Tanjung (globalfmlombok.com)-
Kesiapsiagaan menghadapi bencana menjadi salah satu fokus perhatian dalam kunjungan Kedutaan Besar Australia ke Pasar Pemenang, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, Rabu (4/11/2026). Dalam agenda tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah Lombok Utara memaparkan penguatan kapasitas masyarakat hingga pembaruan pemetaan risiko bencana di kawasan pesisir dan pegunungan tersebut.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lombok Utara (KLU) M. Zaldy Rahadian menyampaikan, pemerintah daerah berupaya membangun kesiapsiagaan secara berkelanjutan melalui edukasi. Langkah ini melibatkan masyarakat, pemerintah desa, pelaku usaha, hingga organisasi perangkat daerah (OPD).
Zaldy menjelaskan, Lombok Utara telah memiliki dokumen Kajian Risiko Bencana (KRB) sejak 2021 yang mengidentifikasi 11 potensi ancaman bencana, terdiri atas 10 jenis bencana alam dan satu bencana nonalam. Saat ini, dokumen tersebut tengah diperbarui.
“Proses pembaruan KRB yang kita susun lima tahun lalu sudah hampir rampung dan kini memasuki tahapan asistensi kelima bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB),” ujar Zaldy.
Pembaruan kajian ini dinilai mendesak untuk menyesuaikan pemetaan risiko dengan perkembangan dinamika wilayah, sekaligus menjadi dasar mitigasi serta penanggulangan bencana yang lebih presisi ke depan.
Pengalaman gempa bumi berskala besar pada 2018 menjadi pelajaran krusial bagi Lombok Utara. Guna mengantisipasi potensi risiko, BPBD dan Kantor Bupati KLU kini dilengkapi perangkat pemantauan gempa dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang beroperasi selama 24 jam.
Menurut Zaldy, aktivitas seismik di wilayah Lombok Utara masih tergolong sering. Namun, mayoritas gempa yang terdeteksi berkekuatan kecil pada kisaran magnitudo 2 hingga 3, serta sesekali mencapai magnitudo 5.
Antisipasi Cuaca Ekstrem
Selain ancaman tektonik, BPBD KLU meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi basah seiring masuknya musim hujan. Kondisi ini menyusul gelombang cuaca ekstrem pada musim kemarau sebelumnya yang dipengaruhi fenomena El Nino.
Untuk merespons ancaman tersebut, pemerintah daerah memedomani delapan langkah antisipasi dari BNPB yang dieksekusi secara sinergis dari level kabupaten, provinsi, hingga pusat.
Langkah antisipasi dipandang vital mengingat karakteristik geografis Lombok Utara yang membentang dari Kecamatan Pemenang hingga Bayan memiliki tingkat kerawanan tinggi.
“Topografi Lombok Utara terdiri atas 30 persen wilayah datar dan 70 persen pegunungan. Kondisi ini menuntut perhatian ekstra terhadap potensi bencana banjir dan tanah longsor,” tutur Zaldy.
Ia menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor—termasuk keterlibatan aktif masyarakat dan pelaku usaha—guna menekan dampak risiko bencana secara menyeluruh di Lombok Utara.(ris)
Â


