahan yang ditemukan peneliti dinilai linier dengan evaluasi internal instansinya di lapangan, khususnya terkait katering, waktu pengantaran, dan variasi menu.

Guna menghasilkan rekomendasi kebijakan yang lebih komprehensif dan representatif, BRIDA NTB dan tim peneliti berencana memperluas jangkauan sampel data. Pengambilan data tahap berikutnya akan diperkuat di wilayah Lombok Tengah, Lombok Utara, Lombok Barat, Kota Mataram, hingga Pulau Sumbawa, dengan melibatkan guru serta elemen masyarakat setempat.(ris/r)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -

BERDASARKAN TAG
BERDASARKAN KATEGORI