Beranda blog Halaman 280

Sumbawa Targetkan Penerimaan Zakat Capai Rp10 Miliar di 2025

Sumbawa Besar (globalfmlombok.com) – Pemkab Sumbawa menargetkan pendapatan dari penerimaan zakat dan infaq yang dihimpun dari masyarakat dan pegawai pemerintah mencapai Rp10 miliar di tahun 2025.

“Target tersebut kita anggap cukup realistis untuk kita capai, karena ASN kita saat ini ada 9.000 orang belum lagi PPPK dan masyarakat sehingga target tersebut diyakini bisa tercapai,” kata Bupati Sumbawa, Ir. H. Syarafuddin Jarot, kemarin.

Ia melanjutkan, pemerintah pun saat ini mulai melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk memaksimalkan potensi penerimaan dari sektor tersebut. Bahkan ia mencontohkan, kebijakan yang sama sudah diterapkan di Kabupaten Lombok Timur dan hasilnya dalam satu tahun dana yang terkumpul di Baznas mencapai Rp20 miliar.

“Memang penerapan kebijakan ini akan menimbulkan pro dan kontra nantinya, tetapi kita akan tetap melakukan sosialisasi terlebih dahulu ke masyarakat,” ujarnya.

Haji Jarot, menyebutkan saat ini penerimaan zakat dari masyarakat baru mencapai angka Rp3 miliar per tahun. Capaian itupun bisa terealisasi setelah upaya sosialisasi yang masif dilakukan oleh Baznas dan pemerintah juga akan berkomitmen untuk mendukung upaya itu.

“Kami akan memberikan atensi khusus terkait hal ini, sehingga apa yang menjadi target penerimaan zakat itu bisa tercapai,” ucapnya.

Haji Jarot meyakinkan, dengan anggaran tersebut nantinya pemerintah akan mendistribusikan ke masyarakat yang layak untuk dibantu. Salah satunya guru ngaji, marbot, imam masjid, bantuan UMKM, dan beasiswa pendidikan bagi masyarakat miskin hingga ke Mesir.

“Uang yang kita himpun ini akan kita berikan ke masyarakat terutama beasiswa bagi masyarakat yang tidak mampu termasuk anak-anak dari takmir masjid mulai dari S1 hingga S2 2 di kampus luar dan dalam negeri,” tukasnya. (ils)

Proyek Jalan Lenangguar–Lunyuk, Poros Vital, Urat Nadi Ekonomi Wilayah Selatan Sumbawa

Sumbawa Besar (globalfmlombok.com) – Perbaikan ruas jalan provinsi Lenangguar–Lunyuk di Kabupaten Sumbawa pengerjaannya dikebut . Proyek dengan pagu Rp19 miliar lebih, merupakan poros vital yang menjadi urat nadi perekonomian wilayah Selatan Kabupaten Sumbawa.

Proyek yang bersumber dari APBD Provinsi NTB Tahun Anggaran 2025 diharapkan selesai tepat waktu agar manfaatnya segera dirasakan masyarakat. Tokoh masyarakat Sumbawa, Nurdin Ranggabarani, meninjau langsung lokasi proyek bersama Ahmad Adam Mad Marga dan M. Haris pada Minggu, 2 November 2025. Mereka melintasi sejumlah titik longsor di jalur vital tersebut yang kini sedang dalam proses perbaikan.

“Kami berharap agar jalan poros vital Lenangguar-Lunyuk ini, dapat terselesaikan tepat waktu. Sehingga masyarakat pengguna jalan dan akses ekonomi yang cukup stategis ini dapat dilalui dengan lancar, lebih nyaman. Dan urat nadi ekonomi wilayah Selatan ini dapat berfungsi dalam distribusi barang dan jasa untuk menggerakkan roda perekonomian masyarakat,’’ ujar Nurdin melalui rilis yang diterima Suara NTB, Senin 3 November 2025.

Ruas jalan Lenangguar–Lunyuk membentang sepanjang 60 kilometer dikerjakan oleh PT. Amar Jaya Pratama Group sebagai pemenang tender. Di sepanjang ruas jalan ini, tersebar di beberapa titik kondisinya cukup terparah. Ruas jalan ini menjadi akses utama penghubung Sumbawa Besar dengan kecamatan-kecamatan meliputi Kecamatan Lunyuk, Lenangguar dan Kecamatan Moyohulu. Ruas jalan ini bahkan tembus hingga perbatasan Kabupaten Sumbawa Barat.

Kondisi geografis berupa tebing dan perbukitan membuat kawasan ini kerap dilanda longsor saat musim hujan, hingga memutus akses antarwilayah. Karena itu, proyek ini difokuskan pada titik-titik kritis yang rawan longsor. Jika longsor, kadang memutus akses Sumbawa Besar dan beberapa kecamatan di wilayah Selatan.

Mantan Kepala Desa Lantung, M. Haris, SH, juga menyampaikan apresiasi kepada Pemprov NTB atas perhatian besar yang diberikan Gubernur NTB. ‘’Kami berterima kasih kepada Bapak Gubernur Haji Lalu Iqbal atas perhatian dan bantuan perbaikan Jalan Lunyuk–Sumbawa. Mudah-mudahan cepat selesai,” harapnya.

Sementara Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Sumbawa, Muhammad Sofyan, menjelaskan bahwa penanganan ruas Jalan Lenangguar–Lunyuk merupakan kewenangan Pemprov NTB melalui Balai Jalan Provinsi, bukan kewenangan Dinas PU Kabupaten Sumbawa.

Meski demikian, pihaknya tetap melakukan koordinasi dengan Balai Jalan Provinsi dan terus menyampaikan laporan serta aspirasi masyarakat terkait kondisi jalan tersebut.

“Penanganan Jalan Lenangguar–Lunyuk saat ini sedang berlangsung, terutama di titik-titik kritis. Kami tidak bisa melakukan intervensi langsung karena itu kewenangan provinsi. Tetapi kami berkoordinasi dan meneruskan laporan masyarakat ke Balai Jalan,” kata Sofyan 3 November 2025.

Sofyan menegaskan, ruas Lenangguar–Lunyuk merupakan akses utama menuju wilayah Lenangguar yang kondisinya rawan longsor karena topografi yang berbukit dan curam. Karena itu, penanganannya perlu lebih serius untuk menjamin kelancaran akses masyarakat.

Menurut Sofyan, keberadaan jalan Lenangguar–Lunyuk sangat strategis bagi perekonomian dan ketahanan pangan daerah. Jalur ini menjadi satu-satunya akses distribusi bahan pokok dan hasil pertanian dari wilayah selatan menuju pusat kota.

“Jalan ini vital untuk mobilitas warga dan distribusi hasil pertanian. Kami ingin penanganannya serius karena kondisi topografinya rawan longsor,” tegasnya.
Dinas PU Sumbawa juga terus menyalurkan laporan dan aspirasi warga terkait perbaikan jalan ke Pemerintah Provinsi melalui Balai Jalan agar proses pengerjaan bisa lebih cepat dan tepat sasaran. (r)

AMMAN Dapat Rekomendasi Ekspor Konsentrat Tembaga hingga April 2026

Taliwang (globalfmlombok.com) – PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) akhirnya resmi memperoleh rekomendasi ekspor konsentrat dari Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM). Pada tambahan relaksasi kali ini, anak usaha PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMAN) itu memperoleh izin kirim tembaga sebesar 480.000 metrik ton kering (dmt), yang berlaku selama enam bulan mulai tanggal 31 Oktober 2025.

Presiden Direktur AMNT, Rachmat Makkasau, menyampaikan apresiasi atas dukungan dari berbagai instansi, terutama Kementerian ESDM, yang telah berkoordinasi erat untuk memahami kendala teknis di fasilitas smelter AMMAN.

“Smelter kami harus berhenti beroperasi sementara pada bulan Juli dan Agustus 2025 karena perbaikan di unit Flash Converting Furnace dan Sulfuric Acid Plant. Kerusakan ini terjadi murni di luar kemampuan kami, tidak disengaja, dan tidak dapat dihindarkan. Kegiatan operasional fasilitas smelter AMMAN ini terpaksa dihentikan sementara untuk mencegah kerusakan lebih parah dan risiko bagi keselamatan kerja.’’

‘’ Perbaikan terhadap komponen utama smelter ini memiliki tingkat kompleksitas yang tinggi dan harus dilakukan secara menyeluruh. Mengingat skala dan kerumitan pekerjaan tersebut, proses perbaikan diperkirakan akan berlanjut hingga paruh pertama tahun 2026. Selama periode perbaikan berlangsung, kami tetap melakukan operasi secara parsial dengan peningkatan produksi yang dilakukan secara hati-hati tanpa mengabaikan aspek keselamatan,” jelas Rachmat melalui rilis resminya yang diterima, Minggu, 2 November 2025.

Dengan dimulainya kembali penjualan eskpor konsentrat tembaga yang sempat terhenti sejak awal tahun 2025. Rachmat mengatakan,AMMAN dapat memastikan bahwa gudang penyimpanan konsentrat tidak melebihi kapasitas. Sehingga operasional tambang tetap dapat berlanjut sesuai rencana, selama fasilitas smelter diperbaiki. Dengan demikian, kontribusi fiskal AMMAN bagi perekonomian nasional dan daerah juga dapat terjaga, sesuai dengan kinerja penjualan.

‘’Semoga rekomendasi ini sebagai landasan penting bagi Kementerian Perdagangan untuk selanjutnya menerbitkan Surat Persetujuan Ekspor (SPE) konsentrat tembaga bagi AMNT,’’ cetus Rachmat.

Berdasar panduan yang disampaikan dalam laporan kinerja 9M 2025, AMMAN menargetkan produksi tahun 2025 sebesar 430.000 metrik ton kering (dmt) konsentrat tembaga dengan kandungan sekitar 228 juta pon tembaga dan 90.000 ons emas. Target ini telah mempertimbangkan produksi dari stockpile serta bijih segar berkadar rendah dari lingkar luar Fase 8, mengingat kegiatan penambangan saat ini masih berfokus pada pengupasan batuan penutup di fase tersebut.

Selain target produksi tahun 2025, AMMAN juga memiliki persediaan (inventory) sebesar 190.000 dmt akhir tahun 2024. Hingga 30 September 2025, produksi konsentrat mencapai 310.143 dmt, di mana 273.506 dmt telah diumpankan ke fasilitas smelter. Total inventory konsentrat di fasilitas penyimpanan AMMAN per akhir September 2025 sebesar 226.637 dmt. Sebagian dari inventory konsentrat yang dihasilkan hingga akhir tahun nanti akan diekspor, sementara sebagian lainnya akan diumpankan ke smelter seiring dengan kemajuan proses perbaikan fasilitas. Perkembangan ini menandai kemajuan yang konsisten menuju pemulihan penuh operasi smelter, sekaligus menegaskan komitmen AMMAN untuk terus menciptakan pertumbuhan berkelanjutan dan nilai jangka panjang. (bug)

Penyalahgunaan Kos-kosan Diduga Masih Marak

Mataram (globalfmlombok.com) – Pemilik kos-kosan perlu secara intensif mengawasi aktifitas penghuni. Pasalnya, penyalahgunaan kos-kosan diduga masih marak terjadi di Kota Mataram.

Masyarakat tidak hanya melihat dari aspek bisnis, melainkan perlu memperhatikan keamanan dan ketertiban. Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Kota Mataram, H. Irwan Rahadi menegaskan, indikasi penyalahgunaan kos-kosan banyak dilaporkan oleh masyarakat. Penyalahgunaan seperti mengkonsumi minuman keras, narkoba, dan seks bebas.

Giat bersama rutin dilakukan melibatkan Badan Narkotika Nasional dan Satres Narkoba Polresta Mataram. “Kalau kami hanya fokus di trantibum saja,” terangnya ditemui pekan kemarin.

Pengawasan aktifitas penghuni kos sebenarnya dilakukan berjenjang mulai dari tingkat lingkungan dan kelurahan. Pemkot Mataram mengeluarkan regulasi dan memberikan pendelegasian kewenangan pada lurah dan camat, untuk mengawasi kos-kosan.

Sat. Pol PP selaku aparat penegak perda melakukan penindakan apabila mendapatkan laporan dari masyarakat atas gangguan keamanan dan ketertiban. “Laporan pasti ada. Kita pasti akan tindaklanjuti,” ujarnya.

Dari hasil pemetaan kos-kosan rawan penyalahgunaan seperti di Cakranegara, Sandubaya, dan Mataram. Lokasinya menyebar di beberapa kelurahan. Kendala dihadapi adalah tidaknya ada pengawas atau induk semang.

Irwan menegaskan, pengusaha tidak hanya ansih melihat dari aspek bisnis semata, melainkan perlu memperhatikan aspek keamanan dan ketertiban. Solusinya adalah menunjuk penanggungjawab, melaporkan setiap ada penghuni kos bar uke kepala lingkungan dan RT setempat, mengurus izin dan lain sebagainya.

“Dari dulu kita sudah meminta ada induk semang atau pengawas yang ditunjuk untuk mengawasi kos-kosan itu,’’ jelasnya.

Mantan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Mataram meminta masyarakat melaporkan apabila menemukan indikasi pelanggaran di kos-kosan. Laporan akan ditindaklanjuti dengan menegus penghuni dan pemilik kos.

Penutupan usaha kos tidak bisa serta merta dilakukan. Karena itu, perlu meminta pemilik kooperatif untuk mendukung pencegahan penyalahgunaan kos-kosan. (cem)

Penerapan Beras Satu Harga di Mataram Dinilai Tidak Relevan

Mataram (globalfmlombok.com) – Ketua Umum Perkumpulan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras (Perpadi) NTB, Zohran, S.H., mengungkapkan penerapan kebijakan beras satu harga di Kota Mataram tidak relevan. Zohran menilai kondisi ini tidak sejalan dengan regulasi. Yaitu Keputusan Kepala Badan Pangan Nasional (Kepala Bapanas) Nomor 299 Tahun 2025 dan Nomor 2 Tahun 2023.

Zohran menegaskan, Kebijakan yang diambil ini sangat tidak berpihak pada pihak penggilingan padi di NTB. Ia bahkan mengibaratkan kebijakan beras satu harga sebagai langkah mundur hingga 10 tahun ke belakang. Ini seiring dengan perkembangan teknologi alat penggilingan padi yang kian berkembang hingga klasifikasi beras sesuai dengan kualitasnya.

Keputusan Kepala Bapanas (Kepbadan) Nomor 299 Tahun 2025 secara jelas mengatur klasifikasi dan Harga Eceran Tertinggi (HET) beras. Dalam kebijakan tersebut, telah diatur H-E-T untuk beras premium sebesar Rp14.900 per kilogram dan beras medium Rp13.500 per kilogram.

Perlu Klasifikasi Harga

Selain itu, Kepbadan Nomor 2 Tahun 2023 juga mengatur klasifikasi mutu beras yang meliputi kualitas premium, medium, dan beras pecah. Adanya perbedaan kapasitas dan kualitas penggilingan antara pengusaha beras di NTB membuat klasifikasi harga sangat diperlukan.

“Jika dianalogikan, khusus untuk bahan bakar minyak saja ada jenis dan ketentuan harganya. Maka perlu ada perbedaan klasifikasi dan kelas sumbernya di bidang perberasan,” ujarnya.

Perpadi NTB mengakui, hingga saat ini belum ada koordinasi maupun konfirmasi sama sekali dari pihak terkait mengenai standar beras satu harga. Zohran meminta Dinas Perdagangan Kota Mataram memberikan edukasi rinci kepada masyarakat dan pelaku usaha mengenai kebijakan ini.

Ia juga berharap pengawasan yang dilakukan Dinas Perdagangan harus tetap memperhatikan klasifikasi beras (premium, medium, dan beras pecah). Hal ini agar konsumen dapat menyesuaikan kemampuan belanjanya dengan kualitas beras yang tersedia.

Di tengah isu kenaikan harga beras, Perpadi NTB juga berharap Perum Bulog segera melakukan operasi pasar. Ini penting untuk menjaga stabilitas harga di tingkat konsumen sesuai dengan kelas berasnya. Zohran pun mengajak pelaku penggilingan padi berinovasi dan bekerja sama dengan pemerintah. Itu dilakukan untuk menjaga kestabilan pasokan dan harga beras di NTB.

Sebagaimana diketahui, beras satu harga telah berlaku di Kota Mataram. HET beras premium di seluruh retail modern sama Rp14.900 per kilogram.

Pemberlakukan satu harga beras premium menjadi kebijakan konkret dari pemerintah pusat. Kebijakan ini bertujuan agar pelanggan tidak kebingungan mencari merk beras dengan kualitas berbeda. Beras satu harga memiliki kualitas dan harga yang sama. (bul)

Pemprov NTB Gelar Seleksi Jabatan Eselon III

Mataram (globalfmlombok.com) – Pemprov NTB menggelar seleksi atau beauty contest jabatan administrator atau eselon III di lingkup pemerintahan setempat. Seleksi administrasi dilakukan mulai 1-11 November 2025 ini. Beauty contest dilaksanakan dalam rangka penataan Sumber Daya Manusia Aparatur sesuai Struktur Organisasi dan Tata Kerja (SOTK).

Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) NTB, Drs.Tri Budiprayitno, M.Si., mengatakan, saat ini sedikitnya ada 47 lowongan eselon III yang kosong, yang kini bertambah menjadi 49 jabatan kosong karena adanya dua pejabat yang memasuki usia pensiun.

“Sampai dengan kondisi per akhir Oktober itu ada 47 jabatan kosong, kondisi per tanggal 1 November tambah lagi dua yang kosong,” ujarnya.

Sembari melakukan beauty contest jabatan administrator atau seleksi jabatan eselon III, Pemprov NTB juga melakukan pengelolaan manajemen kepegawaian dengan manajemen talenta. Sekaligus melakukan pemetaan potensial dan kompetensi seluruh jabatan struktural.

“Dan itu di NTB bekerja sama dengan BKN. Jadi nanti dari Unit Asesment Center BKN yang akan melakukan pemetaan kepada seluruh pejabat struktural. Kita prioritaskan eselon III dan IV dan pejabat fungsional jenjang ahli madya,” jelasnya.

Dengan pemetaan ini, Pejabat Pemegang Komitmen (PPK) yaitu Gubernur NTB, Dr.H.Lalu Muhamad Iqbal tidak perlu lagi melakukan seleksi terbuka ketika ada jabatan pejabat struktural yang lowong. Pemetaan itu, lanjutnya sudah otomatis memetakan pegawai dengan kotak talenta yang ada.

“Jadi tidak perlu lagi seleksi terbuka. Tinggal ambil dari data base yang sedang kita lengkapkan. Maka sudah kami bersurat ke OPD untuk meremajakan, meng-update data pribadi yang berkaitan dengan kepegawaian di aplikasi my ASN masing-masing,” sambungnya.

Formasi Jabatan yang Dibutuhkan untuk Seleksi Jabatan Eselon III

Adapun formasi jabatan yang dibutuhkan untuk seleksi jabatan eselon III di antaranya rumpun ekonomi, keuangan, dan perencanaan. Meliputi Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah (Diskop UKM), Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag), Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP).

Selanjutnya ada di Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD), Badan Pengelola Pendapatan Daerah (Bappenda), dan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda). Lalu, Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida), Biro Pengadaan Barang dan Jasa (PBJ), dan Biro Perekonomian Pembangunan dan Kerja Sama.

Kemudian ada juga formasi infrastruktur, meliputi Dinas PUPR, Dinas Perkim, Dinas Perhubungan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

Lalu ada formasi hijau dan lingkungan, di sejumlah dinas seperti Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan), dan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan. Lalu, di Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral.

Termasuk juga rumpun pendidikan, kebudayaan, dan sumber daya manusia. Di Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga, Dinas Kebudayaan, dan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Selain itu, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, Badan Pengembangan Sumberdaya Manusia Daerah, dan Badan Kepegawaian Daerah.

Ada juga formasi rumpun politik, pemerintahan, pengawasan dan hukum. Di antaranya, di Inspektorat, Sekretariat DPRD, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Dalam Negeri, dan Satuan Polisi Pamong Praja. Kemudian, DPMPD Dukcapil, Biro Hukum, Biro Pemerintahan dan Otonomi Daerah, dan Biro Organisasi.

Terakhir ada formasi rumpun Humas dan layanan pimpinan, di Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik, Biro Umum dan Administrasi Pimpinan. Dan formasi sosial, kemasyarakatan dan kesehatan, di Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, dan Dinas Kesehatan. (era)

Realisasi Anggaran Dinas PUPR NTB Baru 50 Persen

MENJELANG akhir tahun 2025, realisasi anggaran di Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) NTB baru menyentuh 50 persen. Sementara, realisasi proyek fisik di dinas tersebut kini mencapai lebih dari 60 persen.

Kepala Dinas PUPR NTB, Sadimin menjelaskan, keterlambatan penyerapan anggaran karena realisasi dimulai saat pergeseran pada pertengahan Bulan September lalu. ‘’Kalau fisiknya sudah di atas 60 persen, tapi keuangannya baru sekitar 50 persen, Karena sebagian besar proyek masih pada tahap uang muka. Sebentar lagi sudah mulai penarikan termin 30–40 persen,” ujarnya.

Meski baru menyentuh 60 persen realisasi proyek fisik, di sisa dua bulan menuju akhir Desember nanti, Sadimin optimis serapan anggaran dapat mencapai lebih dari 95 persen. Kalaupun ada keterlambatan seperti yang terjadi di akhir 2024 lalu, maka kontraktor akan memberikan adendum dan denda sesuai dengan hari keterlambatan.

‘’Kami targetkan di atas 95 persen sampai akhir tahun. Kalau ada yang terlambat, diberlakukan denda, dan kalau diprediksi tidak mampu diselesaikan maka kontraknya akan diputus dan diblacklist,’’ lanjutnya.

Sedang Tangani Tiga Proyek Besar

Saat ini, Dinas PUPR NTB tengah menangani tiga proyek besar, yaitu pembangunan jalan di Lunyuk dengan nilai sekitar Rp20 miliar, pembangunan jalan Simpang Tano-Seteluk senilai Rp32 miliar, serta pekerjaan jalan Dasan Geres-Pohgading dengan nilai sekitar Rp8 miliar. Selain itu, terdapat beberapa proyek bangunan gedung seperti pembangunan rumah dinas Kejaksaan Tinggi dan Korem.

“Rata-rata masih on progress. Kami mohon doa dan dukungan semoga semua bisa tuntas akhir tahun,” katanya.

Dalam pelaksanaannya, Mantan Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman (Perkim) NTB itu mengakui mengalami sejumlah kendala. Khususnya dengan kondisi cuaca yang memasuki musim penghujan. Kendati demikian, dia berharap proyek pembangunan jalan bisa tuntas di penghujung tahun 2025 nanti. ‘’Waktunya memang mepet, tapi mudah-mudahan semua bisa selesai sesuai target,’’ katanya.

Dia menambahkan, sejumlah proyek di Dinas PUPR NTB tidak bisa dilaksanakan tahun ini. Hal itu menyusul adanya keterlambatan pergeseran sehingga waktu terlalu singkat untuk dikerjakan. Untuk itu, pihaknya akan mencoba mengusulkan kembali di tahun 2026 nanti.

Berdasarkan kunjungan Menteri PUPR, Dody Hanggodo beberapa waktu lalu, ia mengatensi sejumlah bendungan seperti Bendungan Bribin Sila, Bintang Bano, dan Tanjung Pila yang menjadi bagian penting dalam program ketahanan pangan nasional. Untuk itu, ia juga mendorong adanya optimalisasi bendungan-bendungan tersebut.

“Pak Menteri juga melihat langsung trase jalan yang diusulkan untuk dibuka, karena jalan itu nanti bisa mendukung pertanian dan perikanan di kawasan pesisir. Harapannya, akses tersebut bisa mendorong sektor pangan, kelautan, dan pariwisata,’’ jelasnya. (era)

Remaja yang Hilang Terseret Air Bah di Air Terjun Sekoah Lombok Utara Ditemukan Meninggal Dunia

Mataram (globalfmlombok.com) – Setelah melakukan pencarian intensif selama dua hari, Tim SAR gabungan akhirnya menemukan remaja bernama Arga (17 tahun) yang sebelumnya dilaporkan hilang terseret derasnya arus air bah di Air Terjun Sekoah, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara (KLU).

Koordinator Unit Siaga SAR Bangsal, I Gusti Komang Aryadana, menjelaskan bahwa korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di aliran sungai air terjun Sekoah ersebut pada hari Senin (3/11/2025), sekitar pukul 09.55 Wita.

“Korban ditemukan pada pencarian hari kedua, lokasi penemuan berjarak kurang lebih 3,3 kilometer dari titik awal korban terseret arus,” ujar I Gusti Komang Aryadana.

Gusti Menambahkan, tim SAR gabungan fokus menyisir aliran sungai dan area di sekitar Air Terjun Sekoah. Berkat kerja keras dan sinergi tim, korban akhirnya ditemukan pagi ini.

“Jenazah korban telah dievakuasi dan dibawa menuju rumah duka,” imbuhnya.

Sebelumnya, Kantor SAR Mataram menerima laporan kehilangan korban pada hari Minggu (2/11/2025). Arga yang beralamat di Dusun Tembobor, Desa Sigar Penjalin, Kecamatan Tanjung, dilaporkan terseret arus pada Minggu siang. Kejadian nahas tersebut terjadi saat ia sedang mandi bersama rekan-rekannya.

Tiba-tiba, debit air meningkat drastis menjadi air bah. Arus yang sangat deras di sekitar Air Terjun Sekoah membuat rekan-rekan korban tidak berhasil memberikan pertolongan. Mereka segera melaporkan insiden ini kepada pihak berwajib.

Menanggapi laporan tersebut, Kantor SAR Mataram segera merespons dengan memberangkatkan Tim Rescue dari Unit Siaga SAR Bangsal.

Turut melibatkan sejumlah unsur potensi di Lombok Utara, di antaranya Pos AL Bangsal, Koramil Tanjung, Dinsos, dan Polair Polda NTB. Selain itu, Polair Polres KLU, BPBD KLU, PMI KLU, Share Love, Barasiaga, Sabara Polres Lotara, Polsek Tanjung, dan Damkar KLU. Serta, Rimba Raya Bentek, masyarakat setempat, dan pihak terkait lainnya.

Dengan telah ditemukannya korban, Operasi SAR dinyatakan selesai. (bul)

Hari ini, Tarif Baru Pendakian Rinjani Berlaku

Mataram (globalfmlombok.com) – Tarif baru pendakian dan non-pendakian Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) mulai berlaku pekan ini, tepatnya Senin, 3 November 2025 (hari ini). Tarif ini berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 17 Tahun 2025 tentang Pembagian Kelas Tiket Masuk Pengunjung Wisata Alam di Taman Nasional dan Taman Wisata Alam untuk Pengenaan Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak

Kepala TNGR NTB, Yarman menyatakan, tiga jalur pendakian Rinjani naik kelas I. Di antaranya jalur pendakian Sembalun, jalur pendakian Senaru, dan jalur pendakian Torean. Tiga jalur pendakian naik ke kelas II yaitu jalur pendakian Timbanuh, jalur pendakian Tetebatu, dan jalur pendakian Aikberik. Kemudian, 21 destinasi non-pendakian naik ke kelas III.

“Terkait dengan hal tersebut, disampaikan bahwa pemberlakuan tarif tiket masuk Kawasan TN Gunung Rinjani yang baru sesuai Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2025 akan dilakukan pada hari Senin tanggal 3 November 2025,” ujarnya dalam press rilis TNGR, kemarin.

Sementara, bagi para pendaki yang sudah melakukan pemesanan dan pembayaran tiket masuk kawasan sebelum tanggal 3 November 2025 tetap dikenakan tarif tiket masuk lama. Apabila terjadi kelebihan hari pendakian (overtime) akan dikenakan tarif tiket masuk baru.

Besaran Kenaikan Tarif Baru Pendakian Rinjani

Tiket masuk pengunjung taman wisata kelas I untuk wisatawan mancanegara senilai Rp250 ribu per hari. Untuk wisatawan nusantara Rp50 ribu per hari. Rombongan pelajar atau mahasiswa berjumlah minimal lima orang senilai Rp25 ribu per hari.

Sementara, untuk kelas II, tiket masuk wisatawan mancanegara senilai Rp200 ribu. Untuk wisatawan nusantara senilai Rp20 ribu, dan rombongan pelajar atau mahasiswa minimal lima orang senilai Rp10 ribu.

Dan untuk kelas III, tarif untuk wisatawan mancanegara senilai Rp150 ribu. Untuk wisatawan nusantara senilai Rp10 ribu, dan rombongan pelajar atau mahasiswa minimal lima orang senilai Rp5 ribu.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata NTB, Ahmad Nur Aulia menanggapi masalah kenaikan tarif Rinjani dan dampaknya bagi kunjungan wisatawan. Ia menilai sah-sah saja ada kenaikan asalkan pelayanan kepada pendaki juga ditingkatkan. (era)

Dua Tahun Krisis Air Bersih di Gili Meno, Pemprov NTB Selesaikan dengan Satgas

Mataram (globalfmlombok.com) – Pemprov NTB segera membentuk Satuan Tugas (Satgas) Gili Tramena (Trawangan, Meno, dan Air) untuk menangani persoalan air bersih yang selama dua tahun ini terjadi di Gili Meno.

Hal tersebut diungkapkan, Kepala Dinas Pariwisata NTB, Ahmad Nur Aulia, akhir pekan kemarin di Mataram. Ia menjelaskan, bahwa selama dua tahun ini, pelaku pariwisata di NTB tetap berupaya mencari solusi untuk penyelesaian permasalahan air bersih di Gili Meno. Namun, hingga kini belum ada langkah konkret untuk penyelesaiannya.

‘’Tentunya teman-teman pelaku industri pariwisata itu mencari solusi berkaitan dengan penyediaan air bersih di sana. Berkaitan dengan penanganan ini kan tidak hanya masalah tiba-tiba mengadakan air bersih,” ujarnya.

Menurutnya, untuk mencari solusi jangka panjang dan memastikan tidak ada dampak negatif untuk lingkungan nantinya. Pemerintah harus melakukan kajian mendalam sebagai solusi untuk penanganan tersebut.

“Tetapi kan ada hal-hal yang memang perlu dikaji secara hukum dulu. Bagaimana keberlangsungan dan keberlanjutan dari yang selama ini sudah terlaksana,” lanjutnya.

Satgas Memberikan Solusi

Dengan terbentuknya Satgas ini, mereka nanti akan bertugas dalam memberikan solusi atau saran agar masalah air bersih cepat teratasi.

Selain masalah air bersih di Gili Meno, Satgas ini juga akan menyelesaikan masalah sampah dan sejumlah permasalahan lainnya di kawasan tiga gili, yakni Gili Trawangan, Meno, dan Air, (Tramena). Pembentukan Satgas ini, sekarang masih dalam proses pengkajian, termasuk aspek hukum dan keberlanjutan program yang telah berjalan sebelumnya.

‘’Mudah-mudahan tidak lama lagi keluar berkenaan dengan SK Satgas. Tentunya itu merupakan bagian dari penugasan untuk penanganan masalah air dan sampah di kawasan tiga gili. Satgas Gili Tramena,’’ harapnya.

Lebih lanjut dijelaskan, kehadiran Satgas Gili Tramena nantinya akan menjadi wadah koordinasi lintas sektor untuk merumuskan rekomendasi dan langkah konkret penyelesaian berbagai persoalan yang selama ini dihadapi.

“Tentunya dengan adanya Satgas ini akan ada rekomendasi, kira-kira solusi yang harus dihadirkan,” katanya.

Terkait kemungkinan tumpang tindih kewenangan dengan Pemerintah Kabupaten Lombok Utara, ia menegaskan bahwa Satgas akan bersifat kolaboratif. “Di Satgas itu ada dari Pemkab KLU juga. Makanya salah satu wadah untuk mencari solusi itu adalah dengan adanya Satgas tersebut,’’ tandasnya.

Gubernur NTB Libatkan APH

Sementara itu, Gubernur NTB, Dr.H.Lalu Muhamad Iqbal melibatkan Aparat Penegak Hukum (APH) untuk membentuk Satuan Tugas (Satgas) dalam menyelesaikan sejumlah persoalan di kawasan Gili Trawangan, Meno, dan Air (Tramena).

Ia menilai, permasalahan yang ada di kawasan wisata kelas dunia itu tidak bisa diselesaikan secara perorangan, melainkan harus ditangani secara komprehensif lintas sektor. ‘’Kita butuh satu Satgas yang membahas secara komprehensif, mulai masalah hukum, masalah lahan, masalah air,” kata Iqbal, kemarin.

Satgas yang akan dibentuk oleh Gubernur, berada di bawah koordinasi Kejaksaan Tinggi (Kejati), termasuk juga Polda NTB, BPN, dan juga masyarakat. ‘’Masyarakat yang memiliki pemahaman terkait isu di sana, nanti akan saya pantau secara rutin,” lanjutnya.

Menurutnya, penyelesaian masalah di Gili Tramena harus mampu memberikan kepastian hukum dan pengelolaan yang adil, agar tidak menimbulkan persoalan baru di kemudian hari.

Krisis air bersih juga menjadi isu serius yang dihadapi masyarakat dan pelaku wisata di Gili Tramena. Iqbal menegaskan, penanganan masalah air ini tidak boleh bersifat sementara. ‘’Lagi-lagi, saya tidak ingin menyelesaikan masalah air ini untuk sesaat, melainkan sekali diselesaikan, tidak timbul masalah lagi,” tegasnya. (era)