Mataram (globalfmlombok.com) —
Fenomena El Nino yang memicu kekeringan panjang hingga diperkirakan berlangsung sampai akhir tahun ini dikhawatirkan akan mengancam kesehatan masyarakat, khususnya anak-anak. Keterbatasan akses air bersih serta tingginya paparan debu di musim kemarau meningkatkan risiko penularan diare dan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang berpotensi memicu pneumonia.
Mantan Ketua sekaligus Penasihat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Cabang Nusa Tenggara Barat (NTB), dr Hj. Nurhandini Eka Dewi, Sp.A, MPH, mengungkapkan bahwa dampak krisis air bersih dan kekeringan akibat El Nino berpotensi dirasakan di sejumlah wilayah, terutama di bagian selatan NTB.
Menurut Eka, ketersediaan air bersih merupakan kebutuhan vital bagi kesehatan. Kekurangan air bersih tidak hanya berdampak langsung saat dikonsumsi, tetapi juga mengganggu kebiasaan higienis dasar seperti mencuci tangan.
“Diare menjadi salah satu ancaman utama saat kekeringan. Penularan tidak hanya terjadi karena mengonsumsi air yang tidak bersih, tetapi juga karena ketiadaan air bersih untuk mencuci tangan. Ini menjadi sumber penularan yang sangat cepat,” ujar Eka di Mataram.
Guna mengantisipasi dampak yang lebih luas, Eka menekankan pentingnya respons cepat dari pemerintah daerah dan pemangku kepentingan untuk menjamin suplai air bersih ke daerah-daerah yang terdampak kekeringan.
Ancaman ISPA dan Pneumonia
Selain diare, kondisi lingkungan yang kering dan berdebu selama musim kemarau turut meningkatkan risiko lonjakan kasus ISPA pada anak. Potensi paparan debu diperkirakan makin tinggi seiring banyaknya aktivitas pengumpulan massa, seperti dalam rangka perayaan Hari Kemerdekaan 17 Agustus.
Eka mengimbau para orang tua untuk lebih waspada dan memperketat perlindungan terhadap anak-anak, terutama anak berusia di atas tiga tahun yang beraktivitas di luar rumah.
“Jika anak-anak diajak bepergian di tengah kondisi jalanan yang kering dan berdebu, sebaiknya dipasangkan masker. Langkah sederhana ini efektif mencegah anak menghirup debu jalanan yang dapat memicu infeksi saluran pernapasan,” tuturnya.
Ia mengingatkan, penanganan ISPA yang tidak optimal berisiko berkembang menjadi pneumonia atau infeksi paru-paru berat. Saat ini, pneumonia menjadi salah satu penyakit yang paling banyak menyebabkan anak-anak harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit.
Berdasarkan data kesehatan nasional, ISPA dan pneumonia konsisten berada di jajaran teratas dari 10 penyakit utama di Indonesia. Sementara itu, kasus diare berada di peringkat tiga hingga lima, bergantung pada kondisi sanitasi masing-masing daerah.
“Dua kelompok penyakit ini merupakan ancaman terbesar saat kekeringan. Karena keduanya masuk dalam sepuluh besar penyakit utama di Indonesia, kewaspadaan kolektif dari masyarakat dan perhatian ekstra terhadap kesehatan anak sangat diperlukan untuk menghadapi El Nino yang berkepanjangan ini,” kata Eka.(ris)


