Selong (globalfmlombok.com)—
Permintaan komoditas kopi arabika dan robusta dari kawasan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, terus menunjukkan tren peningkatan di pasar domestik maupun internasional. Meski demikian, tingginya minat pasar belum mampu diimbangi oleh kapasitas produksi lokal, terutama untuk jenis arabika.
Anggota Koperasi Produsen Bumi Tani Lestari Dusun Sajang, Desa Sajang, Kecamatan Sembalun, Ruslan, mengungkapkan bahwa peluang pasar bagi kopi arabika Sembalun sangat terbuka lebar. Namun, volume produksi pascapanen musim ini mengalami penurunan cukup signifikan.
“Kopi arabika sangat dicari, tetapi kuantitas produksi pascapanen tahun ini sangat rendah,” ujar Ruslan di Sembalun, Lombok Timur, Minggu (11/10/2026).
Di tengah keterbatasan pasokan tersebut, petani setempat mulai merambah pasar ekspor. Pada Agustus 2026, Koperasi Bumi Tani Lestari berhasil memfasilitasi pengiriman sekitar 3 ton kopi robusta ke Korea Selatan.
Untuk mengantisipasi risiko bisnis, kerja sama dengan importir asal Korea Selatan memanfaatkan skema transaksi ekspor jual putus. Skema ini dipilih guna meminimalkan risiko denda penalti akibat potensi kegagalan pemenuhan kuota pasokan yang diperjanjikan.
“Kami memilih skema jual putus untuk menghindari risiko penalti apabila tidak mampu memenuhi volume pasokan jika terikat kontrak jangka panjang,” kata Ruslan.
Selain Korea Selatan, penawaran ekspor juga datang dari pelaku usaha di Jepang. Namun, kesepakatan belum terealisasi lantaran proses negosiasi harga masih berjalan dan stok biji kopi yang tersedia sangat terbatas.
Di tingkat domestik, perburuan biji kopi mentah (green bean) terus berlangsung. Sejumlah pemilik kedai kopi dari Kota Mataram dan luar Pulau Lombok datang langsung ke Dusun Sajang untuk mengamankan pasokan.
Saat ini, Koperasi Bumi Tani Lestari menaungi 35 anggota dengan total area tanam mencapai 45 hektar. Volume produksi arabika di tingkat koperasi baru berkisar 5 ton per musim. Sementara itu, total produksi arabika di kawasan Desa Sajang diperkirakan mencapai 18–20 ton per tahun, masih jauh di bawah akumulasi kebutuhan pasar yang diproyeksikan melebihi 50 ton per tahun.
“Stok arabika saat ini sudah sangat menipis. Sisanya kami prioritaskan untuk pemenuhan konsumsi wisatawan di jalur pendakian Gunung Rinjani serta olahan bubuk lokal,” tuturnya.
Sebagai upaya peningkatan volume produksi, para petani melakukan perbanyakan bibit secara mandiri memanfaatkan varietas unggul seperti Ateng Super dan Ateng Janda untuk dibagikan kepada anggota kelompok.
Pendampingan Hulu-Hilir
Pengembangan komoditas kopi di Desa Sajang turut mendapat dukungan dari Bank Indonesia (BI) melalui program peningkatan kapasitas, pelatihan pascapanen, pengoperasian mesin sangrai (roasting), hingga kegiatan studi tiru ke sejumlah daerah pusat produksi kopi nasional.
Konsultan PUMKM Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB, Edy Suhardiman, menyampaikan bahwa kawasan Sembalun dan Sajang memiliki potensi ekspor yang kuat, terlebih setelah mengantongi sertifikasi Indikasi Geografis (IG) pada tahun 2023.
Edy menekankan pentingnya penguatan standar mutu dari hulu hingga hilir, salah satunya melalui edukasi teknik panen petik merah guna menjaga kestabilan harga dan kualitas produk.
“Petani terus diedukasi untuk meninggalkan pola panen campuran atau petik pelangi. Panen buah ceri merah menjadi kunci utama dalam mempertahankan standar kualitas, baik untuk pemenuhan pasar domestik maupun ekspor,” ujar Edy.
Selain itu, BI bersama pemerintah daerah mendorong keterlibatan generasi muda dalam menjaga keaslian varietas lokal, termasuk memurnikan kembali varietas arabika yang sempat langka guna mempertahankan identitas geografis kopi Sembalun dan Sajang di panggung internasional. (ris)


