Beranda blog Halaman 294

Mutasi Pejabat Kejati NTB

JAKSA Agung RI memutasi sejumlah pejabat eselon I dan Eselon II Kejaksaan Tinggi NTB. Kepala Seksi Penerangan Hukum Kejati NTB, Efrien Saputera mengatakan, mutasi tersebut tertuang dalam Keputusan tertanggal 13 Oktober 2025.

“Pergeseran pejabat eselon II terjadi pada Wakil Kejati NTB. Anton Delianto sebagai Wakajati kini berpindah menjadi Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi Sumatera Selatan,” ucap Efrien, Selasa (14/10/2025).

Posisi Anton digantikan Waito Wongateleng yang sebelumnya menjabat Koordinator Pada Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen Kejaksaan Agung RI.

“Selanjutnya, mutasi eselon III berdasarkan Keputusan Jaksa Agung RI Nomor : KEP-IV-1425/10/2025 membawa I Wayan Eka Widdyara dari Kepala Kejaksaan Negeri Rembang menjadi Asisten Pengawasan Kejaksaan Tinggi NTB yang baru,” jelasnya.

Sebelumnya posisi ini diisi oleh Wahyu Triantono yang kini menjabat Kepala Kejaksaan Tinggi Kota Madiun.

Kepala Bagian TU Kejaksaan Tinggi NTB yang sebelumnya dijabat Armadha Tangdibali kini berpindah kepada  Slamet Hariyadi yang sebelumnya sebagai Kepala Seksi Intelijen Kejaksaan Negeri Kota Cirebon. Armadha kini dipercayai sebagai Kepala Kejaksaan Negeri Sikka.

Beberapa Kejari di NTB juga ikut diganti. Kepala Kejaksaan Negeri Dompu sebelumnya Burhanuddin kini berpindah tangan ke Lusiana Bida yang sebelumnya menjabat Koordinator pada Bidang Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Tinggi NTB. Burhanuddin kini menempati posisi sebagai Kepala Kejaksaan Negeri Nunukan.

Selanjutnya, posisi Hendi Arifin sebagai Kejari Sumbawa diganti Iwan Arto Koesoemo. Hendi berpindah menjadi Kepala Kejaksaan Negeri Pasaman. Perubahan juga terjadi di Kejaksaan Negeri Bima. Kajari Bima Dr. Ahmad Hajar Zunaidi digantikan Heru Kamarullah. Ahmad kini dipercayai sebagai Kepala Kejaksaan Negeri Kendal.

“Selain itu, dua jaksa koordinator di Bidang Tindak Pidana Khusus Kejati NTB mendapat promosi menjadi Kepala Kejaksaan Negeri di luar daerah,” terangnya.

Nugroho Wisnu Pujoyono sebagai Kepala Kejari Gunung Mas dan Indra Harvianto Saleh sebagai Kepala Kejari Gayo Lues. Sebagai pengganti, posisi Koordinator pada Kejati NTB kini diisi oleh tiga pejabat baru, yakni, Ahmad Fuady dari Kepala Seksi II Subdirektorat Eksekusi dan Eksaminasi Direktorat D pada Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Umum Kejagung RI. Andreanto dari Kepala Seksi Penyidikan pada Asisten Tindak Pidana Khusus Kejati Bali. Rony Agustinus Sinuhaji dari Jaksa Ahli Madya pada Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus Kejagung. (mit)

Empat Anggota DPRD NTB Diperiksa Kejaksaan, Abdul Rahim Buka Suara Soal Asal Dugaan Dana “Siluman”

Mataram (globalfmlombok.com) – Kejaksaan Tinggi (Kejati) NTB memeriksa Anggota Komisi IV DRPD NTB Abdul Rahim dalam penyidikan kasus dugaan dana ‘’siluman’’ Pokir DPRD Dewan 2025, Selasa, 14 Oktober 2025 Abdul Rahim setelah menjalani pemeriksaan di ruang Pidsus Kejati NTB,  membeberkan asal dana “siluman” yang kini tengah diusut Kejati NTB.

Bram demikian sapaan akrab Abdul Rahim mengatakan, dana “siluman” itu (diduga) berasal dari dana direktif Gubernur NTB untuk mendukung program “Desa Berdaya.” Program Desa Berdaya diantaranya seperti pembangunan jalan lingkungan, usaha tani, dan irigasi.

Di dalam dokumen by bame by address (BNBA) “Desa Berdaya”, anggota dewan mendapatkan 10 program senilai Rp2 miliar dengan nilai  masing-masing Rp200 juta per program.

‘’Dana tersebut bukanlah dana pokok pikiran (Pokir),’’ kata Bram. Karena jika menurut aturan, anggota dewan baru akan mendapatkan Pokir pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Perubahan.

‘’Dana tersebut (diduga) berasal dari Direktif Gubernur, bukan Pokir,’’ tegasnya lagi.  Dana itu (diduga) dari Gubernur  NTB yang diperuntukkan kepada anggota DPRD yang baru yang sesuai dengan visi misi program Desa Berdaya. “Contohnya, saya mendapat program, kalau saya tidak pegang program saya tidak punya hak, gak mungkin saya dapat tawaran uang,’’ ungkapnya.

Dana “siluman” itu juga menurutnya kemungkinan berasal dari fee proyek dari bakal calon kontraktor yang akan mengerjakan program tersebut. Bram tidak menampik bahwa dirinya pernah mendapat tawaran dana ‘’siluman’’ itu. Namun, dia menolak tawaran tersebut. Siapa yang menawarkannya, dia enggan berkomentar. “Saya gak berani spekulasi apakah eksekutif terlibat. Ini pelan-pelan akan terbuka,” tegasnya.

Bram juga mengaku tidak mengetahui siapa-siapa saja anggota baru yang ikut menjadi penerima dana ‘’siluman’’ ini.

Telah Serahkan Sejumlah Dokumen

Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) mengaku telah menyerahkan bukti berupa BNBA yang dia maksud. “Saya sudah serahkan apa yang saya ketahui. Sejauh ini sudah saya serahkan semua,” ucapnya.

Pemeriksaan di tahap penyidikan kata dia juga ada menyangkut perkara BNBA itu. Dia pun memberi apresiasi kepada Kejati NTB yang telah bekerja luar biasa dalam mengusut kasus ini. “Ini sudah on the track. Sudah tidak ada spekulasi lagi lah,” tandasnya.

Ali Usman Ahim: Saya No Comment

Sementara itu, anggota Komisi I DPRD NTB, Ali Usman Ahim yang juga memenuhi panggilan Kejati kemarin, tak banyak berkomentar terkait pemeriksaannya di penyidikan dugaan dana “siluman” Pokir Dewan 2025.

“Saya no comment, tanya penyidik,” kata Usman ketika keluar dari Gedung Kejati NTB usai pemeriksaan, Selasa, 14 Oktober 2025. Usman mengaku tidak membawa berkas apapun saat pemeriksaan hari ini.

Untuk berapa pertanyaan yang penyidik tanyakan kepada dirinya, dia mengaku lupa. “Saya lupa,” kelitnya.  Dia mengatakan banyak anggota dewan selain dia yang datang diperiksa kemarin. “Banyak yang datang, masih di atas,” ucapnya.

Ali Usman Ahim (globalfmlombok.com/mit)

Saat ditanya apakah ikut dalam jajaran anggota dewan yang diduga mengembalikan atau menerima dana ‘’siluman’’ itu, dia enggan berkomentar. “Tanya penyidik saja,” tandasnya.

Usman mendatangi Kejati NTB sekitar pukul 09.30 Wita. Dia meninggalkan Kejati pada pukul 11.54 Wita. Ia menjalani pemeriksaan sekitar 2 jam lebih. Dia terlihat datang mengenakan kemeja berwarna coklat muda dan mengenakan peci hitam.

Terpisah, Asisten Pidana Khusus Kejati NTB Muh Zulkifli Said membenarkan terkait pemeriksaan Abdul Rahim  dan Ali Usman Ahim. Seluruhnya kata  Zulkifli ada empat orang yang mendatangi ruang Pidana Khusus untuk diperiksa.

Empat anggota dewan tersebut antara lain, dua anggota Komisi IV Abdul Rahim dan Iwan Panjidinata, serta dua anggota Komisi I, Ali Usman dan Suhaimi.“Anggota dewan yang diperiksa ada empat orang, SHM, AU, IP, dan AR,” pungkas Zulkifli.  (mit)

Diperiksa Terkait Kasus Dana “Siluman”, Ali Usman Ahim: Saya “No Comment”

Mataram (globalfmlombok.com) – Anggota Komisi I DPRD NTB, Ali Usman Ahim tak banyak berkomentar terkait pemeriksaannya di penyidikan Kasus Dana “siluman” Pokir Dewan 2025.

“Saya no comment, tanya penyidik,” kata Usman ketika keluar dari Gedung Kejati NTB usai pemeriksaan, Selasa (14/10/2025).

Usman mengaku tidak membawa berkas apapun saat pemeriksaan hari ini.

Untuk berapa pertanyaan yang penyidik tanyakan kepada dirinya, dia mengaku lupa. “Saya lupa,” kelitnya.

Dia mengatakan banyak anggota dewan selain dia yang datang diperiksa hari ini. “Banyak yang datang, masih di atas,” ucapnya.

Saat ditanya apakah ikut dalam jajaran anggota dewan yang diduga mengembalikan atau menerima dana “siluman” itu, dia enggan berkomentar.

“Tanya penyidik saja,” tandasnya.

Usman mendatangi Kejati NTB sekitar pukul 09.30 Wita. Dia meninggalkan Kejati pada pukul 11.54 Wita. Ia menjalani pemeriksaan sekitar 2 jam lebih.

Dia terlihat datang mengenakan kemeja berwarna coklat muda dan mengenakan peci hitam.

Kejati Periksa Empat Anggota DPRD NTB

Terpisah, Asisten Pidana Khusus Kejati NTB Muh Zulkifli Said membenarkan terkait pemeriksaan Usman hari ini. Zulkifli juga menyebutkan ada empat orang yang mendatangi ruang Pidana Khusus untuk diperiksa.

Empat anggota dewan tersebut antara lain, dua anggota Komisi IV Abdul Rahim dan Iwan Panjidinata, serta dua anggota Komisi I, Ali Usman dan Suhaimi.

“Anggota dewan yang diperiksa ada empat orang, SHM, AU, IP, dan AR,” kata dia.

Sampai berita ini terbit, tiga anggota dewan masih menjalani pemeriksaan.

Sebagai informasi, kasus ini bermula dari dugaan pemotongan program Pokir Anggota DPRD NTB Periode 2019-2024 yang sudah menjadi Daftar Pelaksanaan Anggaran di APBD NTB tahun 2025. Program Pokir tersebut memang masih menjadi hak anggota DPRD NTB sebelumnya. Karena berasal dari penjaringan aspirasi mereka dan juga disahkan dalam APBD tatkala mereka masih menjabat.

Dugaannya, dalam pemotongan program Pokir tersebut ada beberapa oknum anggota dewan baru di DPRD NTB yang disinyalir mengkoordinir pembagian uang kepada rekan-rekannya sesama anggota dewan baru.

Uang yang dibagikan tersebut diduga merupakan fee dari anggaran program yang akan didapatkan para anggota dewan. Fee itu disinyalemen bersumber dari pemotongan Pokir 39 anggota DPRD NTB periode sebelumnya yang tidak terpilih kembali. (mit)

Polda NTB Periksa Lima Anggota Polres Lobar Terkait Perusakan Rumah Tersangka R

Mataram (globalfmlombok.com) – Ditreskrimum Polda NTB telah memeriksa enam orang saksi kasus perusakan rumah Tersangka R di Dusun Nyiur Lembang, Desa Jembatan Gantung, Kecamatan Lembar, Lombok Barat pada Rabu (8/10/2025).

Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirreskrimum) Polda NTB, Kombes Pol Syarif Hidayat, Selasa (14/10/2025) mengatakan, dari total enam saksi, lima di antaranya adalah anggota Polres Lombok Barat (Lobar). “Sementara satu orang lainnya adalah pelapor sendiri,” kata Syarif.

Pemeriksaan terhadap lima anggota polisi itu kaitannya dengan keberadaan mereka di tempat kejadian perkara (TKP) pada saat perusakan rumah tersangka R. Syarif tidak membeberkan apakah nantinya akan ada lagi anggota Polres Lobar yang akan dimintai keterangan. “Lihat perkembangan proses penyelidikan,” ucapnya.

Dia menegaskan, kasus ini masih dalam proses penyelidikan. Polisi kini telah mengagendakan permintaan keterangan terhadap sejumlah saksi lainnya.

Kasubdit III Jatanras Ditreskrimum Polda NTB, AKBP Catur Erwin Setiawan, Kamis (9/10/2025) menyebutkan, penanganan kasus ini terpisah dengan pengusutan kasus dugaan pembunuhan Brigadir Esco.

Adanya peristiwa perusakan itu juga tidak berpengaruh dengan proses penyidikan polisi. Meskipun nantinya akan ada rekonstruksi yang kedua, polisi juga tidak akan melakukan rekonstruksi di TKP.

Kronologi Dugaan Perusakan

Aksi dugaan perusakan ini terjadi sekitar pukul 17.40 Wita pada Rabu (8/10/2025). Berdasarkan keterangan, sekelompok warga, mendatangi Dusun Nyiur Lembang dengan menggunakan beberapa kendaraan.

Kedatangan mereka bertujuan untuk mencari beberapa orang yang diduga memiliki keterkaitan dengan kasus yang masih dalam penyelidikan polisi, yaitu kasus kematian Brigadir Esco. Namun, pihak yang dicari tidak ditemukan di lokasi. Kekecewaan atas kegagalan pencarian tersebut kemudian memicu reaksi spontan dari sebagian massa. Mereka melampiaskan kekecewaan dengan melakukan perusakan terhadap dua unit rumah yang diketahui salah satunya milik keluarga tersangka R.

Kerusakan yang ditimbulkan, meliputi bagian fisik bangunan seperti tembok, gerbang, dan jendela. Beberapa perabot rumah tangga dan barang pribadi yang berada di dalam rumah juga menjadi sasaran amarah massa. (mit)

Pemprov NTB Enggan Berkomentar, Nama Gubernur Iqbal Terseret Kasus Dugaan Dana “Siluman’’

Mataram (globalfmlombok.com) – Nama Gubernur NTB, Dr.H. Lalu Muhamad Iqbal terseret kasus dugaan dana “siluman” yang saat ini sedang diusut Kejaksaan Tinggi (Kejati) NTB. Nama Gubernur Iqbal disebut oleh Anggota Komisi IV DRPD NTB Abdul Rahim setelah menjalani pemeriksaan di ruang Pidsus Kejati NTB.

Menanggapi hal itu, Pj Sekda NTB yang juga Ketua Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) NTB, H.Lalu Moh.Faozal enggan memberikan komentar.  ‘’Kalau itu saya no comment, saya tidak ngerti (kasus ini, red),’’ ujarnya singkat, Selasa, 14 Oktober 2025.

Menurutnya, meski menjabat sebagai Ketua TAPD, dia tidak tahu menahu persoalan dana “siluman’’ yang kini tengah ditangani Aparat Penegak Hukum (APH), baik Kejati maupun Polda NTB. “Tidak tahu saya soal itu,” ucapnya.

Menanggapi adanya dugaan gratifikasi dalam kasus ini, Asisten II Setda NTB itu mengaku siap hadir memberikan klarifikasi apabila telah ada surat pemanggilan dari polisi.

Sebut Sumber Dana “Siluman”

Abdul Rahim yang akrab disapa Bram itu mengatakan, dana “siluman” (diduga) berasal dari dana direktif Gubernur NTB untuk mendukung program “Desa Berdaya.” Program Desa Berdaya di antaranya seperti pembangunan jalan lingkungan, usaha tani, dan irigasi.

Di dalam dokumen by bame by address (BNBA) “Desa Berdaya”, anggota dewan mendapatkan 10 program senilai Rp2 miliar dengan nilai masing-masing Rp200 juta per program.

Menurutnya, dana tersebut bukanlah dana pokok pikiran (Pokir). Karena jika menurut aturan, anggota dewan baru akan mendapatkan Pokir pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) perubahan.

“Dana tersebut (diduga) berasal dari direktif Gubernur, bukan Pokir,’’ tegas Bram. Dana itu diduga dari Gubernur yang diperuntukkan kepada anggota DPRD yang baru yang sesuai dengan visi misi program Desa Berdaya.

“Contohnya, saya mendapat program, kalau saya tidak pegang program saya tidak punya hak, gak mungkin saya dapat tawaran uang,’’ ungkapnya.

Dana “siluman” itu juga menurutnya kemungkinan berasal dari fee proyek dari bakal calon kontraktor yang akan mengerjakan program tersebut. Adapun ia tidak menampik jika pihaknya pernah mendapat tawaran dana “siluman” itu. Namun, dia menolak tawaran tersebut. Siapa yang menawarkan, dia tidak mengungkapkannya.

“Saya gak berani spekulasi apakah eksekutif terlibat. Ini pelan-pelan akan terbuka,” tegasnya.

Bram juga mengaku tidak mengetahui siapa-siapa saja anggota baru DPRD NTB yang ikut menjadi penerima dalam kasus ini. (era/mit)

Lembaga Ziswaf NTB Raih Penghargaan di Ajang ISEF 2025, Perkuat Peran Daerah dalam Ekonomi Syariah

Jakarta (globalfmlombok.com) –

Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) kembali menorehkan prestasi membanggakan di kancah nasional. Melalui MIM Foundation Mataram, NTB berhasil meraih Juara Nasional Pengelolaan ZISWAF pada ajang bergengsi Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) ke-12 tahun 2025 yang digelar di JIExpo Kemayoran, Jakarta.

Capaian ini menambah daftar panjang prestasi NTB setelah sebelumnya menyabet dua penghargaan pada Indonesia Muslim Travel Index (IMTI) 2025, yakni Juara III Destinasi Pariwisata Ramah Muslim Nasional serta Special Recognition Award of Muslim-Friendly Destination. Kedua penghargaan itu menjadi bukti bahwa NTB terus mengukuhkan diri sebagai daerah dengan komitmen kuat terhadap pengembangan ekonomi dan pariwisata berbasis nilai-nilai syariah.

Direktur MIM Foundation, M. Romi Saefudin, menerima langsung penghargaan tersebut. Ia menilai keberhasilan lembaga yang dipimpinnya tidak lepas dari inovasi dalam pengelolaan wakaf produktif yang menjadi pembeda utama dari lembaga ZISWAF lainnya di Indonesia. “Capaian ini menjadi motivasi untuk terus memperkuat peran ZISWAF dalam mendorong kemandirian ekonomi umat,” ujarnya. Keberhasilan MIM Foundation juga sekaligus memperkuat legitimasi penetapan Kota Mataram sebagai Kota Wakaf Tahun 2025 oleh Kementerian Agama RI.

Tak hanya di sektor ZISWAF, kontribusi NTB di ajang ISEF 2025 juga mencatatkan hasil positif dari berbagai lini. Produk unggulan pesantren, seperti sambal olahan dan kerupuk kulit dari Ponpes Nurul Hakim, laris manis dalam sesi showcasing Gerbang Santri.

Sementara di area Halal Mart, produk makanan olahan UMKM NTB mendapat sambutan positif dari pengunjung. Di sektor kriya dan wastra, merek-merek lokal seperti Lombok Mutiara Wahidah, Erina Gallery, dan Ana Pearls mencatatkan penjualan optimal, sementara CahyaHouse dan Totimori bahkan tampil di IN2MOTIONFEST, perhelatan modest fashion terbesar dunia.

Kantor Perwakilan Bank Indonesia NTB menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat sinergi bersama pemerintah daerah, perbankan, pesantren, UMKM, serta lembaga keuangan syariah. Upaya ini menjadi bagian dari strategi besar membangun ekosistem ekonomi syariah yang inklusif demi terwujudnya NTB Makmur, Mendunia, dan Penuh Berkah.

Sementara itu, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti secara resmi menutup ISEF 2025. Dalam sambutannya, Destry menekankan pentingnya sinergi seluruh pihak untuk memperkuat peran Indonesia sebagai pusat ekonomi dan keuangan syariah dunia.

“Mari jadikan capaian ini sebagai langkah awal untuk terus bersinergi membangun ekonomi syariah yang berkelanjutan dan inklusif,” ujarnya.

ISEF 2025 tahun ini mencatatkan sejumlah capaian impresif: transaksi senilai Rp3,1 triliun, total 450.000 pengunjung, melibatkan 34 kementerian/lembaga, 30 mitra internasional, serta 700 pelaku UMKM. Angka tersebut menegaskan bahwa geliat ekonomi syariah Indonesia kian kokoh, dan NTB menjadi salah satu daerah yang konsisten memberi kontribusi nyata bagi kebangkitannya.(ris/r)

Penerbangan Lombok – Jogja dan Lombok – Malang Segera Dibuka

Mataram (globalfmlombok.com) – Setelah resmi membuka rute penerbangan Tambolaka–Lombok dan Waingapu–Lombok pada 10 Oktober 2025, Lion Group kembali melanjutkan ekspansi jaringan penerbangannya. Dalam waktu dekat, maskapai ini akan membuka dua rute baru, yakni Lombok–Yogyakarta (Jogja) dan Lombok–Malang (PP).

Corporate Communication Strategic Lion Group, Danang Mandala Prihantoro, mengatakan bahwa langkah ini merupakan bagian dari pengembangan Lombok sebagai hub (pusat operasional) kedua Lion Group di kawasan Indonesia Timur, setelah Denpasar, Bali.

“NTB kini menjadi hub kedua Lion Group untuk wilayah Indonesia Timur. Artinya, Lombok berfungsi sebagai penghubung penerbangan dari dan ke berbagai kota lain di Indonesia,” jelas Danang ditemui di Mataram, Senin, 13 Oktober 2025.

Menurut Danang, posisi geografis NTB yang strategis menjadikan Lombok ideal sebagai titik penghubung berbagai wilayah di Indonesia. Termasuk luar negeri.

“Secara geografis, Lombok sangat menguntungkan. Letaknya di tengah-tengah, memudahkan konektivitas dari barat ke timur maupun sebaliknya,” ujarnya.

Dengan status baru sebagai hub, frekuensi penerbangan ke dan dari Lombok akan meningkat signifikan.

Danang menyebutkan bahwa pembukaan rute Lombok–Malang dan Lombok–Jogja saat ini sedang dalam proses perizinan. Jika semua proses administrasi rampung, penerbangan reguler dijadwalkan akan beroperasi setiap hari.

“Dalam waktu dekat, dua rute baru itu akan segera dibuka. Saat ini kami sedang mempersiapkan izin rute, jadwal penerbangan, serta skema harga tiket,” terang Danang.

Penerbangan akan menggunakan pesawat ATR 72 berkapasitas 72 penumpang, dengan estimasi waktu tempuh sekitar 1 jam 30 menit.

Pemilihan dua kota tersebut bukan tanpa alasan. Malang dikenal sebagai kota wisata dan pusat pendidikan, sekaligus kawasan bisnis yang berkembang pesat di Jawa Timur. Sementara Yogyakarta merupakan destinasi budaya dan pendidikan nasional yang memiliki potensi pergerakan penumpang tinggi.

“Malang dan Jogja memiliki daya tarik kuat, baik dari sisi wisata, pendidikan, maupun bisnis. Dengan adanya rute baru ini, konektivitas antarwilayah makin mudah, dan dampak ekonominya juga akan semakin terasa bagi daera ini khususnya,” jelasnya.

Melalui rute tersebut, masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia, terutama di Indonesia Timur bisa lebih mudah terhubung ke kota-kota besar di Pulau Jawa tanpa harus transit jauh.

Danang menegaskan bahwa kehadiran rute-rute baru ini diharapkan mendorong aktivitas ekonomi dan pariwisata NTB. Ia juga mengapresiasi dukungan pemerintah daerah dan masyarakat yang telah berperan aktif dalam mengembangkan potensi penerbangan di Lombok.

“Dengan semakin banyak rute yang dibuka, mobilitas masyarakat akan meningkat, waktu tempuh makin singkat, dan peluang ekonomi makin terbuka. Kami berharap seluruh pihak terus mendukung langkah ini,” tutup Danang. (bul)

RSUD Bima Bantah Isu Penolakan Pasien di IGD

Bima (globalfmlombok.com) – Isu penolakan pasien di RSUD Bima ramai beredar di media sosial, memicu keresahan publik. Dalam sebuah unggahan akun Facebook bernama Ahmadin Usman pada Sabtu, 11 Oktober 2025, disebutkan bahwa beberapa pasien ditolak pihak rumah sakit dengan alasan yang dinilai tidak masuk akal.

“Sudah sampai 10 menit saya duduk di IGD RSUD Bima, sudah beberapa pasien yang ditolak karena alasan yang tidak masuk akal. Setidaknya pasien itu ditangani dulu, apapun alasannya, karena ini menyangkut nyawa manusia,” tulisnya pada Sabtu, 11 Oktober 2025.

Dalam kolom komentar, Ahmadin menambahkan bahwa penolakan tersebut terjadi dengan alasan penuh tempat tidur. “Alasan full bed. Coba ditangani dulu walaupun di lantai bawah,” sebutnya.

Unggahan ini langsung menuai reaksi dari warganet. Sejumlah komentar bernada kritik diarahkan kepada manajemen RSUD Bima yang dianggap lalai dalam memberikan pelayanan darurat. Namun, tak sedikit pula yang meminta agar masyarakat menunggu klarifikasi resmi dari pihak rumah sakit.

Menanggapi isu tersebut, Direktur RSUD Bima, drg. H. Ihsan, MPH., dengan tegas membantah tudingan penolakan pasien itu. Menurutnya, informasi yang beredar di media sosial tidak benar dan bersifat sepihak.

“RSUD Bima menegaskan tidak pernah menolak pasien dalam kondisi apapun, terlebih pasien dengan kondisi gawat darurat. Keselamatan dan nyawa manusia adalah prioritas utama kami,” ujarnya melalui keterangan resmi, Senin, (13/10/2025).

Ia menegaskan, pasien yang dimaksud dalam unggahan tersebut sebenarnya telah ditangani oleh tim medis dan kini masih berada di ruang IGD untuk penanganan lebih lanjut. “Faktanya, pasien tersebut telah dalam penanganan tim medis RSUD Bima,” tegasnya.

Ihsan juga menjelaskan bahwa unggahan di media sosial tersebut tidak berdasarkan informasi dan kronologi lengkap. “Pemberitaan yang beredar tidak melalui proses konfirmasi resmi kepada pihak rumah sakit,” tuturnya.

Saat ini, manajemen RSUD Bima tengah melakukan penelusuran internal untuk memastikan seluruh pelayanan berjalan sesuai prosedur dan standar etika medis. Ihsan menegaskan, pihaknya terus berkomitmen memberikan layanan kesehatan yang profesional dan humanis kepada seluruh masyarakat tanpa memandang latar belakang pasien.

“Kami mengimbau kepada masyarakat dan media untuk tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, karena hal tersebut dapat menimbulkan kesalahpahaman dan keresahan publik,” tambahnya.

RSUD Bima, lanjut Ihsan, terus berupaya meningkatkan kualitas pelayanan, termasuk memperkuat sistem triase di IGD agar setiap pasien, terutama dengan kondisi gawat darurat, mendapat penanganan cepat dan tepat.

“Terima kasih atas kepercayaan masyarakat kepada RSUD Bima. Kami akan terus berbenah demi memberikan pelayanan terbaik bagi warga Kabupaten Bima,” pungkasnya. (hir)

OPINI-Senat Universitas dan Realitas Politik Pemilihan Rektor

Oleh : Markum, Guru Besar Universitas Mataram (Unram)

Tulisan ini menelaah realitas peran senat dan proses pemilihan rektor di perguruan tinggi negeri berstatus PTN BLU. Proses ini tidak hanya menjadi ajang pertimbangan akademik, tetapi juga arena tarik-menarik kepentingan yang mencerminkan dinamika politik kampus. Di sinilah idealisme keilmuan sering kali bernegosiasi dengan strategi dan kalkulasi kekuasaan dalam ruang demokrasi universitas.

Pemilihan rektor di perguruan tinggi negeri sering kali disebut sebagai puncak demokrasi akademik. Namun, di balik idealisme itu, tersembunyi realitas politik yang tak kalah kompleks dari panggung kekuasaan nasional. Senat universitas yang sejatinya dibentuk sebagai penjaga nilai-nilai akademik dan moral kelembagaan, dalam praktiknya condong berperan sebagai institusi yang melegitimasi terpilihnya rektor. Peran strategis senat menonjol pada masa-masa menjelang pemilihan rektor, ketika suara senat menjadi rebutan para calon rektor yang ingin memastikan dukungan formal untuk melangkah ke kursi tertinggi kampus. Setelah proses itu usai, fungsi senat cenderung beralih menjadi kelembagaan simbolik dan seremonial.

Dalam suasana kompetisi yang kental dengan kepentingan, ruang-ruang akademik perlahan bergeser menjadi arena lobi, negosiasi, dan bahkan transaksi. Tidak jarang, preferensi politik dan kedekatan personal lebih menentukan arah pilihan dibandingkan pertimbangan akademik atau rekam jejak integritas calon. Senat yang berafiliasi dengan rektor pemenang akan memperoleh posisi yang lebih menguntungkan, baik secara struktural maupun akademik. Hal ini menciptakan lingkaran kepentingan yang berulang dari satu periode kepemimpinan ke periode berikutnya.

Situasi ini semakin diperumit oleh komposisi suara yang tidak sepenuhnya otonom. Ketika suara menteri memiliki bobot hingga 35 persen, maka kontestasi menjadi pertarungan untuk memenangkan hati kementerian. Siapa yang mampu meraih restu politik di tingkat pusat, hampir pasti memiliki peluang besar untuk memenangkan pemilihan. Dalam kondisi demikian, pemilihan rektor bukan lagi sekadar ajang seleksi pemimpin akademik, melainkan refleksi dari dinamika politik kekuasaan yang menembus tembok universitas.

Dengan komposisi suara yang menetapkan 65 persen berasal dari senat universitas dan 35 persen dari kementerian, dinamika politik kampus pun tak terelakkan. Dalam ruang inilah kalkulasi strategis dan hitung-hitungan politis mulai dimainkan. Setiap calon rektor pasti berupaya mengamankan sedikitnya 51 persen suara sebagai tiket aman menuju kursi tertinggi kepemimpinan universitas.

Namun, siapa yang bisa menjamin bahwa suara yang tampak solid dalam satu kubu tidak akan berpindah arah di menit-menit terakhir? Dinamika politik kampus kerap cair, dan loyalitas sering kali bertahan sejauh kepentingan berjalan. Karena itu, mendapatkan dukungan menteri menjadi jalan paling aman. Masalahnya, suara menteri bukanlah hadiah yang jatuh dari langit—melainkan hasil dari jaringan, kedekatan, dan afiliasi politik yang kuat di lingkar kekuasaan. Di titik inilah, arena akademik mulai beririsan dengan gelanggang politik nasional.

Maka setiap calon rektor akan mengerahkan seluruh sumber daya yang dimilikinya untuk menembus lingkar pengaruh kementerian. Segala jalur komunikasi dibuka, dari pendekatan formal hingga diplomasi personal yang halus dan terukur. Siapa pun yang diyakini memiliki kedekatan atau daya kendali terhadap menteri segera menjadi target utama—sosok yang harus dirangkul, diyakinkan, bahkan mungkin “diinvestasikan” demi memastikan arah restu politik tidak melenceng dari harapan.

Jabatan rektor adalah posisi tertinggi di lingkungan universitas. Sebuah kursi yang memegang kendali atas arah kebijakan, sumber daya, dan wajah institusi di mata publik. Dari peran dan fungsinya, jabatan ini memang bersifat akademis, namun proses menuju ke sana justru sarat nuansa politis. Seperti dikatakan Clark Kerr (President University of California), seorang rektor bukan semata pemimpin akademik, melainkan mediator di antara kepentingan yang saling bersaing—akademik, politik, dan finansial. Tak heran, siapa pun yang berhasil mendudukinya akan berupaya untuk bertahan, menjaga pengaruh, dan memastikan jejaring dukungannya tetap solid sepanjang masa kepemimpinan. Kekuasaan adalah daya pesona paling menggoda (Henry Kissinger, 1973).

Pada akhirnya, dinamika politik dalam pemilihan rektor tidak bisa dilepaskan dari sistem yang dibentuk oleh kebijakan nasional tentang tata kelola universitas. Campur tangan negara dalam menentukan komposisi suara, peran senat, dan porsi kementerian telah melahirkan pola interaksi politik yang tidak terelakkan dalam konteks sistem tersebut. Perilaku seseorang untuk memenangkan pertarungan kekuasaan, dibentuk karena sistem yang diciptakan. Seperti dikatakan Machiavelli (1527), perilaku politik seseorang bukan hanya cermin dari tabiat pribadinya, tetapi juga dari sistem yang membentuknya. Dalam setiap arena kekuasaan, siapa pun akan belajar menyesuaikan diri dengan aturan yang diciptakan sistem itu sendiri,  sebab di sanalah ukuran kemenangan ditentukan.

Pada titik inilah, demokrasi kampus dihadapkan pada tantangan mendasar: bagaimana menjaga keseimbangan antara kompetisi kekuasaan yang tak terelakkan dengan nilai-nilai etik dan akademik yang menjadi ruh universitas. Oleh karena itu, refleksi terhadap sistem dan perilaku politik dalam pemilihan rektor sejatinya bukan sekadar persoalan  kepatuhan pada hukum atau kebijakan nasional, tetapi juga penting untuk penghormatan dan kepatuhan terhadap nilai-nilai dan marwah akademis.(*)

 

Audiensi dengan Bakesbangpoldagri NTB, BEM Bali-Nusra Bahas Isu Imigran, Pariwisata, hingga Stabilitas Politik

0

Mataram (globalfmlombok.com) – Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Dalam Negeri (Bakesbangpoldagri) NTB terima audiensi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Bali – Nusa Tenggara, Senin,13 Oktober 2025. Dalam audiensi tersebut, BEM bersama Bakesbangpol membahas tiga isu penting berkaitan dengan imigran, pariwisata, dan stabilitas politik.

Audiensi tersebut dihadiri oleh perwakilan mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di NTB, antara lain Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT), Universitas Mataram (Unram), Universitas Gunung Rinjani (UGR), dan Universitas Bumigora (UBG).

Kepala Bakesbangpoldagri NTB, H.Ruslan Abdul Gani menyatakan, kunjungan ini menjadi ajang silaturahmi antara mahasiswa dengan pemerintah daerah, sekaligus forum koordinasi awal menjelang pelaksanaan Rapat Kerja Wilayah (Rakenwil) BEM Bali Nusra yang akan digelar di Universitas Mataram pada akhir Oktober mendatang.

Dalam kesempatan itu, Ruslan mengungkapkan perwakilan BEM menjelaskan mengenai Rakenwil tahun ini yang akan mengangkat tema “Imigran dan Pariwisata dalam Stabilitas Kawasan Bali-Nusra”.

Isu ini dinilai strategis karena wilayah Bali-Nusra (Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur) merupakan salah satu tujuan destinasi wisata di Indonesia. Hal ini juga beriringan dengan recana Gubernur NTB mengembangkan pariwisata berkelas dunia. .

“Isu ini dianggap penting karena wilayah Bali-Nusra merupakan kawasan pariwisata internasional yang memiliki mobilitas tinggi, termasuk arus pekerja dan wisatawan asing, yang perlu dikelola dengan baik agar tidak menimbulkan permasalahan sosial dan keamanan,” ujar Ruslan.

Persiapan Rakernas BEM Seluruh Indonesia

Rakenwil di NTB ini juga menjadi bagian dari rangkaian menuju Rapat Kerja Nasional (Rakernas) BEM Seluruh Indonesia (BEM SI) yang akan digelar di Jakarta pada awal November 2025.

Kegiatan nasional tersebut akan dihadiri oleh lebih dari 400 perguruan tinggi dari seluruh Indonesia, dan menjadi momentum strategis bagi mahasiswa untuk menyampaikan gagasan konstruktif dalam isu-isu kebangsaan, ekonomi, pendidikan, dan lingkungan.

“Rakerwil di NTB kami jadikan ruang konsolidasi awal, agar delegasi dari wilayah Bali-Nusra punya satu pandangan yang kuat dalam membawa isu-isu daerah ke forum nasional,” tambahnya.

Bakesbangpoldagri NTB Siap Dukung Gerakan Mahasiswa

Kepala Bakesbangpoldagri NTB menyampaikan apresiasi dan dukungan terhadap semangat mahasiswa dalam menjaga semangat kebangsaan, serta peran aktif mereka dalam mengawal isu strategis daerah.

Menurutnya, pemerintah daerah dan mahasiswa memiliki tanggung jawab yang sama dalam menjaga stabilitas politik dan sosial, terlebih menjelang peringatan satu tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

“Pemerintah daerah melalui Kesbangpoldagri bersama dengan BEM SI Bali-Nusra menjaga stabilitas politik menysukuri satu tahun pemerintahan Prabowo,” katanya.

Ia menambahkan, Bakesbangpoldagri siap berkolaborasi dengan mahasiswa dalam mengedukasi masyarakat terkait pentingnya stabilitas sosial, politik, dan keamanan sebagai fondasi pengamanan dan keamanan daerah. (era/*)