Mataram (globalfmlombok.com) —
Seorang calon jemaah haji asal Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), gagal memasuki Arab Saudi setelah ditolak otoritas imigrasi setibanya di bandara di Madinah.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama NTB Lalu Muhamad Amin mengatakan, penolakan tersebut sepenuhnya menjadi kewenangan imigrasi Arab Saudi. Ia memastikan seluruh proses pemberangkatan jemaah haji dari Indonesia telah dilakukan sesuai prosedur.
“Semua tahapan sudah dilakukan sesuai ketentuan. Namun, keputusan boleh atau tidaknya seseorang masuk ke suatu negara merupakan kewenangan otoritas imigrasi negara tujuan,” ujar Amin, Jumat (1/5/2026).
Berdasarkan penelusuran, jemaah tersebut diketahui pernah melaksanakan umrah pada 2017 dan melakukan pelanggaran berupa overstay atau tinggal melebihi batas waktu yang ditentukan. Pelanggaran itu berujung pada sanksi larangan masuk ke Arab Saudi dalam kurun waktu tertentu.
Saat tiba di Arab Saudi dengan identitas asli, sistem imigrasi mendeteksi pelanggaran tersebut melalui data biometrik. Hal itu menjadi dasar penolakan dengan alasan keamanan.
“Ketika dilakukan pemeriksaan sidik jari, terdeteksi masih ada sanksi yang berlaku sehingga yang bersangkutan ditolak masuk,” kata Amin.
Jemaah yang tergabung dalam kloter 5 asal Kota Mataram itu telah dipulangkan ke Indonesia dan saat ini berada dalam kondisi aman bersama keluarganya.
Terkait biaya pemulangan, Amin menyebutkan menjadi tanggung jawab jemaah yang bersangkutan. Sementara itu, status keberangkatan hajinya tidak hangus, melainkan ditunda hingga masa sanksi berakhir.
“Yang bersangkutan tetap memiliki kesempatan berhaji, tetapi harus menunggu sampai masa sanksinya selesai dan mengikuti kembali prosedur dari awal,” ujarnya.
Ia menegaskan tidak ada perlakuan khusus bagi jemaah tersebut dalam keberangkatan berikutnya. Seluruh proses tetap mengacu pada prinsip keadilan bagi semua calon jemaah.
Amin juga mengingatkan masyarakat, khususnya calon jemaah haji dan umrah, agar bersikap jujur terkait riwayat perjalanan atau persoalan keimigrasian yang pernah dialami.
“Kejujuran sangat penting agar kami bisa memberikan pendampingan dan solusi sebelum keberangkatan. Jangan sampai kejadian seperti ini terulang,” katanya.(bul)


