Mataram (globalfmlombok.com) – Wali Kota Mataram, Dr. H. Mohan Roliskana, mengimbau masyarakat tetap tenang menyikapi insiden pembacokan terhadap tiga remaja yang diduga dilakukan oleh sekelompok orang tidak dikenal di Jalan Udayana, Kota Mataram, Minggu (25/10/2026) dini hari.
Mohan mengakui, peristiwa tersebut menimbulkan keresahan di tengah masyarakat, terlebih karena mengakibatkan tiga orang mengalami luka serius. Insiden itu pun menjadi perhatian Pemerintah Kota Mataram yang berkoordinasi dengan pihak kepolisian untuk mengantisipasi kejadian serupa.
“Saya berharap masyarakat tetap tenang karena ini masih dalam proses penyelidikan kepolisian,” ujarnya, Senin (26/10/2026).
Selain mengimbau masyarakat agar tetap tenang, Mohan meminta para orang tua meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas anak-anaknya, terutama pada malam hingga dini hari. Ia mengingatkan agar anak-anak membatasi aktivitas di luar rumah pada jam-jam tersebut guna menghindari berbagai potensi risiko.
Mohan juga telah meminta seluruh camat dan lurah di Kota Mataram untuk melakukan pendekatan kepada masyarakat serta menyampaikan imbauan terkait situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) saat ini.
“Dalam rapat tadi, seluruh camat dan lurah saya minta untuk menyampaikan situasi yang kita hadapi saat ini. Saya berharap masyarakat juga bersama-sama menjaga kamtibmas,” katanya.
Terkait kemungkinan peningkatan pengawasan terhadap aktivitas masyarakat pada malam hari, Mohan menyebutkan bahwa pemerintah kota belum menetapkan pengaturan khusus. Menurutnya, langkah yang paling penting saat ini adalah mengantisipasi dan mencegah terjadinya kembali kasus serupa melalui koordinasi dengan Polresta Mataram.
Sementara itu, insiden pembacokan tersebut menyebabkan tiga remaja mengalami luka serius setelah diduga diserang oleh sekelompok orang tidak dikenal di Jalan Udayana, Kota Mataram, Minggu (25/10/2026), sekitar pukul 05.00 Wita.
Ketiga korban masing-masing berinisial GH, FH, dan GB. Dua di antaranya diketahui masih duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP), sedangkan satu korban lainnya merupakan pelajar sekolah menengah atas (SMA). Ketiganya menjalani perawatan di rumah sakit berbeda dengan kondisi yang dilaporkan kritis. (pan)


