Mataram (globalfmlombok.com)
Memasuki masa peralihan menuju musim kemarau, wilayah Nusa Tenggara Barat diperkirakan masih berpotensi mengalami hujan dalam intensitas sedang hingga tinggi pada 10 hari ke depan. Kondisi tersebut disampaikan BMKG dalam laporan iklim dasarian II Mei 2026.
Prakirawan Stasiun Klimatologi NTB Made Budi Setiawan dalam keterangan tertulisnya mengatakan, BMKG mencatat curah hujan di NTB pada dasarian I Mei 2026 secara umum berada pada kategori rendah hingga menengah, yakni berkisar 0-150 milimeter per dasarian. Curah hujan tertinggi tercatat di Pos Hujan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara, dengan intensitas mencapai 115 milimeter per dasarian.
Sifat hujan di berbagai wilayah NTB pada periode tersebut bervariasi, mulai kategori bawah normal hingga atas normal. Sementara itu, monitoring Hari Tanpa Hujan (HTH) berturut-turut di NTB secara umum masih berada pada kategori sangat pendek hingga menengah, yakni antara satu hingga 20 hari.
BMKG menjelaskan, dinamika atmosfer saat ini masih mendukung peluang terjadinya hujan di NTB. Hasil pemantauan menunjukkan fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) berada pada fase netral dengan indeks minus 0,117, namun diprediksi bergerak menuju fase positif mulai Mei 2026.
Di sisi lain, anomali suhu muka laut di wilayah Nino 3.4 menunjukkan kondisi El Nino lemah dengan indeks plus 0,93. Fenomena tersebut diperkirakan berkembang menjadi El Nino moderat pada periode Mei-Juni-Juli 2026.
Secara umum, aliran massa udara di sebagian besar Indonesia didominasi angin timuran. Suhu muka laut di sebagian besar perairan Indonesia berada pada kondisi normal hingga hangat, sedangkan perairan selatan Jawa, Bali, dan NTB tercatat lebih dingin.
Untuk dasarian II Mei 2026 atau periode 11-20 Mei, BMKG memperkirakan peluang hujan dengan intensitas lebih dari 50 milimeter per dasarian mencapai 40 persen hingga di atas 90 persen dan berpotensi terjadi hampir di seluruh wilayah NTB.
Bahkan, peluang hujan dengan intensitas lebih dari 100 milimeter per dasarian diperkirakan mencapai 70 persen hingga lebih dari 90 persen di Kota Mataram, sebagian Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Utara, Sumbawa Barat, dan Sumbawa.
Sementara itu, hujan dengan intensitas lebih dari 150 milimeter per dasarian juga berpotensi terjadi di sebagian wilayah Kota Mataram, Lombok Barat, dan Lombok Tengah dengan peluang mencapai 70 persen hingga lebih dari 90 persen.
Meski demikian, BMKG menyatakan belum mengeluarkan peringatan dini terkait curah hujan tinggi maupun kekeringan meteorologis di NTB.
BMKG tetap mengimbau masyarakat mewaspadai potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu bencana hidrometeorologi seperti angin kencang, banjir, dan tanah longsor, terutama di wilayah yang masih berada pada masa transisi musim hujan menuju musim kemarau.
Selain itu, masyarakat juga diminta memanfaatkan hujan yang masih terjadi untuk mengantisipasi potensi kekeringan saat musim kemarau berlangsung, menjaga kebersihan lingkungan, serta memperhatikan kondisi saluran dan debit air di sekitar tempat tinggal.(ris/r)


